Kau adalah Hidupku

Kau adalah Hidupku
Episode 27


__ADS_3

Delfina tidak ingin menyerah, jadi dia harus terus mencari, mungkin ada seseorang yang bisa  membantunya …. Dia tidak boleh mengalah.


Di sore hari, saat ditolak lagi oleh firma hukum lagi, dia baru menyadari bahwa ada beberapa hasil telah ditakdirkan sejak awal.


Jika lawan adalah Mark, dia hanya akan kalah.


Delfina duduk di tepi jalan. Rongga matanya sedikit memerah. Dia mengeluarkan ponsel ingin menghubungi Mark. Bukan karena ingin berbicara dengan Mark, tetapi ingin mendengar suara Alex.


Namun, setelah mengeluarkan ponsel, dia menghentikan gerakannya, lalu menyimpan ponselnya dengan sangat tidak rela.


Dia mengendus, lalu berdiri. Tidak apa-apa … hari ini tidak ada, besok pasti ada!


Saat mengendarai mobil  melewati pusat perbelanjaan, Denny kebetulan melihat Delfina yang sedang duduk di tepi jalan. Dia merasa sedikit terkejut,  lalu memarkirkan mobilnya dan berjalan ke sisi Delfina.


Hingga ada pantulan bayangan di depannya, Delfina baru tersadarkan. Saat melihat itu adalah Denny, dia berjaga jarak dengan Denny dengan sadar diri. Setelah berdiri di kejauhan dengan stabil, dia berkata dengan acuh tak acuh. "Tuan Muda Denny."


"Kamu begitu takut padaku?"


Denny tertawa. "Jangan takut, terakhir kali, aku beneran hanya ingin membantumu dan Mark …"


Dia dan Mark? Heh, apakah perlu dibantu oleh orang lain?


Hubungan dia dengan Mark, tidak pernah damai.


"Kamu hidup dengan tidak baik, 'kan dalam lima tahun itu?"  Denny ingin mencari topik pembicaraan, siapa sangka ekspresi Delfina sangat dingin, jelas sekali tidak ingin mendengar omongannya. Denny mau tidak mau meminta maaf, "Oke, oke, oke! Aku minta maaf padamu mengenai masalah sebelumnya, aku yang telah membohongi, bilang perusahaan kami ingin kerja sama dengannya, tapi kenyataannya membantu Mark untuk mencarimu …. Aku minta maaf padamu. Maafin aku, oke?"


Delfina tersenyum, "Sudahlah, apakah Tuan Muda Denny masih ada urusan lain?"


Denny menyipitkan matanya dan berinisiatif melangkah maju untuk mendekati Delfina, "Aku lihat  kamu begitu frustasi di sini, apakah terjadi sesuatu?"


Delfina tidak berbicara. Beberapa saat kemudian, dia merapikan rambut yang tergerai di depan telinganya ke belakang telinganya,  lalu berkata dengan dingin, "Cari pengacara."

__ADS_1


"Pengacara?" Denny tercengang dengan ucapan Delfina, "Ada masalah apa, hingga perlu mencari pengacara?"


"Masalah anak. Aku harus melakukan sidang dengan Mark."


Delfina menggigit bibirnya,  "Dia membawa anakku kembali secara sepihak, tapi itu anakku juga!"


Denny tidak menyangka bahwa diantara Mark dan Delfina akan terjadi masalah seperti ini. Dia berpikir sejenak, "Ini sangat sulit. Aku berterus terang padamu, di Kota Bench,  bahkan di seluruh Kota Bahari sangat sulit untuk bisa memenangkan sidang Mark."


Meskipun Delfina telah mempersiapkan mental, dia tetapi merasa terkejut saat mendengar ucapan Denny, "Tapi, aku sebagai ibu dari anak, aku berada di sisi yang menguntungkan …"


"Tidak peduli kamu berada di sisi pro atau kontra, selama kamu bersidang dengan Mark …" Denny menggelengkan kepala. "Kamu jangan berharap untuk bisa menang."


Cahaya dalam mata Delfina meredup secara perlahan. Beberapa saat kemudian, dia berkata dengan nada ringan. "Begitukah? Tetapi … aku tidak ingin menyerahkan putraku, dia adalah hidupku ..."


Denny sedikit tidak tega, lalu menghela napas, "Coba kamu pikirkan sisi baiknya, anakmu tinggal bersama Mark, setidaknya mereka memiliki hubungan darah, Mark tidak akan memperlakukannya dengan buruk. Latar belakang Keluarga Tanoto lebih bagus, anakmu juga tidak akan menderita …. Kamu masih muda, jangan bergantung pada Mark saja, kamu bisa memulai kehidupan baru …"


Dia tidak tahu kenapa dirinya membujuk Delfina untuk berpikir terbuka dan meninggalkan Mark.


