
Pagi berikutnya, seperti biasa setelah bangun Winda langsung mandi dan langsung menyiapkan keperluan Sean. pagi ini juga, di luar kamar Sean dan Winda nyonya Selina tengah sibuk dengan banyak pakaian-pakaian ber-jas dengan berbagai motif dan warna tertata rapi. nyonya selina pun tengah memilih-milih dari semua pakaian itu. Saat sedang memilih tuan Andree pun datang menemui istrinya.
"Sudah dapat pilihannya??"tanya tuan Andree yang baru datang.
"Belum, semuanya bagus-bagus aku jadi bingung"jawab nyonya Selina.
"Panggil Seannya saja biar dia yang memilihnya"
"Nanti kalau dia turun saja pasti dia sedang mandi sekarang, kamu mau makan sekarang?"
"Tidak nanti saja, aku keruang kerjaku dulu"
"Baiklah kalau begitu". Tuan Andree pun pergi ke ruang kerjanya dan nyonya Selina pun melanjutkan melihat-lihat pakaian itu.
"Apa hanya ada 5 warna saja?"
"Tidak nyonya, kami juga memiliki beberapa warna cerah apa nyonya ingin melihatnya?"
"Ya saya ingin melihatnya"
Beberapa pakaian dengan warna-warna cerah pun dikeluarkan. ada sekitar 10 warna cerah dengan motif yang berbeda dikeluarkan oleh desainer itu. Nyonya Selina pun mengambil satu jas pernikahan yang berwarna merah muda.
"Kurasa Siska akan memakai dress berwarna ini, tapi warna ini tak cocok untuk Sean jika Sean memakai ini dia terlihat lembek nantinya dan gak gagah lagi". nyonya Selina pun mengambil dua baju berwarna abu-abu dan coklat.
"Kalau warna ini, sepertinya cocok untuk Sean tapi apa Sean mau memakai pakaian warna ini sepertinya tidak dia kan sukanya warna hitam saja, sudahlah nanti biar Sean sendiri yang memilihnya"
20 Menit berlalu, Sean dan Winda pun turun. Winda pun mendorong kursi roda Sean menuju meja makan. Saat melewati ruang keluarga Sean melihat ibunya tengah sibuk memilih pakaian-pakaian pernikahan pria, nyonya Selina pun melihat Sean.
__ADS_1
"Sayang, sudah bangun"ucap nyonya Selina lalu berjalan mendekati Sean.
"Sean mamah sudah memanggil desainer terkenal untuk membuat baju pertunangan kamu nanti dan untuk baju pernikahan dia juga yang akan membuatnya, ayo kamu harus memilih sekarang". Nyonya Selina pun langsung merebut Sean dari Winda, Winda pun hanya bisa diam lalu mengikuti Sean yang di bawa nyonya Selina untuk memilih baju pertunangan.
"Lihatlah Sean bagus-bagus kan, kamu mau pilih yang warna cerah atau gelap"
"Tolong berikan semua warna dan model yang ada". Desainer pun langsung menata semua model-model pakaian yang ia miliki.
"Sean pilihlah sayang". Sean pun hanya menatap saja dan nyonya Selina pun mengambil pakaian itu satu-satu lalu meletakannya di tubuh Sean lalu mencocokkannya.
"Sepertinya warna cerah tidak cocok untukmu, bagaimana kalau warna hitam saja ini sangat cocok untukmu sayang, nanti untuk sepatunya biar mamah yang mengurusnya". Sean pun masih diam dan menatap tingkah ibunya itu, sedangkan Winda ia hanya diam tak berani melawan mertuanya untuk tidak menikahkan suaminya kembali.... Aku harus apa, apa aku harus ikhlas membagi suamiku, sepertinya mamah hanya menganggapku sebagai pengasuh mas Sean saja mamah tidak menganggapku sebagai istri putranya.....
"Sean pilih lah sayang jangan diam aja, lihatlah semua bagus-bagus mamah jadi bingung jadinya"
Sean pun menatap ibunya, "Mah, sudah ku katakan berkali-kali kalau aku tidak mau menikah lagi!!"
