Kau adalah Hidupku

Kau adalah Hidupku
Episode 18


__ADS_3

"Kamu membuntutinya ke studionya ...."


Denny menatap Mark mengendarai mobilnya, lalu berkata dengan setengah tersenyum, "Aku bisa membantumu kalau kamu mau."


"Apa maksudmu?"


Mark menatap Denny melalui kaca spion, dia memiliki sepasang mata tajam yang licik, dia terkesan dingin dan menggoda ketika dia tidak tersenyum, sedangkan ketika dia tersenyum, dia tampak berbinar-binar, tapi auranya begitu dingin, pantas saja begitu banyak wanita di Kota Batari yang mengejarnya, apalagi Mark adalah orang yang cukup berkualitas.


Denny juga tersenyum saat melihat Mark tersenyum, "Bukankah kamu sudah mengerti?"


"Kemungkinan, dia nggak akan menerimanya."


Mark berpikir untuk sesaat, dia menghentikan mobilnya di tepi jalan setelah melihat Delfina masuk ke dalam studio, dia mengeluarkan sebungkus rokok dan menyodorkan sebatang rokok kepada Denny yang berada di kursi belakang itu, lalu mengatakan, "Aku memerlukan sebuah alasan yang dapat ... diterima olehnya."


"Sangat sederhana," kata Denny dengan penuh makna. "Serahkan saja kepadaku."


Mark meliriknya, "Aku nggak percaya dengan orang sepertimu."


Denny pun tertawa, "Kenapa nggak percaya? Aku dan mantan istrimu adalah ...."


"Adalah apa?" Mark memelototinya. "Cari mati kamu kalau berani bermacam-macam terhadap Delfina."


"Astaga, hei!"


Denny seolah-olah telah mendengar sebuah lelucon, "Apakah kamu masih nggak rela melepaskannya walaupun sudah bercerai? Aku juga nggak bisa menghalanginya kalau dia menyukaiku."


Mark menggertakkan giginya, "Orang lain juga jangan berharap bisa menyentuhnya walaupun aku sudah bercerai dengannya, kamu jangan bermimpi!"


Denny menyalakan rokoknya sambil tersenyum, dia tidak bersuara. Keduanya menghabiskan rokok masing-masing dan membuang puntung rokok mereka ke dalam tong sampah di dalam mobil, lalu mereka menarik napas panjang.


Denny merapikan kerah bajunya, dia menuturkan, "Kalau begitu, aku keluar dulu."


Mark berkata kepadanya, "Hati-hati."


Denny menyipitkan matanya, "Aku tahu."


Bryan dan Delfina pun tertegun saat melihat Denny berjalan ke dalam studio.


Saat ini, Delfina sedang mengerjakan draf di depan meja kerja, dia mengenakan kacamata datar, rambutnya tergerai setengah, dia tampak sangat cantik dan lembut dengan wajahnya yang tertutup setengah.


Denny pun berpikir, benarkah orang seperti ini bisa membunuh orang?


Tidak tahu apakah masalah lima tahun yang lalu itu ... benar-benar terjadi, sehingga membuatnya dijatuhi hukuman tanpa alasan yang jelas?


Bryan mampu mengenali Denny dalam sekejap, dia maju dan berkata, "Tuan Denny, hari ini Anda ke sini ...."


"Aku ke sini untuk mencari kalian."


Suara Denny datar, auranya tenang, dia tersenyum kepada Delfina yang tampak sangat terkejut itu, "Nona Delfina, kita bertemu lagi."


"Senang berjumpa dengan Tuan Denny." Delfina merapikan pekerjaannya, dia maju dan menuangkan secangkir kopi untuk Denny. "Studio agak berantakan, silakan duduk."


"Nggak, dekorasinya lumayan bagus."

__ADS_1


Denny menyeruput kopinya, dalam sekejap saja dia bisa merasakan kalau kopi itu adalah kopi saring, betapa santainya seseorang sehingga bisa menyaring kopi setetes demi setetes menggunakan kertas saring sepanjang sore, pada umumnya, itu adalah kegiatan yang dilakukan di waktu senggang.


Denny melirik ke sekitar ruangan, dekorasi ruangan ini cukup berkarakter, strukturnya juga cukup indah dan cukup kreatif. Meja kerja yang digunakan Delfina tadi itu berbentuk setengah lingkaran, setengah bagiannya lagi terdapat tiga monitor komputer, ada setumpuk draf di sebelahnya, tampaknya itu adalah pekerjaan sehari-hari mereka.


