
Setelah mendengar masalah ini berkaitan dengan Alex, Delfina menahan rasa benci di dalam hatinya, lalu berkata dengan tenang pada pengurus rumah itu. "Nggak usah, aku tunggu di sini saja. Kamu panggil Alex turun dari mobil dan membesukku saja. Aku nggak ingin naik mobilnya."
Dia masih begitu was-was, berusaha agar diri sendiri tidak berkaitan apa pun dengan Mark.
Pengurus rumah hanya bisa menyampaikan kata Delfina pada Mark. Ketika Mark mendengarnya, dia yang marah hanya bisa tertawa, kemudian berkata pada Alex. "Ibumu panggil kamu turun mobil."
Alex yang mendapatkan izin, langsung turun dari mobil dan berlari ke dalam pelukan Delfina.
"Ibu!" Suara gemetar dia terdengar oleh Delfina, bahkan membuat mata Delfina juga memerah. "Apa beberapa hari ini ada merindukan ibu?"
"Sangat rindu, sangat rindu!"
Demi bisa melihat Alex, Delfina berjongkok sambil mengelus kepalanya, lalu mengisap hidup sembari berkata, "Beberapa hari ini, ibu demam, tapi kamu jangan khawatir."
"Ibu inilah!" Alex menggelengkan kepalanya seperti orang dewasa. "Nggak ada aku di sampingmu, kamu pasti nggak menjaga dirimu dengan baik."
Delfina dibuat ketawa dengan nada bicara Alex, tapi setelah merespons, dia merasa sedih sambil berkata, "Iya … karena kamu nggak ada, ibu nggak bisa tidur nyenyak."
"Kalau begitu, aku berusaha untuk cepat kembali." Alex menggunakan sepasang mata jernihnya untuk menatap Delfina, tatapan berbinar itu membuat Delfina merasa semakin sedih. Kemudian, Alex berkata, "Ibu, jangan menyerah. Aku sangat merindukanmu, kamu juga harus berusaha, suatu hari kamu pasti bisa membawaku pulang."
Mata Delfina memerah lagi, "Baik, ibu janji padamu. Apa Mark baik padamu?"
Alex sengaja berkata, "Sangat baik, makanan setiap hari juga sangat enak!"
Ekspresi Delfina sedikit berubah, lalu Alex melanjutkan, "Tetapi aku ingin kembali ke sisimu, meskipun masakan yang kamu buat itu gosong."
Kali ini, Delfina tidak tahan lagi, dia menangis sambil memeluk Alex, "Alex … ibu yang bersalah padamu … ibu juga yang nggak ada kemampuan melindungimu …"
Ke … kenapa kamu anaknya Mark? Kenapa bukan anakku seorang saja? Kalau begitu, kita berdua tidak akan diganggu orang lain.
Kenyataan memang kejam, meski dia sudah bersembunyi sangat jauh, masih saja ketahuan. Mark ingin merebut anak dengannya, tapi dia nggak bisa melawan.
__ADS_1
Ketika melihat ibunya menangis, Alex juga merasa sedih, "Ibu, jangan menangis. Setidaknya Mark nggak menyiksaku, mungkin setelah aku semakin besar, aku bisa bernegosiasi dengannya, kita masih ada kesempatan, kok."
Ini baru anak berusia 5 tahun, tapi dia sudah berusaha untuk kembali ke sisinya dari Mark.
Delfina merasa, bisa punya anak begini, dia sangat beruntung.
Dia dengan senyum memegang wajah Alex. "Mulutmu memang manis, ayo berjanji dengan ibu, tunggu ibu melewati kesulitan ini, aku akan menjemputmu kembali."
Alex dengan senyum menjulurkan jari. "Iya, aku berjanji dengan ibu dan ibu nggak boleh membohongiku."
Delfina berdiri sambil menepuk bahu Alex dan berkata padanya, "Baik, pulanglah."
"Aku masih ingin bersamamu sebentar …" Alex memanyunkan bibir. "Kok begitu buru-buru menyuruhku pulang, hmmph. Pasti nggak suka padaku."
