
Situasi yang sama, semua orang pun masih terdiam saja dan david pun mulai membuka suara.
"Kami sudah menikah seminggu yang lalu dan ini hanya pesta pernikahan kami saja Karna saat menikah kami tidak membuat pesta waktu itu"jelas David.
"Oh iya Sean, jangan lupa datang ya dan kamu juga bisa mengajak istrimu yang kampungan itu"ucap Luna dengan menyindir Winda. Winda pun melirik ke arah Luna sedangkan Sean langsung menatap tajam ke arah Luna.
"Jangan pernah kau hina menantuku itu, Winda lebih baik darimu, dia tidak gila uang dan dia pekerja keras tidak sepertimu yang taunya hanya meminta dan meminta"bela nyonya Selina.
"Oh ya Tante, tapi kecantikan tidak ada apa-apanya dibandingkan dariku, aku seorang model terkenal sedangkan dia, cuma sampah"
Emosi mereka pun mulai meningkat dan nyonya Selina pun ingin menampar Luna tetapi ditahan oleh Winda. Winda pun mengisyaratkan nyonya Selina untuk duduk dan tenang.
"Saya memang kampung nona Luna, tetapi harga diri saya tidak kampungan seperti harga diri anda"ucap Winda.
"Apa kamu bilang, he denger ya lo itu cuma perawat Sean aja jadi jangan sok Sokan Lo"ucap Luna marah.
"Nona Luna, saya memang menikah dengan Sean karna harus menjaganya, tetapi sebelum hal ini terjadi aku dan Sean sudah lama bersama bahkan lebih lama daripada hubunganmu dengan Sean dulu"
"Ingat ini nona Luna, jika suatu hari nanti anda merasa menyesal Takan kubiarkan kau merebut Sean kembali, Sean hanya milikku, oh ya Tuan David, kenapa anda begitu mudah sekali untuk menikah dengan nona Luna ini apakah anda tidak mencari tau tentang pergaulan nona Luna selama masih lajang"
"Maksud Lo apa ha"
"Luna, lebih baik kamu pergi dari sini, David bawa istrimu pergi dari sini dan jangan pernah kalian kemari lagi"teriak nyonya Selina.
"Iya Tante"
David pun menarik Luna keluar dan saat ditarik Luna pun terus mengolok-olok Winda.
Setelah Luna dan david pergi, nyonya Selina pun pergi masuk kedalam rumah dengan diikuti Tuan Andree yang menyusulnya, sedangkan Winda dan Sean masih di sana dengan posisi yang sama.
Sean pun nampak marah dengan ucapan Luna tadi dan Winda pun mengerti, "Kamu marah ya"tanya Winda. Sean pun hanya menatap Winda.
"Kita masuk ke kamar ya". Winda pun membawa Sean ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar, Winda tak mengatakan sepatah kata pun. Winda pun langsung mengganti pakaian Sean dengan pakaian santai lalu membantu Sean pindah ke tempat tidur kemudian tidur di samping Sean.
__ADS_1
Pagi harinya, Winda bangun sekitar pukul setengah 5 pagi. ia pun pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu melaksanakan shalat. Setelah shalat, Winda melihat ke arah Sean yang sedang tertidur setelah itu pergi ke kamar mandi untuk mencuci pakaiannya dan Sean.
Setengah jam berlalu, Winda pun sudah selesai dengan mencuci baju ia pun kembali dan ingin membangunkan Sean tetapi, Hp Winda berbunyi.
"Halo"ucap Winda.
"Halo Winda, ini saya dokter Indra"ucap orang di telepon itu.
"Halo dok, apa ada ya"
"Gini Winda, nanti kamu datang dengan suamimu pagi ya jam 8, soalnya saya tidak bisa kalau siang"
"Iya dok nanti saya akan datang"
"Yaudah saya tunggu ya win"
"Iya dokter terimakasih"
Sambungan pun tertutup, Winda pun membangunkan Sean.
Sean pun terbangun lalu tersenyum, setelah bangun Winda pun membantu Sean naik ke kursi roda lalu membantu Sean mengambil wudhu untuk shalat.
"Mas Sean, tadi dokter Indra telpon aku katanya kita harus pergi jam 8 pagi"ucap Winda sambil menyisir rambut Sean, Sean pun mengangguk.
"Yaudah, ayo kita sarapan dulu". Winda pun membawa Sean turun ke meja makan. Di meja makan kedua orang tua Sean sudah ada disana Winda pun mengambilkan makanan untuk Sean lalu menyuapinya setelah selesai ia pun makan. Selesai sarapan.
