Kau adalah Hidupku

Kau adalah Hidupku
Episode 36


__ADS_3

Delfina berjalan pulang. Saat membuka pintu, tidak ada sosok kecil yang menyambutnya sambil menggosok mata kantuknya. Delfina merasa sedikit kesepian.


Kakaknya, Bryan, sering melakukan perjalanan bisnis. Biasanya Bryan juga langsung tidur di studio dan sangat jarang pulang. Rumah ini kebanyakan ditinggal oleh Delfina dan Alex. Sekarang, bahkan Alex juga tidak ada lagi, suasana di rumah ini menjadi senyap sunyi, membuat orang akan menggila.


Delfina menundukkan kepalanya dan gejala setelah mabuk juga muncul. Setiap detakan jantung membuatnya merasakan sakit yang menusuk. Setelah mandi, rasa panik yang membuatnya gelisah menghilang secara perlahan.


Delfina langsung baring di atas kasur tanpa mengeringkan rambutnya dan meringkukkan tubuhnya sambil melihat langit gelap yang ada di luar jendela. Setelah mematikan lampu, kegelapan menyelimuti seluruh ruangan. Dia mendengar suara napasnya yang kesepian, seperti muncul dari cakrawala yang jauh.


Kesepian … benar-benar akan membuat orang menjadi depresi.


Delfina memiliki rasa seperti di dunia ini hanya tersisa keputusasaannya.


Pada akhirnya, Delfina tertidur di bawah siksaan kelelahan dan rasa sakit. Delfina menutup dirinya dengan selimut dengan rapat.


Di fajar yang sulit tiba, dia melawan nasibnya lagi kali ini.



Namun, akibat dari kemalasan adalah Delfina demam.


Saat bangun di pagi hari, dia hanya merasa sedikit pusing, di siang harinya, dia mulai panas dan hidung tersumbat. Saat tiba di studio, dia bersin dua kali dan melihat email yang masih tidak ada balasan. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk memeriksa ke dokter.


Dia tidak memiliki kebiasaan untuk bermanja, sudah demam masih menahannya untuk menunggu belas kasih dari seseorang. Sikap yang suka bersandiwara ini namanya syukurin. Sakit harus cari dokter dan minum obat. Jika dirimu tidak mencintai dirimu sendiri, maka tidak akan ada orang yang mencintaimu.


Saat tiba di rumah sakit, dia memang sangat panas. Dokter tampan memegang termometer sambil mendengus. "39,8 derajat celcius, hebat sekali! Kalau kamu telat sedikit lagi, takkan tertolongkan lagi, kamu tunggu mati saja."


Delfina baru saja ingin bilang dokter tampak familier, tetapi tidak menunggu dia berbicara, dia langsung pingsan.


Saat membuka mata, Mark sudah duduk di sisinya. Delfina terkejut. Ketika ingin berbicara, dia baru menyadari bahwa dirinya terkena radang tenggorokan, begitu berbicara tenggorokannya akan sakit.


Namun, Delfina masih berkata sambil menahan rasa sakit. "Kenapa kamu ada di sini?"


Mark sedang melihat saham yang ada di ponselnya, saat mendengar suara Delfina, dia berkata dengan acuh tak acuh. "Doktermu memberitahuku."

__ADS_1


Oh … Delfina teringat, pantas saja dokter ini tampak familier, ternyata dia adalah adiknya John.


Sebelumnya, saat Delfina masih nona besar di Keluarga Caresta, mereka pernah bertemu di suatu perjamuan. Waktu berlalu dengan cepat. Sekarang mereka bahkan bertemu dengan cara seperti ini … benar-benar konyol.


Orang yang memiliki sedikit status pasti akan berada dalam lingkaran yang sama, termasuk Delfina. Hanya saja, sekarang … mereka mungkin telah melupakannya, 'kan?


Mark berkata, "Dia juga mengenalimu, jadi dia meneleponku."


Adik John ini benar-benar murah hati, bahkan mencari mantan suaminya.


Namun, Delfina bukan orang yang tidak bisa membedakan baik dan jahat. Dia langsung mengucapkan "terima kasih", membuat ucapan Mark selanjutnya tertelan kembali ke tenggorokannya. Delfina tersenyum pada Mark dengan sangat lelah, tetapi mata Delfina memancarkan cahaya penolakan yang sangat jelas.


Tatapan Mark tertuju pada tangan Delfina yang mengepal tanpa sadar dan menyadari bahwa tubuh Delfina sedikit bergetar.


Mark melengkungkan sudut mulutnya dan tetap dengan tampang yang jahat, lalu menyindir Delfina, "Delfina, aku menyadari kamu benar-benar sangat gagal menjadi manusia. Demam hingga seperti ini, bahkan tidak ada satu orang pun yang menjengukmu."


