
Pada saat yang sama, Mark sedang di lantai atas pusat perbelanjaan ini untuk makan makanan khas Jepang. Lalu, ada seorang wanita lembut duduk di depannya sambil makan, terkadang akan melihat Mark.
Mark merasa tidak senang sampai mengerutkan dahi. "Makan, jangan melihatku."
"Karena Kak Mark lebih ganteng, loh."
Wanita di hadapannya tersenyum malu, sehingga membuat Mark merinding. "Bisakah kamu normal sedikit, juga jangan panggil aku Kak Mark."
"Apa kamu nggak senang?"
Sofia memanyunkan bibir. "Apa sangat sulit untuk keluar denganku? Kalau bukan kakekku yang mengajakmu keluar, kamu pasti nggak mau keluar, 'kan?"
Mark tercengang sejenak, lalu melihat Sofia. "Sebenarnya, kalau bukan kakekmu yang mengajakku, mungkin aku nggak akan menghiraukanmu."
Mata Sofia memerah, bahkan berkata dengan sedih. "Kok tega sekali kamu begitu padaku … padahal aku begitu suka padamu …"
Mark menatapnya dengan sikap acuh tak acuh, juga memberinya isyarat untuk melanjutkan katanya.
Sofia bergumam, "Aku begitu suka padamu, bisakah kamu memberiku sedikit balasan?"
Tiba-tiba, Mark teringat dengan Delfina yang lima tahun lalu, di luar dia sangat angkuh, tapi di rumah dia sangat lembut dan sabar padanya, setiap kali pasti akan menggunakan tatapan penuh harapan untuk menantikan jawabannya.
Ketika terpikir ini, Mark pun mengepalkan tangan sambil menjawab, "Menurut, Nona Sofia, kamu ingin balasan seperti apa?"
"Bagaimana kalau bersamaku?" Sofia langsung berkata, "Keluargaku bisa membantumu, jadi nggak akan rugi bagimu."
Mark menyeringai. "Menurutmu, perlukah aku mengandalkan wanita?"
"Bukan … begitu!" Sofia menjadi panik. "Kudengar Delfina sudah keluar dari penjara, aku takut dia akan mengganggumu lagi, jadi aku bisa menjadi alasanmu untuk menolaknya. Bisakah bersama denganku?"
Mark tersenyum, wajah pria ini bisa dikatakan sempurna, sayangnya tatapannya sangat mendalam sampai tidak ada dasar, juga tidak ada yang tahu apa yang dia pikirkan.
Tak lama kemudian, Mark menjawab, "Aku nggak mau."
__ADS_1
"Kenapa?" Sofia pun marah setelah mendengar ungkapan cintanya ditolak. "Apa kamu merasa aku nggak gitu baik? Wanita seperti Delfina yang 5 tahun lalu, bagaimana bisa dibandingkan dengan aku! Mark …"
"Aku sudah kenyang, aku lunasi dulu. Kalau kamu mau nambah lagi, bilang saja namaku, aku yang akan melunasinya."
Mark berdiri. "Kalau gak ada urusan, aku pergi dulu. Kelak jangan menyuruh kakekmu mengajakku lagi, bagaimanapun juga kakekmu berkedudukan tinggi di hatiku, jangan karena hal kecil ini, kedudukannya di hatiku pelan-pelan hilang."
Wajah Sofia memucat, seolah-olah tak percaya wanita hebatnya akan ditolak Mark … awalnya dia mengira kali ini bisa berhasil bersamanya.
Sofia melempar sumpitnya, lalu mengejar Mark. "A … aku antarmu pulang!"
"Nggak usah." Mark meliriknya. "Aku ada kaki dan tangan, jadi bisa nyetir."
Sovia satu lift dengannya, kemudian tiba di tempat parkir, lalu masuk ke dalam mobil Mark tanpa berpikir banyak. "Kalau gitu, biarkan aku menemanimu."
Mark yang duduk di kursi pengemudi melihat Sofia yang bersikeras mengikutinya, lalu menghela napas. "Aku nggak akan mengantarmu pulang, jadi jangan berniat untuk memiliki rumor denganku."
Sialan! Hal begini pun bisa diketahuinya!
