Kau adalah Hidupku

Kau adalah Hidupku
Episode 2


__ADS_3

Beberapa hari ini hujan terus, saat hari pemakaman Bella juga gerimis, tapi banyak yang hadir ke hari pemakaman itu. Mark bilang harus membiarkan Delfina berlutut di depan kuburan Bella, seolah-olah bersikeras ingin dia berlutut hingga mati.


Delfina membangkang, tapi ditampar oleh pria dengan kejam akhirnya. "Jangan jangan-pura polos, kamu tidak pantas!"


Delfina menahan rasa sakit dan tiba-tiba tertawa.


Di bawah rintikan hujan, Delfina tertawa dengan pasrah. Sedangkan, Mark menendang sudut mulutnya hingga Delfina berguling keluar dan memuntahkan seteguk darah.


Lalu, sepatu kulit Mark muncul di depan matanya, Delfina pun menatapnya, tiba-tiba dia merasa hatinya tidak ada rasa suka padanya lagi.


Pria seperti ini sungguh kejam, sebenarnya kesalahan apa yang dilakukan dirinya ....


Salahnya adalah mencintainya!


Delfina menggertakkan gigi. "Kamu jangan harap aku akan berlutut padanya!"


"Berlutut sudah termasuk hukuman ringan untuk kesalahan yang kamu lakukan!" Pria itu menariknya dengan marah, lalu melemparnya ke tanah dengan kejam. Akan tetapi, Delfina tidak merintih.


Delfina hanya tertawa, "Akubisa memaafkan kamu yang berselingkuhan di luar, begitu juga dengan gosipan mengenai kamu dalam berita koran. Istri seperti aku hidup seperti anjing, apa kamu nggak ada hati nurani? Berani kamu memfitnah aku yang membunuh Bella? Emang kamu anggap Bella siapa? Baik latar belakang keluarga maupun pendidikan, apa kelebihan dia dariku?"


"Akhirnya kamu menunjukkan rupa sebenarnya ...."


Mark mengangkat kepala dia dengan ujung sepatu. "Hari ini aku mempersiapkan hadiah besar untukmu, tapi nggak tahu kamu suka atau gak?"


Baru selesai bicara, muncul barisan polisi di depan pintu. Ketika Delfina belum sempat menyadari apa yang terjadi, sudah ada polisi yang menghampirinya untuk menerkam dan memakaikannya borgol.


Saat melihat tangannya diborgol, Delfina pun melawan. "Lepaskan aku, atas dasar apa kalian menangkapku?"


"Pembunuhan! Pembunuhan!"


"Puih! Ternyata Nona Besar Delfina seperti ini!"


"Persetan! Memang hati manusia sangat licik!"

__ADS_1


"Mark sangat sial memiliki istri seperti ini!"


Reporter dan kamera menghadap dirinya, merekam ekspresi dia yang panik. Wajah Delfina tampak pucat dan pikirannya kosong. "Siapa yang menyuruh kalian menangkapku? Siapa?"


"Hmm! Kalau nggak ada bukti yang kuat, tidak mungkin mereka menangkapmu di negara hukum ini?"


Suara pria terdengar dari belakang, saat menoleh ke belakang, Delfina melihat dia memegang guci abu, dengan mengenakan pakaian kelas tinggi seperti seorang raja yang muncul di depan mata Delfina lagi.


Mata Delfina memerah. "Mark, kamu yang menyuruh mereka menangkapku, 'kan?"


Mark tersenyum. "Aku hanya ingin memberi keadilan kepada Bella. Aku dan polisi telah melihat rekaman CCTV itu."


"Keadilan? Keadilan?"


Delfina merasa sedang mendengar lelucon, tiba-tiba dia tertawa keras. Semua orang sedang menyalahkannya, tapi merasa takut dengan tampak gilanya. Siaran langsung juga merekam penampilannya yang seperti orang gila, dia terlihat seperti hantu jahat di depan mata 2,7 triliun orang.


Suara borgol di tangan Delfina pun berbunyi keras karena perlawanannya, lalu Delfina berteriak pada Mark, "Mark! Kamu benar-benar nggak ada hati nurani! Hubungan suami-istri selama 5 tahun, meskipun anjing, juga nggak akan dihina orang seperti ini!"


"Dihina?"


"Aku sudah bilang kalau aku nggak membuat hal itu, jadi apa hakmu menangkapku?!" Delfina tertawa pahit, perlawanan akhirnya tidak bisa mengubah apa-apa. Delfina melihat dirinya dari mata Mark, tapi diri yang terlihat sangat konyol.


