Kau adalah Hidupku

Kau adalah Hidupku
Episode 14


__ADS_3

"Delfina, aku nggak menyangka bahwa kamu begitu murahan!"


Mark terlihat sangat marah. Dia pun menekan Delfina ke dinding toilet wanita itu. Napasnya terdengar sangat berat dan sepasang matanya dipenuhi kemurkaan. Dia sudah sepenuhnya kehilangan kesabarannya.


"Kamu sendiri yang menyuruhku datang untuk mendampingi mereka. Apakah kamu nggak berpikir kalau mereka akan mempersulitku?"


Delfina tertawa dan menyipitkan matanya. "Bukankah kamu ingin melihat aku dipermalukan? Kenapa? Apakah kamu merasa kesal karena nggak bisa melihatnya?"


Mark menahannya di depan dinding dan mendekatinya. Dia menatap Delfina dengan kedua matanya yang gelap itu, kemudian mencium bibirnya dengan penuh gairah.


Delfina berusaha keras untuk melepaskan dirinya. Tepat di saat itu, ada orang yang tiba-tiba masuk ke dalam toilet wanita. Mark tertawa rendah. "Ayo teriak! Teriaklah! Biarkan orang yang di luar itu melihat adegan ini!"


Berengsek!


Delfina melototi Mark dengan tajam sampai matanya pun memerah. "Kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini?"


Mark tidak menjawabnya. Dia menundukkan kepalanya dan mencium Delfina lagi dengan kasar. Aroma tubuh Delfina sangat harum. Lima tahun yang lalu, saat Delfina masih menjadi istrinya, mereka hanya berhubungan intim sebagai formalitas. Meskipun dia tidak menyukai wanita ini, Delfina mempunyai tubuh yang sangat bagus, jadi dia tidak merasa bahwa Delfina itu membosankan ....


Tetapi dia tidak menyangka bahwa Delfina akan hamil dan melahirkan anaknya.


Ingatannya tiba-tiba kembali dan dia teringat tentang suatu pertanyaan.


Lima tahun yang lalu, saat Bella meninggal, apakah Delfina sudah hamil?


Namun saat itu, Delfina tidak mengatakan apa-apa. Mark tidak tahu dan malah menendangnya di depan makam Bella, kemudian menjebloskannya ke dalam penjara dan membuatnya menjadi gila ....


Seluruh tubuh Mark bergetar hebat. Anak ini bisa bertahan hidup ... sungguh tidaklah mudah.


Mungkin pada saat itu, Delfina bahkan tidak mempunyai keinginan untuk hidup. Jadi, betapa putus asa dirinya saat hamil di penjara?


Delfina mendorong Mark dengan sekuat tenaganya. Orang yang berada di luar sudah pergi dan tidak menyadari bahwa ada dua orang yang berada di bilik ujung toilet wanita itu. Mata Delfina sangat merah, dia lalu berkata pada Mark dengan suara tercekat, "Kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini?"


Kenapa kamu memperlakukan aku seperti sebuah mainan. Kamu mendekatiku saat menginginkanku dan mempermalukanku ketika sudah bosan!


Mark, apakah kamu belum cukup melukaiku selama lima tahun ini!


Aku sudah membayar harga yang sangat menyakitkan, tapi kenapa aku masih belum bisa lepas dari cengkeramanmu?


Mark tidak bersuara dan kembali sadar. Melihat raut wajah Delfina yang menderita, Mark merasa seperti bisa merasakan kesedihannya.


Delfina mendorongnya meskipun bahunya masih gemetaran. Dia merapikan pakaiannya dan menyeka bibirnya dengan bertenaga. Lipstiknya sudah hilang saat Mark menciumnya dengan paksa, tetapi ada bercak merah yang menodai tangannya.


Mark merasa bahwa dirinya pasti sudah gila atau mabuk. Kenapa dirinya bisa kembali menginginkan Delfina setelah lima tahun?


Delfina menutup wajahnya dan berjalan keluar dari toilet. Mark sepertinya mendengar isakan Delfina saat dia meninggalkan tempat itu. Setelah berdiri sekian lama di dalam toilet wanita, akhirnya dia keluar dengan wajah yang tidak senang.


Ada sekelompok wanita yang berjalan masuk saat Mark berjalan keluar.


"Oops! Bukankah ini toilet wanita?"


Wanita-wanita yang sudah mabuk itu menoleh untuk melihat tandanya, lalu menoleh ke arah Mark lagi, "Sial, pria ini tampan sekali! Tapi, apa yang dia lakukan di toilet wanita?"


"Sudahlah, jangan bicara lagi. Mungkin saja dia adalah orang cabul ...."


"Ckck, aku tidak menyangka pria yang tampan ini ternyata suka diam-diam masuk ke toilet wanita ...."

__ADS_1


Sekelompok wanita itu melirik beberapa kali ke arah Mark, tetapi tidak berani berkata dengan suara yang kuat karena aura Mark yang sangat misterius.


...


