
Melihat Delfina begini, Herman pun menyimpan senyumnya, lalu berkata dengan dingin. "Nona Delfina, kamu jangan nggak tahu diri, ya."
"Apa yang dimaksud nggak tahu diri?"
"Aku nggak ingin kamu menggunakan cara ini membantuku, aku nggak mau bisnis yang diberikan dengan simpati." Delfina tersenyum dingin, lalu berdiri dari tempat duduk. "Aku nggak bisa menerima niat baik Tuan Herman. Kalau mau ajak wanita keluar, kamu bisa keluar, lalu belok kiri ke Club Royal, wanita di sana pasti bisa membuatmu puas."
Herman sangat kesal dengan sindiran Delfina, kok cara bicaranya begini sih, apa merasa dia adalah pria yang genit?
Delfina hanya pergi dengan senyum dingin. Ketika dia berjalan keluar, bayangannya sangat panjang, sedangkan Herman menatap bayangannya sangat lama, lalu menunjukkan ekspresi mengerikan seperti binatang buas.
…
Sejam kemudian, Delfina sampai di rumah, lalu dia tidur. Esok paginya, Jessica meneleponnya dan memanggilnya ke PT. Maple.
Begitu tiba di depan pintu, Jessica pun berkata, "Aku tahu beberapa saat ini kamu di blok Mark, aku sudah memohon Pak Indro sangat lama, bagaimana kalau kamu menjadi perencanaan pasar kami?"
Delfina menatap bekas ciuman di lehernya, lalu memikirkan cara Jessica memohon Indro, jadi dia dengan serba salah berkata, "Aku nggak mengerti tentang pekerjaan perencanaan pasar, aku hanya ingin menjadi desainer …"
"Aiya, membuat desain perlu otak, membuat perencanaan pasar juga perlu dekorasi dan promosi. Ini juga rutinitas desain." Jessica menarik dia ke departemen personalia. "Aku bilang padamu, ya. Di kota Batari nggak ada yang berani menyinggung Mark, tapi kalau kamu di sini, aku bisa melindungimu."
Dia dengan senyum mengedipkan mata, "Mark dan Indro masih ada hubungan kerja sama."
Delfina dibawa Jessi ke departemen personalia untuk mendaftarkan diri, selesai melakukan hal itu. Sekretaris administrasi tertinggi di PT. Maple ini langsung membawanya mengelilingi perusahaan, sehingga membuatnya merasa ada andalan itu seperti apa. Ke mana Jessica pergi, pasti ada yang memberinya hormat, bahkan orang itu juga hormat pada Delfina.
Selesai membawa Delfina mengelilingi perusahaan, dia membuka pintu kantor CEO, lalu berkata, "Pak …"
Di dalam tidak ada orang, mungkin hari ini Indro keluar karena ada urusan.
Jessica mengangkat bahunya. "Sudahlah, kamu begini saja dulu. Aku bilang padamu, ya, jangan kembali ke sisi Mark lagi. Aku akan memikirkan cara lain untuk masalah studiomu, saat ini selesaikan masalah pasanganmu dulu. Kamu bisa melakukan pekerjaan ini, sambil mencari apa ada yang bisa membantumu di internet."
__ADS_1
Delfina menatap Jessica dengan rasa terima kasih, sehingga membuat Jessica merinding. "Sudahlah wanita cantik, jangan menggunakan tatapan ini melihatku. Aku bukan pria, kalau aku pria, kamu boleh mengorbankan dirimu padaku."
Delfina memarahinya dengan senyum, "Sana kamu!" Kemudian dia pergi dengan mengenakan sepatu hak yang 7 cm, seperti iblis saja.
Setelah Jessica pergi, ada banyak rekan kerja yang peduli dengan wanita cantik yang baru datang tadi. "Apa kamu kenal dengan Sekretaris Jessica?"
"Apa hubunganmu dengan Sekretaris Jessica?"
"Cieh, apa perlu di tanya, pasti orang yang mengandalkan hubungan masuk ke sini."
Seorang wanita memutar pupil matanya sambil berdandan. "Sombong apaan, kalau nggak ada kemampuan, pasti akan dipecat."
Delfina tidak melawan, karena dia sudah terbiasa dengan sindiran seperti itu. Ketika dia baru keluar dari penjara dan mencari pekerjaan, ada yang memandang rendah dia karena di riwayatnya tertulis dia pernah masuk penjara. "Begitu cantik juga pernah masuk penjara, apa jadi pelacur, ya? Haha!"
