Kau Cacat, Tapi Aku Mencintaimu

Kau Cacat, Tapi Aku Mencintaimu
Bab 14


__ADS_3

Malam harinya, Winda pun terbangun dari tidurnya.


"Sudah malam"ucap Winda merapihkan rambutnya.


"Mas Sean ayo bangun ini sudah malam". Sean pun terbangun.


"Jam berapa ini sayang"


"Baru jam setengah 7 mas, aku siapin air buat kamu mandi dulu"


"Iya"


Winda pun pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan keperluan mandi Sean. setelah selesai Winda pun membantu Sean menuju kamar mandi lalu memandikan Sean dengan penuh hati-hati.


Selesai mandi, "Mas kamu mau makan"tanya Winda.


Sean pun menatap Winda, "Iya tapi biar aku suruh pelayan saja yang mengambilkan makanannya lalu kita makan disini"


Winda pun hanya terdiam lalu duduk di samping Sean. Karna tak ingin Winda kembali dimarahi ibunya Sean pun menelepon salah satu pelayan untuk mengantarkan 2 makanan untuk dirinya dan Winda, Selesai itu


Tok tok tok


Pintu kamar mereka diketuk seseorang


"Biar aku buka mas". Winda pun bangkit dan membuka pintu itu lalu terkejut dengan siapa yang berada di balik pintu itu.


"Mamah"ucap Winda dengan suara sangat lirih. Orang yang mengetuk pintu adalah nyonya Selina, nyonya Selina pun menatap tajam kearah Winda lalu mendorong Winda dan masuk kedalam kamar sementara Winda ia tak berani marah ataupun mengeluarkan sepatah katapun.


"Sean sayang, selamat malam putraku"ucap nyonya Selina lalu mencium dahi Sean.


"Sean ayo makan sayang mamah sudah memasakkan makanan kesukaanmu"


"Ayo mamah bantu kamu keluar". nyonya Selina pun ingin mendorong kursi roda Sean.


"Tidak usah mah biar Winda saja"


"Tidak Sean, kita hanya akan makan bersama 3 orang saja mamah tak ingin orang asing ikut bergabung dengan kita"


"Tidak mah jika Winda tidak makan maka aku juga tidak akan makan"

__ADS_1


"Terus saja kamu bela wanita itu, apa sih yang kamu liat dari wanita itu sehingga kamu selalu membelanya"


"Mamah tidak mau tau ya Sean, lupakan dia dan ayo kita makan ini sudah malam". nyonya Selina pun memaksan mendorong Sean.


"Mah lepaskan... Winda"ucap Sean yang kemudian menarik tangan Winda.


"Mas kamu ikut mamah aja, aku akan tetap disini"


"Tapi... "


"Mas Sean ikut aja aku gak papa kok"


Winda pun melepaskan tangan Sean dari tangannya kemudian Nyonya Selina pun langsung mendorong Sean keluar dan menutup pintu kamar Sean dari luar. Winda pun hanya bisa pasrah dan memilih untuk melewatkan makan malam dan tidur lebih cepat sambil menunggu Sean kembali.


Di meja makan, nyonya Selina pun membawa Sean duduk di dekat tuan Andree yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Selamat malam Sean"ucap tuan Andree. Sean pun hanya tersenyum.


"Mamah ambilkan makanan buat kamu dulu ya"ucap nyonya Selina lalu pergi.


"Papah ke kamar mandi dulu kamu tetap disini"ucap tuan Andree. Tuan Andree pun pergi meninggalkan Sean sendirian di meja makan. Saat Sean duduk sendiri.


"Ya"jawab Sean.


"Makanan yang tuan muda pesan jadi dibawa ke kamar tidak tuan"


"Bawa saja tapi satu porsi saja berikan kepada istriku tapi ingat jangan sampai orang lain tau"


"Baik tuan, saya permisi". pelayan itu pun pergi dan nyonya Selina pun datang membawa makanan Sean.


"Mana papahmu Sean"ucap nyonya Selina sambil menuangkan minum.


