Kau Cacat, Tapi Aku Mencintaimu

Kau Cacat, Tapi Aku Mencintaimu
Bab 25


__ADS_3

Di kamar, setelah membukakan pintu gudang Sean pun mengajak Winda untuk kembali ke kamar mereka. di kamar Winda pun membantu Sean berpindah ke tempat tidur lalu melepaskan semua pakaian Sean.


"Mas Sean mau mandi"ucap Winda sambil melepaskan pakaian Sean satu-persatu.


"Iya sayang aku mau mandi"jawab Sean.


"Yasudah kamu istirahat dulu ya disini aku akan menyiapkan air hangat buat kamu mandi"Sean pun mengangguk lalu tersenyum dan Winda pun pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Sean mandi.


Selesai menyuapi semuanya, Winda kembali menemui Sean untuk membantunya berjalan ke kamar mandi.


"Airnya sudah siap mas, ayo aku antar kamu ke kamar mandi"Tanpa menunggu jawaban Sean Winda pun langsung membantu Sean naik ke kursi rodanya lalu mendorongnya menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Winda langsung melepaskan baju Sean satu persatu lalu membantu Sean untuk duduk di bak mandi untuk berendam sesaat. Setelah itu Winda pun pergi tetapi ditahan oleh Sean.


"Kamu perlu sesuatu mas?"


"Tidak, temani aku disini kita mandi bersama!!"Winda pun diam tetapi langsung ditarik oleh Sean masuk kedalam bak mandi lalu berendam bersama.


"Kenapa sih diam aja dari tadi"tanya Sean sambil menatap mata Winda.


"Tidak apa-apa"jawab Winda singkat. Sean pun diam dan menatap wajah Winda sambil membuka baju Winda satu persatu. Saat semua baju Sean sudah terlepas semua.


"Sayang kenapa banyak luka ditubuhmu apa gara-gara mamah tadi"tanya Sean dengan khawatir melihat banyak luka memar di badan Winda tepatnya di punggung dan tangan Winda.


"Ini hanya luka memar mas nanti juga sembuh kok"


"Walaupun hanya memar tapi lukanya banyak sayang"


"Pasti sakit kan, sini berendam denganku dan lukamu akan lebih baik dengan air hangat ini"Sean pun menarik Winda kedalam pelukannya dan Winda pun bersandar di dada Sean sambil menikmati rasa hangat dari air rendaman itu dan cipratan air yang diberikan oleh Sean.


30 menit berendam dan mandi, mereka pun keluar dari kamar mandi lalu menuju ruang ganti dan memakai baju.


"Mas Sean laper enggak?"tanya Winda.


"Laper, ayo kita makan"ajak Sean dan dianggukan oleh Winda. Mereka pun pergi keluar kamar menuju meja makan. Di lantai bawah, Sean dan Winda baru keluar dari lif dan melihat lantai satu peluh dengan barang-barang pernikahan yang tergeletak berantakan di sana, tak jauh dari berantakan itu Sean dan Winda melihat kedua orangtua Sean sedang makan berdua dengan suasana hening.


"Mas kita akan tetap ke meja makan"bisik Winda.


"Lebih baik jangan, kayanya mamah dan papah sedang sedih kita makan diluar saja yuk gak usah ganti baju"

__ADS_1


"Tapi aku gak bawa dompet"


"Gampang itu kan bisa pake scan lewat hp"


"Memang sih bisa tapi kan harus di restoran moderen kalau di tempat biasa?"


"Nanti tinggal ambil aja lewat hp kamu tenang aja"


"Yaudah deh, tapi kamu enggak papa pake baju kaya gini"


"Gak papa, aku kan belum memakai baju tidur jadi tidak terlalu malu kamu gak papa kan pakai itu"


"Gak papa kok"


"Yaudah ayo berangkat"


"Kita enggak izin mamah papah mas"


"Tidak usah, jika kita berbicara dengan mereka, mereka pasti marah lebih baik kita langsung saja"Winda pun mengangguk lalu pergi bersama Sean meninggalkan nyonya Selina dan tuan Andree yang makan dengan keheningan.


