
Setelah kejadian itu, di dalam mobil menuju rumah Winda Sean hanya diam menatap keluar jendela dengan menahan amarahnya, sedangkan Winda hanya diam dan takut jika mengajak Sean mengobrol..... Sepertinya mas Sean sedang marah, aku harus membuat mas Sean tenang jika tidak tekanan darahnya akan tinggi....batin Winda.
Winda pun menggeser posisinya mendekat ke Sean lalu menyentuh tangan Sean dan Sean pun sontak menatap Winda lalu kembali fokus menatap keluar jendela.
"Mas, aku tau kamu pasti marah dengan ucapan om Dion kan, tapi kamu tidak boleh menaham marah seperti itu tekanan darah kamu pasti tinggi jika seperti ini"
Sean pun menatap Winda, "Winda bagaimana aku tidak marah saat aku dihina seperti itu ha"
"Aku tau mas tapi pikirkanlah kondisimu, aku mohon aku gak mau kamu kenapa-kenapa, soal keturunan yang om Dion bilang kamu tenang aja aku pasti bantu kamu kok"
"Lalu apa aku masih bisa memiliki anak"ucap Sean dengan serius dengan menatap Winda.
"Bisa mas, tapi tidak bisa sekarang ini kamu harus menjaga kesehatanmu dulu jangan marah berlebihan dan selalu minum obatmu nanti kita kedokter lagi ya, aku yakin Kon kamu masih bisa memiliki anak"Sean pun mulai tenang lalu menyenderkan kepalanya ke pundak Winda.
20 menit perjalanan, mereka pun sudah sampai di rumah Winda dulu. Winda pun membawa Sean masuk kedalam rumahnya. di dalam rumah, Winda melihat keadaan disana sudah bersih dan Winda melihat ada bibi pembantu yang datang menghampirinya.
"Bibi"ucap Winda lalu memeluknya.
"Ya Allah non, nona kemana saja bibi sudah mencari nona kemana saja loh kok baru pulang sekarang"ucap bibi pembantu.
"Maaf Bi, sebenarnya setelah dari rumah sakit untuk menemui mas Sean kami langsung menikah di rumah sakit jadinya aku harus ikut bersama suamiku dan tak sempat pulang kerumah dan memberitahu bibi"
"Ya Allah non bibi sudah sangat khawatir tapi sudahlah ternyata nona tidak apa-apa dan sekarang nona sedang menikah dengan den Sean bibi ikut senang deh"
"Terimakasih ya bi, maaf sudah membuat bibi khawatir selama ini"
"Tidak apa-apa non"
"Oh ya bi, ini mas Sean bibi gak lupa kan"
"Tentu enggak dong kan den Sean selalu datang kesini dulu jadi bibi masing ingat dong"
"Halo bi, syukurlah kalau bibi masih ingat denganku"ucap Sean.
"Tentu dong cah Bagus"ucap bibi.
"Kamu tidak apa-apa den Sean, apa den Sean masih bisa berjalan normal"
"Belum bi, doakan saja ya"Ucap Sean.
__ADS_1
"Amin... semoga den Sean cepat sembuh, yaudah ayo makan dulu bibi udah masak ini, entah kenapa perasaan bibi menyuruh untuk masak banyak ternyata non Winda dan den Sean akan datang rupanya, aku makan"bibi pembantu pun membawa Sean dan Winda ke meja makan untuk makan. setelah selesai makan Winda dan Sean pun duduk di ruang keluarga.
"kapan kita ke makam sayang"tanya Sean.
"Nanti saja mas, kita kan baru datang lebih baik kita istirahat dulu kamu pasti capek"jawab winda.
"Aku enggak capek sayang, lagian cuma perjalanan 20 menit mana capek bagiku"
"Yaudah kalau kamu nggak capek, gimana kalau kita kerumah sakit dulu sekalian kontrol"
"Yaudah deh aku ikut kamu aja"
"Yaudah kita berangkat sekarang aja"Winda dan Sean pun memutuskan untuk pergi kerumah sakit dahulu. sesampainya dirumah sakit Winda pun langsung membawa Sean menuju ruang pribadi dimilik ayahnya.
"Mas ini rumah pribadi papah disini, biasanya papah selalu memeriksa Pasian disini"
"Besar juga sayang dan bersih lagi"
"Tentu, setiap hari semua ruangan disini pasti akan dibersihkan, mas Sean mau ketemu dokter Indra sekarang"
"Iya sekarang saja"Winda pun membawa Sean menuju keruangan dokter Indra. saat ini domter Indra sedang tidak ada jadwal bekerja karna sudah masuk jam makan siang. mereka pun masuk ke ruangan dokter Indra .
