Kau adalah Hidupku

Kau adalah Hidupku
Episode 32


__ADS_3

Sofia tidak menduga bahwa Delfina akan menentangnya, jadi dia tidak tahu harus bagaimana membantahnya dalam sekejap.


Setelah tertegun beberapa saat, dia baru tersadar. "Si ... sikap macam apa ini? Kalau nggak ada bantuan dari keluargaku, kamu nggak akan mungkin bisa terlepas dari cengkeraman Mark."


"Tetapi aku juga nggak harus menuruti saranmu."


Delfina melipat tangannya di depan dada dan mencibir. "Aku nggak memerlukan bantuanmu. Selama ini, aku sudah bertahan sendiri tanpa bergantung pada siapa pun!"


Ucapan Delfina itu sangat mengejutkan Sofia. Di detik berikutnya, dia melihat Delfina tersenyum sinis.


Wajahnya saat tersenyum sinis juga sangat cantik. Wanita ini mempunyai daya tarik yang dapat memikat seluruh pria di Kota Bench dulu. Kemudian, setelah menikah dengan Mark, Delfina bagaikan seorang superstar yang jatuh dan memudar.


Delfina berkata, "Aku rasa kamu sangat lucu. Kalau kamu memang ingin mengejar Mark, silakan. Apa hubungannya denganku? Apakah kamu merasa takut padaku atau merasa dirimu nggak sebanding denganku, jadi kamu baru memikirkan ide ini dan mengira bahwa kamu bisa mengendalikanku?"


Sofia tidak bisa menjawab pertanyaan Delfina itu dan malah mundur beberapa langkah, lalu bergumam, "Sembarangan! Kenapa aku nggak sebanding denganmu? Kamu jangan nggak tahu berterima kasih! Nanti saat studiomu bangkrut, menangis juga sudah percuma!"


"Biarpun begitu." Delfina menyipitkan matanya dan tersenyum. "Aku juga nggak akan meneteskan air mata di hadapanmu."


Sofia menggertakkan giginya. Wajah kecilnya yang cantik itu menjadi merah karena marah. "Delfina, kamu mau sok arogan apa lagi! Apakah kamu nggak tahu betapa menyedihkan dirimu saat Mark membuangmu dulu!"


"Benar." Delfina melanjutkan kata-kata Sofia dan menertawakan dirinya sendiri. "Saat dia membuangku, aku bahkan nggak sebanding dengan seekor anjing. Sofia, jangan mengikuti jejakku."


Delfina juga pernah tidak memedulikan segalanya untuk mengejar Mark. Dia bahkan mengambil inisiatif untuk menikahi Mark dan menggunakan latar belakang keluarganya sebagai imbalan. Pada akhirnya, dia tidak mendapatkan apa-apa dan malah harus dikurung di dalam penjara.


"Kamu ... kamu jangan sok baik!" Suara Sofia bergetar karena marah, "Baiklah, kalau kamu memang begitu hebat, aku mau melihat kamu bisa bertahan sampai berapa lama!"


Delfina tidak mengatakan apa-apa dan menunduk.

__ADS_1


Sofia tiba-tiba tertawa. "Oh iya, saat aku pergi ke Kediaman Pranata kemarin, aku juga bertemu putranya."


Setelah mendengar kata-kata itu, Delfina langsung mengangkat kepalanya. Ketajaman di matanya bagaikan sebuah cahaya dingin yang melewati belati. Kemudian, dia berkata dengan kesakitan, "Kamu sudah bertemu dengannya?!"


'Mark, Mark ... kamu selalu memintaku untuk mendirikan citra seorang ibu yang baik, tapi dirimu malah membawa wanita sembarangan pulang ke rumah! Kalau Alex melihatnya, dia pasti akan merasa sangat kecewa!'


Sofia akhirnya melihat rupa Delfina yang kehilangan kendali, jadi dia tersenyum puas. "Benar. Putranya itu kelihatannya berumur sekitar lima tahun. Kasihan sekali kamu! Kamu sudah mencintai Kak Mark begitu lama, tapi dia ternyata sudah mempunyai anak sebesar itu. Hahaha! Mungkin saja saat kamu di penjara dulu, mereka sekeluarga sudah hidup bahagia!"


Sepertinya Sofia sama sekali tidak tahu bahwa Delfina yang melahirkan Alex dan hanya tahu bahwa Mark mempunyai anak haram.


Namun, meskipun jika Alex hanyalah seorang anak haram, tidak ada orang yang berani merendahkannya karena itu adalah anak Mark.


Delfina mengepalkan tangannya erat-erat untuk mempertahankan kewarasannya dan berusaha membuat suaranya terdengar tidak terlalu kacau ... Namun, semuanya itu sia-sia. Delfina bisa mengeraskan hatinya dan berusaha menjadi kuat. Dia hanya tidak bisa mengendalikan dirinya saat menghadapi masalah yang berhubungan dengan Alex.


