Kau Cacat, Tapi Aku Mencintaimu

Kau Cacat, Tapi Aku Mencintaimu
Bab 11


__ADS_3

Selesai terapi, Sean terus saja menggenggam tangan winda dan Winda pun hanya membiarkannya saja.


"Kondisi suamimu sudah sembuh Winda, dia sudah bisa berbicara dan menggerakkan tangannya, untuk bagian kaki, sepertinya akan sangat sulit bahkan sepertinya tidak ada kemungkinan untuk sembuh"ucao dokter Indra.


Winda pun menjadi murung lalu menatap kearah Sean dan Sean pun hanya tersenyum.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan dok"tanya Winda.


"Kamu harus sering-sering memijat kakinya Winda, itu akan membuat syaraf kaki suamimu kembali aktif"


"Baik dok, kalau begitu kami permisi dulu"


Winda pun membawa Sean keluar ruangan dokter Indra. Di perjalanan menuju parkiran.


"Winda"panggil Sean.


Winda pun menatap kearah Sean, "Iya kenapa"


"Apa kamu sedih jika aku tidak bisa berjalan"tanya Sean. Winda pun hanya bisa tersenyum dan tak bisa menjawab Sean, ia pun memutuskan untuk mendorong kursi roda Sean kembali dan Sean pun hanya terdiam saja.


Sesampainya dirumah, Winda langsung membawa Sean ke kamar. Di dalam kamar, Winda langsung melepaskan sepatu Sean dan jaket Sean.


Sean pun menatap Winda, "Winda"ucapnya.


Winda pun menatap Sean, "Maaf, karna aku lumpuh dan membuatmu harus menjagamu"ucap Sean.


"Andai aku tau ini, pasti aku tak akan membuatmu menderita seperti ini. aku sudah meninggalkanmu dulu, aku malah ingin menikah dengan wanita lain dan sekarang aku malah merepotkanmu, aku minta maaf Winda"ucap Sean.


Winda pun menggenggam tangan Sean, "Mas jangan salahkan dirimu terus, ini bukan salahmu aku ikhlas kok"ucap Winda.


"Aku tau kalau kamu pasti akan mengelak dari perkataanku"


Winda pun terdiam, "Winda.... ". Sean pun menarik Winda untuk mendekatinya lalu,


Cup


Sean menarik Winda lalu mencium bibir Winda, Winda pun terkejut dan hanya bisa diam.


Sore harinya, saat ini Sean sedang tertidur saat ini. Karna waktu sudah hampir malam Winda pun memutuskan untuk membangunkan Sean.


"Mas Sean ayo bangun ini sudah sore, kamu harus mandi lalu makan malam dan minum obat"ucao Winda.


Sean pun mulai membuka matanya, "Iya sayang aku bangun"ucap Sean dengan menggoda Winda. Pipi Winda pun merona dan membuatnya malu lalu memalingkan wajahnya.


"Ada apa dengan pipimu sayang, kok merah"


"Ah sudahlah mas, ayo mandi aku sudah menyiapkan air hangat untukmu nanti keburu dingin kalau kelamaan"


Winda pun langsung membantu Sean bangun lalu duduk di kursi roda sementara Sean ia hanya tersenyum menatap wajah Winda yang memerah karna ulahnya itu.

__ADS_1


Setelah membangunkan Sean, Winda pun membawa Sean ke kamar mandi. Winda melepaskan semua baju Sean satu persatu setelah itu Winda pun memandikan Sean dengan penuh telaten. Melihat Winda sedang memandikannya, Sean pun hanya menatap Winda saja tampa bergerak sama sekali.


"Sayang, apa kamu tidak mau melihatku telanjang seperti ini"ucap Sean.


Winda pun hanya melihat Sean sekilas lalu melanjutkan memandikan Sean.


"Jawablah sayang, dulu ketika kamu melihatku telanjang dada kamu langsung teriak dan menutup matamu, kenapa sekarang tidak bahkan aku telanjang bulat loh"


"Itukan beda mas"ucao Winda tak menatap Sean.


"Tetap saja, bahkan kamu melihat dan memegang kejantananku"


Winda pun berhenti sesaat lalu menatap Sean, "Terserahlah apa yang kamu pikirkan, yang terpenting aku melakukan ini karna tugasku sebagai istrimu dan maaf jika cara memandikanmu salah bagimu"


Sean pun tertawa kecil, "Iya sayang, aku tidak keberatan dengan caramu memandikanku malah aku senang jika kamu yang memandikanku"


"Terimakasih sayang sudah mau merawatku"ucap Sean dengan senyum manisnya dan Winda pun membalas perkataan Sean dengan senyuman manisnya.


