Kau adalah Hidupku

Kau adalah Hidupku
Episode 29


__ADS_3

Saat mendengar Alex berkata seperti ini, Mark tidak tahan tersenyum sinis.


Lima tahun yang lalu, Delfina adalah putri terhormat di Kota Bench. Dia memiliki


bakat yang menakjubkan, jadi dia tentu saja sangat bangga dan angkuh, bagaimana


mungkin melakukan hal yang akan merugikan nama baiknya.


Mungkin hal rendahan satu-satunya yang pernah dilakukan oleh Delfina adalah demi Mark,


sedangkan Mark tidak menghargainya sama


sekali.


Lima tahun kemudian, orang-orang telah kembali, tetapi semuanya sudah berbeda. Mark


berpikir, jika diantara mereka tidak ada


rentang waktu lima tahun itu, apakah mereka akan bermusuhan seperti ini?


Namun, di dunia ini tidak kata penyesalan. Mark berpikir, menegakan keadilan dan


kebenaran pada Bella, agar arwah Bella bisa tenang di surga. Mengenai Delfina,


itu juga hanya harga yang sudah seharusnya dibayarnya.


Alex menatap sosok Sofia yang pergi menjauh, lalu tiba-tiba membalikkan tubuh


berkata pada Mark dengan pelan. "Tuan Muda Mark, apakah kamu punya wanita


lain dalam lima tahun ini?"


Nada Alex seperti bertanya paksa. Mark mengerutkan alisnya dan tidak menjawab.


Alex terdiam dan menatap paras wajah Mark yang tampan itu. Alex menyimpan semua


pemikirannya ke dalam hati.


Jika, ibunya dan Mark bersama lagi di suatu hari nanti … mungkin akan mengulangi


kesalahan yang sama lagi.


Setidaknya sekarang, dia tidak mengakui ayahnya ini. Meskipun ayahnya sangat sempurna di depan mata orang lain. Tidak peduli latar belakang keluarga atau kekayaan Mark


adalah kelebihannya. Namun, pria yang tak berperasaan terhadap Ibu-nya, apakah


benar-benar pantas mendapatkan pengorbanan Ibu?


Tidak, tidak pantas!


Cahaya dalam mata Alex menjadi redup. Dia melihat ke luar jendela. Langit semakin


gelap dan hati orang juga menjadi dingin.



Tiga hari kemudian, Delfina datang ke rumah dengan mata yang memerah. Jelas sekali,


dia hidup dengan tidak baik dalam tiga hari ini. Namun, dia tetap mendandani


dirinya dengan baik. Dia mengenakan sepatu dan jaket, membuatnya tampak lebih


muda. Saat datang, para pembantu tertegun.


Bukankah ini adalah wanita gila yang membuat onar di rumah? Kenapa menjadi begitu


berseri-seri setelah dandan?


Mark kebetulan sedang menemani Alex mengerjakan PR di rumah. Saat tiba di depan

__ADS_1


pintu, Delfina memanggil Alex, Alex segera meletakkan crayon dan berlari ke


pelukan Delfina dengan senang, "Ibu, apakah kamu datang menjemputku


pulang?"


Delfina menggelengkan kepala dengan tidak tega. "Maaf, Alex. Kamu mungkin harus


memberi Ibu sedikit waktu lagi …"


Alex terdiam, tetapi dia tidak melepaskan Delfina. Ada Delfina di sisinya, dia merasa


nyaman.


Melihat hubungan ibu dan anak yang begitu mendalam, Mark mencibir, "Jangan


melakukan perjuangan yang tidak berguna. Delfina, tidak peduli beri kamu berapa


banyak waktu, kamu juga tidak akan menemukan pengacara yang berani bersidang


denganku."


Ucapan yang kejam ini membuat mata Delfina memerah lagi. "Mark, kenapa kamu


begitu kejam?!"


"Aku kejam?" Mark seperti mendengar sebuah lelucon. "Kamu hanya pantas diperlakukan seperti ini olehku!"


Delfina tidak berbicara, dia hanya mengunakan sepasang matanya menatap Mark. Di bawah tatapan Delfina, Mark bahkan merasa


sedikit sumpek.


Tatapan Delfina selalu angkuh dan tidak bersedia mengalah pada siapa pun.


Namun, lima tahun yang lalu, dia melepaskan harga dirinya demi Mark. Lima tahun


kemudian, matanya hanya tersisa kebencian!


bisa tumbuh dewasa?"


"Iya, aku nggak pernah tumbuh dewasa." Delfina memeluk Alex, tetapi tubuhnya


bergemetar. "Apa yang kamu inginkan sebenarnya? Aku juga telah dipenjara


selama lima tahun. Kenapa kamu masih nggak melepaskanku setelah aku keluar dari


penjara?"


