Kau Cacat, Tapi Aku Mencintaimu

Kau Cacat, Tapi Aku Mencintaimu
Bab 7


__ADS_3

Malam harinya, Winda pun membawa Sean menuju meja makan untuk makan malam bersama. Di meja makan.


"Selama malam sayang"ucap nyonya Selina dan Sean pun hanya tersenyum.


"Kok cuma tersenyum, mana suara kamu sayang"tanya nyonya Selina.


"Sean kemana alat yang papah berikan padamu"tanya Tuan Andree. Sean pun menatap kearah Winda.


"Tadi mas Sean bilang kalau dia gak nyaman dengan alatnya jadi minta dilepas"jawab Winda.


"Kenapa dilepas Sean, itu kan bisa membantu kamu berbicara sayang"ucap nyonya Selina. Sean pun mengedipkan mata dengan cepat.


"Baiklah jika itu mau kamu nak, sekarang makanlah Winda ambilkan makanan untuk Sean"ucap nyonya Selina.


"Iya mah"jawab Winda. Winda pun mengambilkan makan untuk Sean, sebelumnya Winda menghancurkan makanan yang akan diberikan untuk Sean itu agar Sean tidak kesusahan mencernanya.


"Winda, kenapa kamu menghancurkan makanannya, jadi lembek bukan"tanya nyonya Selina.


"Mas Sean tidak bisa makan makanan yang terlalu keras mah, pencernaannya belum bisa mencerna dengan baik makanya aku hancurkan makanannya"jawab Winda dan nyonya Selina pun mengangguk.


setelah menghancurkan makanan itu, Winda pun menyuapi Sean secara perlahan-lahan dan setelah Sean merasa kenyang Winda pun memakan makanannya. Selesai makanan.


"Sean sayang, mamah mau ajak istrimu jalan-jalan melihat rumah, kamu mau ikut nak"tanya nyonya Selina. Sean pun berkedip 2 kali.


"Winda ayo ikut mamah, mamah akan mengenalkan bagian-bagian rumah padamu"ucap nyonya Selina.


"Iya mah"jawab Winda. Winda pun mendorong kursi roda Sean mengikuti nyonya Selina.


Nyonya Selina memberitahu jalan menuju ke kamar-kamar tamu, ruang keluarga, dan taman bagian belakang.


"Winda, ini taman belakang biasanya Sean suka duduk di bangku yang dekat dengan bunga, jika Sean sedang sedih atau marah kamu bisa membawanya ke kursi yang dekat dengan bunga, kemarahannya pasti akan mereka"ucap nyonya Selina.


Winda pun menatap kearah Sean dan Sean pun menatapnya juga.


"Mah, rambut mas Sean sudah panjang, aku ingin memotongnya tapi takut tidak rapih"ucap Winda.


"Nanti mamah panggilkan saja tukang cukur langganan Sean, kamu tunggu saja ya"jawab nyonya Selina.


"Iya mah"


Mereka pun lanjut jalan-jalannya sampai kembali lagi ke dalam rumah. di dalam rumah.

__ADS_1


"Winda bawa Sean ke kamar sana, sepertinya dia mengantuk"ucap nyonya Selina.


"Iya mah, kami ke kamar dulu selamat malam mah"jawab Winda.


"Selamat malam"


Winda pun membawa Sean kedalam kamar. Sebelum tidur, Winda membawa Sean ke kamar mandi untuk membantu Sean membersihkan wajahnya lalu mengganti bajunya.


Pagi harinya, Sean bangun lebih awal dari Winda. Sean pun melihat kearah Winda dan Winda masih tidur.


Kalo lagi tidur imut banget sih, apalagi bibirnya merah menggoda jadi pengi cium"batin Sean. Sean pun meniup-niup rambut Winda.


10 menit kemudian, Winda tak kunjung bangun, Sean pun sudah lelah meniup-niup rambut Winda. Sean pun berhenti meniupi rambut Winda dan Winda pun terbangun.


"Jam berapa ini"ucap Winda yang baru bangun.


Winda pun melihat kearah jam lalu tak sengaja melihat Sean yang sudah bangun.


"Mas kamu sudah bangun"


Sean pun berkedip 2 kali.


