Kau adalah Hidupku

Kau adalah Hidupku
Episode 17


__ADS_3

Mark tidak dapat membayangkan bagaimana Delfina melewati kehidupannya dalam beberapa tahun terakhir. Melihat dia yang membenamkan kepalanya di bahu Alex dan menangis, tiba-tiba muncul satu perasaan aneh yang menusuk hati Mark.


Alex menyeka air mata Delfina dengan serbet, lalu berkata padanya, "Ibu, bagaimana kalau kita pulang saja? Jangan sedih lagi."


Delfina memeluk Alex dengan badannya yang masih gemetaran, "Ibu hanya membutuhkanmu. Kamu ... adalah alasan Ibu untuk hidup ...."


Alex menatap mata Delfina yang rapuh, lalu menoleh ke arah Mark yang sedang berdiri di depan pintu. Dia menghela napas dan berkata, "Ibu, aku sudah memberitahumu sebelumnya. Sebenarnya, ayah yang mengantar aku datang hari ini."


"Aku tahu kamu membencinya, tapi dia tetap adalah ... ayahku."


Alex mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke mata Delfina. Anak ini memiliki sepasang mata yang jernih dan indah. Matanya seolah-olah memiliki kemampuan untuk menenangkan orang-orang yang menatapnya.


Suaranya terdengar lembut tetapi juga terdapat ketegasan yang tidak perlu dipertanyakan lagi, "Meskipun aku nggak menyukainya, aku merasa dia dapat diandalkan. Tetapi, jika Ibu nggak mau kembali ke sisi ayah, aku nggak akan ikut campur. Pilihanmu adalah pilihanku juga."


Pilihanmu adalah pilihanku juga.


Air mata Delfina mengalir keluar lagi, kemudian dia berkata, "Alex, Ibu sudah nggak takut. Bagaimana kalau kita pulang dan hidup tenang bersama paman?"


Seperti kamu tidak pernah bertemu Mark, seperti kamu tidak mempunyai ayah sepertinya.


Setelah Delfina tidur, Alex berjalan keluar dari kamar rumah sakit. Dia menatap Mark dengan pandangan yang terlihat dewasa, sedangkan Mark memandangnya dengan sedikit cemas.


"Bagaimana keadaannya?"


"Lumayan .... Saat ini, dia nggak begitu terguncang seperti sebelumnya."


Alex memiliki wajah yang sangat mirip dengan Mark. Saat dia berdiri di samping Mark, orang yang cerdas pasti bisa menebak bahwa mereka adalah ayah dan anak dengan hanya satu lirikan.


Terkadang, takdir memang sangat suka bercanda. Mark tidak pernah menyangka bahwa wanita yang paling dia benci itu malah ... melahirkan putranya yang pintar dan bijaksana ini.


Namun, apakah bagus jika anak sekecil ini begitu cepat dewasa?


"Hei, Ayah. Aku punya satu syarat saat ibu sudah baikan nanti."


Alex berjinjit dan berkata pada Mark, "Kamu harus membiarkan kami berkumpul kembali."


"Berkumpul kembali?"


Mark mengernyitkan alisnya, "Aku harus mengantar kalian pulang ke tempat yang kalian sebut rumah itu? Kenapa? Apakah kalian masih ingin terlantar di jalanan?"


Dia tidak menyukai pemikiran bahwa anaknya terlantar di luar!


Pandangan mata Alex jelas terlihat meredup, "Ayah, jika bukan karena aku, apakah kamu peduli dengan kehidupan ibu?"


Kata-kata itu sangat tepat sasaran, sehingga Mark pun tercengang dan tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.


"Lihatlah, kalian nggak saling mencintai. Meskipun kalian bersama-sama, kalian juga nggak akan bahagia."


Alex menarik napas panjang, lalu menatap Mark, "Jadi, lebih baik kamu membiarkanku hidup tenang bersama ibu. Ayah boleh datang menjengukku kapan saja, aku akan membicarakannya dengan ibu. Aku berjanji nggak akan pernah pergi ke rumah Ayah untuk membuat onar. Kehidupanku dengan ibu di luar sangatlah baik."


Maksud dari perkataan itu adalah, mereka tidak ingin tinggal bersama Mark.


Saat Mark menatap wajah Alex, dadanya tiba-tiba terasa sakit.


Kenapa anak berumur lima tahun ini mempunyai pemikiran yang begitu saksama .... Dia begitu dewasa hingga membuat orang merasa kasihan padanya.


Namun, Mark tidak akan melepaskan Alex. Bagaimana mungkin dia membiarkan putranya menderita di luar? Keturunan Keluarga Pranata harus dibesarkan oleh Keluarga Pranata!


...

__ADS_1


Saat Delfina dirawat di rumah sakit, Mark selalu menjemput Alex dari taman kanak-kanak dan membawanya menjenguk Delfina setiap hari. Delfina pun dengan cepat keluar dari depresinya, meskipun saat melihat Mark, matanya masih tetap dipenuhi rasa benci yang jelas.