"Nggak melepaskanmu?" Mark bertanya balik pada Delfina. "Sekarang kamu yang


datang kemari sendiri, kenapa menjadi aku yang nggak melepaskanmu? Delfina, kamu memang nggak seharusnya muncul di depanku, tapi kamu muncul dengan Alex, membuatku mau nggak mau harus mencurigai tujuanmu …"


"Mark, apakah kamu adalah manusia?!"


Delfina berteriak, "Alex adalah putraku, juga putramu! Manusia nggak akan


mencurigai putra kandungnya sendiri! Kamu berbicara seperti ini, apakah nggak


khawatir Alex akan sedih?!"


Mark tertegun, lalu melihat anak kecil yang ada di dalam pelukan Delfina. Saat Alex mendongakkan kepala, matanya penuh dengan rasa kekecewaan. Alex bertanya dengan suara yang pelan. "Tuan Mark, apakah Anda merasa Ibu saya sedang menggunakan saya untuk menarik perhatianmu?"


Mark tidak bisa menjawab pertanyaan Alex dan hanya menggunakan tatapan yang suram


untuk menatap Alex. Beberapa saat kemudian, Mark baru berkata, "Alex, ada


beberapa hal diantara orang dewasa, kamu nggak mengerti sama sekali."


"Iya, aku memang nggak mengerti."

__ADS_1


Alex menenangkan Delfina yang gemetar, lalu melangkah maju dan bertatapan dengan


Mark, "Di mata Anda, Ibu saya adalah orang yang seperti apa? Tuan Mark,


kalau ingin menarik perhatianmu, Ibu saya bisa saja menggunakan diriku untuk


melakukan transaksi denganmu, tapi dia menyembunyikanku darimu begitu lama …


apakah Anda masih nggak mengerti?"


Mengerti apa? Mengerti bahwa Delfina begitu membencinya, sehingga menghindar jauh darinya?


Mark tidak ingin mengakui kenyataan ini, jadi hanya bisa mengubah makna Delfina.


Delfina merapikan rambut Alex, lalu berkata dengan suara yang pelan, "Alex, Ibu nggak apa-apa."


Delfina jelas-jelas hampir menangis, tetapi masih bersikeras mengatakan dirinya


baik-baik saja. Delfina yang angkuh pada lima tahun yang lalu, mana pernah


menunjukkan ekspresi yang begitu putus asa? Mark, aku bisa menjadi seperti ini,


semuanya gara-gara kamu!


Pupil Mark menyusut tanpa meninggalkan jejak.


Namun, tampang Mark masih tetap seperti sulit ditebak dan tertawa dengan kejam.


Delfina seharusnya mengerti pada lima tahun yang lalu bahwa pria ini tidak


punya hati.


Jika Delfina bisa tahu kenyataan ini sejak awal, dia tidak akan membiarkan dirinya


jatuh cinta pada pria yang berdarah dingin. Meskipun pria itu sangat sempurna,


Delfina juga tidak berani membiarkan dirinya terjatuh.


Ada beberapa teori yang dimengerti terlalu lambat, maka harus membayar harga yang


mahal, jadi di masa depan, Delfina menghindar segala hal yang berhubungan


dengan Mark, seperti menghindari ular berbisa.


Delfina tersenyum tenang pada Mark, seolah acuh tak acuh dan tidak peduli. Lalu


mendorong Alex ke dalam pelukan Mark.


Mark tercengang, lalu melihat Delfina. Kebencian di dalam mata Delfina seperti telah


mencapai puncak, tetapi nadanya sangat acuh tak acuh, "Baiklah, seperti


yang kamu inginkan, bagaimana kalau aku menghilang di depan matamu?"


Jantung Mark berdetak kencang dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi Delfina malah membalikkan tubuh pergi.


Dulu, dia sering memberi sosok punggungnya pada Delfina, sekarang Delfina menggunakan cara yang sama untuk membalasnya.


Saat melihat Delfina pergi, mata Alex memerah, mulutnya bergetar lama baru


memanggil dengan pelan. "Ibu …"


Tubuh Delfina tertegun, tetapi tidak menoleh.


Di bawah pantulan cahaya, sosok wanita yang tegas menghilang di pandangan Mark.


Pada saat itu, dia merasa dadanya sakit.


Bukankah ini adalah hasil yang diinginkannya? Sekarang dia sudah bisa mendapatkan

__ADS_1


putranya sesuai dengan keinginannya. Apakah … ini tidak baik?


__ADS_2