"Seharusnya mamah lah yang harus membukan mata, mamah hanya tau sisi luarnya Siska saja dan mamah langsung menilainya baik, memang mamah mau mempunyai menantu yang hanya bisa berdandan dan menghabiskan uang saja, mamah seharusnya berfikir, istrikulah yang nantinya akan menjaga mamah di masa tua, jika istriku hanya bisa berbanda dan menghabiskan harta saja siapa yang akan mengurus mamah dan papah jika aku sedang sibuk dengan urusan kantor, pembantu iya apa mamah mau ha"
"Sean buk..."
"Mamah terus saja mengelak, mah dulu nenek mencarikan istri buat papah juga tidak sembarang mah, nenek memilih mamah untuk menjadi menantunya juga karna mamah bisa segala hal, mamah bisa mencari uang sendiri mamah bisa memasak dan mamah bisa mengurus keluarga tanpa bantuan pembantu, nenek menyukai mamah juga karna mamah tidak pernah menghambur-hamburkan uang papah untuk berbelanja hal yang tidak penting, mamah pikirkan saja sekarang apa mamah mau memiliki menantu seperti Siska yang hanya bisa menghabiskan uang dan berdandan saja, dan ingat ini mah istriku hanya Winda, aku percaya sepenuhnya dengan Winda dan Winda mandiri tidak seperti Siska yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang saja"
Nyonya Selina pun terdiam dan Sean pun mendorong kursi rodanya mendekati Winda, Winda pun langsung membantu Sean.
"Kita sarapan sekarang ya kamu harus minum obat dan terapi"ucap Winda dan Sean pun mengangguk. Winda pun membawa Sean ke meja makan. Di meja makan, Winda pun langsung mengambil makanan untuk Sean, kali ini Winda tidak menghaluskan makanan Sean karna tubuh Sean sudah kembali pulih sekarang. Sementara nyonya Selina, ia pun langsung memilih satu jas berwarna hitam dan langsung menyuruh desainer itu untuk kembali karna moodnya yang berubah. Tuan Andree pun dan melihat istrinya.
"Sudah memilih?, kok disuruh pergi"
__ADS_1
"Sudah"jawab nyonya Selina singkat.
"Kamu kenapa, ada yang salah"
"Sean menolak lagi"
"Hah... kita sarapan saja dulu ayo". Tuan Andree pun langsung mengajak nyonya Selina untuk sarapan terlebih dahulu. Di meja makan saat mereka datang, mereka melihat Sean dan Winda yang tengah makan, Winda sedang menyuapi Sean dan sesekali memakan makanannya. Mereka pun duduk di depan Sean dan Winda. Sean pun menatap kedua orang tuanya.
"Kamu menolak lagi?"tanya tuan Andree.
Sean pun hanya diam dan menerima suapa dari Winda saja.
"Sudah berulangkali papah bilang, jangan membantah kenapa kamu selalu saja membantah ha, kamu mau keluarga kita dipermalukan, bagaimana dengan perusahaan kita nanti ha, kakekmu pasti kecewa disana dia tidak akan tenang karna perusahaan yang dia bangun sendiri hancur begitu saja"
"Perusahaan tidak akan hacur pah, papah saja yang terlalu malu karna memiliki anak cacat"
Deg
Semua orang disana pun terdiam, termasuk Winda. Di hati Winda ia sangat merasa bersalah karna dirinya Sean malah menemuinya dan membuat Sean cacat tepat di hari pernikahannya.
"Sean apa yang kamu katakan, mamah dan papah tidak pernah malu nak kenapa kamu bicara begitu"
"Cih, kalian memang bilang begitu tapi tidak dengan hati kalian, mamah papah malu saat pergi ke perusahaan dan bertemu dengan orang-orang yang membicarakanku"
"Winda bawa makanannya ke kamar, aku mau ke kamar sekarang"
"Iya". Winda pun langsung menyuruh pelayan untuk membawa makanan mereka ke kamar dan ia mendorong Sean ke kamar, sementara nyonya Selina dan Tuan Andree mereka hanya diam dan hanya melihat Sean pergi bersama Winda.
__ADS_1