Denny duduk di sebuah sofa bundar, dia menyilangkan kakinya dan tersenyum kepada Delfina. "Nona Delfina, sebelumnya kamu bohong, 'kan?"


Jantung Delfina langsung berdegup, tapi dia masih berpura-pura tidak mengerti, "Tuan Denny, sebenarnya, apa tujuan Anda ke sini hari ini?"


"Dawn, kami memerlukan bantuanmu."


Denny meletakkan cangkir di tangannya itu ke atas meja dengan pelan, lalu dia menarik kembali tangannya dan melirik Bryan yang masih kebingungan itu. "Sebelumnya kamu menyangkal kalau Dawn adalah nama panggungmu, aku paham dengan perasaanmu, tapi Nona Delfina, kami berharap kamu bisa ... ikut serta di dalam desain produk baru kali ini. Jadi, tujuan kunjunganku hari ini adalah berharap kamu bisa memberikan sebuah kesempatan kepada kami untuk bekerja sama."


Tidak ada kesan memohon atau memaksa di dalam ucapan Denny, Delfina mengulum bibirnya, akhirnya Bryan yang berada di sebelah itu tersadar, "Kalian mau adikku berpartisipasi di dalam perancangan?"


Denny mengangguk-anggukkan kepala, "Perusahaan akan meluncurkan gaun pengantin musim semi terbaru tahun depan."


Delfina menggenggam jarinya secara tidak sadar, lalu terdengar Bryan menuturkan, "Terima kasih atas kebaikan Tuan Denny, juga minta maaf sudah membuatmu repot-repot ke sini, tapi adikku sudah lama nggak merancang gaun pengantin lagi."


Raut wajah Denny langsung berubah, tampaknya dia tidak menduga kalau akan seperti ini, dia pun bertanya secara tidak sadar, "Kenapa?"


Delfina langsung mendongak, sepasang matanya bagaikan lubang hitam yang menelan semua perasaannya, lalu dia berkata, "Aku sudah nggak punya harapan dengan cinta lagi, jadi ... aku nggak bisa merancang gaun pengantin."


Sejak awal, gaun pengantin yang dapat membuat orang yang mengenakannya merasakan kebahagiaan itu, gaun pengantin yang melambangkan akhir yang indah dari sebuah percintaan itu sudah hancur berkeping-keping di dalam hatinya, dia tidak mau mengungkitnya lagi.


Kisah cinta yang gagal dan tragis telah menghancurkan kemampuannya untuk merasakan kebahagiaan.


Denny tercengang, mulutnya terbuka seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya dia tetap menahan diri.


Setelah terdiam beberapa lama, dia berkata dengan datar, "Aku sudah paham ... tapi, Nona Delfina, aku berharap kamu bisa mempertimbangkannya dengan matang. Walaupun pernah terluka, kamu juga seharusnya ... membiarkan lukamu sembuh. Kemampuanmu akan selalu menjadi milikmu dan tidak bisa dihancurkan oleh orang lain. Aku percaya kepadamu."


Pria itu membuka pintu dan keluar, dia meninggalkan kartu namanya di bawah cangkir kopi, jantung Delfina berdebar-debar, dia masih belum tersadar setelah beberapa lama.


....


Saat Denny masuk ke dalam mobil Mark, Mark langsung membalikkan kepala dan menanyakan, "Bagaimana?"


Denny menggeleng-gelengkan kepala, "Dia nggak menyetujuinya."


"Sudah kuduga ...." gumam Mark, dia memutar kembali kepalanya dan menyalakan mesin mobil, kemudian, mobil Maybach pun pergi dari studio secara perlahan-lahan.


Setibanya di jalan tol, Denny akhirnya menanyakan, "Kenapa kamu nggak membantunya secara langsung dan harus melaluiku?"


Tangan Mark yang sedang memegang roda setir itu mengerat, "Aku? Kemungkinan, mati pun dia nggak akan mau bekerja sama denganku."


"Betul juga," Denny tertawa dengan seenaknya. "Daripada kamu, dia lebih terbuka terhadapku."


Mark pun membunyikan klakson saking kesalnya, "Kamu cari mati, ya?"


"Hei! Dasar nggak tahu terima kasih. Aku membantu mantan istrimu untuk bekerja sama agar menghasilkan uang, kamu malah ingin aku mati." Denny menggelengkan kepala sambil mendecakkan lidah. Dia berkata lagi, "Tapi, karena kamu begitu peduli terhadapnya, kenapa lima tahun yang lalu kamu menjebloskannya ke dalam penjara?"


Betul, Delfina adalah wanita yang paling dia benci, kenapa dia malah mengerahkan tenaga yang begitu besar untuk membantunya?


