
Hati Mark tersakiti karena omongannya, lalu dia bertanya balik dengan sedih. "Kalau kamu berani, coba katakan sekali lagi?"
Delfina tidak mengatakannya, dia hanya menatapnya, seberapa cinta dia padanya, maka sekarang seberapa benci dirinya padanya.
Delfina berkata, "Mark, kamu sudah memenjarakanku lima tahun, lima tahun. Aku sudah mengerti, sebenarnya aku bersalah atau nggak itu nggak penting, yang penting adalah kamu nggak pernah percaya padaku."
Ketika dia bicara, nada bicaranya langsung berubah menjadi dingin, seolah-olah Mark adalah orang asing. Kalau dikatakan dari sudut pandang lain, dia sedang berusaha untuk menyakiti Mark.
Delfina menyindirnya dengan senyum. "Jangan bilang padaku, kalau sekarang kamu menyadari kamu masih nggak bisa melupakan hubungan dulu?"
Tatapan mata Mark penuh dengan kemarahan, dia berdiri dan mencekik leher Delfina.
Mark menatap Delfina dengan tatapannya yang kejam dan dingin, senyuman Mark juga sangat mengerikan, "Siapa yang mengajarimu berkata seperti ini?"
"Apa kamu sudah merasa hebat begitu keluar dari penjara?"
Sekitar Delfina menjadi dingin, lalu dia merasa napasnya menjadi sesak karena dicekik oleh Mark, jadi dia berkata, "Mark, kamu sendiri yang mengajariku."
Tubuh Mark gemetar dan darahnya mengalir berlawanan.
Delfina yang dicekiknya tertawa lemas. "Kamu nggak usah khawatir, asalkan kamu mengembalikan putraku padaku, aku nggak akan muncul di depanmu seumur hidup! Meskipun mati, kabar kematianku juga nggak akan terdengar olehmu!"
Mark menatapnya dengan kaget, lalu berkata dengan sedih. "Apa yang kamu katakan?"
Tiba-tiba Delfina melawan dengan kuat, kemudian memukul tangan Mark yang mencekiknya. Delfina pun jatuh ke lantai karena tidak dapat berdiri stabil, lututnya membentur kayu, tapi dia tidak merintih sakit. Lalu, dia berdiri di depan Mark dengan tak stabil.
Delfina berkata, "Mark, kamu yang membunuh semua cintaku padamu, apa lagi yang ingin kamu dapatkan dariku? Aku nggak bisa memberikanmu apa-apa lagi, keluargaku juga sudah dihancurkan olehmu. Mark, aku mohon, bisakah kamu mengasihaniku?"
Bisakah kamu mengasihaniku?
Beberapa kata itu berubah menjadi pisau tajam yang menusuk ke hatinya, rasa sakit sekali lagi menyebar ke dalam hatinya seperti dia melihat Delfina dibawa masuk ke mobil polisi lima tahun yang lalu. Tiba-tiba mata Mark menyusut dan suaranya menjadi serak, "Apa yang kamu inginkan?"
__ADS_1
"Aku yang seharusnya menanyakan ini padamu."
Ketika Delfina menengadahkan kepala, tatapan di matanya sangat hancur. Dia tidak pernah bayangkan dirinya tetap tidak bisa kabur dari bayangan Mark, meski dirinya sudah kabur selama 5 tahun.
Aku mencintaimu, jadi aku harus mengorbankan diriku untuk dipenjarakan selama 5 tahun. Mark, bisakah kamu mengampuniku?
Tenggorokan Mark merasa sakit, tapi dia merasa sangat kesal begitu melihat ekspresi di wajah Delfina, jadi dia menarik kerah bajunya, lalu menolehkan kepala untuk tidak melihat wajahnya dan berkata, "Boleh saja kalau kamu menginginkan putramu. Nanti malam pergi ke Mago Bar dan menemani klienku untuk minum bir."
Delfina menengadahkan kepalanya dengan tak percaya, juga membelalak mata sambil menatapnya dengan kejam. "Mark, kamu ingin aku menemani klienmu minum bir?"
Mark tersenyum dingin padanya. "Bukankah kamu menginginkan anak? Apa kamu nggak bisa melakukan hal kecil ini?"
Delfina mundur beberapa langkah sambil menggelengkan kepala. "Aku memang nggak sekejammu ...."
