
Setelah melihat ke sekelilingnya, Mark langsung menggendong Alex dan membawa bocah kecil itu masuk ke dalam kantor direktur.
Mark meletakkan Alex di atas meja, kemudian mengangkat alisnya dan tersenyum pada bocah itu sambil menyipitkan matanya. "Ada apa kamu mencari Ayah?"
Alex menatapnya dan bertanya langsung pada intinya. "Apakah Ibu menjadi begini karena perintahmu?"
Ekspresi Mark membeku dan dia langsung tertegun. Dia sama sekali tidak terpikir bahwa kedatangan putranya adalah untuk menanyakan hal ini dan malah dengan sikap seperti menginterogasi penjahat.
Mark merasa hatinya bagaikan ditusuk oleh sesuatu sehingga suaranya pun tanpa sadar menjadi sangat rendah. "Apakah kamu datang untuk menginterogasiku?"
"Aku bukan menginterogasi." Alex merendahkan suaranya, "Aku hanya datang untuk mencari keadilan bagi ibu."
"Keadilan?"
Mark tersenyum menyindir, "Nggak ada keadilan di dunia ini, yang ada hanyalah kekuasaan dan kedudukan."
"Aku nggak begitu setuju dengan perbuatanmu." Alex merasa sedikit kesal. Mata bocah itu bahkan sudah merah, "Ibu dan Paman berusaha keras untuk hidup, kenapa kamu malah menyusahkan mereka? Kalau hanya demi aku, aku harap kamu segera menghentikan perilaku yang membosankan ini!"
Membosankan?
Ya Tuhan, betapa konyol! Putranya sendiri sedang mengkritik perilakunya!
"Apakah Delfina yang mengajarimu untuk berkata begini, hah?"
Mark tersenyum sinis dan bertanya, "Apakah dia yang sengaja menyuruhmu datang kemari?"
Mark seolah-olah sudah menetapkan bahwa Delfina yang mengajari Alex untuk berbuat begini. Jadi, apakah wanita seperti ini pantas menjadi seorang ibu?
Alex menatap Mark untuk beberapa saat kemudian tiba-tiba tersenyum. Senyumnya itu terlihat seolah-olah dia dapat mengerti dengan jelas tentang semuanya. Tidak ada yang menyangka anak yang baru berumur lima tahun ini bisa menunjukkan ekspresi seperti ini.
Setelah beberapa saat, Alex berkata, "Tuan Mark, bukankah kamu menginginkanku? Aku akan mengikutimu pulang ke Kediaman Pranata, jadi tolong berhenti menekan ibu!"
Mark langsung tercengang. Alex kembali menyebutnya dengan panggilan yang asing. Dia tidak memanggilnya ayah lagi, melainkan Tuan Mark.
"Jangan ragu lagi, aku akan pulang denganmu. Tapi sebagai gantinya, kamu nggak boleh mengganggu kehidupan ibu lagi!" Kata-kata Alex sangat menyayat hati, bagaikan jarum tajam yang menusuk ke dada Mark.
Mark harus mengakui bahwa Delfina tidak dapat membuatnya merasa sakit. Namun, Alex yang masih kecil ini malah bisa menyakitinya hingga berlumuran darah.
__ADS_1
Kekecewaan di mata Alex sangat jelas, seolah-olah Mark sudah melalaikan tugasnya sebagai seorang ayah.
Setelah mengerutkan bibirnya, Mark bertanya dengan ringan. "Apakah kamu yakin?"
Bocah itu mengangkat kepalanya dan menatap Mark. Sepasang matanya yang gelap itu bagaikan alam semesta yang cantik tapi kesepian. Dia menjawab, "Iya. Mulai hari ini."
Setelah jam pulang kerja, Alex sendiri yang langsung naik ke dalam mobil mereka dan mengikuti Mark pulang. Dia duduk dengan diam dan memandang perusahaan yang pelan-pelan menjauh. Kemudian, Mark bertanya, "Apakah kamu sudah mengatakannya pada ibu?"
Alex menoleh dan berkata dengan acuh tak acuh. "Belum."
Mark berdecak, "Setidaknya beri tahu ibumu. Kalau nggak, dia akan mengira kalau aku yang menculikmu."
"Aku nggak ingin memberi tahu ibu bahwa aku yang berinisiatif untuk membuat syarat ini." Alex menundukkan kepalanya. "Tolong bilang pada ibu untuk nggak terlalu sedih."
Anak yang sebijaksana Alex sangat jarang ditemukan. Mark menatap Alex lagi, kemudian menghela napas dan menelepon Delfina.
