
Di taman, Winda dan Sean masih duduk di taman sambil bencanda bersama.
"Sayang"panggil Sean.
"Kenapa mas"jawab Winda.
Sean pun merogoh sakunya lalu mengambil dompetnya dan mengeluarkan sesuatu.
"Ini untukmu".memberikan 3 buat kartu untuk Winda.
"Untukku?"
"Ya ambillah"
"Tidak usah mas, lagian kebutuhanku kan sudah lengkap aku juga gak butuh apa-apa kok untuk apa kamu kasih aku kartu itu"
"Winda, walau kebutuhanmu sudah terpenuhi tetapi tetap saja kamu tidak bisa menghilangkan kewajibanku untuk menafkahimu, ambillah kartu ini bisa kamu belanjaan sesukamu"
"Tapi mas.. "
"Winda terimalah, jika kamu tidak menerimanya maka kamu yang berdosa bukan aku"
Winda pun mengambil kartu itu dari tangan Sean, "mas kenapa kartunya harus tiga, satu saja kan bisa bahkan aku akan jarang menggunakannya"
"Tidak apa-apa Winda, aku ingin kamu yang mengatur uangku semuanya"
"Tapi mas... "
"Sudahlah, ayo antar aku ke meja makan aku sudah lapar"
Winda lun tak menolak lagi, ia pun langsung membawa Sean ke meja makan. Di meja makan, nyonya Selina dan Tuan Andree sudah makan lebih dulu, Winda dan Sean pun duduk berdua di meja makan.
"Kenapa makanannya banyak sekali"ucap Sean.
"Aku tidak tau mas, sepertinya mamah yang membuat semua itu"jawab Winda.
"Mas Sean mau makan apa"
"Apa aja sayang, yang penting sedikit aja perutku begah nanti kalau banyak"
"Iya mas", Winda pun mengambil makanan untuk Sean. Saat Winda sedang menyuapi Sean, nyonya Selina datang sambil membawa banyak kue ditangannya.
Sean pun melihatnya, "Mah kenapa makanan disini banyak sekali dan untuk apa kue-kue itu"tanya Sean.
"Mamah sengaja membuatnya Sean, nanti siap teman-teman mamah mau datang jadi semua makanan ini untuk mereka"jawab nyonya Selina sambil menata kue.
"Kamu mau kue nya sayang"
"Tidak mah, aku makan nasi saja"
"Yasudah lanjutkan makanmu"
Sean pun kembali menerima suapan dari Winda dan nyonya Selina pun sibuk dengan menata kue-kue di piring.
Selesai makan, Winda membawa Sean ke kamar untuk memberikan obat. Di kamar Winda pun membantu Sean naik ke tempat tidur, setelah naik Winda langsung menyiapkan obat dan minum untuk Sean.
__ADS_1
"Mas ayo minum obat dulu"
"Apa aku harus banget meminumnya"
"Tentu, di dalam obat ini ada penghilang rasa sakit dan jika kamu tidak meminumnya kamu akan merasakan sakit di bagian kaki dan tanganmu, minumlah mas ini demi kesehatanmu"
"Aku akan meminumnya tapi apa aku boleh meminta sesuatu"
"Apa yang kamu inginkan"
"Aku akan meminumnya dengan senang hati tetapi jika kamu mau menciumiku"
Winda pun terdiam sejenak, "Itu hanya akal-akalan mu mas, udahlah ayo minum kamu enggak boleh telat minum obatnya"
"Tidak mau aku mau minum obat jika kamu menciumiku"
Sean pun menutup mulutnya rapat-rapat dan Winda pun hanya terdiam sambil berfikir.
Cup
Karna tak mau Sean telat minum obat, Winda pun mencium pipi Sean. "Tidak, bukan di pipi tapi disini"ucap Sean sambil menunjuk bibirnya.
"Ihh... enggak ah kan udah aku cium tadi"
"Yaudah aku gak mau minum"
Winda pun diam, Dasar mas Sean dia selalu berulah"batin Winda. Karna tak punya pilihan lain Winda pun mencium bibir Sean.
Cup
5 Menit kemudian, Sean melepaskan ciuman itu karna merasa bahwa Winda telah kehabisan nafas karna ciuman itu.
"Sudah kan ayo minum obat"ucap Winda dengan pipi merah.
Sean pun hanya menjawabnya dengan tertawa kecil dan senyuman manisnya lalu mengambil obat itu dan meminumnya sampai habis. Beberapa menit kemudian, karna pengaruh obat itu Sean pun menjadi mengantuk, sean pun tertidur dan disusul Winda karna tidak tau mau melakukan apa dan memutuskan untuk tidur di samping Sean.
