Kau adalah Hidupku

Kau adalah Hidupku
Episode 22


__ADS_3

Saat Delfina pulang pada malam itu, dia segera mengirim pesan pada Denny untuk meminta maaf bahwa mereka mungkin tidak bisa memulai kerja sama lagi dan juga menyuruhnya untuk jangan mencarinya lagi dengan menggunakan nama Mark di kelak hari nanti.


Keesokan hari, Denny akhirnya menerima pesan. Dia melihat pesan itu dengan senyuman tidak berdaya, lalu menghubungi Mark. "Mantan istrimu menyuruhku jangan ikut campur, bagaimana ini?"


Mark memegang ponsel sambil tersenyum dingin. Bagaimana? Apa yang bisa dilakukan? Karena Delfina ingin menghadapinya secara langsung, maka biarkan aku melihat dia bisa menahan hingga kapan!


Setelah menutup telepon, Mark memerintah orang. Kemudian ada orang yang mengetuk pintu dan masuk, "Tuan Muda Mark, kami telah mengirim uang ke rekening Nona Delfina ...."


"Apakah sudah memberi tahu ke semua orang?" Mark menyipitkan matanya, "Kalau ada orang yang berani bekerja sama dengan Delfina dan lainnya, maka orang itu pasti cari mati!"


"Sudah memberitahukan …." Sekretaris masih sekretaris lima tahun yang lalu. Sekarang Mark membatasi uang Delfina, tetapi sekretaris masih tidak tega … karena dia melihat mereka bersama dan berpisah. Sekarang mereka bertemu dengan tidak mudahnya, masih bersaing mati-matian.


Oleh karena itu, sekretaris menyusun kalimatnya, lalu berkata, "Tuan Muda Mark memperlakukan Nyonya seperti ini …"


"Nyonya?"Mark tersenyum sinis, "Perhatikan ucapanmu, Delfina bukan istriku."


Asisten berdiri diam di sana. Tidak berbicara, menundukkan kepala, tetapi tidak rendah hati.


Tatapan Mark mulai menjadi samar, "Herry, berapa lama kamu menjadi asistenku?"


"Lima tahun," jawab Herry Limawan dengan hormat. Dia bisa menjadi asisten Mark, dipercaya dan disanjung oleh Mark, itu semua karena rekomendasi dari Delfina. Tanpa Delfina … dia juga tidak akan seperti ini.


"Aku mengerti kamu merasa berterima  kasih pada Delfina, tapi Herry, kamu sekarang adalah asistenku, sedangkan dia … hanya mantan istriku." Mark mengangkat alisnya. Aura tertekan terpancarkan, "Kamu harus menyimpan pemikiran  yang tidak seharusnya ditunjukkan."


"Aku mengerti."


Herry menundukkan kepalanya lagi dan jarinya mencengkeram sudut bajunya dengan erat.


Dia harus menunggu berapa lama sehingga bisa melihat akhir bahagia dari Delfina dengan Mark? Mungkin tidak akan memiliki jodoh dalam seumur hidup ini.


Nona Delfina adalah orang yang begitu baik …

__ADS_1


Herry  keluar. Mark melihat  Herry menutup pintu dan dadanya  tetap merasa sumpek.


Dia tidak tahan melihat Herry menunjukkan ekspresi sedih terhadap Delfina. Meskipun dia tahu bahwa Herry tidak berani memiliki pemikiran terhadap Delfina, tatapan itu tetap adalah duri dalam hatinya.


Kemampuan Herry dalam menangani masalah sangat kuat dan tingkat bisnisnya dapat dikatakan kelas pertama. Herry adalah orang yang direkomendasikan oleh Delfina untuknya di bawah tekanan orang-orang pada saat perusahaan baru masuk ke pasar.  Sekarang, Herry telah menjadi asisten dan kaki tangan Mark. Mark mau tidak mau harus mengakui bahwa Delfina memang melakukan hal baik untuknya dulu.


Jadi, meskipun Herry juga bersikap setia dan tulus padanya karena Delfina, dia tahu bahwa saat Delfina  dipenjara dalam beberapa  tahun ini, Herry pernah mengungkit Delfina secara samar. Mungkin  karena merasa tidak adil terhadap Delfina.


Hanya saja … atas dasar apa wanita seperti Delfina bisa membuat bawahannya membelanya? Atas dasar apa? Hanya karena budi telah membantunya?