Mark memandang ke depan dengan tatapan kosong, beberapa lama kemudian, dia baru menuturkan, "Karena dia telah mencelakai Bella dan anaknya."

__ADS_1


"Tetapi, sangat jelas kalau kala itu dia hamil, tapi kamu nggak tahu." Yang juga berarti kalau kamu sudah menjebloskan istrimu yang sedang hamil ke dalam penjara demi seorang wanita simpanan.


Denny duduk di kursi belakang sambil menyaksikan pemandangan yang berlalu melalui jendela, dia menyadari laju mobil semakin cepat, dia pun berkata, "Sudah sakit kakimu menginjak pedal gas?"


Mark menggertakkan giginya, "Aku pasti sudah terlalu baik terhadapmu, nanti aku akan bilang ke ayahmu kalau kamu mempermainkan wanita di luar sana."


"Sialan!" seru Denny. "Nggak tahu malu kamu, Mark! Beginikah caramu memperlakukan saudaramu?!"


"Siapa yang menganggapmu sebagai saudara? Enyahlah dari mobilku sekarang juga!"


...


Mark mengantar Denny pulang, lalu dia sendiri juga pulang, kebetulan di saat ini ada yang meneleponnya, sebuah nomor yang tidak dikenal.


Mark pun mengangkatnya di saat dia masih terheran-heran nomor siapakah ini, terdengar suara yang jernih dari ujung telepon, "Ayah, ini aku."


Wah, ternyata putranya!


Suara Mark langsung menjadi lembut saat mendengar suara itu, "Halo, halo, ada apa kamu meneleponku?"


Di sisi lain, Alex berkata bagaikan orang dewasa, "Ayah, hari ini kamu pergi mencari ibu, ya?"


Kenapa bocah tengik ini begitu pintar?


Mark berjalan ke dalam kamarnya sambil bertanya, "Kenapa kamu berbicara seperti itu?"


"Ibu bilang kepadaku kalau ada yang tahu dia adalah Dawn, bahkan mau bekerja sama dengannya."


Alex menghela napas bagaikan orang tua, lalu berkata, "Ayah, aku tahu kamu sudah mengutus orang, 'kan?"


Mark pasti telah ketiban rezeki nomplok sehingga bisa memiliki putra yang secerdas ini.


Bukankah itu artinya kalau Alex adalah keturunannya?! Mark langsung mengiakannya tanpa pikir panjang, "Iya, aku ingin membantu ibumu."


"Kenapa sekarang kamu berniat membantu?"


Alex seolah-olah keluar dari ponsel Mark dan berbisik di telinganya, "Ayah, aku dan ibu akan menerima niat baikmu kalau kamu merasa bersalah atas masalah lima tahun yang lalu. Tapi, kalau itu karena kamu merasa bersimpati, maka kami nggak butuh."


Hati Mark bergetar, dia mengeratkan ponsel di tangannya dan menanyakan, "Ibumu yang mengajarimu ini?"


Hmm ... kenapa ayah selalu membuat keputusan sepihak?


Alex menggeleng-gelengkan kepala di tempat yang tidak terlihat oleh Mark, "Ini adalah kemauanku sendiri, ibuku nggak tahu aku meneleponmu. Sebenarnya, aku mendapatkan nomor teleponmu dari kartu namamu yang aku ambil dari mobilmu sebelumnya."


IQ bocah tengik ini sudah hampir melampaui IQ Mark!


Mark menahan dirinya, dia menghela napas panjang dan menuturkan, "Hei, hei, kamu nggak ada hubungannya dengan masalah lima tahun yang lalu dan nggak mengalaminya, jadi, kamu juga nggak akan paham dengan perasaanku. Tetapi, untuk masalah saat ini, karena aku mau membantu kalian, kenapa kalian nggak mau menerimanya? Aku hanya mau hidup kalian lebih baik saja."


"Aku nggak memerlukan hidup yang lebih baik."


Alex menurunkan tatapan matanya, "Ayah, aku nggak paham dengan semua hal yang kamu lakukan terhadap ibu, kamu juga nggak paham dengan perasaan kami. Kamu jangan mengganggu kami lagi kalau kamu benar-benar nggak punya perasaan terhadap ibu. Terima kasih atas niat baikmu."


Anak itu langsung menutup teleponnya usai berbicara, Mark terbengong menatap layar ponselnya, dia masih belum tersadar setelah beberapa lama.

__ADS_1


Dia memiliki semacam firasat kalau dia sudah semakin tidak bisa memahami Delfina.


__ADS_2