
Ketika esok paginya bangun, Delfina sudah bersiap untuk pergi ke perusahaan Mark, dia merias dandanan yang tipis, mengenakan mantel dan melangkah keluar dengan sepatu hak tinggi.
Setelah keluar dari rumah, Bryan meneleponnya. "Apa Alex benar-benar ada di tangannya? Delfina, kamu seorang bisa, 'kan?"
Delfina menarik napas, angin yang berembus kemari meniup rambutnya, lalu dia berkata, "Aku bisa. Kak, kalau aku ada masalah, aku akan meneleponmu, jadi pergilah dinas keluar kota dengan tenang."
Bryan menyampaikan banyak hal yang perlu dia perhatikan, baru menutup telepon. Tak lama kemudian, Delfina baru menengadahkan kepala untuk melihat ke arah jalan raya dengan tatapan yang tekad, lalu dia menghentikan taksi dan menuju ke PT. Simas.
Delfina membayar uang taksi begitu tiba, pada saat ini adalah waktu para karyawan bekerja, jadi ada banyak orang yang keluar masuk dari perusahaan. Melihat Delfina turun, orang-orang pun melihat ke arahnya.
Tubuh yang tinggi dan langsing itu mengenakan mantel yang tipis, lalu mantel itu beterbangan seiring gerakannya dan sosoknya yang anggun disinari oleh sinar matahari.
Setelah masuk, sudah melihat wajah seorang wanita cantik, selain itu sepasang matanya terlihat sangat dingin dan kejam seperti baja. Dia merapatkan bibirnya dengan erat, wajah yang putih terlihat panik dan dingin, lalu dia berjalan ke arah resepsionis.
Karyawati yang di resepsionis tercengang sangat lama karena temperamennya, tak lama kemudian baru berkata, "A ... Anda cari siapa, ya?"
"Mark Pranata."
Dia langsung mengatakan nama Tuan Mark.
Karyawati itu pun tercengang, "Tetapi, Nona perlu membuat janji dulu ... kalau mau bertemu dengan CEO Mark."
Setelah mendengar percakapan mereka, orang di belakang pun mulai membahas.
"Ternyata dia datang untuk mencari Tuan Mark."
"Syut, kecil sedikit suaramu. Lihat dari sikapnya yang berani itu, dia pasti ada dukungan!"
"Benar! Mungkin saja dia adalah kekasih rahasia Tuan Mark."
"Kekasih rahasia Tuan Mark? Bukankah orang yang dicintai Tuan Mark adalah Nona Bella?"
Ketika mendengar nama "Nona Bella", hati Delfina seperti tersayat, wajahnya juga memucat, tapi tawanya sangat mengerikan. Dia berkata, "Kasih tahu namaku, Mark pasti akan langsung menemuiku."
Karyawati di resepsionis ingin bertanya siapa nona ini, kenapa dia begitu yakin Tuan Mark akan bertemu dengannya. Tapi, tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
"Ih, kenapa kamu ke sini?"
__ADS_1
Delfina menoleh, lalu melihat John yang mengendarai Maserati waktu itu. Dia sedang berjalan kemari dengan ekspresi senyum, sepasang matanya terlihat sangat menawan, kemudian dia melihat Delfina berdiri di depan resepsionis, jadi menyapanya, "Yoh, apa kamu datang mencari Mark?"
Ketika karyawati melihat wanita ini kenal dengan John, dia pun bergegas membiarkan dia masuk. Sementara, orang yang bergosip tadi pun tercengang, siapa wanita ini, kok bisa kenal dengan John?
Kenyataannya ... setelah Delfina masuk ke dalam lift, dia mengucapkan terima kasih pada John. "Terima kasih."
"Tidak usah berterima kasih padaku." John melambaikan tangan. "Aku datang mencarinya juga karena ada masalah, kamu cari saja dia dulu. Lagian, keluarga kalian juga ada saham perusahaan ini, jadi tidak termasuk keterlaluan kalau kamu memasuki perusahaan sendiri."
"Kamu benar-benar sudah menyelidiki jelas masa laluku."
Delfina berkata dengan sinis, entah sedang mengejek John atau mengejek diri sendiri, "Sayang sekali, semua ini bukan lagi milikku."
John melihat Delfina, lalu berkata padanya, "A ... apa benar Mark yang memenjarakanmu selama 5 tahun?"
Delfina tidak menjawab, hanya tersenyum.
