Kau adalah Hidupku

Kau adalah Hidupku
Episode 12


__ADS_3

Mark langsung tertawa saat mendengar ucapan Alex!


"Apa maksudmu?"


Mark menatap wajahnya dengan erat. "Pada dasarnya kamu memanglah putraku, perlukah aku membawamu pergi mengetes DNA? Butuh prosedur apa lagi untuk mengasuh putraku sendiri?"


Alex menatap wajah Mark, wajah sepasang ayah dan anak ini begitu mirip bagai pinang yang dibelah dua, hanya saja, wajah Mark lebih dalam dan halus, sedangkan sifat Alex lebih lembut, sangat mirip dengan kesan yang diberikan oleh Delfina.


Alex berkata dengan pelan. "Tuan Mark, seingatku, kamu dan ibuku sudah bercerai lima tahun yang lalu. Sedangkan aku baru lahir setelah kalian bercerai, jadi, tentu saja hak asuh jatuh ke tangan ibuku. Lebih baik Anda bicarakan dengan ibuku dulu tentang masalah hak asuh."


Pupil mata Mark menyusut, seolah-olah tidak percaya, dia mengulangi. "Apa kamu bilang?"


Kenapa anak berumur lima tahun sepintar ini?!


Alex menatap Mark begitu saja, dia seolah-olah tidak peduli dengan keterkejutan Mark, dia berkata dengan suara yang dipelankan. "Tuan Mark, apakah kamu akan memperlakukanku seperti ini kalau aku bukanlah putramu ... melainkan, anak ibu dengan orang lain?"


Hati Mark menegang, kegelisahan yang tidak beralasan pun melintas di dalam hatinya.


Apakah dia akan berusaha untuk membawanya pulang seperti ini kalau anak ini bukan anaknya? Tetapi ... dia pun tidak bisa menahan kemarahannya begitu terpikirkan Delfina melahirkan anak pria lain ....


Seperti apa yang ada di dalam benaknya kalau selamanya dirinya adalah dunia bagi Delfina dan Delfina hanya boleh melahirkan anak darinya, cari mati kalau pria lain berani menyentuh Delfina!


Tiba-tiba, Alex tertawa saat melihat raut wajah Mark yang demikian, pada dasarnya suara tawa anak kecil sangat enak didengar, tapi suara tawa Alex terdengar menyindir.


"Tuan Mark, kamu selamanya nggak akan mengerti apa yang telah kami lewati selama lima tahun ini, jadi, aku juga nggak mungkin dekat denganmu."


Alex mendongak dan menatap Mark, Mark merasa hatinya hancur berkeping-keping saat itu juga.


Ternyata anak berumur lima tahun memiliki kemampuan semacam ini dan melukainya sampai seperti ini.

__ADS_1


Alex menuturkan, "Tuan Mark, aku adalah satu-satunya motivasi bagi ibu untuk hidup di dunia ini, dia akan mati tanpa aku."


Delfina akan mati tanpa Alex.


...


Delfina sudah selesai bersiap-siap pada jam delapan malam, dia pergi ke alamat yang diberikan oleh Mark, yakni pintu utama Mago Bar.


Pelayan langsung menyambut Delfina saat melihatnya datang. "Halo, Nona ...."


Delfina secara khusus menata rambutnya, merias wajahnya dan menyemprotkan parfum, dia mengenakan setelan rok yang dipadukan dengan sepatu hak tinggi, dia tampak percaya diri dan anggun. Dia berdiri di sana dengan rambut yang terurai di satu sisi, terdapat kalung pada lehernya ramping, kalung itu adalah karya tangan Bryan yang hanya ada satu di dunia ini.


Delfina hanya berdiri di sana, tapi tidak ada seorang pun yang berani maju. Dia memiliki aura yang begitu terhormat bagaikan nona besar dari sebuah keluarga bangsawan. Kepalanya sedikit menunduk, bulu matanya panjang, bibir merahnya mengilap, lengkungan batang hidungnya begitu indah, membuat semua orang merasa tidak asing dengannya.


Tetapi, tidak ada seorang pun yang bisa mengingat siapa dirinya.


Kemungkinan, ada terlalu banyak wanita bangsawan di kota yang tidak pernah tidur ini, jadi, semua orang hanya merasa Delfina terlihat tidak asing saja, mereka tidak bisa mengingat di mana mereka pernah melihatnya. Wajahnya yang begitu indah pasti akan meninggalkan kesan yang mendalam kalau nantinya bertemu lagi.


Mark memarkirkan mobilnya di tempat parkir Mago Bar, dia pun melihat pemandangan ini saat berjalan ke atas.


Ada orang mabuk yang berjalan menghampiri dari sebelah sambil menggelengkan kepala dan mengatakan, "Sialan, apakah kamu lihat wanita cantik yang berada di depan pintu itu? Benar-benar luar biasa! Auranya, penampilannya, ckck!"


