
Winda membawa Sean ke taman belakang. Winda pun duduk di bangku dekat kursi roda Sean.
"Mas kamu sedih"tanya Winda. Sean pun melirik ke arah Winda.
"Aku tau ini semua sangat menyakitkan untukmu, tapi semua ini pasti ada hikmahnya mas, Allah memberikan cobaan ini karna dia tau kamu kuat, kamu jangan sampai putus asa mas"ucap Winda tanpa menatap Sean.
"Mungkin pekerjaan yang kamu tinggalkan itu sangat berat digantikan orang lain, itu tanda Allah memberimu pertanda agar kamu bisa lebih semangat untuk sembuh, walaupun kemungkinannya kecil tapi kan masih ada harapan"sambung Winda kemudian menatap Sean. Sean pun tersenyum melihat Winda.
"Gitu dong kalo tersenyum kan jadi ganteng"ucap Winda dan kemudian tertawa.
Winda aku ingin sekali mencubit pipi tembemmu itu, tapi apa daya tanganku saja tidak bisa di gerakkan"batin Sean.
Sean pun berusaha mengangkat tangannya tetapi usaha itu gagal dan Winda pun melihatnya lalu menarik tangan Sean.
"Aku tau kamu mau apa tapi jangan dipaksakan mas itu akan menyakitimu"ucap Winda. Winda pun mulai melakukan pijatan ringan pada tangan Sean.
"Kerasa tidak mas"tanya Winda dan Sean pun berkedip cepat.
"Tidak apa-apa lama kelamaan pasti kerasa, ayo kita masuk kamu harus istirahat sekarang"ucap Winda. Winda pun membawa Sean masuk kedalam kamar. Di dalam kamar.
Winda ingin memindahkan Sean ke tempat tidur tetapi, Sean seolah-olah menahannya.
"Kenapa mas, kamu tidak mau tidur"tanya Winda. Sean pun berkedip berulang kali dengan cepat. Winda pun tak paham dengan itu.
"Kamu kenapa kamu sakit"ucap Winda dan Sean pun terus berkedip. Winda pun memeriksa seluruh tubuh Sean tetapi tak ada luka atau yang lain di tubuh Sean.
"Gak ada luka, tapi perut kamu kayanya keras dan agak besar apa kamu mau BAB"Ucap Winda. Sean pun berkedip 2 kali.
"Oh, udah gak ketahan ya"ucap Winda sambil tertawa kecil. Winda pun membawa Sean ke kamar mandi. Di kamar mandi, Winda melepaskan celana Sean lalu mengangkat Sean untuk duduk di toilet duduk khusus Sean.
Winda pun menatap Sean, "susah keluarnya ya"tanya Winda dan Sean pun berkedip.
"Sebentar ya aku ambilin obat dulu"ucap Winda kemudian berlari keluar kamar mandi.
Winda kamu membuatku malu dengan membuka celanaku, sungguh menyebalkan"batin Sean. Winda pun kembali dengan membawa obat di tangannya.
"Minum ini ya biar lancar BAB nya"ucap Winda. Winda pun membantu Sean untuk meminum obat, setelah itu mengelus-elus perut kekar Sean.
Dasar nakal, kenapa kamu mengelus perutku Winda, ini sungguh geli jangan sampai yang di bawah bangun jika bangun aku tidak bisa menidurkannya"batin Sean.
Sean pun terlihat merasa tidak nyaman dengan elusan Winda, winda pun melihatnya.
"Kamu gak nyaman ya, maaf ya aku mengelus perutmu agar obatnya cepat bekerja"ucap Winda. 10 menit berlalu Sean pun bisa mengeluarkan isi perutnya itu, setelah selesai Winda pun memakaikan celana Sean kembali lalu membawa Sean ke tempat tidur.
__ADS_1
"Sudah nyaman kan, sekarang kamu tidur nanti setelah bangun tidur kamu harus makan lalu minum obat"ucap Winda. Sean pun memejamkan matanya dan Winda pun terus berada di dekat Sean untuk memastikan Sean tertidur, setelah tertidur Winda pun pergi untuk mencuci pakaian sean dan dirinya.
☘️☘️☘️
2 jam berlalu, Winda pun sudah selesai mencuci dan merapikan pakaiannya dan Sean. Winda pun berjalan menuju Sean yang masih tertidur pulas.
"Masih tidur padahal sudah dua jam, aku bangunin gak ya, kalo di bangunin kasian pules banget lagi tapi kalo enggak dibangunin nanti telat minum obatnya, bangunin ajalah"ucap Winda. Winda pun duduk di dekat Sean lalu mulai membangunkan Sean.
