
Delfina menatap Mark untuk beberapa saat, jadi Mark mencibir. "Kenapa? Kamu takut aku akan menelanmu?"
Delfina langsung mengepalkan tangannya. Baiklah, jika dia tidak bisa melarikan diri, kenapa dia tidak menghadapinya secara langsung?
Tepat di saat itu, ada sebuah lampu bar yang bersinar ke arah mereka. Delfina menatap kedua mata Mark dalam keremangan dan mengingat kembali kenangan yang tidak terhitung jumlahnya. Dalam kenangan itu, hanya ada rasa dingin yang membuatnya merasa ketakutan.
Delfina duduk dan tersenyum dingin pada Mark dan Valentino. "Tetapi aku nggak bisa berlama-lama di sini, ada orang yang menungguku di meja lain."
Valentino menyipitkan matanya dan bertanya, "Oh? Cowok atau cewek?"
Delfina tidak menjawab dan hanya bermain kocok dadu dengan Valentino. Mark yang berada di seberangnya tidak berhenti menatapnya seolah-olah sedang menggali pikiran apa yang sedang dia sembunyikan.
Delfina menertawakan dirinya sendiri, 'Mark, dulu saat aku masih bersamamu, kamu bahkan nggak mau melirikku. Sekarang kamu malah terlihat sangat tertarik padaku. Apakah kamu mau mempermalukan dirimu sendiri?'
Delfina tersenyum menyindir tetapi Valentino malah melongo melihatnya. Valentino tanpa sadar mengulurkan tangannya dan memegang wajah Delfina.
Delfina langsung tersentak dan menatap Valentino. Kemudian dia tersadar kembali dan tersenyum ringan, "Tuan Muda Valentino, apakah kamu juga tertarik dengan ... mantan istri sahabatmu?"
Pandangan Valentino menjadi gelap dan suaranya juga serak. Wajahnya yang tampan memiliki kedalaman yang tidak bisa dipahami oleh Delfina, "Kamu harus bersyukur karena kamu adalah mantan istri Mark ... kalau gak, kamu nggak akan bisa duduk dengan selamat di sampingku."
Delfina langsung tercengang, lalu dia tertawa ringan setelah tersadar, "Aku nggak sanggup menerima kasih sayang Tuan Muda Valentino. Sekarang, aku hanyalah wanita yang nggak berstatus. Aku juga nggak pantas untukmu ..."
Valentino tertegun dan berkata dengan ringan. "Tetapi dulu, kamu ..."
"Benar." Delfina seolah-olah sudah tenggelam dalam kenangan, sudut matanya terlihat sedikit berair,
"Betapa indah hidupku dulu ..."
Delfina mendesah panjang sambil mengingat kembali kenangan-kenangan itu, kemudian mengedipkan matanya dan menatap Valentino. "Aku pernah memiliki begitu banyak hal, tapi pada akhirnya, nggak ada satu pun yang tersisa. Kata orang, waktu bisa membuktikan segalanya. Tapi, waktu juga adalah yang paling nggak mengampuni siapa pun."
Valentino hanya fokus memandang Delfina dan pandangannya itu membuat Mark merasa kesal.
__ADS_1
Bukankah Valentino sudah tahu bahwa Delfina adalah mantan istri Mark? Kenapa dia masih memandang Delfina dengan tatapan yang berapi-api?
Mark tersenyum sinis. Dia sudah meremehkan kemampuan Delfina merayu pria.
Tidak lama kemudian, Mark menyuruh pelayan untuk mengisi gelas Delfina. Setelah itu, dia mengangkat gelasnya ke arah Delfina.
Itu hanya sebuah gerakan kecil, tapi Delfina malah tenggelam dalam lautan kenangan.
Dulu, di dalam bar yang juga seramai ini, Delfina sedang tidak ingin bersenang-senang dan hanya duduk di sofa. Dia sangat anggun dan elegan, tetapi memancarkan aura dingin. Jadi, semua pria hanya menatapnya tanpa berani berbicara dengannya. Hanya Mark yang tersenyum padanya sambil mengangkat gelas dari kejauhan.
Hal itu bagaikan situasi yang dideskripsikan di dalam lirik sebuah lagu. Di dalam bar yang ramai, ada dua mata yang bertemu di dalam kerumunan. Delfina tahu orang di sekelilingnya itu bukan tipenya dan hanya ada satu orang yang bisa menangkap hatinya.
Setelah menarik diri dari kenangan, mata Delfina memerah karena dilanda oleh luapan emosi. Adegan saat ini sangat mirip dengan kejadian sebelumnya. Mark duduk di antara orang-orang dan mengangkat gelasnya sambil tersenyum pada Delfina. Hal itu membuat hatinya berdebar-debar.
