Kau adalah Hidupku

Kau adalah Hidupku
Episode 31


__ADS_3

Kedua orang itu tidak berhenti mengumpat di dalam mobil. Mark yang duduk di depan sudah mengendarai mobil hingga depan gerbang Kediaman Pranata. Wanita itu belum pernah dibawa pulang oleh pria dengan status seperti Mark, jadi dia sangat antusias hingga suaranya pun terdengar gemetar, "Tuan Muda Mark ... kamu ... kamu benar-benar ..."


"Siapa namamu?" Mark mengerutkan alisnya.


"Namaku Jenny Wijaya!"


Jenny segera memperkenalkan diri. "Aku benar-benar nggak pernah menduga bahwa ada hari di mana Tuan Mark bisa membutuhkanku!"


"Jenny, mulai dari sekarang, tutup mulutmu. Jangan mengatakan apa pun tentang apa yang kamu lihat. Kalau masalahnya tersebar keluar, aku akan membuatmu merasa sangat menyesal."


Jenny langsung tersentak dan cepat-cepat menutup mulutnya setelah mendengar nada Mark, tetapi hatinya masih merasa sangat gembira.


Ya Tuhan, pria di hadapannya itu adalah Mark! Semua wanita di Kota Batari bermimpi untuk bisa tidur dengannya!


Karma baik apa yang sudah diperbuatnya sehingga dia bisa mempunyai keberuntungan semacam ini!


Mark membawa Jenny masuk ke dalam rumah dan baru menyadari bahwa tidak ada sandal rumah yang lebih, jadi dia memberikan sandal pria untuk Jenny. Jenny sama sekali tidak keberatan dan mengucapkan terima kasih pada Mark dengan suara kecil.


Mark tidak memedulikannya. Mark memandang rak sepatu itu dan tidak dapat menahan diri untuk mengingat situasi lima tahun yang lalu. Ketika Delfina masih ada, barang di rumah akan selalu tersedia dengan rapi. Kemudian, saat Delfina di penjara, Mark sudah membuang semua barang yang berhubungan dengan wanita itu dan mempertahankan situasi ini hingga ... sekarang.


Setelah menghentikan pikirannya, Mark berkata, "Naiklah ke atas dan mandi."


Jenny tidak berani membantah kata-kata Mark. Namun, dia sudah bisa memamerkan tentang dirinya yang dibawa pulang oleh Mark hari ini untuk waktu yang sangat lama!


Saat dia keluar dari kamar mandi, lampu di kamar sudah dipadamkan semuanya. Dia hanya merasakan ada orang yang langsung menindihnya di atas tempat tidur.


Jenny sedang berpikir, jika orang yang bersamanya itu bukan Mark, dia juga tidak akan bisa membedakannya di dalam kegelapan ini ...


Kenapa ... kenapa Mark memadamkan lampu?

__ADS_1


Meskipun begitu, Jenny masih merasa sangat senang. Dia menipu dirinya sendiri dan berpikir bahwa dia sudah dibawa ke Kediaman Pranata, jadi orang ini pasti adalah Mark ... pria kaya Kota Batari!


Kepahitan di dalam hati Jenny berubah menjadi kegembiraan lagi. Bagaimanapun juga, kenyataannya adalah dia sudah tidur dengan Mark. Mungkin saja kehidupannya akan membaik di masa depan ...


Keesokan paginya, saat Jenny sudah bangun, dia menyadari bahwa meskipun dia dan Mark tidur di atas tempat tidur yang sama, kedua tubuh mereka malah terpisah begitu jauh. Lagi pula, Mark sama sekali tidak menyentuhnya lagi setelah satu kali itu. Dia merasa seolah-olah jika Mark menyentuhnya lagi, tindakan itu akan menjadi berlebihan.


Setelah Mark bangun, dia hanya menatap Jenny dan berkata, "Pergi."


Jenny merasa sedikit sedih dan bergumam, "Tuan Muda Mark, apakah aku sudah membuatmu nggak senang?"


Mark tersenyum sinis tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Senyuman Mark itu membuat Jenny merasa panik, jadi dia cepat-cepat turun dari tempat tidur dan memakai bajunya. Saat dia membuka pintu kamar, ada seorang anak laki-laki yang berdiri di depan pintu. Wajahnya sangat mirip dengan Mark!


Jenny sangat terkejut saat melihat anak laki-laki ini sehingga dia mundur beberapa langkah. Mark akhirnya bersuara, "Kenapa kamu masih bengong dan nggak pergi?"


Jenny menoleh dan berkata dengan suara gemetar, "Tuan Muda Mark, anak ini ..."


"Aku ingat kalau aku sudah memperingatimu untuk nggak banyak bicara." Mark mencibir dan pandangannya terlihat sangat tajam. "Apakah aku perlu turun tangan untuk membungkam mulutmu?"