Hati Delfina terasa sakit, lalu tersenyum pada Mark dengan ekspresi yang pucat. "Tuan Mark tidak perlu mencampuri urusanku. Kalau kamu nggak ada urusan lain, kamu boleh sibuk pekerjaanmu."


Artinya adalah mengusir Mark pergi.


Mark orang seperti apa? Dia pertama kalinya berinisiatif peduli dengan seorang wanita. Sedangkan, Delfina malah mengusirnya pergi?


Delfina tersenyum sinis pada Mark, "Aku hanya demam saja, nggak mungkin mati. Bukankah kamu adalah orang yang sibuk? Aku dan kamu juga nggak ada hubungan apa-apa lagi, kalau kamu datang menertawakanku, maka silakan pergi setelah melihatnya."


Mark tidak memiliki kesempatan untuk melampiaskan amarahnya. Menertawakannya? Dia datang menjaga Delfina dan membantunya melakukan prosedur rumah sakit, bagi Delfina, dia datang untuk menertawakannya?


Oleh karena itu, Mark menahan amarahnya dan tiba-tiba berdiri. "Aku memang datang melihat seberapa kasihan dirimu dan kamu juga nggak ada hal yang patut membuatku tinggal lama di sini."


Setelah mengatakannya, Mark segera berjalan keluar. Sedangkan, Delfina yang duduk di atas kasur mencengkeram sprei dengan kuat dan menertawakan dirinya sendiri.


Mark, jangan bilang kamu kasihan padaku. Sebelumnya, saat melukaiku, kamu tidak pernah memikirkanku. Sekarang kamu peduli padaku, bukankah akan sangat konyol?


Setelah Mark pergi, Delfina mengirim pesan pada Jessica. Jessica tidak balas. Delfina berpikir bahwa tampang Indro tadi malam seperti orang yang sangat sulit.

__ADS_1


Oleh karena itu, dia juga tidak memaksa Jessica untuk menemani dirinya. Setelah selesai infus dua botol, dia turun dari kasur untuk melakukan prosedur keluar rumah sakit. Saat keluar, dia bertemu dengan dokter itu lagi.


Di samping dokter itu diikuti oleh pria ditabrak Delfina tadi malam di pintu klub.


Pria berambut pirang itu menoleh melihat Delfina sekilas. Pria itu bersiul. Dia mengenakan pakaian bermerek dan gayanya sangat memesona. Dia mengedipkan mata pada Delfina. "Hei, kamu … tunggu … aku masih belum tahu siapa namamu."


Adik John yang ada di samping memutar bola matanya dengan hina. "Dia adalah pasienku tadi sore. Saat datang berobat, dia mengalami demam hampir 40 derajat."


Jawaban pria berambut pirang sama seperti dengan adiknya John. "Hebat!"


Saat melihat Delfina menekan plester di tangannya, adiknya John berkata, "Kamu harus datang infus dua botol lagi dan ingat untuk minum obat dengan tepat waktu di malam hari!"


Delfina mengucapkan "terima kasih" dengan acuh tak acuh.


Lalu adiknya John berkata lagi, "Nggak perlu. Kita hanya nggak bertemu dalam lima tahun terakhir ini, kenapa kamu seorang diri saja?"


Tidak tahu kenapa, Delfina merasa hidungnya menjadi masam, "Masih ada siapa lagi di sisiku?"


Oleh karena itu, kedua orang tidak berbicara, malah pria berambut pirang berjalan kemari dan menepuk pundak Delfina, "Kamu adalah teman lama Jhonny?"


Delfina menganggukkan kepala dan berniat pergi.


Pria berambut pirang memanggil Delfina di belakang, "Hei, kamu masih belum memberitahuku siapa namamu."


Tidak tahu sejak kapan, Delfina merasa mengungkapkan nama lengkapnya adalah suatu penghinaan.


Delfina pada lima tahun yang lalu dengan Delfina sekarang, bukan orang yang sama lagi. Seberapa mulianya namanya dulu, maka sekarang akan seberapa rendahnya.


Hanya saja, saat berjalan keluar, Delfina tertegun.


Saat menghadapi hembusan angin sejuk di malam hari, pembantu Keluarga Tanoto datang ke sisi Delfina dan menundukkan kepala pada Delfina dengan hormat, lalu berkata, "Nona Delfina, Tuan Mark menyuruh Anda ke mobil."


Sudah lewat berapa lama, Mark bahkan masih menunggunya?

__ADS_1


Delfina mencengkram tangannya dengan erat. Bekas infusnya mulai berdarah. Dia menahan rasa sakit, lalu berkata dengan tenang, "Nggak perlu, aku nggak akrab dengan Mark."


"Tuan Mark memberi tahu Tuan Muda Alex bahwa kamu sakit. Sekarang Tuan Muda Alex ada di dalam mobil dan ingin bertemu denganmu."


__ADS_2