
Acara pun segera dimulai, nyonya Selina pun mendorong kursi roda Sean menuju panggung yang sudah tersedia dengan di samping sedang ada Siska yang berjalan disebelah Sean. Keduanya pun naik ke atas panggung dan pembawa acara pun mulai membuka acara itu.
Sampai di tengah acara, saat ini adalah bagian dari inti acara itu. Sean dan Siska sudah resmi bertunangan dan saatnya mereka menikah malam itu juga. Siska pun mendorong kursi roda Sean menuju tempat pelaminannya. Sebelum duduk Siska menempatkan kursi roda Sean dahulu agar Sean tidak jatuh ...Cih merepotkan saja, awas aja kalau sudah nikah aku gak mau kaya gini biar aja istri pertamanya yang melakukan ini dan aku hanya menikmati hartanya saja... batin Siska.
Setelah mencari posisi yang benar untuk Sean Siska pun ingin duduk di sebelah Sean, tetapi.....
Dor
Satu tembakan lepas dan mengenai tepat di kepala Siska. Peluru itu tepat mengenai Siska saat Siska sedang ingin duduk tetapi ia merapihkan gaunnya dulu dan alhasil ia tertembak tepat di kepalanya.
"SISKAAA.... "teriak ibunda Siska. Semua orang pun tampak terkejut termasuk dengan sean yang berada di samping Siska. Sean nampak sangat terkejut hingga terdiam sesaat. Kedua orang tua Siska pun langsung berlari menghampiri Siska diikuti denga kedua orang tua Sean.
"Siska bangun nak.... panggil ambulans sekarang!!!"karna terlalu panik semua tamu pun berhamburan pergi dari pesta itu dan ayah Siska pun langsung menelepon ambulans.
Semua orang pun terfokuskan dengan kondisi Siska, sementara Sean ia masih terdiam menatap Siska yang berlumuran darah itu, di dalam hati Sean ....Siapa yang melakukannya, apa musuh papah tapi papah tidak punya musuh apa musuh orang tua Siska tapi bisa jadi juga biarkanlah, semoga saja Siska mati dengan begitu aku tidak akan jadi menikah lagi dan Windalah yang akan jadi istriku satu-satunya, bagaimana keadaan Winda ya, sayang semoga kamu tidak apa-apa ya aku akan segera datang istriku... batin Sean.
Ambulans yang dipanggil ayahnya Siska pun datang. Siska langsung dibawa kerumah sakit bersama kedua orangtuanya. Sementara Sean dan keluarganya mereka juga mengikuti Siska menggunakan mobil mereka.
Sampai dirumah sakit, Siska langsung dibawa ke UGD dan langsung ditangani oleh dokter. Keluarganya pun menunggu di depan ruangan dan Sean serta kedua orang tuanya datang menemui mereka.
"Jeng yang sabar ya, Siska pasti baik-baik saja kok"ucap nyonya Selina yang menenangkan ibunya Siska.
"Bagaimana aku bisa tenang, Siska anakku satu-satunya dia seperti ini pasti gara-gara kalian kan!!"jawab ibunya Siska.
"Jeng kami tidak melakukannya!!"
"Alah jangan banyak alasan, anakku seperti ini pasti karna putramu yang pembawa sial itu!!"
Deg
__ADS_1
"TOLONG JAGA UCAPMU NYONYA!!"
"Kenapa marah, memang benar semua ini karna ulah putramu yang cacat itu"
PLAK
Karna marah dengan ucapan itu nyonya Selina pun menamparnya.
"Mah hentikan, percuma mamah melakukan itu mereka juga tidak peduli dan akan terus menghinaku"
"Sekarang mamah harus sadar dengan perbuatan mamah, mamah lihat sendiri kan mereka langsung marah dan menghinaku saat putrinya celaka tapi lain jika mamah memberi mereka uang mereka pasti akan diam, mamah liat aja sebelum acara ini dimulai mereka terdiam bahagia karna mamah memberi mereka uang dan sekarang saat putrinya celaka mereka marah dan nantinya pasti akan menuntut harga dengan alasan sudah menjadi tunanganku dan Siska seperti ini karnaku"
"Lebih baik kita pergi saja mah, mamah tenang aja jika mereka menuntut harga maka mereka akan mendapatkan balasan yang lebih dari perbuatannya, dan semoga saja anak kalian itu mati dan menderita di neraka karna semua dosa-dosanya!!"