Mark mengepalkan jarinya secara tidak sadar. Dia berdiri di samping jendela tinggi dari kantornya, melihat kota dari atas ke bawah. Hatinya tiba-tiba merasa kecewa dan sedih.


Lima tahun, kota ini masih tetap sama, tetapi sekitarnya telah berubah.


Mark mau tidak mau harus mengakui bahwa sejak Delfina di penjara selama lima tahun, dia menjalani kehidupan yang  membosankan dan kesepian.



Di tengah malam, Delfina mimpi buruk lagi.


Delfina mengambil obat dari tangan Alex dengan gemetar. Alex turun dari kasur untuk menuangkan segelas air untuk Delfina dengan perhatian.


Setelah menelan obatnya, Delfina membelai kepala Alex.


Si bocah sepertinya sangat senang karena ibunya bisa begitu mengandalkan dirinya, jadi dia menempel Delfina. "Ibu, jangan takut, aku dan Paman akan selalu ada di sisimu."


Tangan Delfina yang ada di kepala Alex sedikit tertegun dan rongga matanya menjadi memerah, "Alex, Ibu juga tidak akan meninggalkanmu."


Alex mendongakkan kepala.  Dia memiliki sepasang  mata yang jernih. Delfina tiba-tiba teringat pertemuan pertama dirinya dengan Mark pada saat itu. Orang tertampan di sekolah yang sulit diatur mengenakan seragam sekolah yang tidak pas. Longgar namun tampak mirip preman. Saat melihat Delfina, dia bersiul.


Itu adalah pertemuan pertama dia dengan Mark. Mark memiliki wajah yang tampan, sepasang  mata yang berbinar-binar seperti berlian saat tertawa …. Pada saat itu, mata Mark tidak memiliki pemikiran yang dalam dan kewaspadaan, seperti danau yang jernih. Memiliki energi yang dimiliki anak muda.

__ADS_1


Delfina melamun saat menatap mata Alex.


Alex bertanya dengan suara yang lembut. "Ibu, apakah ayah …  melakukan sesuatu padamu lagi?"


Alex adalah anak yang dewasa dan pemikiran yang sensitif. Saat menatap ekspresi Alex yang hati-hati, Delfina merasa tidak tega.


Dirinya bukanlah seorang ibu yang baik, membuat Alex memiliki pemikiran yang tidak seharusnya dimiliki pada usia yang begitu kecil, ini adalah hal yang sadis terhadap Alex.


Delfina membuka mulutnya dan memutuskan untuk jujur pada Alex. "Ayah ingin kamu tinggal di rumahnya."


Saat mendengar jawaban ini, Alex sepertinya tidak merasa terkejut,  lalu  tersenyum pada Delfina. "Aku rasa Ibu pasti telah menolaknya, 'kan?"


Delfina berpura-pura untuk tersenyum dengan santai. Namun sebenarnya, dia benar-benar tidak bisa tersenyum.


"Iya  …  Ayahmu memberi kita uang yang banyak."


Di sore hari, uangnya telah masuk ke rekening. Dua miliar, tidak kurang satu sen pun.


Pada saat itu, Delfina melihat pesan yang telah masuk. Dia menatap kata di layar ponsel dengan tertegun,  lalu air matanya mengalir.


Cinta yang telah mati, kehidupan yang telah hancur, serta putra kesayangannya, Mark menggunakan dua miliar untuk menghinanya.


"Ibu, kamu jangan sedih, ada uang adalah hal yang baik." Alex masih memikirkan cara untuk membujuk Delfina, "Setelah punya uang, kita bisa berliburan dengan Paman!"


Delfina menyetujuinya dan tidak memberi tahu pikiran sebenarnya pada Alex.


Mark mungkin tidak menyerah dan telah membuat perintah di pasar. Sepuluh miliar ini hanya awalan dari penghinaannya.


Delfina memeluk Alex dengan erat, tidak tahu sedang menenangkan Alex atau dirinya.  Dia tengah malam, Delfina memeluk putranya sambil bergumam, "Alex, Ibu tidak akan menyerahkanmu pada siapa pun …"


Meskipun ada orang yang memaksanya hingga ke jalan buntu, dia juga tidak akan menyerahkan putranya pada orang lain.

__ADS_1


Jika ada orang yang merebut Alex darinya, maka langkahi dulu mayatnya!


Di dalam kegelapan, Alex membuka sepasang mata jernihnya, seolah dia tidak mengerti, tetapi seperti mendengarnya dengan jelas.


__ADS_2