"Papah ke kamar mandi mah"


"Yaudah sekarang kamu makan biar mamah yang menyuapiku"


Sean pun hanya diam dan nyonya Selina pun menyuapi Sean, beberapa saat kemudian tuan Andree pun datang lalu duduk dan makan. sementara itu, pelayan yang disuruh Sean tadi sedang menyiapkan makanan untuk Winda. Setelah selesai pelayan itu pun pergi menggunakan pintu belakang dan naik ke lantai atas menggunakan lif belakang rumah.


Tok tok tok

__ADS_1


Pelayan itu pun mengetuk pintu kamar, pintu itu pun dibuka oleh Winda.


"Permisi nona, ini makanan dari tuan silakan dimakan"ucap pelayan itu.


"Tapi... apa mamah tidak marah"ucap Winda.


"Tidak nona, nyonya tidak tau tentang ini tuan muda meminta saya untuk membawakan makanan ini tanpa sepengetahuan nyonya"


"Oh baiklah, terimakasih". Winda pun mengambil makanan itu lalu membawanya masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya kembali.


Di dalam kamar, Winda pun meletakan makanan itu di meja. Jika mamah tau dia pasti marah tentang makanan ini"batin Winda. Ya Allah kenapa semuanya jadi begini, mamah papah aku takut kehilangan mas Sean, aku tidak punya siapa-siapa sekarang selain mas Sean, aku tak ingin berpisah dengannya, mah pah doakan Winda supaya kuat menghadapi masalah ini, Winda pasti akan sabar menghadapinya"batin Winda. Setelah merenung sesaat Winda pun memutuskan untuk memakan makanan itu dan setelah selesai Winda pun mencuci piring itu lalu meletakan piring itu di meja dan tak berani mengembalikan ke dapur karna takut bertemu dengan keluarga Sean lagi.


Setelah merasa kenyang, Winda pun duduk di sofa sambil menunggu Sean. "Mas Sean mana ya kok lama"ucap Winda sambil menatap kearah pintu. 10 menit kemudian, Winda pun sudah tertidur dengan posisi duduk di sofa dan pintu kamar pun diketuk dengan keras.


Dok dok dok


Pintu kamar diketuk dengan sangat keras dan membuat Winda terbangun dari tidurnya. Setelah bangun Winda pun langsung berlari membukakan pintu.


Ceklek


Winda pun membuka pintu lalu melihat Sean bersama ibunya.


"Kenapa kamu mengunci kamar Sean seenaknya, ini kamar Sean bukan kamarmu"ucap nyonya Selina.


"Maaf mah"ucap Winda sambil menunduk.


"Jangan panggil saya dengan sebutan mamah lagi, aku tak menganggapmu sebagai menantuku lagi"


Deg


Winda pun hanya bisa diam mendengarkan ucap nyonya Selina dan nyonya Selina pun membawa Sean masuk.


"Mah kenapa mamah ngomong begitu sih, Winda itu istriku mah"


"Diam kamu Sean mamah tidak perduli"


Nyonya Selina pun membantu Sean duduk di kasur lalu duduk di sebelah Sean sementara Winda, ia pun hanya berjalan menuju sofa lalu duduk di sofa dan tak berani menatap kearah Sean dan ibunya. Nyonya Selina yang duduk disebelah Sean pun tak peduli dengan Winda tetapi Sean merasa hal sebaliknya ia terus menatap kearah Winda, ia ingin memanggil Winda untuk duduk di sebelahnya tetapi ia tak mau membuat ibunya marah kembali dan Sean pun memutuskan untuk membiarkan saja.


"Sean, tapi siang mamah bertemu dengan teman-teman mamah dan mereka semua punya anak perempuan yang cantik dan juga seorang model, kamu tau mamah sampe bingung memilihkannya untukmu semua anak-anak teman mamah itu cantik-cantik baik lagi dan gak kampungan, mamah juga punya fotonya kamu tinggal pilih saja nanti mamah kasih tau ke keluarganya dan kalian bisa menikah segera"ucap nyonya Selina panjang lebar. Nyonya Selina pun menyuruh Sean untuk melihat foto-foto anak teman-temannya dan Sean pun hanya bisa pasrah tetapi Sean masih saja menatap kearah Winda sesaat. Sedangkan Winda, saat ia mendengar ucapan itu Winda hanya bisa diam dan menahan rasa sakit di dadanya.

__ADS_1


__ADS_2