
Pagi berikutnya, hari ini kondisi rumah masih sama seperti dulu. Kedua orang tua Sean pun hanya diam dan makan sedangkan Sean dan Winda, mereka baru saja datang dan memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Tidak ada sepatah kata pun di meja makan hanya suara sendok dan garpu saja yang terdengar. Winda pun mengambilkan makanan untuk Sean dan dirinya sendiri, di dalam hatinya ...Apa separah itu hingga mamah dan papah mas Sean hanya diam saja, semoga saja tidak terjadi hal yang lebih buruh lagi... mereka pun makan.
Setelah selesai makan, Sean masih di meja makan bersama kedua orang tuanya sedangkan Winda, ia memilih untum membantu para pembantu membersihkan meja makan.
"Kenapa kalian diam saja dari kemarin?"tanya Sean menatap keduanya.
Nyonya Selina pun menatap Sean dan hanya diam saja sambil mengambil segelas air putih dan tuan Andree pun juga terdiam dan tak membalas pertanyaan Sean.
"Kalian diam seperti ini karna malu?, lebih malu sekarang bukan dari pada aku lumpuh????" keduanya pun tetap diam.
Di sisi lain, bel rumah mereka di pencet dengan cepat, semua orang pun langsung terfokuskan dengan suara bel itu, Winda pun langsung berlari membuka pintu.
Ceklek
Winda membuka pintu lalu melihat kedua orang tua Siska yang datang dengan wajah marah.
"Dimana Sean?"tanya ibu Siska.
"Di... didalam"Mereka pun langsung masuk begitu saja dengan mendorong Winda hingga terjatuh. Di dalam rumah, kedua orang tua Siska langsung masuk dan berteriak memanggil nama Sean dan kedua orang tua Sean, Sampai di meja makan mereka langsung melihat keberadaan Sean dan keluarganya.
"Mau apa kalian datang kemari???!?"tanya Sean.
"Dasar laki-laki tak bertanggung jawab, putriku meninggal dan kau malah enak-enakan makam dengan tenang"ucap ayah Siska.
Sean pun memutas kursi rodanya menatap ayah Siska, "Lalu mau kau apa, kau ingin aku memberimu uang sebagai ganti rugi hey tuan aku sudah katakan sebelumnya kalau semua uang yang telah diberikan kedua orang tuaku itu sudah menjadi hutang untuk kalian jadi kalian berhak untuk melunasinya"
"Tidak bisa, kami sudah malu karna pernikahan ini gagal dan kau harus membayar semua kerugian itu jika tidak kami akan melaporkan ke polisi dengan tuduhan pembunuh"ucap ibu Siska.
"Cih, memangnya kalian punya bukti yang mengatakan aku bersalah, tidak bukan"
__ADS_1
"Jika bukan kau siapa lagi memang, hanya kau yang keberatan dengan pernikahan ini"
"Aku memang keberatan dengan pernikahan ini tapi aku tidak akan melakukan pembunuh itu, lagian aku saja baru datang saat itu"
Kedua orang tua Siska pun terus mengolok-olok Sean dan keluarganya supaya Sean mau membayar ganti rugi, sedangkan Winda ia baru saja datang dan melihat situasi itu lalu memilih berhenti dan memperhatikan saja. Kenapa kedua orang tua Siska meminta mas Sean untuk ganti rugi... batin Winda.
"Kami tidak mau tau, pokoknya kau harus membayar semua jika tidak kalian akan kami laporkan ke polisi!!"
"Sebelum kalian melaporkan ke polisi, jangan harap kalian bisa keluar dari rumah ini"ucap Sean.
"Bodyguard, bawa mereka ke ruang bahan tahan!!"4 bodyguard pun datang lalu menyeret kedua orang tua Sean kesuatu tempat. Di sisi lain saat kejadian itu,
"Wah sepertinya ada drama di rumah ini"Ucap seseorang yang baru saja masuk kedalam rumah. Semua orang pun menatap kearah orang itu.