Mark berpikir dalam hati. Bencilah aku. Lebih baik kamu membenciku daripada menjadi gila.


Di hari Delfina keluar dari rumah sakit, Alex berjalan di sisi Delfina sambil menggenggam tangannya. Pada dasarnya, Delfina memang ramping dan tinggi, tapi setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, sepertinya dia bertambah kurus lagi. Saat berjalan melewati lobi rumah sakit yang dipenuhi orang-orang, dia terlihat sangat kurus dan lemah, seolah-olah akan jatuh pingsan di detik berikutnya.


Mark menahan keinginannya untuk membantu. Dia berpikir, kenapa dia harus terus-menerus memperhatikan wanita ini. Wanita ini adalah pembunuh Bella!


Melihat Alex yang mengikuti Delfina berjalan keluar dengan gembira, Mark tanpa sadar mengikuti mereka sampai ke pintu keluar dan melihat bahwa ada mobil yang datang menjemput mereka. Saat pintu mobil dibuka, ternyata itu adalah Bryan. Bryan sangat tampan dan percaya diri.


Dia menggenggam tangan Alex dengan akrab, seolah-olah mereka benar-benar adalah satu keluarga.


Mark mendengus, tetapi tidak mengatakan apa-apa, lalu dia pun mengikuti pengawalnya dan naik ke dalam mobilnya. Setelah merasa bahwa pandangan yang mengikutinya hilang, akhirnya Delfina menghela napas lega.


Bryan baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya, nada bicaranya penuh kekhawatiran. "Apakah kamu baik-baik saja?"


Delfina menjawab, "Aku baik-baik saja ...."


Alis Bryan sedikit terangkat, "Del, jujurlah padaku. Apakah akhir-akhir ini kamu nggak minum obat dengan teratur?"


Delfina membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangannya dan tubuhnya juga terlihat sedikit gemetar, "Aku nggak sakit .... Meskipun sebelumnya aku sakit, tapi aku juga sudah sembuh."


Alex yang berada di sampingnya berkata dengan sedih, "Ibu, minumlah obatnya untuk beberapa saat lagi. Setelah itu, Ibu pasti akan sembuh total."


Delfina mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Alex dengan wajah berlinang air mata. Wajah Alex benar-benar sangat mirip dengan wajah Mark.


Dia menangis sambil mengusap wajah putranya itu, "Baiklah, Ibu akan berusaha untuk menjadi lebih tegar."


Setelah pulang ke rumah, Alex dan Delfina sama-sama menonton TV. Bryan masuk ke dalam kamar Delfina dan membuka laci obatnya. Melihat botol obat yang masih penuh itu, Bryan tahu bahwa Delfina tidak minum obat dengan teratur selama setengah tahun ini.


"Kamu nggak boleh hanya minum obat saat merasa sedih. Keadaanmu tidak seperti demam yang akan sembuh hanya dengan minum sebutir obat."


Bryan duduk di samping Delfina dan memberi nasihat yang tulus, "Bahkan saat demam, kamu juga harus minum obat selama tiga sampai empat hari baru bisa sembuh. Kamu nggak boleh begini ...."


"Bagaimana kalau kamu bertemu dengan Mark lagi?"


Pertanyaan Bryan yang blak-blakan itu mengejutkan Delfina.


Saat bertemu dengan Mark, dia memang bisa merasa panik, kalut dan bahkan tidak berdaya. Pria itu sudah melukainya terlalu dalam dan menyebabkannya mengalami trauma yang sudah tidak dapat disembuhkan lagi.


Delfina menarik napas dalam-dalam, "Kak, obat-obatan itu nggak akan bisa menyembuhkanku. Aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri untuk sembuh."


Perasaan takut dan benci terhadap Mark sudah berakar di dalam hatinya. Jadi, tidak peduli kapanpun itu, asalkan dia menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan Mark, dia akan kehilangan akal sehatnya.


Obat-obatan tidak akan bisa menolongnya. Hanya dengan kematiannya atau kematian Mark yang dapat menghentikan semua ini.


Jika dia ingin bertahan hidup, dia harus memperkuat dirinya sehingga pria itu tidak dapat menyakitinya lagi.


Delfina mengangkat kepalanya dan secercah sinar yang terang menyinari matanya. Dia berkata, "Kak ... aku nggak mau hidup dalam bayangan Mark lagi. Aku membutuhkan kehidupan dan awal yang baru. Meskipun aku sakit, aku juga akan berusaha untuk menaklukkan ketakutanku ...."


Bryan menggenggam erat tangan Delfina, "Semua ini salahku karena aku nggak sanggup melindungimu ...."


"Nggak, Kak. Ini bukan salahmu. Akulah yang berdosa."


Delfina tertawa sedih, "Kalau lima tahun yang lalu aku nggak percaya dengan kata-katanya, Keluarga Caresta nggak akan menjadi begini."


Pada akhirnya, cintanya yang bertepuk sebelah tangan itu telah menyebabkan bencana seperti ini. Dia adalah orang yang berdosa dan dosanya ini tidak dapat dimaafkan.