Selesai mandi, Winda pun membantu Sean memakaikan baju tetapi karna tangan Sean sudah Pulih kembali Sean pun juga membantu winda untuk pakai baju. Selesai memakai baju mereka pun turun ke lantai bawah untuk makan malam sambil menunggu kedatangan kedua orang tua Sean.


Di meja makan, saat ini meja makan masihlah kosong. Winda dan Sean pun duduk di sana.


"Winda apa mamah dan papah belum pulang juga"tanya Sean.


"Belum mas, mungkin sebentar lagi"


Sambil menunggu kedatangan orang tuanya, Winda pun memijat kaki Sean agar Sean tidak merasa jenuh. 5 menit kemudian kedua orang tua Sean pun datang.


"Winda bagaimana dengan terapinya tadi"tanya tuan Andree.


"Alhamdulillah lancar pah, tubuh bagian atas mas Sean sudah bisa kembali normal bahkan mas Sean juga sudah bisa kembali berbicara"jawab Winda.


"Benarkan Winda, tapi kenapa Sean hanya diam saja"


"Dia pasti ingin menggoda mamah"


Nyonya Selina pun menatap Sean, "Sean mamah tau kamu pasti menyembuhkan suaramu, ayo cepat katakan sesuatu"


Sean pun hanya menatap ibunya saja. "Sean jangan bikin mamah penasaran deh, ayo bicara". karna jengkel Nyonya Selina pun mencubit pipi Sean.


"Aduh sakit mah, mamah sih bau makanya aku diam"ucap Sean.


"Ishh kamu mah mana ada mamah bau paling kamu yang bau"


"Mana ada aku kan sudah mandi"


"Sudahlah yang terpenting putra mamah sudah kembali normal lagi, sekarang tinggal menunggu kesembuhan kaki kamu". Sean pun tersenyum.


"Mamah sama papah ke kamar dulu ya, kalian makanlah dulu"ucap tuan Andree.

__ADS_1


"Iya pah"jawab Winda. Nyonya Selina dan Tuan Andree pun pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, sedangkan Winda dan Sean mereka pun langsung menyuruh pelayan untuk menyiapkan makan dan mereka pun mulai makan.


☘️☘️☘️☘️


Pagi berikutnya, Winda sudah bangun sekarang ia pun langsung membangunkan Sean dan memandikannya agar tubuhnya merasa segar. Setelah selesai mandi dan memakai pakaian Winda pun mengajak Sean untuk ketaman menikmati udara segar disana.


"Sayang, kenapa kita tidak makan dulu"tanya Sean.


"Tidak mas ini belum waktunya kamu makan, kamu akan makan satu jam lagi"jawab Winda.


Winda lun membawa Sean ke sebuah tempat duduk di samping bunga-bunga.


"Udara disini sangat sejuk"ucao Sean sambil menghirup udara segar.


"Wajarlah mas kan masih pagi"


"Memang ini masih pagi, tetapi aku memiliki yang lebih sejuk dari ini"


"Apa itu"


"Kamu mau tau"


"Tentu, memangnya apa"


"Hal yang lebih sejuk dari ini adalah saat aku melihatmu dengan senyuman manismu itu"ucap Sean dengan menatap Winda. Pipi Winda pun merona dan ia pun langsung memalingkan wajahnya.


Di tengah kemesraan itu, Nyonya Selina datang menemui mereka.


"Winda Sean"panggil nyonya Selina.


"Iya mah"jawab Winda dan Sean bersama.


"Winda, mamah memperkejakan sekarang pembantu untumu merawat Sean, dia bernama Ayu dia yang akan mengurus semua kebutuhanmu dan jika kebutuhan Sean. Kamu yang merawat Sean tetapi ayu lah yang akan menyiapkan kebutuhan kalian dia mulai bekerja hari ini"ucap nyonya Selina.


"Kenapa mamah repot-repot sih Winda bisa kok jaga mas Sean sendiri"


"Tidak apa-apa Winda, kamu bisa kewalahan menjaga Sean sendiri jadi mamah mencarikan pembantu untukmu dan Sean"


"Ayo ini Winda istri Sean putraku dan ini Sean putraku"


"Halo nona muda Winda dan tuan muda Sean"sapa ayu.


"Halo juga ayo, selamat bekerjanya semkga betah"jawab Winda dan Sean pun hanya mengangguk.


"Iya nona terimakasih"


"Yaudah kami pergi dulu ya Winda Sean, nanti kalau sudah jam makan Sean bawalah Sean ke meja makan ya Winda"


"Iya mah"

__ADS_1


Nyonya Selina pun pergi bersama ayu dan Winda dan Sean pun kembali menikmati udara segar di taman.


__ADS_2