"Mas Sean ayo bangun, ini sudah waktunya kamu minum obat, mas ayo bangun"ucap Winda. Sean pun terbangun lalu menatap ke arah Winda.
"Aku bangun, kamu harus makan dan minum obat Sekarang"ucap Winda. Winda pun membantu Sean bangun lalu duduk di kursi roda.
Di meja makan, "Bik, makanannya sudah siap"tanya Winda.
"Sudah nona"ucap pelayan lalu menaruh beberapa makanan di meja makan. Winda pun mengambilkan makan untuk Sean lalu menghancurkannya sedikit.
"Ayo makan setelah itu minum obat"
"Bismillahirrahmanirrahim"ucap Winda lalu menyuapi Sean. Saat sedang makan.
Sean terus menatap kearah Winda yang sedang menyuapinya itu. Mungkin di tengah penderitaanku ini aku juga memiliki keberuntungan, jika aku tidak kecelakaan maka aku dan Winda tidak akan bersama, aku senang bisa menikahi Winda bukan Luna, Winda adalah pilihan hatiku aku ingin selalu bersamanya dan semua itu dulu terhalang dan sekarang kamu sudah bersama, terimakasih ya Allah engkau sudah memberikan Winda pun menjadi istriku dan menemaniku seumur hidupku yang cacat ini"Batin Sean.
10 menit berlalu, Sean sudah merasa kenyang Winda pun menyiapkan obat-obat yang akan diminum Sean.
"Permisi nona muda"ucap seorang pelayan pria.
"Iya, ada apa ya pak"jawab Winda.
"Non, di depan ada tukang cukur pesanan nyonya besar"ucap pelayan itu.
"Oh iya, suruh masuk saja pak dan suruh ke taman belakang ya"ucap Winda.
"Baik nona"ucap pelayan itu lalu pergi.
"Tukan cukurnya sudah datang, waktunya kamu dicukur"ucap Winda. Winda pun membawa Sean ke taman belakang.
Taman belakang, "Non mau cukur Yang kaya gimana"tanya tukang cukur itu.
"Aduh, saya gak tau model cukur cowok mas, cukur yang kaya biasa mas Sean ajalah"jawab Winda.
"Oh baik non"Jawab tukang cukur itu.
"Bisa sekalian sama kumisnya tidak"ucap Winda.
__ADS_1
"Wah kalau itu saya tidak bisa non, saya gak bawa alatnya"jawab Tukang cukur itu.
"Oh Yaudah deh, cukur rambut aja yang rapih ya mah nanti yang dicukur marah kalau gak rapih"ucap Winda dan tukang cukur itu pun mengangguk, sementara Sean dia hanya melirik saja kearah Winda. Rambut Sean pun mulai dicukur dan Winda pun menunggu sambil duduk tak jauh dari Sean.
15 menit berlalu, rambut Sean belum selesai di cukur. Winda pun hanya memperhatikan Sean dari tempat ia duduk. Nyonya Selina pun datang.
"Winda"panggilnya.
"Eh mah, udah pulang"ucap Winda kemudian mencium tangan nyonya Selina.
"Sudah, Sean lagi dicukur ya"tanya nyonya Selina.
"Iya mah tapi tidak sama kumisnya"Jawab Winda.
"Loh kenapa enggak sekalian"ucap nyonya Selina.
"Kata tukang cukurnya enggak bawa alatnya mah"ucap Winda.
"Yaudah kamu aja yang cukur dia nanti, alat cukur Sean bisanya dan di lemari di dalam kamar mandi"ucap nyonya Selina.
"Oh gitu, Yaudah nanti aku aja ya cukur kumisnya mas Sean"
"Yaudah mamah masuk dulu ya mau mandi"
"Iya mah"
Nyonya Selina pun pergi dan Winda pun kembali menunggu Sean selesai mencukur rambutnya. Setelah selesai.
"Non udah selesai"ucap tukang cukur itu.
"Oh udah mah"ucap Winda lalu mengambil sesuatu di sakunya.
"Nih mas uangnya"ucap Winda sambil memberikan uang.
"Tidak usah non, saya sudah dibayar sana nyonya besar sebelum saya kemari"Jawab tukang cukur itu.
"Oh Yaudah kalau itu"ucap Winda lalu memasukan uangnya kembali, Sean pun tertawa di dalam hatinya melihat kelakuan Winda.
"Saya permisi pulang dulu ya non"ucap tukang cukur itu.
"Iya, terimakasih ya"jawab Winda.
Tukang cukur itu pun pergi dan Winda pun membawa Sean masuk ke dalam lalu memandikan Sean.
__ADS_1