"JAGA UCAPMU ANAK CACAT"
"Berani kamu menghina putriku, jika bukan karna putriku nama baikmu pasti akan hancur ingat itu!!"
"Tidak bisa begitu, itu sudah menjadi milik kami dan seharusnya kalian ganti rugi dengan kondisi putri kami sekarang"ucap ayah Siska.
"Lihatlah mah, sekarang dia mengatakan yang aku katakan tadi, mamah masih percaya sama mereka, mamah papah mau semua harga kalian di kuasai oleh mereka kalian mau!!!??!"Nyonya Selina dan tuan Andree pun hanya diam tak menjawab perkataan Sean.
"Lebih baik kita pulang sekarang, dan kalian batas waktu lunasin hutang itu satu Bulan jika telat kalian akan tau akibatnya!!"Sean pun pergi meninggalkan mereka dengan diikuti oleh kedua orangtuanya, sementara kedua orang tua Siska mereka hanya diam tak berani berkata sesuatu.
Sampai di parkiran, Sean pun masuk kedalam mobil dibantu oleh supirnya sementara kedua orangtuanya baru datang dan langsung masuk kedalam. Saat mereka ingin pergi.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk kaca mobil mereka, nyonya Selina pun membuka kaca mobil dan melihat seorang bodyguard yang ikut bersama mereka tadi.
__ADS_1
"Nyonya dan tuan, nona Siska telah meninggal saya baru mendapatkan kabar ini barusan"ucap bodyguard itu dan semuanya pun terkejut tetapi tidak dengan Sean, ia hanya tersenyum mendengarnya.
"Masuklah"perintah Tuan Andree dan bodyguard itu pun masuk kedalam mobil. Mobil itu pun berjalan.
Sesampainya dirumah, Sean dan kedua orangtuanya pun hanya saling diam saja. Sean pun turun sebelum pergi masuk kedalam ia merebut tas ibunya lalu mencari kunci ruangan gudang lalu pergi dan nyonya Selina pun hanya diam saja.
Di gudang, Sean langsung membuka gudang itu. Melihat pintu gudang dibuka Winda pun langsung berlari mendekat.
"Winda.. "
"Mas Sean!!"Winda berlari lalu memeluk Sean.
"Mas Sean kemana aja aku takut digudang sendirian"ucap Winda di dalam pelukan Sean.
"Maafin aku sayang"Winda pun langsung melepaskan pelukannya.
Winda menatap Sean lalu tatapannya turun kebawah dan Melihat jari tangan Sean, Winda melihat ada cincin lain melingkar di jari Sean disebelah cincin pernikahan mereka, "Mas Sean sudah menikah lagi??"tanya Winda sambil menangis.
Sean pun memegang pipi Winda, "Tadinya kami memang hampir menikah tapi ada seseorang yang menembak Siska tepat saat kami sudah bertunangan dan akan menikah, dan sekarang Siska sudah meninggal sayang dan hanya kamu istriku satu-satunya"
"Yang nembak Siska bukan karna ulah mas Sean kan??"
"Tidak sayang, aku bersumpah aku tidak terlibat masalah itu, bahkan saat itu dipikiranku hanya ada kamu sayang aku cemas dengan keadaamu"
"Mas Sean gak bohong kan"
"Enggak sayang kamu percaya kan"
Winda pun mengangguk, "Lalu bagaimana dengan kedua orang tua Siska mereka pasti menuduh mas Sean bukan"
__ADS_1
"Ya mereka memang menuduhku tapi aku pastikan mereka tidak akan bisa menghukum aku sayang justru mereka yang akan aku hukum"
"Sekarang jangan menangis lagi ya, kita kekamar lalu istirahat!!"Sean pun mengajak Winda pergi ke kamar mereka dan mereka pun pergi ke kamar mereka lalu istirahat.