Delfina hanya menatap Sofia dan merasa bahwa senyum arogan di wajahnya sangat menusuk mata.


Delfina berusaha keras menahan getaran suaranya. "Apakah kamu sudah selesai berbicara? Kalau sudah, silakan pergi! Aku nggak mempunyai waktu lebih untuk menghibur orang kurang kerjaan sepertimu."


Delfina mengatakan bahwa Sofia adalah orang kurang kerjaan?


Setelah mendengar kata-kata itu, Sofia ingin mengamuk lagi. Namun, setelah melihat rupa Delfina, dia merasa senang dan berjalan keluar dari studio itu sambil tersenyum bagaikan seorang pemenang. Delfina menatapnya dengan pandangan yang sangat dingin dan lama ... Pada saat itu, kebencian di dalam matanya sangat mirip dengan kekejaman Mark.


...


Hari ini sama sekali tidak ada kemajuan. Semua proposal kerja sama sudah hilang dan Delfina juga tidak menerima tanggapan atas undangan yang dia kirim. Delfina bersandar di kursi dan meringkuk di dalam kesunyian. Bryan sudah pergi dinas, tetapi proyek kali ini juga sepertinya tidak akan berhasil.


Harus bagaimana ... apakah semuanya akan berakhir di sini?

__ADS_1


Tidak ...


Delfina mengangkat tangan kanannya. Dia menatap bekas luka yang bertautan di pergelangan tangannya dan ibu jarinya yang sudah kehilangan satu ruas. Meskipun luka-luka itu sudah sembuh dan tidak berdarah, luka lama yang tertinggal itu selamanya akan selalu terasa sakit di dalam tubuhnya.


Kegelapan masa lalu tidak berhenti memperingati Delfina tentang seberapa gila dirinya dulu.


Seberapa jelas cintanya dulu, maka seberapa kuat juga dendamnya sekarang. Tangan kanan Delfina sudah tidak bisa mengangkat barang-barang berat, bahkan hanya mengepalkan tangannya juga sangat sulit. Meskipun begitu, dia tetap berusaha untuk mengepalkan tangannya erat-erat bahkan jika gemetaran.


Dia tidak boleh dikalahkan ... dia tidak boleh dikalahkan lagi ... tangannya yang satu lagi meraih sebutir obat dan langsung menelannya. Delfina duduk di depan komputer dan tidak berhenti menarik napas dalam-dalam sambil memegang baju di depan dadanya dengan erat. Dia berbuat begitu seolah-olah agar ada lebih banyak udara yang bisa masuk ke paru-parunya.


Namun, semuanya sia-sia.


Dadanya terasa sangat sesak, tertekan dan bahkan hampir tidak bisa bernapas.


Tepat di saat itu, air mata penuh penderitaan langsung menyembur keluar dan Delfina merintih bagaikan seekor binatang yang terperangkap.


'Alex, bagaimana ini? Aku harus bagaimana baru bisa menolongmu dan menolong diriku sendiri?'


Dia sepertinya pernah mendengar sebuah kalimat. "Hal yang paling aku sesali dalam hidupku adalah orang yang mendorongku ke dalam neraka adalah orang yang pernah membawaku ke surga."


Namun, Delfina berpikir lagi. Mark tidak pernah membawanya ke surga dan langsung mengirimnya ke neraka. Semua yang Delfina miliki adalah sumber penderitaan yang diberikan oleh Mark. Mark sama sekali tidak pernah memberinya kehangatan.


Delfina terlalu naif dan menolak untuk berpaling. Sampai sekarang, dia bahkan masih berusaha hidup di dalam bayang-bayang Mark.


Saat Sofie pergi, dia sama sekali tidak menutup pintu. Mungkin juga karena kebiasaannya sebagai nona besar dan ada pelayan yang selalu menutupkan pintu untuknya. Jadi, setelah dia pergi, pintu studio itu masih terbuka lebar. Musim dingin sudah akan tiba, jadi angin dingin tidak berhenti bertiup masuk.


Berkas-berkas tipis yang ada di atas meja juga bergetar karena ditiup angin. Delfina duduk di tengah sofa dan wajahnya terlihat pucat. Dia pelan-pelan melihat ke luar hingga malam bertambah gelap. Dia tahu bahwa dirinya sudah kehilangan tenaga untuk menutup pintu itu, bagaikan dirinya yang tidak berani menghadapi Mark.

__ADS_1


Angin malam yang sangat dingin bercampur dengan helaan napas orang-orang itu melewati setiap sudut kota yang mewah ini. Ia telah menyaksikan kasih sayang orang-orang yang tak terhitung jumlahnya, tetapi ia selalu datang dan pergi tanpa jejak. Ia tidak membawa pergi apa-apa selain waktu dan kehangatan.


__ADS_2