
Setelah rambu Sean dicukur, Winda pun membawa Sean masuk ke dalam kamar lalu memandikannya. Di dalam kamar,
Winda sedang membuka semua baju Sean dan Sean pun menatap Winda, Apa di tidak malu melihatku telanjang, dulu saja aku hanya membuka bajuku bagian atas dia langsung teriak dan tutup mata"batin Sean.
Winda pun melihat tatapan Sean, "Kenapa mas, kamu butuh sesuatu"tanya Winda, Sean pun berkedip cepat.
Winda pun kembali melanjutkan membuka pakaian Sean lalu memandikannya.
Saat sedang mandi, "Mas tahan sedikit ya, aku akan memijit leher kamu mungkin akan sedikit sakit"ucap Winda. Sean pun berkedip 2 kali dan Winda pun mulai memijat leher Sean. 5 menit kemudian, Winda pun mulai memijat leher Sean dengan agak kasar dan Sean pun mulai kesakitan.
"Tahan mas, aku hanya ingin menyembuhkan suaraku saja, tahan dulu ya"ucap Winda sambil memijat leher Sean.
Winda pun terus memijat leher Sean, dan lama kelamaan pijatan itu semakin dirasakan sakit oleh Sean. Sean pun menggerakan bibirnya dan mulai keluar suaranya yang terdengar sangat lirih.
"Mas suaramu keluar"ucap Winda dan Sean pun hanya terdiam tetapi bibir seolah-olah berbicara.
"W... wwinda... lepas .... i.. ini... sa.. sakit"ucap Sean dengan suara yang sangat lirih.
Winda pun melepaskan pijatannya, "Mas suaramu sudah kembali, terimakasih ya Allah"ucap Winda lalu memeluk Sean, Sean pun hanya menyenderkan badannya pada pelukan Winda.
"Kita keluar ya kamu sudah selesai mandi kok". Winda pun memakaikan Sean handuk lalu membawanya keluar. Selesai memakaikan baju Sean.
"Mas, besok kita pergi terapi ya, aku tau dokter yang bisa menyembuhkan kelumpuhan dibagian tubuh atas"ucap Winda, Sean pun mengangguk pelan.
Winda pun tersenyum melihatnya. pukul 7 malam, Winda membawa Sean turun menuju meja makan. Di meja makan,
"Selamat malam sayang"ucap nyonya Selina dan Sean pun tersenyum. Winda mendorong Sean mendekat ke nyonya Selina.
"Mah pah, aku bisa bicara sesuatu"ucap Winda.
"Tentu Winda kamu mau ngomong apa"jawab nyonya Selina.
"Begini mah, tadi aku sempat pijit leher mas Sean dan suara mas Sean bisa keluar mah dia juga bisa mengangguk, apa mamah dan papah bisa membawa mas Sean ke terapi agar mas Sean bisa pulih"jelas Winda.
"Benar Winda, Sean bisa bicara"ucap nyonya Selina dengan sangat gembira. Winda pun mengangguk dan nyonya Selina pun memeluk Sean.
"Winda, bukannya kami tak ingin membawa Sean ke tempat terapi, kami hanya belum bisa menemukan dokter yang tepat untuk terapi Sean"ucap tuan Andree.
Winda pun menatap tuan Andree, "Pah, aku punya kenalan dokter syaraf, beliau teman ayahku beliau adalah dokter spesialis syaraf bagian tubuh atas, aku yakin mas Sean bisa sembuh jika berobat dengannya"ucap Winda.
"Siapa nama dokter itu"tanya tuan Andree.
"Dokter Indra pah, beliau dokter di rumah sakit ayah pah"jawab Winda.
__ADS_1
"Dia masih bekerja disana"
"Masih pah, aku akan memberitahu dokter Indra tentang ini"
"Tidak usah Winda, biar papah aja yang mengurusnya kamu jaga Sean saja"
"Baik pah"
Setelah mengobrol tentang hal itu Winda pun mengambilkan Sean makan. Seperti biasa Winda pasti akan menghancurkan makanan Sean terlebih dahulu agar Sean tak kesusahan dalam mengunyah dan mencernanya. Winda menyuapi Sean dengan sangat telaten, nyonya Selina pun menatap mereka dengan tersenyum. Seperti Winda memang cocok untuk Sean, semoga Winda bisa menjaga Sean untuk selamanya"batin nyonya Selina.