Saat Delfina kembali ke ruang VIP, Valentino seperti orang yang sudah lama menunggu kedatangannya. Dia langsung merangkul Delfina dan gerakannya itu sangat cekatan, seolah-olah mereka adalah pasangan yang sudah lama bersama. Mark yang datang terlambat itu pun menyipitkan matanya saat menyaksikan adegan itu.


Sebenarnya kenapa? Saat dia melihat pria lain menyentuh sesuatu yang merupakan miliknya ... dia sama sekali tidak dapat mengendalikan amarahnya.


Setelah menekan perasaannya, Mark masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah netral. Valentino tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke bahu Delfina. Dia merasa sangat gembira karena wanita cantik ini berada di dalam pelukannya.


Valentino mendekat dan bertanya mengenai nama Delfina lagi, lalu dia berbisik di telinganya, "Sepertinya kamu memiliki hubungan yang khusus dengan Mark?"


Seluruh tubuh Delfina gemetaran. Bagaimana Valentino bisa tahu? Akan tetapi, Delfina tidak mengaku, dalam sekejap, dia memasang senyum di wajahnya dan menjawab, "Bagaimana mungkin? Kenapa Tuan Valentino berpikir begitu?"


Valentino memeluknya dan berkata, "Karena aku melihat dia mengikutimu keluar ...."


Pengamatannya sangat hebat! Sepertinya mereka semua tidak bodoh dan sedikit banyak dapat menebak hubungannya dengan Mark. Bagaimanapun juga, dia datang bersama Mark, lalu Mark juga mengikutinya ke toilet ....


Tidak heran Valentino jadi curiga.


Delfina tidak lanjut berbicara. Dia hanya menatap ke bawah dan berkata setelah beberapa saat. "Tuan Valentino, apakah kamu benar-benar ingin mengetahui identitasku?"


Melihat ekspresinya yang berubah gelap, Valentino pun terkejut, "Eh .... Kamu kenapa?"


Delfina pun tersenyum dan senyumannya itu membuat dunia menjadi lebih berwarna.


Lima tahun yang lalu, wanita pujaan para lelaki di kota ini adalah Delfina. Dia mempunyai sepasang mata yang sangat indah dan juga aura yang angkuh dan sombong. Lima tahun kemudian, mutiara ini jatuh ke dunia fana dan menjadi duri di hati semua pria!


Delfina mencondongkan tubuhnya dan berbisik dengan nada yang mesra di telinga Valentino. "Tuan Valentino ... namaku Delfina."


Hanya ada satu orang yang bernama Delfina di kota ini dan orang itu adalah Nona Besar Caresta!


Sayang sekali, Delfina sudah lama kehilangan jiwanya.


Delfina tersenyum dan bersandar di bahu Valentino, "Apakah kamu merasa sangat terkejut? Benar, aku adalah Delfina, Nona Besar Caresta yang kalian anggap sebagai pembunuh lima tahun yang lalu .... Aku adalah mantan istri Mark."


Saat Valentino mengetahui kebenarannya, dia sangat terkejut hingga tidak dapat bersuara.


Bahkan tangannya yang sedang merangkul Delfina pun mulai gemetar, "Kamu ... sedang bercanda, 'kan?"


"Apakah aku terlihat sedang bercanda?"


Delfina tiba-tiba berubah menjadi dingin. Dia bangkit dari pelukan Valentino dan menuangkan segelas anggur untuk dirinya sendiri, lalu tersenyum menawan, "Meskipun kamu nggak pernah melihatku, kamu juga pernah mendengar namaku kan? Tuan Valentino, aku sering mendengar namamu di kalanganku lima tahun yang lalu."


Lima tahun yang lalu .... Dia sudah dikurung di dalam penjara selama lima tahun.


Napas Valentino bertambah cepat. Jika wanita di hadapannya ini adalah wanita lain yang sudah bercerai dan pernah dikurung di penjara, dia pasti tidak akan tertarik padanya sedikitpun. Siapa yang menginginkan seorang wanita yang mempunyai nama buruk?


Namun, wanita di hadapannya ini adalah Delfina, wanita terhormat yang menggemparkan kalangan atas lima tahun yang lalu!


Valentino menatapnya dan tidak tahu kenapa tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.


"Kenapa ... kenapa Mark menyuruhmu datang untuk menemaniku?"


Jika apa yang dikatakannya itu benar, Delfina adalah mantan istri Mark. Kenapa Mark bisa menyuruh mantan istrinya datang ... untuk melakukan hal seperti ini?

__ADS_1


Delfina tersenyum padanya, lalu mengedipkan matanya, "Kami sudah bercerai, jadi kamu nggak perlu menganggapku sebagai siapa-siapa Mark."


Benar, dia bukanlah siapa-siapa bagi Mark. Baik lima tahun yang lalu maupun sekarang, dia tidak akan pernah punya kedudukan di dalam hati Mark.


Di tengah perbincangan mereka, Mark tiba-tiba melangkah maju dan langsung mengangkat dan meletakkan Delfina di atas pundaknya. Semua orang pun berseru terkejut.


