Kau adalah Hidupku

Kau adalah Hidupku
Episode 7


__ADS_3

Alex dijemput oleh Mark pada pukul tiga, kemudian dia langsung pergi ke kediaman Keluarga Pranata, ibunya Mark, Linda langsung terkejut begitu melihatnya.


Linda menangis sambil bertanya, "Apa ... kamu adalah cucu ... keluarga kami?"


Alex tidak mengatakan apa-apa, meskipun tatapan sedih di mata Linda tidak palsu, dia tidak ingin menghiraukannya.


"Siapa orang tuamu?"


"Siapa ibuku itu nggak penting bagi kalian."


Alex tertawa, anak yang berusia 5 tahun ini sangat dewasa. "Lalu, siapa ayahku, juga nggak penting bagiku."


Mark yang baru saja menghentikan mobil masuk ke dalam, lalu dia pun marah hingga menendang pintu begitu mendengar ucapan Alex. "Apa maksudmu?"


Alex menjawab, "Seperti yang aku katakan tadi."


Linda dapat melihat kalau anak ini sangat benci pada mereka, terutama pada Keluarga Pranata. Jadi, dia tidak berani menggendongnya, hanya melihatnya. "Apa kehidupan ... ibumu baik-baik saja?"


Alex tersenyum manis, "Kalau di penjara di biayai negara, jadi ibuku hidup dengan baik."


Mark sangat marah ketika mendengar katanya, lalu mengangkat Alex, "Siapa yang mengajarimu berbicara dengan cara menyindir?"


Lalu, Mark lanjut berkata, "Apa Delfina yang mengajarimu berkata begitu? Ha?"

__ADS_1


Alex menjawab dengan ekspresi takut, "Siapa yang mengajariku mengatakan hal itu? Orang-orang di sampingku yang berkata begitu padaku. Mereka bilang ibuku pernah masuk penjara, bilang ibuku pernah membunuh orang. Kalau mau dihitung, semalam kamu juga mengatakan hal itu di depan ibuku."


Hati Mark sangat sakit, dia meletakkannya dengan kuat sambil menggertakkan gigi. "Apa kamu mempelajari keterampilan dari ibumu, jadi sengaja membuatku nggak senang?"


"Kalau merasa aku membuatmu nggak senang, maka antar aku pulang."


Alex menatapnya, "Kalau kamu ingin menggunakan ibuku untuk mengancamku, maka kami hanya akan semakin membencimu."


Semakin membencimu!


Akhirnya dia katakan dan mengakuinya. Mereka memang bencinya, bahkan rasa benci yang dalam ini sudah berubah menjadi kebiasaan.


Selama Mark muncul di depannya, Delfina akan ketakutan sampai ingin kabur.


Mark tidak tahu kenapa dirinya marah sampai melempar banyak barang. Sedangkan, Linda membujuknya dengan sedih dari belakang. "Mark, jangan melempar barang lagi ...."


Mark tertawa dingin, lalu naik ke atas. Sedangkan Alex duduk di sofa tanpa ekspresi.


Ketika ayah dan anak ini marah, tampak mereka sungguh mirip.


Linda menyuruh pembantu membersihkan lantai, lalu duduk di samping sambil bertanya, "Apa sudah membuatmu kaget?"


Alex menggelengkan kepala, "Nggak kok."

__ADS_1


Tetapi, matanya merah, jelas-jelas ini tampak ketakutan.


"Sia ... siapa namamu?" tanya Linda karena dia sangat suka dengan anak ini.


Alex melihatnya, "Namaku Alex Caresta, ibuku bilang arti dari namaku adalah hanya dan harapan."


Linda tidak berani menanyai kabar Delfina baru-baru ini, tapi karena Alex duluan mengungkitnya, jadi dia pun melanjutkan topik ini dengan hati-hati, "Ibumu ...."


"Nyonya nggak usah mengkhawatirkan masalah ibuku."


Melihat anak usia 5 tahun terlihat sangat menjaga jarak ketika menggunakan panggilan terhormat, Linda pun tahu kelak orang ini susah didekati ....


Linda memikirkan cara terbaik untuk berbicara, "Alex, sebenarnya ... waktu itu ibumu ...."


"Nggak usah bilang padaku, aku tahu." Alex langsung menyelanya, "Mereka bilang ibuku yang genit, juga bilang ibuku pembunuh, jadi semua hukuman itu pantas diterimanya. Aku juga mengerti kalau kita memang pantas menerima balasan itu."


Kita memang pantas menerima balasan itu!


Dia jelas-jelas sedang mengatakan kata yang kejam, tapi Linda yang mendengar ini merasa sangat sedih.


Anak ini benar-benar membenci mereka ....


Alex tidak peduli kalau dirinya telah menyakiti hati Linda, dia hanya menoleh melihat keluar jendela.

__ADS_1


Langit sudah gelap, fajar tidak terlihat lagi.


__ADS_2