Delfina berusaha untuk tidak gemetaran dan mengangkat gelasnya, kemudian menghabiskan minuman itu. Di bawah stimulasi alkohol, dia akhirnya menjadi lebih rasional. Melihat rupa Delfina, Valentino sedikit terkejut, "Kamu dan Mark ..."
"Sudah nggak ada yang tersisa di antara kami." Delfina cepat-cepat memotong kata-kata Valentino dan berdiri dengan terhuyung-huyung. Tindakannya itu ternyata malah membuatnya menjadi lebih pusing karena pengaruh alkohol. Mark menyipitkan mata dan melihat Delfina hampir jatuh ...
Delfina mengangkat kepala dengan terkejut dan melihat ada seorang pria yang berdiri di samping Jessica. Pria itu mengangkat dagunya ke arah Mark, "Tuan Muda Mark, kebetulan sekali."
"Pak Indro ..." Mark dengan cepat tersadar. Pria itu seharusnya adalah bos Jessica, jadi Mark juga tersenyum misterius padanya, "Aku nggak menyangka bisa bertemu denganmu di sini hari ini."
"Aku, ke sini untuk membantu Jessi memanggil seorang teman." Indro menatap Delfina. "Apakah kalian sudah selesai mengobrol?"
Mark dan Valentino sama-sama terkejut. Indro dan Jessica? Sepertinya teman-teman Delfina itu lumayan berkuasa ...
Hanya saja, pemikiran setiap orang berbeda. Delfina bahkan tidak sempat memikirkannya. Setelah berdiri tegak, Delfina menundukkan kepalanya dan berpikir di dalam hati, 'Dasar Jessica! Kenapa dia mencari orang yang berkedudukan begitu tinggi untuk menyelamatkanku? Aku hampir mati terkejut!'
Namun kemunculan Indro memang sudah menyelamatkannya. Jadi, Delfina buru-buru tersenyum dan berkata pada Mark dan Valentino, "Baiklah, aku akan kembali ke mejaku dulu. Kalau Tuan Muda Valentino ingin bertemu denganku lagi, ayo atur waktu lagi lain kali!"
Selesai berbicara, Delfina langsung melewati Indro dan kembali ke mejanya sendiri. Jangan bercanda, bahkan Jessica pun takut pada Indro! Jadi, dia juga harus menghindarinya.
__ADS_1
Indro berjalan kembali dengan langkah yang santai dan Jessica diam-diam berkata, "Aku takut kalau kedudukanku nggak cukup tinggi untuk menakuti mereka, jadi aku mengutus Pak Indro. Bagaimana?"
Delfina memegang dadanya. "Kedudukannya terlalu tinggi! Lain kali jangan begitu!"
Jessica kegirangan dan menarik Delfina untuk duduk, kemudian memberikan segelas jus jeruk untuknya, "Minum ini untuk menenangkan dirimu."
Indro yang duduk di seberang mereka mencibir, "Mana punyaku?"
Jessica langsung menuangkan segelas bir untuk Indro. "Bos, silakan minum."
Setelah itu, dia juga menyalakan sebatang rokok untuk Indro, "Bos, silakan."
Indro tersenyum pada Delfina. "Salam kenal, Nona Delfina."
"Halo, Pak Indro." Delfina merasa sedikit canggung, "Anda sangat terkenal di Kota Bench ..."
"Oh? Benarkah?" Indro tersenyum sambil merangkul Jessica, "Mari kuperkenalkan. Ini adalah anjingku, Jessica."
Jessica tersenyum paksa. "Bukankah aku sekretaris pribadimu?"
"Sekretaris pribadi terdengar sedikit ambigu." Indro tersenyum sambil mengedipkan matanya pada Jessica, tetapi matanya sama sekali tidak tersenyum. Dia mendekati Jessica dan berkata, "Beraninya kamu menyuruhku datang untuk membantumu. Jessica, nyalimu sedang berkembang, ya."
Delfina memandang sepasang perpaduan pria dan wanita yang aneh di hadapannya itu, lalu mengisyaratkan sahabatnya dengan matanya, 'Kamu nggak apa-apa, 'kan? Kapan kamu mulai menjalin hubungan dengan Indro?'
Jessica menggerakkan mulutnya, 'Jangan bahas lagi. Dia benar-benar adalah bosku!'
Delfina tersenyum ringan, "Aku sudah heran kenapa Jessi bisa datang ke bar sendirian, ternyata dia menunggu Pak Indro."
Indro tersenyum dan mencubit Jessica. "Apakah kamu menggunakan namaku untuk menyombongkan diri lagi?"
Jessica berbohong tanpa malu. "Mana mungkin aku berani menggunakan dana perusahaan untuk kepentingan pribadiku!"
__ADS_1