Seluruh tubuh Delfina gemetaran karena terkejut dengan tindakan Mark yang tiba-tiba ini. Kemudian dia memukul punggung Mark dengan sekuat tenaganya, "Apa yang kamu lakukan! Turunkan aku!"


Mark hanya tertawa sinis, "Kenapa aku harus menurunkanmu dan melihatmu merayu pria lain?"


Semua orang terkejut dengan tindakan Mark. Melihat Delfina digendong oleh Mark, Valentino yang sedang duduk di atas sofa pun tergagap, "B ... bro ... se ... semuanya bisa dibicarakan baik-baik!"


"Maaf, Tuan Valentino. Hari ini, wanita ini adalah milikku. Aku akan membuat janji denganmu besok!"


Valentino meraih gelas anggurnya dan berteriak, "Sialan! Mark, kamu sendiri yang membawanya untuk menemaniku. Tapi kamu malah mau memonopolinya!"


Wajah Delfina bersemu merah karena malu. Mark pasti melakukan ini untuk mempermalukannya di hadapan semua orang, jadi dia menahan getaran di dalam suaranya dan berkata, "Mark, lepaskan aku!"


"Bagaimana kalau aku menolak?"


"Kamu sudah mabuk!"


"Benar, aku sudah mabuk!"


Mark tidak menghiraukan pandangan orang lain dan langsung membawa Delfina keluar. Delfina merasa sangat pusing. "Lepaskan aku! Brengsek! Bajingan! Aku akan membunuhmu!"


"Ayo teruskan! Kamu sangat berbakat! Ternyata orang yang tamat dari universitas ternama itu memiliki kosakata yang sangat kaya!"


"Kamu sendiri yang memanggilku datang untuk mendampingi mereka, sekarang kamu sendiri juga yang menyesalinya!" Delfina berteriak dengan keras, "Kalau kamu jantan, biarkanlah orang lain yang membawaku pulang! Dasar sampah! Bajingan! Aku sudah mendekam di penjara selama lima tahun untukmu, apa yang kamu harapkan lagi dariku!"


Begitu Delfina selesai berbicara, raut wajah semua orang pun berubah.


Setelah kata-kata Delfina itu masuk ke telinga orang-orang yang ada di sana, semua gerakan mereka pun terhenti dan mereka menatap ke arah Mark dan Delfina. Tepat di saat itu, semua orang akhirnya mengingat siapa wanita ini.


Dia adalah Delfina, Nona Besar Caresta yang cantik dan berbakat!


Dia adalah Delfina, pembunuh yang ditangkap lima tahun yang lalu!


Delfina tiba-tiba tertawa pada dirinya sendiri. Air mata yang tidak berhenti mengalir keluar dari matanya pun memburamkan penglihatannya. Sebenarnya, dia tidak ingin menangis, tapi dia tidak dapat menahannya. Takdir sangatlah menakutkan! Saat dia mengira sudah sepenuhnya terbebaskan, takdir tiba-tiba memberinya sebuah pukulan keras dan memberitahunya bahwa dia tidak akan pernah bisa melarikan diri dari bayangan ini.


Mark menurunkan Delfina, lalu memeluknya dan menekannya ke dinding. Di bawah pandangan semua orang, Mark mencengkeram dagu Delfina, "Apakah kamu merasa dirugikan, hah?"


Delfina tertawa dan menyipitkan matanya. Suaranya melengking dan penuh kebencian, "Dirugikan? Kenapa aku harus merasa dirugikan! Aku memang berdosa, aku pantas menerimanya!"


Mark merasa tidak senang setelah mendengar nada Delfina, jadi dia pun mencengkeram leher Delfina dengan kuat. Semua orang yang berdiri di belakang mereka berteriak, "Tuan Mark ... ja ... jangan gegabah!"


Valentino juga ketakutan melihat perubahan itu. Dia berteriak keras dari belakang, "Mark! Tenangkan dirimu!"


John juga segera menelepon untuk meminta pertolongan, "Mark sudah mabuk .... Cepat bawa orang kemari!"


Di bawah tekanan jari Mark, udara di paru-paru Delfina semakin berkurang. Akhirnya, dia menutup kedua matanya dan kehilangan kesadaran.


"Ya Tuhan! Dia ... dia sudah mati!"


Tangan Mark bergetar hebat, dia pun segera melepaskan cengkeramannya. Bagaimana mungkin dia sudah mencekik Delfina sampai mati? Tidak mungkin!

__ADS_1


Dia ... dia hanya sangat marah dan ingin mempermalukannya di hadapan semua orang. Dia tidak bermaksud untuk membunuhnya ....


Sebelum pingsan, pandangan Delfina menjadi berkunang-kunang. Saat dia hampir tenggelam di dalam kegelapan, Delfina mendengar ada orang yang berteriak di samping telinganya. Tapi, semuanya pelan-pelan ... menjauh darinya.


__ADS_2