"Selamat siang silakan masuk"dokter Indra pun mempersilahkan Winda dan Sean masuk ke ruangannya.
"Apa tuan muda ingin diperiksa tumben tidak membuat janji dulu"
"Iya dok, kebetulan saja kami kemari ingin mengecek kondisi rumah sakit jadi sekalian kontrol"
"Oh begitu, mari tuan tiduran bisa saya periksa"Winda pun membantu Sean untuk tiduran di tempat tidur rumah sakit dan dokter Indra pun mulai memeriksa. Selesai memeriksa, Sean kembali duduk di sebelah Winda.
"Gimana dok ada perubahan"
"Tentu ada nona, perubahan memang sedikit kecil tapi jika nona terus memberikan rangkangan pasti berhasil nona dan untuk obatnya tetap harus diminum agar hasilnya maksimal"
"Baik dok, saya pasti akan melakukannya"Dokter Indra pun memberikan resep obat pada Winda.
"Dok, apa saya bisa memiliki anak"tanya Sean tiba-tiba.
Dokter Indra pun menatap Sean, "Tentu bisa tuan tapi tuan muda harus rajin meminum obatnya"
__ADS_1
"Saya ingin secepatnya apa progam bayi tabung bisa kami lakukan"Dokter Indra pun terdiam dan Sean masih fokus ingin mendengar jawaban dokter Indra, sedangkan Winda ia terkejut lalu menatap Sean.
"Mas kamu yakin mau program bayi tabung"tanyaWinda dengan terkejut
"Aku yakin sayang"jawab Sean dengan yakin"
"Apa bisa melakukan program bayi tabung dok"tanya Sean.
"Tentu bisa tuan, progamnya bisa dilakukan sekarang juga tapi tuan muda harus dirawat lebih lama dirumah sakit denga nona Winda sekalian"
"Aku tidak keberatan soal dan dan soal uang aku sakit, aku ingin progam itu dilakukan sekarang juga"
"Mas... "Winda menatap Sean dengan terkejut dan Sean pun hanya diam menatap Winda lalu kembali menatap kearah dokter Indra.
"Baik jika tuan mau begitu, sebelum melakukannya sebaiknya tuan sean berbicara dengan nona Winda dulu lalu silakan isi formulir di bagian resepsionis"
"Baiklah, Winda ayo pergi"Winda pun diam tapi ia langsung bangkit dan membawa Sean keluar dari ruangan dokter Indra. Di luar ruangan, Sean menahan kursi rodanya.
"sayang duduk di depanku sekarang!!"Winda pun duduk di depan Sean lalu menatap Sean.
"Aku tau kamu pasti terkejut, tapi aku tidak mau perusahaan jatuh ketangan Dion, aku sudah berjanji dengan kakekku dulu untuk menjaga perusahaan dan dengan kondisiku sekarang aku tidak bisa menjaganya dan Dion pasti bisa mengambilnya kapan saja, jika aku punya anak aku bisa mengalihkan perusahaan itu atas nama anakku aku mohon sayang hanya kamu yang bisa membantuku"ucap Sean memohon pada Winda.
Winda pun menatap sean sambil menggenggam tangan Sean, "Aku tau mas tentang itu, jika kamu ingin memiliki anak secepatnya aku tidak keberatan aku siap mengandung anakmu"
"Terimakasih kasih sayang"Sean pun langsung memeluk Winda dan menangis di dalam pelukan itu.
"Maafkan aku selalu merepotkanmu aku janji aku pasti akan membahagiakanmu dan selalu bersamamu"
"Tidak apa-apa mas aku sudah bahagia kamu mau bersamaku itu sudah cukup"Sean pun langsung mencium kening Winda.
"Mas apa kita tidak memberitahu mamah dan papahmu"
"Tidak usah sayang jika Dion tau dia pasti akan berusaha menghalangiku untuk memiliki anak dan jika kamu sudah mengandung anakku nanti aku akan menyembunyikan kebenaran itu supaya kamu dan anakku tetap aman"
"Baiklah kalau begitu, tapi apa kita bisa ke makan kedua orang tuaku dulu"
"Tentu setelah mengisi formulir kita akan beritahu dokter Indra kita akan pergi sebentar"
"Baiklah"Winda dan Sean pun bergegas ke bagian resepsionis lalu mengisi formulir yang dimaksud dokter Indra lalu menemui dokter Indra untuk meminta izin pergi sebentar.
__ADS_1