
Setelah kejadian itu, Winda pun langsung mendorong kursi roda Sean menuju kamar mereka dengan menahan air mata dan rasa sakit di kepalanya. Sampai di kamar Winda pun langsung mengunci pintu kamar itu dan langsung memeluk Sean.
"Sudah sayang jangan menangis"ucap Sean menenangkan Winda.
"M..mas.. aku enggak naruh bubuk cabai di minuman itu, aku berani bersumpah"ucap Winda yang menangis di pelukan Sean.
"Iya sayang aku percaya kok, jangan nangis lagi ya". Sean pun berusaha menenangkan Winda yang tengah menangis di pelukannya itu dan lama-kelamaan Winda pun mulai tenang dan tak menangis lagi.
Setelah merasa tenang, "Sayang apa kepalamu sakit?"tanya Sean dan Winda pun menggelengkan kepalanya.
"Baiklah jika tidak, lebih baik sekarang kamu istirahat ya"saran Sean dan Winda pun membantu Sean naik ke tempat tidur lalu tidur di samping Sean yang duduk di tempat tidur.
Sore harinya, Sean terbangun lebih dulu. setelah bangun ia melihat kesebelah dan melihat Winda masih tertidur nyenyak, karna tak ingin mengganggu Winda Sean pun bangun dan naik ke kursi rodanya sendiri. Sean pun masuk ke dalam kamar mandi mengambil wudhu secara perlahan lalu sholat dengan posisi tetap di atas kursi roda dan tidak duduk di lantai karna pastinya ia tidak akan bisa bangun sendiri. Selesai shalat, Sean pun melihat ke arah Winda sejenak lalu pergi keluar kamar.
Di luar kamar, Sean masuk kedalam lif lalu turun ke lantai bawah. Saat keluar dari lif Sean melihat ibunya yang nampak sibuk mempersiapkan sesutu, Sean pun mendekatinya.
"Mah, apa yang mamah lakukan"tanya Sean.
Nyonya Selina pun melihat kearah Sean, "Sean, mamah cuma mau mempersiapkan barang-barang untuk lamaran kamu dan Siska, oh ya mamah dan papah sudah memutuskan kalau kamu dan Siska akan lamaran Lusa nanti dan seminggu kemudian kalian menikah"jawab nyonya Selina dengan ekspresi senang.
Sean pun terdiam dan menatap ke arah ibunya, "Sebenarnya siapa yang mau menikah sih, memangnya aku sudah setuju aku yang menikah mah bukan kalian"
__ADS_1
"Iya mamah tau, memangnya jika kami menanyakan ini dengan kamu apa kamu akan setuju, tentunya tidak bukan"
"Mah, aku sudah menikah aku sudah memiliki istri kenapa mamah selalu memaksaku"
"Sean kamu kan bisa menjadikan wanita ini sebagai perawatmu yang berstatus istri dan baru Siska lah yang akan menjadi istri sah mu!"
"Setega itu mamah dengan winda, memangnya mamah tidak pernah memikirkan perasaan Winda sama sekali, mamah juga wanita bukan mamah pasti juga akan merasa sakit jika papah menikah lagi kan bahkan jika orang tua papah tidak menyukai mamah apa yang akan mamah lakukan ha tetap diam atau pasrah?!?"
"Sean, jangan membuat alasan untuk membatalkan pernikahan ini, mamah dan papah melakukan ini demi kamu nak demi nama baik kamu"
"Aku tau, karna aku cacat mamah dan papah melakukan ini bukan, mah tidak semua wanita memiliki sifat baik dari penampilannya saja, aku yakin mamah hanya menilai Siska dari luar saja mamah pastinya tidak tau bagaimana dengan sifat asli Siska bukan"
"Sean mamah dan ibunya Siska sudah berteman lama bahkan mamah kerap sekali bertemu dengan Siska saat mamah dan ibunya Siska bertemu, Siska wanita yang baik Sean dia wanita penurut dan yang paling penting dia tidak akan membuat keluarga kita malu nak"
Nyonya Selina pun hanya diam dan tak menjawab perkataan Sean. setelah Sean pergi nyonya Selina pun melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai itu. Sementara Sean, setelah berdebat dengan ibunya ia pergi menuju dapur lalu minta salah satu pelayan yang ada di dapur untuk membuatkan makanan lalu membawakan makanan itu ke kamar Sean.
Kembali ke kamar, Sean datang ke kamar bersama satu pelayan. Di dalam kamar pelayan itu pun masuk lalau meletakan makanan di meja lalu pergi. Sean pun masuk lalu melihat kearah Winda yang sedang tertidur. Masih belum bangun... karna Winda yang masih belum bangun, Sean pun masuk ke ruangan ganti untuk mengambil bajunya lalu masuk ke kamar mandi dan mandi tanpa bantuan Winda.
10 menit berlalu, Sean masih belum keluar dari kamar mandi tetapi saat ini Winda sudah terbangun dari tidurnya. Winda pun melihat kasur sebelahnya untuk melihat Sean tetapi kasur disebelahnya kosong. Kok kosong, mas Sean mana... karna tidak menemukan Sean disampingnya, Winda pun bangun lalu berjalan ke arah kamar mandi.
Tok tok tok
__ADS_1
Winda mengetuk pintu kamar mandi, "mas Sean apa kamu di dalam"teriak Winda. Di dalam, Sean tidak mendengar apapun karna ia mandi dengan menggunakan shower. Karna tak mendengar jawaban tapi mendengar ada suara air Winda pun memutuskan untuk membuka pintu kamar mandi itu lalu masuk.
Di dalam, Winda melihat Sean yang sedang menggosokkan sabun ke tubuhnya tetapi agak merasa kesulitan menggosok dibagian punggung dan kaki, Winda pun mendekat.
"Mas kamu mandi sendiri"ucap Winda yang mendekat ke Sean.
"Sayang kamu sudah bangun"ucap Sean sambil menggosok tubuhnya.
"Kamu kenapa tidak membangunkanku aku kan bisa memandikanmu"
"Tidak apa apa sayang aku cuma tidak mau membuat tidurmu terganggu"
"Lain kali kamu bangunkan aku saja ya, liat itu kamu kesulitan kan menggosok tubuh kamu, sini aku bangun". Tanpa pikir panjang Winda pun langsung membantu Sean menggosok tubuhnya yang belum tergosok oleh sabun dan Sean pun hanya diam menikmati sentuhan winda. 5 menit berlalu, Sean pun sudah selesai mandi, Winda pun langsung membawa Sean keluar lalu membantu Sean mengenakan pakaian yang sudah Sean siapkan sendiri.
"Mas kamu kenapa tadi bangun sendiri, tidak biasanya kamu seperti itu"tanya Winda sambil menyisir rambut Sean.
"Aku sengaja sayang, lagiankan bisa untuk melatih otot-ototku untuk bisa berjalan sendiri"jawab Sean sambil menatap wajah Winda.
"Mas jika pun sengaja tapi setidaknya kamu harus membangunkanku supaya saat terjadi sesuatu aku bisa langsung membantumu"
"Iya sayangku aku minta maaf ya, oh ya itu ada makanan ayo kita makan"ucap Sean sambil menunjuk makanan yang berada di atas meja.
__ADS_1
Winda pun melihat kearah meja yang Sean tunjuk, "Siapa yang membawanya kemari mas"
"Pelayan sayang, tadi aku bangun dan langsung turun meminta pelayan membawakan makanan untuk kita, Yaudah ayo kita makan dulu lagian rambutku sudah rapih". Winda pun meletakan sisir lalu mengambil makanan itu dan memakannya bersama dengan Sean.