Kau adalah Hidupku

Kau adalah Hidupku
Episode 24


__ADS_3

Mark berpikir seperti itu, sehingga ekspresi di wajahnya sangat masam, lalu dia berkata pelan pada Herry, "Kalau dia suka bermain kasar padaku, aku akan mengabulkan permintaannya, aku ingin melihat sampai kapan dia bisa bertahan!"


Dua hari kemudian, Delfina baru tahu kalau semua produk desainernya telah dihapus dari internet. Hal ini membuat Bryan sangat marah. "Aku mau mencarinya untuk mempersoalkan hal ini!"


Mark bukan hanya menyerang mereka saja, bahkan tidak bermaksud memberi mereka cara untuk bertahan hidup.


Mata Delfina memerah. "Kak, jangan impuls, kalau kita seperti ini, kita pasti akan ditertawakan Mark!"


"Kok bisa dia berbuat seperti itu samamu?!"


Bryan melempar semua barang di meja ke lantai. "Kamu deminya mengandung anak selama sepuluh bulan, lalu melahirkan putranya. Tapi dia malah memenjarkanmu, kok bisa dia berbuat seperti itu samamu?"


Bibir Delfina juga gemetar. "Jangan menyerah, Kak. Kita pasti masih ada harapan …"


Tidak boleh menyerah, dia tidak akan menyerahkan … Alex ke tangannya!


__ADS_1


Esok paginya, Mark pergi kerja seperti biasa. Begitu tiba di kantor, Herry langsung masuk sambil mengerutkan kening. "Tuan Muda Mark … ada yang ingin bertemu Anda."


"Siapa?"


"Seorang anak kecil."


Pada saat ini, Alex berdiri di depan pintu dan sedang berdebat dengan sekretaris yang di luar.


"Aku sudah bilang aku mau masuk untuk mencari ayahku."


Sekretaris wanita itu berekspresi meremehkan. "Banyak wanita yang bilang adalah pacar CEO Mark, sekarang bahkan ada anak yang bilang anaknya CEO. Bocah, siapa yang mengajarimu seperti itu? Apa ibumu ingin mendapatkan CEO dengan cara ini?"


"Memang mirip, tapi beraninya kamu menggunakan wajah ini untuk menipu orang, masih kecil, sudah begitu licik …"


Sekretaris wanita itu langsung mengusirnya. "Aku nggak suka memukul anak, tapi anak sepertimu memang pantas dipukul."


"Siapa yang kamu bilang?"

__ADS_1


Terdengar suara dingin dari belakang, sehingga membuat sekretaris wanita itu tercengang. Ketika dia menoleh, dia melihat Mark berdiri di sana dengan ekspresi yang dingin, sedangkan Herry berdiri di sampingnya dan menatapnya dengan tatapan dingin.


Sekretaris wanita itu pun berkeringat dingin. "CEO … anak kecil ini membohongiku, katanya dia putramu, aku …."


"Memang putraku, emangnya kenapa?"


Mark tersenyum dingin. "Tampaknya sekretarisku sangat hebat, beraninya memarahi putraku anak haram, kelak pasti berani menindasku juga?"


"CEO Mark, aku nggak berani!" Sekretaris wanita itu mulai gemetar, wajah juga memucat. "Aku nggak tahu … harap CEO Mark bisa memaafkanku …"


"Jangan membiarkanku untuk berkata kedua kalinya, sekarang ambil gajimu dan pergi dari sini."


Mark tersenyum dingin, kemudian tidak melihat sekretaris itu lagi, hanya berjalan ke depan, lalu menjemput Mark yang tidak diberi masuk. Kemudian berlutut di depannya, juga mengubah sikap tegas tadi dan tersenyum padanya. "Kudengar kamu mencariku?"


Alex melihat wajahnya, ini ayahnya. Kedua pria ini seperti salinan, pencipta benar-benar luar biasa, kadang hubungan darah memang begitu hebat.


Tidak akan ada yang mencurigai status Alex kalau dia berdiri dengan Mark, karena wajahnya yang persis dengan Mark sudah bisa membuktikan semuanya.

__ADS_1


"Iya, aku mencarimu."


Alex diam sejenak, lalu melanjutkan, "Hal ini berhubungan dengan ibuku."


__ADS_2