Terdengar suara tamparan, rasa sakit yang familier itu pun terasa. Delfina hanya menangis, tiba-tiba sepasang tangannya merebut guci abu di tangan Mark, lalu dia melempar guci itu di depan semua orang!


"Mark, aku beri tahu kamu, aku nggak berpikir untuk melakukan hal itu dalam seumur hidupku! Terserah kamu mau percaya atau gak, tapi aku nggak menerima orang yang mati menghina diriku! Cepat atau lambat, kamu akan mendapat balasan!"


Mark berteriak keras seperti gila, lalu dia mencekik Delfina. "Beraninya kamu berbuat begitu! Beraninya kamu berbuat begitu!"


"Bunuh saja aku!" Delfina tertawa pahit. "Kamu begitu percaya padanya sampai nggak peduli aku bersalah atau gak. Hal apa lagi yang nggak bisa kamu lakukan? Kamu hanya mengandalkan rasa cintaku padamu! Bukankah kamu ingin menyakiti hatiku?! Lakukanlah, lagian hatiku sudah penuh dengan luka, jadi aku nggak keberatan kalau kamu melukainya lagi!"


Polisi berjalan ke depan untuk menarik Delfina dengan kuat, lalu menyeretnya ke mobil polisi. Semua orang menyaksikan adegan ini, melihat wajah tampan pria itu berubah menjadi seram, sehingga semua orang merasa ketakutan.


Sedangkan Mark menatap kepergian Delfina. "Delfina, seumur hidupmu itu nggak cukup untuk menebus kesalahan yang kamu lakukan!"

__ADS_1


Delfina tertawa keras sampai air mata pun menetes. "Mark, kamu akan menyesal! Mungkin saja anak di perut Bella bukan anakmu! Kalau suatu hari kamu menyadari apa yang kamu lakukan hari ini salah ...."


Kalau suatu hari kamu menyadari apa yang kamu lakukan hari ini salah ....


Entah kenapa tiba-tiba hujan deras, tetesan air hujan yang dingin itu seolah-olah menetes ke hati semua orang. Saat ini, hujan semakin deras, seperti Tuhan sedang marah!


Air hujan membasahi tubuhnya, Delfina yang dibawa masuk ke mobil tertawa keras seperti orang gila, tapi suara tawa itu bergema di telinga orang!


"Mark, kalau aku nggak mati, aku berharap jangan bertemu denganmu lagi. Kalau aku mati, maka itu adalah keberuntunganku!"


Memang cinta yang bertepuk sebelah tangan!


Dia sudah mengerti, akhirnya dia mengerti! Mark sama sekali tidak ingin membiarkan dia hidup, setelah cerai, memasukkannya ke dalam penjara. Selamanya dia akan menyesal atas kebodohannya!


Delfina tertawa hingga muntah darah, ketika jendela mobil polisi dibuka, masih ada banyak kedipan lampu kamera yang memotret tampak berantakannya. Akan tetapi, dia hanya menatap Mark tanpa memedulikan pandangan orang lain.


"Aku sudah salah."


Tiba-tiba dia tidak ada tenaga untuk melawan lagi, dia hanya berkata, "Mark, aku baru menyadari kalau aku benar-benar salah ...."


Mark menghampirinya dan ingin mengatakan sesuatu, tapi dia malah melihat Delfina menengadahkan kepala sambil menatapnya dengan pasrah, seolah-olah dunia perlahan-lahan hancur di matanya, "Mark, kesalahan fatal yang kulakukan adalah mencintaimu ...."


Pernikahan selama 5 tahun, hubungan pacaran selama 5 tahun, seketika hancur!


Dia benar-benar tidak percaya padanya, jadi memasukkan dia ke penjara dengan kejam, bahkan membuat semua pengorbanannya berubah menjadi bahan tawa!


Mark, kamu berutang banyak padaku!


Mobil polisi melaju di tengah hujan, helaan napas Delfina segera diembus pergi oleh air hujan, seperti tatapan putus asa dan kecewanya.


Jelas-jelas dirinya seharusnya senang karena sudah membantu Bella membalas dendam ... tapi ketika saat itu tiba, Mark malah gundah sampai mundur dua langkah.


Angin menerpa dari belakang, tetesan air hujan yang dingin pun jatuh di bahunya.

__ADS_1


Ketika dia berhasil membalas dendam, kenapa hatinya malah merasa hampa. Saat mendengar Delfina bergumam, hatinya sangat sakit seperti ditusuk oleh jarum ....


__ADS_2