Winda pun membantu Sean bangun lalu mendudukkannya ke kursi roda setelah itu membawanya ke kamar mandi.


Di kamar mandi, Winda menyiapkan air hangat untuk Sean sementara Sean terus menatap ke arah Winda.


"Aku lepas bajunya ya"ucap Winda lalu Sean pun mengangguk. Winda pun melepaskan baju Sean satu persatu.


Apa Winda tidak malu melepaskan bajuku satu persatu, dia juga menyentuh punyaku tetapi kenapa dia tidak bangun ya"batin Sean. Setelah melepas seluruh pakaian Sean, Winda pun mulai memandikan Sean setelah selesai Winda pun membantu Sean untuk memakai baju.


Saat Winda tengah membantu Sean memakai baju, seseorang mengetuk pintu kamar mereka.


Tok tok tok


Winda pun menatap kearah pintu dan Sean pun hanya melirik.


"Aku buka pintu dulu ya"ucap Winda dan Sean pun tersenyum. Winda pun pergi membuka pintu.


Ceklek


"Winda, Sean sudah bangun belum"tanya nyonya Selina.

__ADS_1


"Sudah mah, mas Sean juga sudah mandi"jawab Winda.


"Baiklah, mamah mau nemui Sean dulu"


"Iya mah"


Nyonya Selina pun masuk ke dalam bersama Sean. di dalam Winda pun langsung kembali membantu Sean memakaikan baju.


"Wah putra mamah sudah mandi"ucap nyonya Selina lalu mencium pipi Sean.


Mamah kenapa harus nyium pipiku sih, kan itu sudah jadi jatah Winda kenapa harus mamah yang cium, serasa masih bayi gue"batin Sean. Sean pun memasang wajah tak suka terhadap ciuman ibunya itu dan Winda pun melihat lalu tertawa kecil.


"Sean mamah sudah panggil tukang cukur langganan kamu, dia akan datang nanti sore, tapi tunggu dulu, putra mamah lebih ganteng dengan rambut panjang dan kumis tipis itu kok"


Gak mah, aku risih dengan rambut di wajahku ini, cepat suruh tukang cukur itu datang sekarang mah"batin Sean.


Nyonya Selina pun tertawa dengan ekspresi tak suka Sean. "Winda cepat bantu Sean pakai baju ya setelah itu bawa Sean ke meja makan"


"Iya mah"


Nyonya Selina pun pergi, Winda pun melanjutkan membantu Sean memakaikan baju.


Selesai memakai baju, Winda pun membawa Sean ke meja makan.


"Selamat pagi sayang, ayo makan kamu pasti sudah lapar"ucap nyonya Selina. Winda pun mengambilkan makan untuk Sean lalu menghancurkan makanan itu hingga agak lembek lalu menyuapi Sean.


Di tengah kegiatan makan itu.


"Sean, kamu tau nak setelah kejadian ini perusahaan yang dulunya maju karna kamu sekarang sudah menurun nak, banyak para pekerja yang melakukan korupsi, dan banyak proyek-proyek yang hancur"ucap tuan Andree.


Sean pun menatap ayahnya dan Winda pun menunduk karna merasa bersalah.


"Papah tidak bisa bekerja seperti kamu nak, papah juga harus mengurus bisnis papah sendiri, dan sekarang harus mengurus bisnis kamu dari kakek, maafkan papah jika tidak bisa menggantikanmu dengan baik"ucap tuan Andree.


Sean pun berkedip 2 kali.


"Papah akan berusaha memperbaiknya, mamah dan papah akan bekerja sama mengurus dua bisnis itu, dan besok papah akan mencarikan dokter yang paling terbaik untuk mengobatimu"sambungan tuan Andree.


"Sudah pah, biarkan Sean makan dulu nanti kita lanjutkan pembicaraannya"ucap nyonya Selina dan Tuan Andree pun mengangguk. Semuanya pun melanjutkan makan mereka.


Selesai makan, tuan Andree dan nyonya Selina sudah pergi ke kantor dan saat ini tersisa Winda dan Sean yang masih berada di meja makan. Winda pun melihat kearah Sean, di wajah Sean terpampang jelas wajah kesedihannya. Winda pun tak berani berkata sesuatu dan memilih membawa Sean ke taman belakang.

__ADS_1


__ADS_2