Dia menahan, tidak melawan. Ketika orang di sekitar melihatnya dia diam saja, juga mengira dia tidak peduli. Oleh karena itu, mereka langsung menyindir di depannya.
"Lihat wajahnya saja sudah tahu dia wanita macam apa!"
"Pasti seperti Jessica, satu menggoda CEO, satu nggak tahu menggoda siapa."
"Haha, apa juga menggoda CEO? Kalau begitu, benar-benar menarik, saat itu mereka akan berkelahi karena cemburu, pasti menarik sekali."
Delfina mengepalkan tangan sambil membuka komputer. Lalu melihat beberapa dokumen yang dikirim Jessica, di dalam dokumen ini tertulis pekerjaan serta prosedur perusahaan. Dia berusaha mengabaikan suara gosip mereka, hanya membaca dokumen itu dengan fokus, setidaknya dia tidak boleh menyia-nyiakan bantuan Jessica.
Sorenya, Indro kembali, di belakangnya tetap diikuti Jessica. Ketika dia melewati meja kerja Delfina, Jessica meletakkan satu permen di meja sambil bertanya, "Nggak ditindas, 'kan?"
Delfina menengadahkan kepala dengan tatapan dingin, seolah-olah tak peduli. "Nggak apa-apa, aku nggak keberatan kok."
"Baiklah kalau kamu bisa bertahan, tunggu studiomu ada perkembangan, kamu nggak usah melihat ekspresi orang-orang ini lagi." Jessica kasihan padanya. "Aku hanya bisa membantumu sebanyak ini …"
__ADS_1
"Terima kasih, kamu sudah membantuku sangat banyak." Delfina tersenyum padanya. "Jangan peduli, cepat kamu kerja dulu."
Jessica mengangguk, lalu mengejar Indro. Setelah dia pergi, tatapan mereka ketika melihat Delfina semakin aneh.
Jelas-jelas memandang rendah dia, tapi harus memberinya muka karena andalan di belakangnya. Delfina tertawa dingin di dalam hatinya, yang disebut tempat kerja, hanyalah seperti ini.
Sorenya pulang kerja, Jessica sudah menunggunya di lantai bawah, tapi malah bertemu Mark di depan perusahaan. Pria yang ganteng itu masuk ke dalam. Ketika melihat adegan itu, dia langsung mengirim pesan pada Delfina untuk menyuruhnya jangan turun dulu, tak disangka … begitu pintu lift terbuka, mereka berdua langsung ketemu.
Mark menunjukkan ekspresi kaget, karena melihat Delfina di sini, lalu berkata dengan keras, "Ngapain kamu di sini?"
Ada rasa marah dalam nada bicaranya, seolah-olah Delfina melakukan hal yang tak pantas.
Delfina langsung mundur, lalu keluar dari lift dan menatap mata Mark sambil berkata, "Ini nggak ada hubungannya dengan Tuan Muda Mark, 'kan?"
Awalnya Mark mau naik lift, tapi begitu mendengar dia berkata begitu, dia langsung mengejar Delfina dan menarik tangannya. "Apa karena sudah di blok aku, jadi kamu menggunakan berbagai cara untuk menggoda Indro?"
Mata Delfina memerah karena hinaan Mark, lalu mengepalkan tangan dengan kuat. "Nggak semua orang sejorok yang kamu pikirkan, Tuan Muda Mark, meskipun hidupku sangat susah, juga nggak akan mengandalkan pria untuk hidup! Tolong lepaskan aku!"
Setiap katanya sangat tegas, sehingga membuat Mark kaget sampai melepaskannya. Tak disangka, setelah dilepaskan, Delfina langsung pergi tanpa melihatnya, sikapnya itu seperti menganggap Mark sebagai orang asing.
Mark menyipitkan mata, kebetulan Indro turun dari lift satu lagi, lalu menyapa begitu melihat Mark.
Mereka memang ada bisnis yang mau dibicarakan, jadi tak heran kalau Mark datang ke sini setelah pulang kerja. Tetapi, Mark malah bertanya, "Apa tadi Delfina kemari?"
Indro berpikir sejenak, Jessica sepertinya meminta tolong dia untuk memasukkan satu orang ke perusahaan, jadi dia mengangguk. "Iya."
Mark menggigit giginya. "Ngapain dia datang ke perusahaan kalian?"
Indro tertawa. "Tentu saja kerja, donk."
__ADS_1