...

__ADS_1


Keesokan harinya, Delfina mengantar Alex ke taman kanak-kanak. Saat mereka tiba di sana, wajah Alex terlihat sangat bangga, "Hari ini, ibuku yang mengantarku datang!"


"Wah, Alex, kamu nggak bohong!"


"Ibumu benar-benar sangat cantik."


"Tante cantik, maukah kamu menjadi ibuku?"


"Dia adalah ibuku!"


Alex mengusir sekelompok teman sekelasnya yang mengerumuni Delfina dengan kesal, "Kalian nggak boleh merebutnya!"


"Huh, dasar pelit! Tante cantik, aku benar-benar ingin menjadi putrimu."


"Apakah itu ibu Alex? Cantik sekali! Aku sangat iri."


Delfina tersenyum dan membungkuk, lalu mengelus-elus kepala sekelompok anak kecil itu, "Iya, aku adalah ibu Alex. Apakah Alex sedikit keras kepala saat berada di sekolah? Aku harap kalian bisa berteman baik dengannya di masa depan."


"Tante cantik sudah membuka suara, jadi kita pasti akan berteman baik dengan Alex!"


"Alex memang adalah teman baik kami!"


"Benar, benar! Alex juga adalah wakil ketua kelas! Guru-guru juga sangat menyukainya!"


Sepertinya hubungan Alex dengan teman-teman di sekolahnya sangat bagus, jadi Delfina pun merasa lega. Ini adalah pertama kalinya Delfina mengantar Alex ke sekolah. Biasanya, Bryan yang mengantar Alex dan jika Bryan sedang dinas ke luar kota, Alex akan pergi ke sekolah sendiri. Kadang-kadang, dia merasa bahwa putranya ini sudah terlalu mandiri.


Alex dengan enggan melepaskan tangan Delfina, lalu berkata dengan suara pelan, "Ibu, ingat untuk datang menjemputku nanti malam."


Perkataan itu membuat Delfina tercekat, tetapi dia mencoba untuk tersenyum, "Jangan khawatir, Ibu nggak akan membiarkanmu dibawa oleh orang jahat lagi."


Aex juga tersenyum pada Delfina, "Aku akan menemani Ibu selamanya!"


"Sampai jumpa, Bu!"


Alex melambaikan tangannya dan setelah melihat Alex masuk ke dalam, Delfina pun meninggalkan taman kanak-kanak itu dengan tenang. Tidak jauh dari sana, ada sebuah mobil Maybach hitam yang berhenti di pinggir jalan. Di dalam mobil itu, ada seorang pria yang memakai kacamata hitam dan tersenyum sinis. Auranya sangat mendominasi dan wajahnya terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu yang jahat.


Melihat Delfina yang berjalan menjauh, Mark tanpa sadar menyipitkan matanya.


Hari ini, ada pekerjaan yang harus diselesaikan Delfina. Ada sebuah perusahaan desain perhiasaan dari luar negeri yang ingin berkolaborasi dengan studio mereka untuk meluncurkan cincin edisi terbatas, jadi dia bergegas pulang untuk membantu kakaknya dalam menyelesaikan sketsa gambar sebelum hari yang ditentukan.


Setelah naik ke dalam mobilnya, Delfina langsung meluncur ke studio. Dia tidak menyadari bahwa ada sebuah mobil Maybach hitam yang mengikutinya dari belakang. Pria itu menarik turun kacamata hitamnya sedikit dan bersiul.


Ada seorang pria tampan yang duduk di belakang mobil. Melihat perilaku Mark yang seperti penguntit ini, Denny pun tertawa, "Apakah kamu sedang mengikuti mantan istrimu?"


"Sialan, jangan bicara sembarangan!"


Mark bergurau, "Kalau kamu sembarangan berbicara lagi, aku akan melemparmu keluar dari mobil ini."


"Aku adalah rekan bisnismu, tapi kamu malah begitu kejam terhadapku."


Denny adalah pria yang sama hebatnya dengan Mark. Melihat tingkah Mark, dia tersenyum dan berkata, "Apakah kamu sangat tertarik padanya akhir-akhir ini?"


Mark meletakkan jari-jarinya yang panjang di atas kemudi, "Kenapa kamu bisa mempunyai pemikiran seperti itu?"


"Lihatlah dirimu yang sedang menguntitnya seperti seorang penggemar selebriti yang gila."


Denny berkata dengan penuh arti, "Apakah akhirnya kamu mulai menaruh perhatian pada mantan istrimu itu?"


"Bukan begitu ...." Mark berbicara lambat, "Ada banyak masalah yang terjadi dan akhir-akhir ini, kami berdua bertengkar hebat karena masalah anak."

__ADS_1


Denny menambahkan, "Kalian memang nggak pernah akur semenjak menikah."


Sial, Mark merasa kesal tapi juga lucu. "Denny, kalau kamu mengatakan sepatah kata lagi, aku benar-benar akan meninggalkanmu di pinggir jalan."


__ADS_2