Siang harinya, jam 1 siang Winda sudah terbangun lebih dulu dari Sean. Ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan mukanya. Setelah selesai ia pun membangunkan Sean.
"Mas Sean ayo bangun ini sudah siang"
Sean pun mulai membuka matanya, "Jam berapa sekarang sayang"
"Jam 1 siang mas"
"Apa teman-teman mamah sudah datang"
"Sepertinya sudah, di taman belakang terlihat ramai orang, ayo bangun kita shalat sekarang baru turun"
"Iya sayang"
Selesai berwudhu, Winda dan Sean pun melaksanakan shalat bersama, awalnya sulit bagi Sean karna harus duduk di lantai tetapi karna bantuan Winda ia pun bisa duduk di lantai walau agak sedikit menyakitkan. Selesai shalat mereka pun mengganti pakaian mereka dengan yang lebih bagus untuk menyambut tamu-tamu nyonya Selina. Di bawah, Winda membawa Sean ke meja makan dan dia sudah ada tuan Andree yang sedang duduk dan makan.
"Winda Sean kemarilah ayo makan"ucap tuan Andree.
Winda pun mendorong kursi roda Sean mendekat ke tuan Andree. Mereka pun makan bersama dengan tuan Andree. Selesai makan,
__ADS_1
"Winda pergilah ke taman belakang sambut tamu-tamu disana, biar Sean dengan papah"ucap tuan Andree.
"Baik pah, aku pergi dulu". setelah disuruh untuk menemui para tamu Winda pun langsung pergi ke taman belakang. Di taman belakang, disana terlihat sangat ramai. Banyak wanita-wanita tua tetapi terlihat cantik dan seksi sedang duduk menikmati makanan sambil mengobrol bersama. Winda pun mendekati mereka.
"Mah"panggil Winda.
"Eh Winda, sini nak". Winda pun mendekat ke nyonya Selina.
"Hay teman-teman ini Winda menantuku istri Sean putraku"
"Wah cantik ya menantumu Selina"ucap salah satu teman nyonya Selina.
"Ah terimakasih kalau begitu"
"Sini Winda duduk sama kami"
"Iya nyonya"
"Winda pergilah dan duduk dengan mereka, mamah mau ke kamar dulu ganti sepatu mamah, nanti mamah dateng lagi"
"Iya mah"
Nyonya Selena pun pergi meninggalkan winda disana, dan Winda pun duduk di antara para tamu nyonya Selina.
"Hay Winda"sapa salah satu teman nyonya Selina.
"Hay juga nyonya"
"Kamu istri Sean ya, setauku tunangan Sean dulu itukan model terkenal yang bernama Luna itu ya, bahkan Sean dan Luna juga akan menikah sekarang kenapa jadi Sean menikah denganmu"sambung orang itu dan Winda pun hanya bisa dia.
"Halah pastikan karna Sean lumpuh, jadinya Winda yang menikah dengan Sean atau jangan-jangan kamu ya Winda penyebab kecelakaan Sean"ucap teman nyonya Selina yang lain. Winda pun merasa takut dengan semua pertanyaan itu tetapi dia tak berani menjawab dan hanya bisa diam saja.
"Oh ya Winda, gimana enak enggak punya suami yang kaya dan selalu makan makanan yang enak"
"Aku tau kamu pasti mau menikah dengan Sean karna Harta kan bukan cinta"
"Sayang banget ya Sean tidak jadi menikah dengan Luna, diakan cantik terkenal lagi dan enggak kampungan"
"Aku yakin kamu pasti sengaja merencanakan kecelakaan ini ya supaya kamu bisa menikah dengan Sean"
Mereka pun terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu ke Winda dan membuat Winda tak tahan lagi.
"Tidak nyonya, saya mau menikah dengan Sean karna saya mencintainya"
"Oh jadi kamu pelakor ya"
Deg
"Halah alasan aja kamu, kami disini itu tau ya kamu itu hanya menginginkan uang saja bukan, pasti kamu sudah mengambil semua harta Sean bukan!"
"Mana aja maling mau ngaku, kalau ngaku nanti penjara penuhlah"
"Jangan-jangan kamu juga mencampur sesuatu di makanan Sean agar Sean tidak bisa berjalan untuk selamanya ya"
"Dasar pelakor kamu"
__ADS_1