Selesai berbicara, Delfina tertawa lagi dengan mata yang berkaca-kaca, Delfina tersenyum pada Mark, "Baik, karena Tuan Mark sudah berkata seperti ini, aku pasti akan menurutinya. Kalau aku bisa mendapatkan kembali putraku dengan menemani klien minum bir, aku pasti akan melakukannya!"
"Hanya saja ...." Delfina mendekati Mark, lalu tertawa di dekat telinganya. "Kamu jangan menyesal!"
Sepertinya ada perasaan yang melintas di hati Mark, tapi dia tidak tahu itu perasaan apa, tak lama perasaan itu hilang. Lalu, Mark merasa dirinya seperti terpaku sejenak ketika melihat Delfina yang di depan.
Sudah lima tahun ... semua cinta itu sudah hilang, hanya tersisa kebencian. Kalau kebencian itu membara, seberapa mengerikan adegan itu?
Dia seharusnya membenci Delfina karena dia telah membunuh Bella dan anaknya Bella, tapi kenapa Delfina akan menatapnya dengan tatapan yang sama? Delfina, kamu itu pembunuh, apa hakmu melihatku dengan rasa benci?!
Hati Mark sangat sakit, lalu dia berjalan ke depan untuk menarik kerah baju Delfina. "Meskipun aku mengantar wanita sepertimu ke ranjang orang lain, aku juga rela."
"Benar juga, lima tahun yang lalu, aku sudah merasakan hal itu, sekarang semua itu nggak bisa menyakitiku lagi."
Selesai berbicara, dia membuka mata dan menggunakan tatapan yang lelah menatap Mark.
Berapa banyak cinta dan benci yang dapat ditanggung oleh tubuh yang telah hancur ini? Mark, seumur hidupku tidak sempurna lagi, jadi aku tidak keberatan lebih hancur lagi.
__ADS_1
Delfina tidak mengerti tatapan yang tersembunyi di mata Mark, dia juga tidak ingin mengerti sepasang mata yang seperti pemimpin serigala itu. Delfina merasa dirinya sudah mati berkali-kali di mata Mark.
Delfina berdiri tegak, jelas-jelas bahunya sedang gemetar, tapi dia tetap keluar dengan tegak.
Orang-orang di luar menjulurkan kepala, lalu melihat wanita cantik yang berpakaian tidak rapi keluar dari kantor CEO. Langkah wanita itu sangat cepat, juga ada wangi samar ketika melewati mereka. Setelah bayangan itu pergi jauh, semua orang mulai menebak siapa wanita itu.
"Punggungnya terlihat sangat familier ...."
"Iya, aku juga merasa aku pernah melihatnya."
"Tetapi, kenapa dia keluar dengan penampilan begitu? Apakah dia kekasih baru CEO?"
Ia berdecak, "Dari ekspresinya bisa tahu kalau dia baru selesai bertengkar dengan CEO."
"Mungkin hanya artis nggak terkenal yang suka mengganggu CEO, dia kira dirinya bisa menjadi pacar CEO."
"Nggak usah urus lagi, yang paling dicintai Tuan Mark adalah Nona Bella."
Delfina segera masuk ke dalam lift, lalu dia tidak mendengar suara gosipan mereka lagi. Ketika pintu lift tiba di lantai 1 dan pintu terbuka, dia melihat John sedang memeluk sekretaris Mark sambil berjalan masuk.
"..." Delfina menyapanya dengan sopan, "Halo, Tuan John."
"Sudah mau pergi, ya?"
John melepaskan sekretaris itu, lalu tersenyum pada Delfina, "Bagaimana pembahasan kalian?"
"Apa Tuan John merasa aku pergi ke sana untuk menceritakan cerita pada Mark?"
Kata Delfina dengan acuh tak acuh, seolah-olah akan hilang kalau ditiup angin. Ketika dia berjalan keluar, John menarik pergelangan tangan Delfina.
"Ada apa?"
__ADS_1
Delfina menoleh, lalu John keluar dari lift di bawah tatapan kaget sekretaris itu. John meninggalkan sekretaris itu sendirian di dalam lift, ketika pintu hampir tertutup, John mengedipkan mata padanya sambil tersenyum padanya, "Wanita cantik, lain kali aku akan datang mencarimu, sampai jumpa."
Selesai mengucapkan selamat tinggi, John pun menoleh dan berkata pada Delfina, "Aku sudah berubah pikiran. Awalnya aku ingin mencari Mark, sekarang lebih baik mencarimu saja."