Kau adalah Hidupku

Kau adalah Hidupku
Episode 19


__ADS_3

Keesokan harinya, Delfina meminta Bryan mengantar anaknya ke sekolah. Setelah itu dia duduk sambil bengong di studio. Dia meneguk kopi yang membuatnya sedikit tenang, dia meletakkan gelasnya dan menghela napas lagi.


Setelah Bryan pulang mengantar anaknya, dia melihat tampang sedih wanita itu. Bryan menyentuh bagian atas kepalanya sampai beberapa helai rambut melewati jari-jarinya, lalu dia berkata, "Apa yang sedang kamu pikirkan?"


Delfina mendongak dan melihat kakaknya, lalu menjawab dengan lembut, "Aku hanya sedang berpikir, apa kita harus menerima kerja sama dengan Tuan Denny."


Bryan menghentikan pergerakannya, dia menunduk dan berkata dengan lembut. "Delfina, kalau kamu nggak mau, maka jangan paksakan dirimu ...."


Delfina menggeleng dan berkata pada Bryan, "Bukan ... aku pikir apa yang dikatakan oleh Tuan Denny memang benar, kita tetap harus bisa bahagia walau ada beberapa bekas luka yang masih tertinggal."


Mark ... darahmu yang mengalir dalamku mungkin sudah lama tidak bisa merasakan sakit lagi.


Sorenya, Delfina langsung menghubungi Denny. Setelah mereka membuat janji untuk melakukan diskusi yang lebih terperinci, dia berkata pada Bryan, "Tunggu aku menjemput Alex dari sekolah dan aku akan langsung menemui Denny."


"Apa kamu sudah memutuskannya?"


Tanya Bryan yang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


Delfina tidak berbalik, sosok yang ramping itu langsung mendorong pintu studio.


Setelah Denny menerima panggilan tadi, dia langsung mengakhirinya dan menghubungi Mark lagi, "Mantan istrimu sudah berubah pikiran."


Mark yang saat itu sedang menandatangani dokumen menjawab dengan nada menyindir, "Oh."


Denny akhirnya senang, "Nada menyindir macam apa itu?"


Mark tidak menjawabnya. Dia sedang mendengarkan seseorang yang sedang memberitahu alamat di depannya. Setelah itu Mark menghela napas dan bangkit berdiri, "Kalau begitu aku akan datang."


"Bersiaplah untuk disiram air panas."


Hati Mark tiba-tiba sakit mendengarnya, lalu dia mencibir, "Jangan mengajukan pertanyaan bodoh seperti itu. Terlalu banyak bertanya membuatmu terlihat seperti orang bodoh."


Denny tidak menjawab lagi. Setelah itu Mark memanggil sekretarisnya untuk mengambil dokumen di depannya. Mark bangkit dan merapikan pakaiannya. Setelah itu dia melakukan panggilan dengan telepon di depannya.


"Malam ini pukul delapan, tolong pesan tempat di HOF untuk dua orang, benar, jangan di aula."

__ADS_1


Kemudian dia menutup mata dan membukanya perlahan, seperti sedang mengambil napas dalam-dalam. Saat itu, cahaya gelap mulai terlintas di matanya.


Delfina, aku ingin melihat berapa lama kamu bisa berpura-pura sombong seperti ini!



Delfina tiba di pintu hof pukul 7.40 malam. Bryan baru saja menjemput Alex, lalu mengantarnya kemari.


Alex melihatnya dari kursi belakang. "Ibu, ibu harus pulang lebih awal, ya."


Delfina menyentuh wajah putranya itu, "Ibu akan langsung kembali setelah menyelesaikan urusan ibu. Kamu pulang dengan paman dulu hari ini, ya."


Anak itu dengan patuh melambai padanya, "Sampai jumpa ibu!"


Setelah melihat mobil itu pergi, Delfina menarik napas dalam-dalam lalu berbalik menuju ke hof. Orang di depan pintu yang melihatnya langsung bertanya dengan sopan, "Apa Anda adalah Nona Delfina?"


Delfina sedikit terkejut karena seseorang langsung bersiap menunggunya begitu dia masuk dan menuntunnya menuju sebuah ruang pribadi. Dekorasi ruangan ini lumayan bagus, layaknya dekorasi bangsawan Eropa, bahkan koridornya berkilau dengan dinding emas di sana. Pelayan itu berhenti di depan pintu, dia berbalik dan berkata dengan sopan padanya. "Nona Delfina, silakan masuk."

__ADS_1


Delfina segera mengucapkan terima kasih lalu mendorong pintu di depannya.


Seketika dia tercengang setelah melihat orang yang sedang duduk di dalam.


__ADS_2