Saat melihat ada panggilan masuk, Delina sama sekali tidak merasa nomor itu asing. Lima tahun yang lalu, dia sudah menghafal serangkaian nomor ini di benaknya. Bahkan ketika dia berada di ambang kematian, dia juga tidak melupakannya.
Serangkaian nomor yang muncul di layar ponselnya ini membuat hatinya berdebar tidak karuan. Pikiran Delfina sangat kusut, dia tidak tahu apakah dirinya harus mengangkat telepon ini.
"Aku sudah membawa Alex pergi. Mulai hari ini, dia adalah putra Keluarga Pranata."
Setelah mendengar kata-kata itu, Delfina berseru marah, "Mark! Siapa yang mengizinkanmu untuk membawa Alex pergi!"
Mark mencengkeram ponselnya dan mencibir, "Kenapa aku nggak boleh bersama putraku sendiri?"
"Dia juga adalah putraku!" Mata Delfina memerah, "Dia adalah ... nyawaku ..."
"Biarkan aku mendengar suara Alex!" Delfina hampir histeris. "Biarkan aku berbicara dengan Alex!"
Mark tidak bisa tahan mendengar nada suara Delfina. Dia merasa bahwa setiap kata-kata yang diucapkan Delfina itu membuatnya merasa semakin sedih. Jadi, dia memasingkan ponselnya
kepada Alex dan bocah itu menyapa dengan imut, "Ibu."
"Alex ..." Delfina merasa sedikit panik. "Apakah Mark yang membawamu pergi?"
Alex juga merasa sangat sedih, tetapi dia menahan perasaan sedihnya dan menghibur Delfina, "Ibu, kamu boleh datang untuk menjengukku. Jadi, kita akan seperti nggak terpisahkan."
__ADS_1
"Kamu sudah memutuskan untuk menikmati kekayaan Keluarga Pranata, 'kan?"
Mata Alex juga ikut memerah. "Nggak, Ibu. Aku hanya nggak ingin melihat ada yang menindasmu ..."
Percakapan ibu dan anak itu membuat Mark seolah-olah menjadi seperti orang paling berdosa yang sudah memisahkan mereka dengan paksa.
Pada akhirnya, Delfina mengerti maksud Alex dan meneteskan air mata atas pilihan anaknya itu. "Ini semua salah Ibu. Ibu kurang mampu sehingga kamu menjadi begini ..."
"Ibu, jangan sedih." Suara Alex juga tercekat, "Kamu boleh datang ke Kediaman Pranata untuk melihatku. Tuan Mark nggak melarang orang untuk keluar masuk ..."
"Oke. Saat kamu sudah sampai di Kediaman Pranata, Ibu akan langsung pergi mencarimu."
Delfina tidak sanggup menerima perpisahan, jadi dia hanya bisa menerima situasi seperti ini.
Selesai berbicara, Delfina langsung menutup telepon dan bangkit berdiri. Bryan memandang tubuh Delfina yang kurus kemudian berteriak, "Kamu mau ke mana?"
Delfina menahan tangisnya dan berkata, "Kediaman Pranata."
‘Mark .... Apa yang harus aku lakukan supaya kamu bersedia melepaskanku dan anakku ...’
‘Aku nggak ingin terus-menerus dikendalikan olehmu lagi.’
…
Dua puluh menit kemudian, Alex pun tiba di Kediaman pranata. Saat melihat Alex lagi, Linda memanggilnya dengan sedih. "Alex."
Alex melangkah maju dan berhenti di depan Linda, kemudian menyapanya dengan sopan. "Selamat malam, Nyonya Besar."
Alex tetap keras kepala dan bersikeras tidak mau mengganti nama panggilannya. Dia seolah-olah tidak ingin pertahanan terakhirnya ikut hilang.
Mark mengatur sebuah kamar untuk Alex lagi dan membawanya ke depan kamar, lalu berkata. "Mulai hari ini, kamu tinggal di sini."
Alex mengiyakan dengan ringan. Kemudian, mereka mendengar ada suara pelayan dari lantai bawah, "Tuan Besar, ada seorang wanita yang datang mencari kalian."
Pelayan-pelayan itu sedang menghalangi Delfina untuk masuk. Wanita itu memang cantik, tetapi dia malah langsung berkata bahwa dia menginginkan anaknya kembali begitu masuk ke dalam. Bukankah itu sangat aneh? Mereka sudah banyak bertemu dengan wanita seperti ini!
Delfina berteriak di depan pintu karena dihalangi oleh para pelawan. "Mark, kalau ada apa-apa, kamu boleh langsung mencariku! Kenapa kamu mengancamku dengan Alex!"
__ADS_1