Denny menatap Delfina dengan tatapan yang dalam. "Aku tidak bilang kamu harus mencampakkan anakmu, Delfina. Kamu boleh ke Kediaman Tanoto untuk menjenguknya, bermain dengannya, tapi … kamu harus keluar dari  belenggu yang diberikan anak padamu. Apakah kamu mengerti maksudku?"


Wajah Delfina menunjukkan ekspresi sedikit terkejut. Denny melihat ekspresi Delfina yang berubah, lalu tersenyum, "Ini baru nona besar kebanggaan dari Keluarga Caresta pada saat itu," kata "Nona Besar Keluarga Caresta" bagaikan jarum yang menusuk hati Delfina dan merasakan rasa sakit yang menyebar ke setiap sudut tubuhnya.


Dia menatap Denny dengan sepasang mata yang memerah, lalu bergumam, "Terima kasih, Tuan Muda Denny, selalu mengatakan  hal yang membuat suasana hatiku menjadi terbuka."


Terakhir kali, Denny juga mengatakan bahwa ada beberapa luka yang harus disinari oleh matahari.


Untuk menyatakan rasa terima kasih, Delfina berinisiatif mentraktir Tuan Muda Denny makan. Denny langsung menyetujuinya, "Bolehkah aku memilih restoran yang agak mahal?"


Delfina  mengedipkan  matanya. "Mark memberiku sepuluh miliar, tidaklah keberatan untuk mentraktirmu makan."


"Wow, cepat sekali sudah berpikir terbuka dan menikmati kehidupan."

__ADS_1


Denny tersenyum, lalu menunjuk restoran Jepang di pusat perbelanjaan. Mereka berdua berjalan masuk dan mendengar bisikan orang-orang di sekitar.


"Kamu lihat,  lelaki itu tampan sekali …"


"Kedua orang itu familier sekali, sepertinya anak orang kaya. Aku lupa pernah melihatnya di mana."


Delfina mengenakan sepatu hak tinggi berjalan di pusat perbelanjaan. Mantel yang tipis membuatnya tampak kurus di musim yang sedikit sejuk ini, membuat orang yang melihatnya merasa dia sangat jutek. Kaki rampingnya melangkah dengan cepat, bisa dilihat bahwa dia pernah memiliki kebiasaan yang kuat.


Saat  masuk ke restoran, pelayan sedikit tercengang saat merasakan aura kedua orang. Beberapa saat kemudian, pelayan baru bertanya, "Apakah kalian telah reservasi?"


Delfina menggelengkan kepala, "Tidak ada, asal cari dua tempat orang saja."


Pelayan berpikir dalam hati, "Kalian pasti bos besar, aku bagaimana berani asal cari tempat untuk kalian". Pelayan langsung membawa mereka ke ruang privat. Setelah duduk, pelayan menyiapkan alat makan dan menuangkan air, kemudian memberikan menu makan.


Denny membuka buku menunya dan tertawa. "Aku sangat suka makan hidangan Jepang."


Delfina sedang meracik mustard dan kecap, dia juga ikut tertawa, "Tidak ada orang yang tidak suka. Kalau tidak salah, aku pernah mengambil rekor makan dua puluh dua piring udang manis pada lima tahun yang lalu ..."


Tangan Denny yang membuka halaman menu makan menjadi berhenti dan membelalak mata, "Dua puluh dua piring?"


Gila! Apakah Delfina tampak seperti orang yang memiliki nafsu makan sebesar ini?


Oleh karena itu, pada saat memesan makanan, Delfina langsung meminta sepuluh piring ikan salmon sashimi dan sepuluh piring udang manis dalam sekaligus. Saat makanan disajikan, kedua matanya berbinar-binar.


Makanan lezat memang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan suasana hati orang!


Saat melihat Delfina makan, Denny tidak tahu harus menangis atau tertawa, lalu mencari topik pembicaraan, "Terakhir kali, kamu memecahkan rekor begitu tinggi, apakah makan dengan seseorang?"


Gerakan Delfina menjadi tertegun. Beberapa saat kemudian, dia baru berkata dengan acuh tak acuh. "Mark …"


Saat momen lima tahun yang lalu memenuhi benaknya, tubuh Delfina sedikit gemetar.

__ADS_1


Dulu, dia memiliki begitu banyak kenangan indah dengan lelaki itu, tetapi pada akhirnya, dia menyadari bahwa semua itu hanyalah cinta sepihaknya saja.


__ADS_2