"Dion... "Ucap tuan Andree.
"Untuk apa lo datang kesini"ucap Sean.
Dion pun melihat kesamping lalu melihat Winda yang berdiri dan diam saja, "Hemm.. istrimu cantik juga ya"
"Hey manis, mau saja kau menikah dengan si lumpuh itu mending sama aku saja, kujamin hidupmu akan bahagia"ucap Dion lalu menarik tangan Winda.
"Lepas!!"Winda pun memukul tangan Dion dengan keras hingga terlepas dari tangannya.
"Akkh.. kasar juga kau ya"Winda pun berlari mendekati Sean.
"Untuk apa kau datang kemari bukannya kau sudah berjanji untuk tidak kembali"ucap Tuan Andree.
"Kakakku ternyata kau semakin tua saja ya, aku kesini hanya ingin menemuimu saja aku aku salah aku kan adikmu"
__ADS_1
"Aku sudah tidak menganggapmu sebagai adikmu sejak kau membuat mamah dan papah"
"Kakak kakak, sudah kukatakan kalau aku tidak membunuh mereka, mereka saja yang sudah tua makanya cepat mati"
"Masih saja mengelak, kau tidak ingat kalau mamah dan papah tidak memiliki penyakit sama sekali, dan di CCTV rumah terlihat jelas bahwa kau memasukan racun kedalam minuman mereka dan kau masih tetap mengelak, dasar anak durhaka kau Dion di hari kematian mereka saja kau tidak datang dan kau hanya menginginkan harta mereka saja"
"Suka-sukaku lah lagian kau kan masih ada dan kenapa aku harus datang, untuk harta mereka itu sudah menjadi hak ku tapi kau malah merebutnya"
"Aku tidak merebut hak mu Dion, kau kehilangan bagianmu karna sifatmu yamg selalu merugikan orang dan membuat mamah dan papah malu"
"Terserahlah aku tidak peduli, sekarang aku mau tidur"Dion pun berjalan masuk kedalam lif.
"Mas kamu tidak melarangnya, dia masuk kedalam rumah kita"tanya nyonya Selina.
"Biarkan saja dulu jika dia berulah maka aku akan mengusirnya"jawab tuan Andree. Kedua orang tua Sean pun pergi dari ruang makan dan tinggal Sean dan Winda saja yang masih berada disana.
"Mas Sean mau ke kamar?"tanya Winda.
"Iya"Winda pun membawa Sean ke kamar mereka. Sesampainya di kamar Winda pun membantu Sean untuk pindah ke tempat tidur. Setelah membantu Sean Winda pun pergi dari kamar untuk mengambil air minum supaya Sean bisa meminum obatnya. Saat perjalanan kembali ke kamar langkah Winda dihentikan oleh Dion.
"Hey cantik, dari mana sayang"ucap Dion tetapi Winda hanya diam saja.
"Ternyata selera keponakan cacatku bagus juga, walau cacat dia memiliki istri yang sangat cantik"
"Dari pada kamu melayani suami cacatmu itu lebih baik kamu bersenang-senang denganku saja"
"Ayo cantik kita ke kamar, ku yakin Sean belum mencicipimu, lebih baik biar aku saja yang mencicipimu terlebih dahulu"Dion pun menarik tangan Winda.
Mendapatkan paksaan dari Dion Winda pun menarik tangannya dengan keras, "Maaf om saya bukan wanita malam yang bisa anda permainkan seenaknya saja, saya hanya mau suami sah saya yang mencicipi saya"
__ADS_1
"Pandai juga kau ternyata ya, sudahlah lupakan suami cacatmu itu dan sekarang pergilah bersamaku aku jamin hidupmu akan lebih enak dan selalu mendapat jatah di ranjang"
"Maaf om saya tidak mau"Winda pun langsung pergi meninggalkan Dion yang tengah menatapnya itu. Setelah berhasil kabur dari Dion Winda pun langsung masuk kedalam kamar.