Tetapi, senyuman itu penuh dengan rasa sakit hati, seperti orang yang di dalam jurang dan tidak bisa melihat sedikit harapan.
John tidak bertanya lagi, lift otomatis terbuka setelah tiba di lantai 20. Mereka berdua bersama keluar dari lift, sehingga menarik perhatian orang di koridor.
"Berengsek kamu, apa sekarang mengatakan bisnis juga mau membawa wanita?"
Ketika dia melihat orang di belakang John, ekspresi Mark berubah. "Ngapain kamu ke sini?"
"Bagaimanapun juga ada dana keluargaku di perusahaan ini, jadi kenapa aku nggak boleh datang?"
Delfina mengangkat bahunya sambil menahan emosinya dan menatap Mark dengan mata yang memerah.
Pria duduk di tengah kantor, wajahnya sangat ganteng dan menawan. Ada berapa banyak pria di dunia hiburan yang bisa membandingkan ketampanannya, apa lagi tampang dia ini sangat ganteng di mata publik.
Ada banyak wanita di kota ini yang ingin bersama dengannya. Awalnya Delfina merasa dirinya sangat beruntung, karena dulu dia adalah istrinya .... Kemudian, dia baru tahu itu kehidupan yang menyedihkan, dia selamanya akan bersama dengan pria yang tidak bisa dimilikinya, ternyata rasa itu sangat sakit.
Ketika John merasa suasana sangat tegang, dia pun segera berkata dengan senyum. "Hehe ... kalau kalian masih ada masalah yang belum diselesaikan ... aku ... aku biarkan kalian atasi dulu ...."
Sebelum selesai bicara, John segera keluar dari kantor, juga melirik sekretaris yang menjaga di luar dengan tatapan menggoda. "Wanita cantik, maukah pergi denganku untuk minum teh, CEO-mu nggak akan ada urusan dalam sementara waktu ini."
Sekretaris yang dipeluknya pun ikut dia keluar tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di dalam kantor.
__ADS_1
Di dalam kantor, pintu kayu itu membatasi mereka dengan dunia luar, suasana kantor yang dekorasinya megah itu seketika berubah menjadi dingin.
Delfina berdiri di sana sangat lama, baru melihat ke arah Mark. "Apa kamu sangat kaget dengan kedatanganku?"
Mark menyipitkan mata. "Aku kira kamu nggak akan datang."
"Iya, aku juga mengira begitu."
Delfina tersenyum dengan menawan, "Seumur hidup ini, aku ingin lari jauh darimu, kalau bisa nggak ingin bertemu denganmu. Tetapi, sekarang aku pula yang datang mencarimu. Mark, aku memang nggak sekejam kamu."
Mark pun marah besar begitu mendengar kata ini, lalu mengejeknya, "Itu hanya bisa menyatakan kalau kamu itu sengaja datang untuk mempermalukan diri sendiri."
Delfina, kamu sengaja datang untuk mempermalukan diri sendiri.
Delfina tidak mengatakan apa-apa, hanya merasa sedih.
Iya, dia memang datang untuk mempermalukan diri sendiri.
Delfina menggertakan gigi sambil berkata pada Mark, "Aku datang untuk meminta balik putraku."
"Itu juga putraku."
"Bukan, dia hanya putraku seorang!"
Delfina tiba-tiba berkata dengan keras, "Aku sudah merawatnya selama 5 tahun! Sejak aku masuk penjara sampai sekarang!"
Lima tahun ya, kalau dia tidak mengingati dirinya masih ada putra yang lucu di hari-hari yang sulit itu, mungkin dia sudah mati di dalam penjara.
Alex adalah nyawanya, juga langgarannya seumur hidup!
Meskipun Mark ingin merebut dengannya, dia juga tidak akan mengalah!
Mark tertawa senang begitu melihat Delfina begitu, "Tetapi ada satu kenyataan yang nggak bisa berubah, yaitu di tubuh Alex mengaliri darahku!"
"Benarkah?" Delfina tertawa dengan mata berkaca-kaca, "Bisa-bisanya kamu ingin mengakui putra itu? Tuan Mark, apa kamu masih baik-baik saja? Bukankah dulu kamu sangat membenciku?! Bukankah saat itu kamu hanya ingin Bella melahirkan anak untukmu?! Apa kamu juga ingin mau merebut anak dari seorang pembunuh?!"
Anak dari seorang pembunuh?!
__ADS_1