Setelah Jenny pergi, Alex melirik Mark dan bertanya dengan datar. "Apakah kamu membawanya pulang kemarin?"


Mark tidak menjawab.


Alex malah tersenyum, tetapi senyumnya itu sangat menusuk mata. "Betul juga. Tuan Muda Mark mempunyai kebebasan, jadi aku nggak akan mengatakan apa-apa. Hanya saja, orang ini malah lebih parah dari tante yang datang kemarin."


"Alex, apakah kamu merasa aku nggak bisa melakukan apa-apa padamu karena kamu adalah putraku?"


Ini adalah pertama kalinya Mark berbicara menggunakan nada sedingin itu. Tubuh Alex yang kecil menjadi gemetaran, kemudian dia berkata dengan suara yang gemetar. "Aku mengerti, Tuan Muda Mark."


Suaranya terdengar lebih asing dari sebelumnya.

__ADS_1


Mark hanya berdecak dengan suasana hati yang kacau. Alex pun sadar diri dan meninggalkan pintu kamar Mark tanpa mengganggunya lagi. Namun, setelah bocah itu pergi, ekspresi Mark langsung runtuh. Kemudian, dia menelepon Herry. "Herry? Ini aku. Cari tahu apa yang dilakukan Delfina semalam."


...


Sementara di sisi lain, Delfina kembali ke studio kerja keesokan harinya. Dia juga membersihkan sedikit debu yang ada di sana, lalu kembali duduk di depan komputer. Meskipun Mark sudah memberinya sepuluh miliar, dia juga bukan tipe wanita yang akan langsung merosot dan tidak disiplin. Semalam, suasana hatinya tidak bagus, jadi temannya mengajaknya ke bar dan kebetulan memperkenalkan dirinya kepada seorang pemuda tampan.


Baru saja dia membuka komputer, ada seorang wanita yang muncul di depan pintu. Ternyata orang yang datang adalah Sofia.


Delfina sama sekali tidak asing dengan nama Sofia. Saat dia masih merupakan Nona Caresta dulu, dia pernah bergaul dengan Keluarga Ardiansyah yang juga merupakan keluarga terkenal. Pada saat itu, dia sudah pernah bertemu dengan Sofia. Sofia adalah seorang putri kecil yang sombong dan berkemauan keras karena terlalu dimanja. Lima tahun kemudian, dia juga masih memancarkan aura yang arogan.


Sofia juga melirik Delfina yang sedang berada di meja kerjanya dan menilainya.


Setelah lima tahun tidak berjumpa, Delfina sudah lebih kurus dari dulu. Dia masih ingat pada saat Delfina dan Mark menikah, dia diam-diam merasa sedih untuk waktu yang lama tetapi juga tetap menyelamati mereka pada saat resepsi. Saat ini, semua itu sudah berlalu. Dia ingin mendekati Mark lagi selama Delfina bukanlah penghalang baginya.


Itu adalah maksud kedatangannya kali ini.


Sofia berjalan maju dan tersenyum dengan percaya diri. "Apakah kamu masih perlu aku memperkenalkan diri?"


Delfina juga tersenyum ringan. "Nggak perlu. Kamu adalah Sofia, Nona Besar Keluarga Ardiansyah. Aku masih ingat."


"Itu adalah kehormatan bagiku." Sofia langsung duduk di hadapan Delfina dan berkata pada intinya, "Aku nggak akan omong kosong lagi. Kedatanganku hari ini adalah untuk membuat sebuah kesepakatan denganmu."


"Kesepakatan?" Delfina mengangkat alisnya dan bertanya dengan suara yang sedikit kebingungan.


Sofia mengangkat dagunya dan masih terlihat sangat sombong seperti dulu, "Benar. Dengar-dengar, kamu terus mengganggu Mark setelah kembali. Jadi, aku ingin membuat kesepakatan denganmu untuk mengurungkan niatmu itu."


"Aku mengganggu Mark?" Delfina tertawa ringan sesaat. Dia malas mengoreksi Sofia dan hanya meliriknya kemudian berkata, "Teruskanlah."


Sikap Delfina yang sangat dingin itu membuat Sofia sedikit terkejut. Namun, tidak lama kemudian, dia tersadar kembali dan berdeham, "Aku tahu akhir-akhir ini perusahaanmu ditekan karena kamu sudah membuat Mark marah. Aku akan membantumu keluar dari situasi sulit ini dengan nama Keluarga Ardiansyah. Tapi sebagai gantinya, kamu selamanya nggak boleh mengganggu Mark lagi, bagaimana? Kalau kamu mengganggunya lagi, aku akan langsung memotong jalur pendapatanmu."

__ADS_1


Sepertinya Sofia mengira bahwa Delfina sangat gampang ditindas dan bisa dia kendalikan sesuka hatinya.


Delfina tersenyum ringan. "Dari mana datangnya kepercayaan dirimu itu?"


__ADS_2