
Setelah Sofia kembali ke Kediaman Ardiansyah, dia teringat kembali pada wajah Delfina saat konfrontasi mereka tadi. Ekspresi acuh tak acuh Delfina itu membuatnya sangat marah, jadi dia mengajak teman-temannya untuk pergi ke bar malam ini. Tak disangka, dia malah bertemu dengan Jenny kali ini.
Saat ini, Jenny sedang bersandar di dalam pelukan Mark, tetapi ekspresi Mark tetap keliatan dingin dan tidak berekspresi. Namun, Mark yang membiarkan wanita lain untuk menyentuhnya adalah pengecualian besar. Melihat hal itu, Sofia langsung berjalan maju, kemudian dia menarik Jenny untuk berdiri dan langsung melayangkan sebuah tamparan ke wajah Jenny.
Meskipun Jenny adalah wanita penghibur dan ada orang yang mengatakan bahwa dia mempunyai reputasi buruk di belakangnya, ini adalah pertama kalinya dia ditampar di depan umum. Jadi, dia sangat marah sehingga seluruh badannya bergetar dan berteriak, "Apa-apaan! Apakah kamu sudah gila!"
Mendengar keributan itu, Mark mendongak dan menyadari bahwa itu adalah Sofia. Jenny berlari ke sisi Mark dengan ekspresi sedih dan air mata yang menggenang di matanya. Dia terlihat sangat kasihan, tetapi Mark hanya meliriknya sekilas dengan acuh tak acuh.
Sofia menyeret Jenny dari sisi Mark dengan wajah penuh murka. Keributan di bar adalah hal yang sering ditemui, karena itu, tidak ada orang yang merasa terkejut. Tidak heran jika ada dua wanita mabuk yang bertengkar karena cemburu. Jika mereka adalah pria, mungkin mereka sudah berkelahi hebat.
Oleh karena itu, semua orang tidak menghiraukan mereka untuk menghindar ikut tertimpa masalah.
Sofia menatap wajah Jenny dengan pandangan tidak percaya, kemudian dia menoleh ke arah Mark dan berkata, "Kak Mark, kenapa kamu membiarkan wanita kotor seperti dia menyentuhmu?!"
Mark menatap Sofia dan tersenyum sinis. "Kalau nggak? Apakah kamu bersedia?"
Sofia melangkah mundur beberapa langkah dengan mata memerah. Dia adalah nona besar keluarga terkenal yang sombong dan arogan, jadi mana pernah dia dipermalukan seperti ini?
"Siapa istrimu dulu? Delfina! Delfina yang bahkan nggak bisa ditandingi oleh semua wanita di Kota Batari! Tapi sekarang, kamu malah merosot hingga mencari wanita penghibur?!"
Jenny menutupi wajahnya dan tidak berhenti meneteskan air mata. Delfina? Delfina! Jenny tidak akan menahan penghinaan yang dia terima hari ini! Memang seberapa suci Delfina itu! Meskipun dia suci, Jenny akan membuatnya menjadi kotor dan merusak reputasinya!
Tepat di saat itu, Delfina baru saja keluar dari kamar mandi. Mata Valentino yang berada di samping Mark langsung bersinar dan dia langsung berteriak, "Delfina!"
Di momen yang singkat itu, semua orang mengangkat kepala mereka untuk melihat wanita yang berdiri di depan pintu kamar mandi. Hanya dengan satu pandangan, mereka semua pun tercengang.
Di bawah lampu lantai dansa yang berwarna-warni, Delfina mengenakan setelan blazer dan rok. Ada sebuah kalung pendek tipis yang bergantung di antara tulang selangkanya. Rambutnya ditata ke satu sisi sehingga garis rahang dan lehernya yang indah dapat dilihat oleh semua orang. Dia hanya memakai riasan yang halus. Bibir merahnya sedikit terbuka dan matanya terlihat jernih tetapi dingin. Dia muncul dan menghilang di antara kerumunan sambil berpapasan dengan banyak orang.
Mark hanya bisa menelan ludah, sedangkan wajah Valentino penuh kekaguman dan dia bersiul tanpa sadar. Kemudian, Valentino menarik manajer bar. "Itu! Kamu sudah melihat wanita tadi, 'kan? Bawa dia ke meja kami!"
__ADS_1
Malam itu, ada sebuah legenda ambigu yang tertinggal di Kota Bench mengenai Tuan Muda Mark dan Tuan Muda Valentino yang mengobrak-abrik seluruh bar demi mencari seorang wanita. Identitas wanita itu bagaikan diselimuti oleh lapisan kabut. Dia sepertinya pernah muncul sebelumnya, tetapi juga seperti baru tiba-tiba muncul. Tidak ada orang yang ingat tentang Delfina yang dulu, jadi tidak ada orang yang mengenali Delfina yang sekarang.
Delfina memiliki pesona yang sangat memabukkan seperti anggur berkualitas, semakin waktu berlalu, semakin murni dan harum anggur itu. Pada saat itu, di mata Mark yang selalu tidak menanggapi wanita pun muncul sebuah keinginan untuk memangsa bagaikan binatang buas yang mengikuti naluri primitifnya. Wajahnya yang terlihat kejam menjadi semakin tampan dan pandangan matanya sangat tajam. Dia juga memancarkan aura yang sangat dingin.