"Siapa yang mengajarimu begitu?" Delfina tertawa karena melihat sikapnya yang sebentar sedih dan sebentar senang. "Ibu takut kamu masuk angin kalau terus berdiri di sini."
Alex menunjuk ke belakang Delfina. "Aku kira kamu dan paman itu ada perkembangan baru, jadi mengusirku."
Dia berjalan ke depan, seperti melihat barang langka, lalu berlutut tanpa menyapa …
"Ih, apa ini putramu?"
Alex berekspresi waspada. "Apa yang ingin kamu lakukan? Tadi kamu terus menatap ibuku …"
"Bocah!" Pria yang ganteng itu langsung mencubit pipi Alex. "Itu karena ibumu cantik, baru aku melihatnya. Bagaimana kamu melindungi ibumu, apa ayahmu nggak cemburu?!"
"Aku nggak ada ayah."
Begitu mengungkit hal ini, Alex langsung antusias, bahkan mengadang di depan Delfina, takut pria cabul ini mengganggu Delfina seperti tadi. "Kamu nggak boleh mengganggu ibuku!"
"Nggak ada ayah?" Pria bule itu tertawa. "Bagaimana kalau aku menjadi ayahmu?"
__ADS_1
Alex ketakutan sampai gemetar, lalu memegang tangan Delfina. "I … ibu, orang ini cabul!"
Delfina juga memegang tangan Alex sampai mundur beberapa langkah, dia juga sangat waspada terhadap pria yang terus dia temui, tapi sangat asing. Melihat pakaiannya sangat mewah, seharusnya dia adalah anak orang kaya, tapi … kenapa dia tidak pernah melihatnya?
Setelah berpikir, dia sudah lama meninggalkan lingkungan ini, wajar saja dia tidak pernah melihatnya. Oleh karena itu, dia merendahkan dirinya lagi.
Pada saat yang sama, dokter ganteng itu keluar, ketika melihat pria itu berdiri bersama Delfina, dia pun tercengang dan bertanya, "Kok kamu belum pergi?"
Lalu dia melihat Alex sambil berkata, "Kamu putranya Mark, 'kan? Mirip sekali!"
Setelah mendengar nama Mark, pria itu menoleh sambil tertawa. "Kamu istrinya Mark, ya?"
Sebelum Delfina menjawab, pria itu berkata, "Eh nggak mungkin, karena Mark sekarang berstatus lajang …"
"Aku adalah mantan istrinya Mark." Delfina menjawab dengan dingin, kemudian hendak pergi, tapi malah melihat Mark turun dari mobil.
Di depan ada Mark, di belakang ada adiknya John. Semua adalah orang yang dulu dia kenal, Delfina benar-benar pusing.
Setelah melihat pria tampan di samping Delfina itu, dia pun menyindir, "Delfina, apa kamu akan mati kalau nggak ada pria?"
"Pertanyaanmu sungguh menarik, ya."
Mata Delfine memerah karena tertawa. "Aku sudah mati sekali, itu karena kamu yang memenjarakanku."
Mark merasa sakit hati, lalu menyindirnya lagi, "Emangnya kenapa? Bukankah masalah sudah berlalu sangat lama, apa kamu masih mau membuktikkan dirimu nggak salah? Pantaskah seorang ibu di depan anaknya ada hubungan nggak jelas dengan pria?"
Delfina mengepalkan tangan. "Mark, sekarang aku merasa kamu kasihan sekali, berusaha menyakitiku, tapi apa yang mau kamu dapatkan?"
Ekspresi Mark berubah, lalu Delfina melanjutkan, "Nggak apa-apa, lanjutkan saja. Kamu masih beruntung, karena sekarang aku masih merasakan sakit. Tunggu suatu hari aku nggak merasakan apa-apa terhadap ejekanmu, maka nggak ada yang akan menemanimu memainkan drama tak berperasaan ini!"
Delfina membawa Alex melewati sisi Mark, lalu melepaskan tangan. Dia tersenyum pada Mark, tapi mata yang merah dan wajah cantik itu membuat orang kaget. "Mark, kamu harus ingat kata ini. Kalau suatu hari kamu menyadari kamu yang salah, kamu nggak akan bisa menyesalinya lagi."
__ADS_1