Temannya yang berada di sampingnya menuturkan, "Jangan berharap, kamu kira kamu bisa menyentuh wanita seperti itu? Mungkin kamu masih cocok kalau jadi sopirnya."


"Haha, aku juga akan senang kalau jadi sopir! Jadi sopir gratis untuknya!"


Alis mata Mark sedikit mengerut, dia melihat Delfina berdiri di sana saat dia mendongak, Delfina tampak dingin dan datar, ketidakacuhan dan kesan yang tidak ramah terpancar pada wajahnya yang indah, seberkas rasa panik melintas pada sepasang matanya saat dia melihat Mark.


Mark berdiri di sana begitu saja, dia mengenakan kemeja putih, di bawah dua kaki rampingnya yang mengenakan celana setelan yang rapi itu terdapat sepasang sepatu Balenciaga, dia memegang kunci mobil dengan satu tangan, satu tangannya yang lain memegang sehelai mantel. Wajahnya yang tampan tampak santai, dua anting berlian hitam di telinga kirinya sepadan dengan bola matanya yang sehitam batu obsidian. Dia berdiri di depan pintu, tubuhnya yang tinggi besar memancing perhatian dari pejalan kaki.

__ADS_1


Dia memiliki semacam aura yang dapat membuat perhatian semua orang tertuju kepadanya. Wajahnya yang tampan dan nakal, serta karakteristiknya yang mantap membuat semua wanita terbuai olehnya dan ingin menghempaskan diri ke dalam dekapannya.


Mark adalah pria idaman semua wanita di kota ini, jadi, lima tahun lalu ketika Mark menikahi Delfina, semua wanita di kota ini pun patah hati.


Mereka menantikan terjadinya sebuah drama, lima tahun kemudian, tidak tahu ada berapa banyak orang yang bersorak-sorai di belakang saat Delfina dijebloskan oleh Mark ke dalam penjara.


Tidak diragukan lagi kalau Mark begitu sempurna di dalam setiap aspek, latar belakang keluarga, kekayaan, kekuasaan dan posisi, tapi dia tidak pernah memberikan sedikit pun kasih sayang kepada Delfina.


Delfina merasa dirinya begitu menyedihkan, pria ini bukanlah miliknya, tapi dia beranggapan kalau dia bisa meluluhkan hati Mark dengan bersikap tegar. Akhirnya, Delfina sadar bahwa tidak mungkin baginya dan Mark untuk bersama setelah dia berpura-pura bodoh selama lima tahun dan dipenjara selama lima tahun penuh, dia tahu kalau akibatnya adalah kehancuran keluarganya.


Mark dan Delfina saling bertatapan di depan pintu, dibatasi oleh orang yang berlalu lalang, seolah-olah mereka kembali ke masa lalu dan melihat segalanya melalui wajah-wajah yang tidak dikenal ini.


Mark tetaplah cinta sejati di dalam hati Delfina, sedangkan Delfina tetaplah seorang gadis di mata Mark.


Waktu terus berputar dan tidak ada yang abadi. Kenapa mereka bisa menjadi seperti sekarang ini? Sebenarnya ... siapa yang bermain di belakang?


Delfina membersihkan pikirannya yang kacau, dia mendongak dan melihat Mark berjalan menghampiri selangkah demi selangkah, pria itu tampak begitu agung, semua orang terpaksa mundur dibuatnya, hingga dia berdiri di hadapan Delfina.


Ketika jarak antara wajah tampan itu dengan Delfina semakin dekat dalam sekejap mata, Delfina pun sadar kalau tidak ada gejolak lagi di dalam hatinya.


Mark, tahukah kamu kalau aku sudah menderita selama 15 tahun penuh sejak mencintaimu dari masa mudaku sampai sekarang?


Delfina langsung menarik tatapan matanya saat melihat Mark, Mark berkata dengan datar di sebelahnya, "Sudah menunggu berapa lama?"


"Nggak lama, 10 menit saja."


Delfina tersenyum, tidak ada yang bisa menemukan kekurangan pada dirinya yang begitu anggunnya, tapi justru penampilan yang seperti ini membuat Mark merasa asing.


Dulu, Delfina selalu bersikap lembut, murah hati dan kasih sayang terpancar pada matanya. Kini, sepasang matanya bagaikan lubang hitam yang menelan harga dirinya yang pernah ada itu dan menjadi sebuah kekosongan.

__ADS_1


Hati Mark bergetar, dia menahan diri dan berkata, "Ayo, naik bersamaku."


Mark langsung mengulurkan tangan dan menekan tombol lift usai mengatakannya, saat pintu lift terbuka, selain mereka, tidak ada satu pun orang yang berani naik bersama mereka.


__ADS_2