Sementara Delfina bahkan tidak tahu bahwa dia sudah menjadi pusat perhatian semua orang tadi. Saat dia baru kembali ke tempat duduknya, ada seorang pelayan yang berjalan ke hadapannya dengan hormat.
"Nona, ada seorang tuan muda yang mengundang Anda untuk pergi ke mejanya."
Dari ... mana datangnya seorang tuan muda besar?!
Jessica bertanya pada Delfina dengan suara kecil. "Apakah kamu sudah ... menyinggung seseorang?"
Delfina menggelengkan kepalanya. "Apakah kamu pernah melihat ada seorang wanita yang baru keluar dari penjara mempunyai jodoh buruk?"
Jessica tersenyum menawan. "Ada, si Mark!"
Delfina tertawa. "Aku akan mencekikmu sampai mati kalau kamu mengungkitnya lagi!"
Delfina menatap wajah cantik Jessica dan berdecak sambil menggeleng, "Memang nggak ada yang bisa menandingimu."
"Omong kosong." Jessica mendorong Delfina. "Pergilah, jangan membiarkan orang menunggumu. Semangat!"
Pelayan itu membawa Delfina ke sebuah meja, tetapi ekspresi Delfina langsung berubah setelah melihat dua pria yang duduk di sana. Baru saja dia mau berbalik, Valentino langsung berdiri dan menarik pergelangan tangannya.
Pikiran pertama yang masuk ke otak Valentino adalah ... lembut sekali.
Setelah tidak bertemu beberapa saat, Valentino merasa bahwa Delfina ... bertambah cantik lagi.
Valentino menarik Delfina yang acuh tak acuh itu untuk duduk. Saat Delfina mengangkat kepala dan melihat Mark yang juga berekspresi acuh tak acuh, dia hanya tersenyum dingin, "Selamat malam, Tuan Muda Mark."
__ADS_1
"Selamat malam."
Mata Mark yang sangat gelap itu menatap Delfina dengan penuh arti, tetapi Delfina tidak menghiraukannya. Dia langsung mengambil segelas bir dan mendentingkannya ke gelas Valentino dan Mark, kemudian tersenyum dan berkata, "Kalian hanya mengundangku untuk minum segelas bir ini, jadi aku akan minum dan pergi. Silakan teruskan acara kalian."
Selesai berbicara, Delfina langsung menghabiskan segelas bir itu, lalu tersenyum pada mereka. Bibir merahnya masih terlihat bersinar karena dibasahi oleh bir.
Valentino tanpa sadar menelan ludahnya dan menahan Delfina. "Kamu nggak mau menemani kami lebih lama lagi?"
"Tuan Muda Valentino ..." Delfina menoleh dan menatap Valentino. Sepasang matanya itu diwarnai oleh cahaya lampu warna-warni dan terlihat sangat memesona. Dia berkata, "Bagaimanapun juga, kami sudah bercerai. Jadi, aku merasa nggak enak jika harus duduk bersama seperti ini."
Delfina merasa tidak enak?
Mark menjadi marah dan mengejek. "Delfina, sejak kapan kamu tahu malu?"
Apakah maksudnya adalah dulu Delfina tidak tahu malu?
Delfina meluruskan rambutnya dan berkata dengan ringan. "Benar. Bagaimanapun juga, aku pernah mengganggumu tanpa malu. Sekarang, aku sudah menyadari kebodohanku, jadi aku ingin menghentikannya sebelum terlambat. Bukankah itu bagus?"
Meskipun Delfina mengatakan hal itu, dia sebenarnya merasa sangat sakit. Bahkan bahunya juga sedikit gemetar, jadi sangat jelas bahwa dia sedang memaksakan diri untuk bertahan.
'Mark, kenapa aku masih bisa merasa sangat sakit saat melihatmu? Aku jelas-jelas sudah memberi tahu diriku untuk nggak merasakan apa-apa, tetapi kenapa ... aku selalu kalah?'
Delfina menertawakan dirinya sendiri dan sudah kehilangan aura arogan sebelumnya. Kali ini, ada orang yang memanggilnya lagi. Orang itu adalah Sofia.
Sofia berjalan mendekati mereka dengan pandangan mata yang dalam. Saat melihat wajah Delfina, dia tiba-tiba tertawa ringan, kemudian dia menoleh dan melihat Jenny yang berada di sisi Mark.
Perbandingannya dalam sekejap menembus puncak.
Sofia tidak berkata apa-apa dan hanya menatap Delfina dengan pandangan yang berat selama beberapa saat. Kemudian, dia membalikkan badan dan pergi. Melihat dari arahnya, sepertinya dia akan meninggalkan bar ini.
__ADS_1
Delfina tidak berkata apa-apa. Melihat kepergian Sofia, Mark sama sekali tidak menahannya. Namun, dia malah bersuara untuk menahan Delfina. "Duduk."