Di perjalanan, Sean dan Winda pergi menggunakan mobil bersama seorang supir. Sepanjang perjalanan suasana mobil dipenuhi dengan suara Winda yang terus saja bertanya dengan Sean.


"Nanti kamu juga tau"


"Ishh.. selalu gitu jangan-jangan ketempat kemarin ya?"


"Sok tau kamu"


"Ishh kamu itu ya ditanya malah jawab gitu"ucap Winda marah lalu memukul pelan lengan Sean.


"Iya iya... sakit tau nanti kan juga tau"


"Tapikan aku mau tau sekarang"


"Nanti aja biar kejutan"Winda pun cemberut dan memalingkan wajahnya agar tidak menatap Sean dan Sean pun tertawa kecil melihat tingkah Winda. 30 menit perjalanan mereka pun sampai di suatu restauran yang terlihat sangat mewah. Mereka pun keluar dari mobil, saat keluar dari mobil Winda terpukau dengan kemegahan restauran itu.


"Ayo masuk jangan bengong aja"ucap Sean membubarkan lamunan Winda.

__ADS_1


"Eh.., siapa yang bengong"Winda pun langsung mendorong kursi roda Sean masuk kedalam restauran itu. Dalam Sean pun menyuruh Winda mendorong kursi rodanya menuju satu meja yang megah dan VIP.


"Kita enggak papa nih duduk disini?"tanya Winda.


"Tentu, kenapa memang kamu takut aku gak sanggup bayar karna gak bawa dompet"jawab Sean.


"Bukan begitu... "


"Tenang aja sayang, aku sanggup bayar kok walau enggak bawa dompet"Winda pun hanya tersenyum malu. Pelayan pun datang menemui mereka dan Sean pun mulai memesan beberapa makanan untuk mereka. 5 menit kemudian makanan mereka pun datang dan mereka pun langsung memakannya.


Selesai makan, mereka pun menikmati dessert yang disediakan restauran itu. Saat mereka sedang menikmati dessert, ada seseorang datang menghampiri mereka.


"Wah Tuan muda Aditama yang cacat berani keluar rumah ternyata, memangnya sudah sanggup menerima hinaan"ucap seseorang itu tepat dihadapan Sean.


Sean pun menatap orang itu lalu langsung merubah ekspresinya menjadi datar. "Kenapa wajahmu langsung berubah saat melihatku tuan muda cacat"ucap orang itu.


"Hahahahah.... lihat ini tuan muda cacat datang bersama seorang wanita, apa dia pembantumu atau istrimu, kurasa dia istri sekaligus pembantumu"


Brakk


Karna kesal Sean langsung menggebrak meja di depannya.


"Apa mau Lo ha, belum puas Lo bunuh kakek dan nenek"ucap Sean marah.


"Ckk, gue gak pernah membunuh mereka, mereka saja yang sudah tua"jawab orang itu.


"Lo masih tetep mengelak sedangkan semua bukti sudah mengarah ke Lo, Lo membunuh mereka hanya demi harta saja Dion"


"Ya gue memang menginginkan harta mereka, lagian itukan hak ku jadi boleh-boleh saja bukan"


"Dulu memang hak lo tapi tidak sekarang, lisudah bukan anak mereka jadi otomatis Lo gak berhak atas harta mereka"


"Gue gak peduli"Dion pun mendekat ke Sean.


"Kita sudah bertemu dan gue akan terus mengganggumu ponakan cacatku"bisik Dion lalu pergi meninggalkan Sean dengan tertawa keras. Sean pun menatap Dion yang pergi dengan marah. Saat melihat Dion pergi Sean melihat Dion pergi dengan seorang wanita dan wanita itu adalah,


"Luna"ucap Sean.

__ADS_1


"Ada apa mas"tanya Winda.


Sean pun menatap Winda,"tidak apa-apa sayang"ucap Sean. Sean pun kembali melihat kearah Dion tetapi sudah pergi .....Apa wanita yang bersama Dion Luna ya, tapikan luna sudah menikah kembali.... batin Sean


__ADS_2