"Mah pah, tadi dokter Indra telpon aku katanya jadwal mas Sean diajukan jadi nanti jam 8"ucap Winda. Tuan Andree pun melihat jam.
"Setengah jam lagi, kalian bisa pergi sekarang"ucap tuan Andree.
"Winda kamu temani Sean ya kami tidak bisa ikut, nanti kabari saja ya"ucao nyonya Selina.
"Iya mah, kalau begitu kami pergi dulu"
Winda dan Sean pun pergi. di dalam mobil, Sean terus menutup matanya dan membuat Winda kebingungan.
__ADS_1
"Mas kenapa kamu menutup matamu, apa matamu sakit"tanya Winda. Sean pun membuka matanya lalu menggeleng kepadanya.
25 Menit perjalanan, mereka pun sampai dirumah sakit milik Winda. Winda pun membawa Sean kedalam.
"Permisi sus, saya mau ketemu dokter Indra"ucap Winda.
"Oh nona Winda, silakan nona dokter Indra ada diruangannya"ucap suster di resepsionis. Winda pun membawa Sean menuju ruangan dokter Indra. Disepanjang jalan Sean menatap orang-orang yang sedang sakit di rumah sakit itu.
Apa aku bisa sembuh dengan terapi ini, aku ingin sekali bisa sembuh"batin Sean dengan pasrah. Winda pun masuk kedalam ruangan dokter Indra bersama Sean.
"Permisi dokter, selamat pagi"ucap Winda.
"Selamat pagi Winda, silakan duduk"ucap dokter Indra. Winda pun duduk di sebelah Sean.
"Dokter ini suami saya, bisa tolong sembuhkan suaranya dan gerakkan tangannya"ucap Winda.
"Saya akan mencobanya Winda"
"Permisi tuan muda, saya akan membawa anda untuk diperiksa ". Sean pun mengangguk. dokter Indra pun membawa Sean untuk diperiksa dan Winda pun menunggu ditempatnya duduk.
Di ruang pemeriksaan, dokter Indra memeriksa bagian tulang dan syaraf bagian atas Sean. Setelah selesai memeriksanya dokter Indra pun mulai melakukan terapi pada Sean. awal terasi, Sean sangat merasakan sakit dibagian tangan dan bahunya. "Tuan muda jika akan merasakan sakit tolong berusaha berteriaklah, itu akan membuat suara anda kembali"ucap dokter Indra. Terapi pun dilanjutkan kembali, Sean pun mulai merasakan sakit yang sangat luar bisa, ia pun berusaha berteriak dan suaranya pun mulai keluar sedikit demi sedikit.
Menunggu sangat lama membuat Winda semakin cemas, ditambah lagi tidak ada suara di dalam ruang terapi. Winda tau kalau terapi itu sangat sakit tapi kenapa Sean tidak berteriak sama sekali, itu membuat Winda sedang takut jika Sean tidak bisa mengeluarkan suaranya.
5 Menit berlalu, dokter Indra masih melakukan terapi pada Sean. Selama 5 menit itu Sean terus merasakan sakit yang luar biasa dan berusaha untuk berteriak. Detik-detik terakhir terapi, "DOKTER HENTIKAN INI SAKIT"teriak Sean dengan sangat keras. Dokter Indra pun terkejut dan Winda yang sedang di luar ruangan pun juga terkejut.
"Tolong hentikan, saya tidak mau diterapi lagi"ucap Sean sambil menggerakkan tangannya menggenggam tangan dokter Indra untuk melepaskan tangannya.
"Seperti terapinya berhasil, anda bisa berbicara dan menggerakkan tangan anda tuan muda"ucap dokter Indra terkejut. Sean pun terkejut mendengar perkataan dokter Indra, sebelumnya ia tak sadar jika tangannya sudah bisa digerakkan.
"WINDA, WINDAA"teriak Sean dengan penuh gembira.
Winda yang mendengar namanya dipanggil langsung masuk kedalam lalu melihat Sean yang berusaha duduk tanpa dibangun siapapun.
"Mas Sean... kamu bisa berbicara"ucap Winda terkejut.
__ADS_1
"Iya Winda aku bisa berbicara lagi"ucap Sean menangis. Winda pun langsung memeluk Sean dan kali ini Sean membalasnya bukan bersenderan dibadan Winda.