Sofia menggertakkan gigi. "Kalau begitu, aku ikut sampai ke rumahmu, lalu aku naik taksi pulang."
Jadi, dia duduk di belakang pengemudi. Ketika mobil berjalan sampai jalan raya, kebetulan dia melihat Delfina dan Denny yang baru selesai makan jalan-jalan. Mereka hanya melewati sisinya, tapi Sofia yang di dalam mobil malah bergumam, "Orang itu … sepertinya Delfina."
Mark langsung menginjak rem, lalu menoleh dan bertanya, "Apa yang kamu katakan?"
Sofia menggelengkan kepala, seharusnya tidak akan bertemunya di sini, mana mungkin begitu kebetulan? Jadi, dia berkata, "Tadi aku melihat ada orang yang mirip dengan Delfina di jalan raya … lalu orang itu bersama dengan Tuan Muda Denny."
Delfina dan Denny?
Mark merasa tidak senang, tapi tidak berkata apa-apa, hanya terus mengemudi. Ketika tiba di rumah, dia melakukan hal yang seperti dia katakan, dia tidak mengantar Sofia pulang, hanya langsung masuk ke dalam. Tak disangka, muka Sofia ini sangat tebal sampai berniat ingin bertamu di rumahnya.
Mark tidak tahan lagi, ketika hendak mengusirnya. Sofia malah berkata sambil menunjuk anak yang duduk di sofa dan berkata, "A … apa itu anakmu?"
Alex menoleh, lalu melihat Sofia. Sedangkan Sofia berteriak, "Mirip sekali denganmu."
__ADS_1
Mark merasa pusing, lalu berdiri di depan pintu untuk melarangnya masuk. "Kamu sudah boleh kembali dan melaporkan hal ini pada kakekmu."
"Aku nggak mau Kak Mark …" Sofia yang dihadang di sana mulai memanggil, "Bibi Linda, apa kamu ada di rumah?! Aku, Sofia datang menjengukmu!"
"Sudah kubilang jangan memanggilku, Kak Mark …" Mark sudah merasa kesal, kok wanita ini keras kepala sekali sih! Bahkan Delfina yang dulu juga tidak begitu menyebalkan.
Linda sedang menggunting bunga di lantai dua. Sofia sudah berteriak sangat lama, tapi Linda masih belum turun. Malah Alex yang turun dari sofa, lalu menghampirinya dan bertanya, "Siapa kamu?"
"Aku adalah pacar baru ayahmu."
"Jangan asal ngomong di depan anak kecil!"
Akhirnya, Mark marah. "Sofia, bisakah kamu tahu malu!"
Mata Sofia memerah. "Apa maksudmu, aku nggak tahu malu?"
Mark tersenyum dingin. "Menurutmu?"
Delfina yang lima tahun bisa memenangkannya dengan mudah!
Alex hanya menatap Sofia dengan tenang, lalu berkata pada Mark. "Tuan Muda Mark, seleramu memang semakin turun."
Mark berekspresi tak berdaya. "Dia bukan …"
"Baiklah, aku terpaksa memercayaimu." Alex tersenyum manis, lalu berkata pada Sofia, "Bibi ini, untuk apa kamu mengadang di depan rumahku, apa mau masuk ke kediaman dengan cara paksa?"
Mark langsung tertawa! Dengarkan, kata-kata yang dipilih putranya ini!
Setelah mendengar katanya, Sofia tercengang, baru berkata, "A … aku adalah orang yang diundang ayahmu kemari."
Mark melipat kedua tangannya, sedangkan Alex juga menatap Sofia. Ekspresi mereka adalah, "teruslah kamu bersandiwara, aku mau melihatmu bersandiwara"!
Meskipun Sofia sangat keras kepala, kali ini dia sudah sangat malu sampai berteriak pada Mark dengan mata memerah. "Aku nggak akan menyerah! Cepat atau lambat kamu akan menyesal!" Selesai bicara, dia meninggalkan kediaman Mark dengan sedih, sedangkan Alex menatap dengan ekspresi aneh.
__ADS_1
"Kalau diganti menjadi ibuku, pasti nggak akan melakukan hal tak berpendidikan seperti ini."