""Winda"panggil nyonya Selina.
"Iya mah kenapa"
"Mamah perhatian, saat kalian pertama kali bertemu kenapa kalian terlihat sangat dekat bahkan kamu bersedia menikah dengan Sean, apa kamu mengenal Sean sudah lama dia juga rela datang ke rumahmu saat itu"
Winda pun menyuapi Sean, "Iya mah, aku dan mas Sean sudah kenal lama bahkan saat SMP"
"Sejak SMP, tapi Sean tidak pernah punya teman selama sekolah"
"Iya mah, saat pertama kali kami bertemu mas Sean hanya diam saja dan cuek padaku tapi karna aku duduk di sebelahnya lama kelamaan mas Sean mulai mau berbicara denganku"
"Saat jam istirahat mas Sean suka sekali mengganggu, bahkan saat dia sedang dimarahi guru mas Sean selalu membawaku dalam masalahnya"
"Astaga Sean, Winda apa Sean pernah bertemu dengan kedua orang tuamu dulu, mamah inget dulu semasa Sean sekolah pasti pulangnya telat apa dia kerumahmu dulu"
"Apa Sean pernah menginap dirumahmu"
"Pernah mah"
"Ternyata kalian sudah kenal lama, tapi kenapa kamu tidak pernah bercerita tentang itu Sean"
Sean pun hanya memalingkan wajahnya dengan ekspresi jengkel.
"Kamu ini ya". sambil mencubit pipi Sean.
Setelah perbincangan itu mereka semua pun melanjutkan makan mereka. Setelah selesai, Winda membawa Sean ke taman belakang untuk menikmati udara segar disana dan saat mereka dengan duduk santai kedua orang tua Sean datang menghampiri mereka.
"Winda Sean"panggil nyonya Selina. Winda pun melihat kearah nyonya Selina dan Sean pun perlahan-lahan menengok juga.
"Winda papah sudah mendaftar Sean, Sean harus pergi besok siang"
"Iya pah"
__ADS_1
Mereka pun duduk bersama dan saling mengobrol.
Setengah jam berlalu, mereka semua masih duduk bersama dan saling mengobrol.
"Permisi nyonya tuan"ucap salah seorang pelayan.
"Iya ada apa bik"Jawab nyonya Selina.
"Di dalam ada tamu nyonya"
"Siapa tamunya"
"Nona Luna dan suaminya nyonya"
Deg
"Untuk apa mereka datang kemari". nyonya Selina marah dan langsung berdiri.
"Tadi suaminya nona Luna bilang mau menjenguk tuan muda nyonya"
"Biarkan mereka kemari"ucap tuan Andree.
"Tidak, untuk apa membiarkan mereka kemari mereka pasti hanya akan menghina saja"
"Biarkanlah dulu, aku hanya penasaran bagaimana dengan suami wanita munafik itu"
Nyonya Selina pun terdiam lalu duduk kembali, dan pelayan itu pun pergi.
Beberapa saat kemudian, Luna dan suaminya pun datang menemui mereka.
"Selamat Malam Tuan dan nyonya"ucap suami Luna. Luna pun melirik ke arah Sean tetapi Sean tak melihatnya dan hanya memperhatikan Winda yang sedang duduk di sebelah sambil bermain hp.
"Selama malam duduklah"ucap tuan Andree. Mereka pun duduk.
"Hay Sean bagaimana kabarmu, aku David teman SMP mu dulu"ucap suami Luna yang bernama David. Sean pun hanya melirik saja.
"Sean kamu Ken...."
"Mas, Sean itu gak bisa berbicara diakan lumpuh jadi cuma diam aja"ucap Luna memotong perkataan David. David pun terdiam.
"Maaf Sean aku gak tau soal itu, oh ya semoga cepat sembuh ya dan ini". David memberikan sebuah undangan.
"Ini undangan resepsi pernikahanku dan Luna datanglah"
__ADS_1
Semua orang pun langsung menatap ke arah David.
"Itu hanya pestanya kami sudah menikah"