
"Dasar pelakor"
"Sean itu lebih cocok dengan Luna bukan kamu yang kampungan ini"
"Apa lagi keluarga Sean keluarga terpandang kamu enggak cocok bersanding dengannya"
"Udah berapa banyak kamu ngabisin uang Sean ha"
Winda pun terpojok dengan semua pertanyaan-pertanyaan itu.
"Kenapa kamu diam saja ha, takut kamu ketahuan semua aipmu"
"Ada apa ini kenapa kalian memarahi menantuku"tanya nyonya Selina yang baru datang.
"Datang juga kamu, Selina apa kamu tidak salah menikahkan Sean putramu itu pada wanita kampungan ini, walaupun Sean lumpuh tapi dia lebih cocok bersanding dengan Luna bukan dia wanita kampungan sepertinya"jawab temannya.
"Maksudmu apa, kalian tidak tau alasanku kenapa membatalkan pernikahan Sean dengan Luna"
"Selina dengar ini mungkin kau akan tau dari kami, lihat menantu yang kamu banggakan itu dia itu cuma mau uangnya Sean saja buat cinta Sean, liatlah di sakunya ada banyak kartu pasti kartu itu hasil dari mencuri di dompet Sean"
Nyonya Selina pun melihat Winda, "Winda apa yang dia katakan benar"tanya nyonya Selina pada Winda, dan Winda pun hanya diam ketakutan.
"Kelamaan kamu Selina, cepat ambil aja langsung di sakunya". karna Winda tak menjawab pertanyaannya nyonya Selina pun langsung merogoh saku celana Winda dan menemukan 3 buah kartu disana.
"Ini apa Winda, dari mana kamu mendapatkan ini inikan milik Sean"ucap nyonya Selina dengan marah.
"Mah aku tidak mencuri mah, mas Sean yang memberikan itu padaku mah"ucap Winda memohon sambil menangis.
"Lalu ini apa Winda, jika pun Sean memberimu dia pasti memberikan satu buah saja dan tidak sebanyak ini"bentak Nyonya Selina.
"Mah mas Sean menyuruhku untuk mengatur semua uangnya jadi dia memberikan semua kartunya"bela Winda dengan menangis.
PLAKK
"DASAR KAMU WANITA TAK TAU DIRI, MANA MUNGKIN SEAN MELAKUKANNYA AKU IBUNYA SEAN AKU TAU SEAN SEPERTI APA"
__ADS_1
"Mah.... a..aku"
"Aku menikahkanmu dengan Sean karna kamu harus bertanggung jawab atas kecelakaan Sean dan sekarang kamu mau memanfaatkan Sean"
"Mah aku gak melakukan itu mah, percayalah padaku"ucap Winda sambil berlutut di kaki nyonya Selina.
"Masuk sekarang kamu winda, MASUK". nyonya Selina pun menarik paksa Winda masuk ke dalam rumah dan para tamu pun memutuskan untuk pulang.
Di dalam, nyonya Selina menarik Winda lalu mendorong Winda hingga jatuh tepat di kaki Sean.
"Mah apa ya mamah lakukan"ucap Sean kemudian membantu Winda bangun. Karna takut Winda pun memeluk Sean dan tak berani menatap nyonya Selina.
"Cih, sekarang kau takut semua rencanamu terbongkar hingga kamu memeluk putraku dan tak berani menatapku ha"
"Maksud mamah apa ha"
"Sudahlah Sean kamu jangan membela wanita tak tau diri ini"
"Aku akan terus membela Winda karna dia istriku"
"Terus saja kamu bela istri tak tau diri itu, Sean istrimu itu sudah berani memanfaatkanmu sekarang"
"Winda tidak mencuri mah, aku yang memberikan dengan sadar"
"Lalu kenapa kamu memberikan semuanya Sean"
"Karna Winda istriku, aku mau dia yang mengurus semua kebutuhanku termasuk uangku"
"Kenapa mamah selalu memarahi Winda, apa salah Winda mah"
"Dia selalu salah Dimata mamah, mamah menikahkan dia denganmu hanya untuk mengurusmu bukan memanfaatkanmu"
"Winda tidak pernah memanfaatkanku mah, mamah saja yang salah mengartikannya"
"Tidak, jika dia tidak memanfaatkanmu setidaknya dia jangan mempermalukan mamah di seluruh hadapan tamu tadi, dia wanita tidak tau diri"
__ADS_1
"Winda tidak akan pernah mempermalukan mamah, pasti tamu-tamu mamah lah yang selalu ikut campur dan menghina Winda mah"
"Tidak usah membelanya Sean, mereka semua benar lebih baik mamah menikahkanmu dengan wanita lain yang setara denganmu bukan dengannya"
"Mamah akan mencarikan wanita yang cocok untukmu dan kamu Sean segeralah akhirnya pernikahanmu dengan wanita itu"
"Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan berpisah dengan Winda"
"Terserah kamu mau bicara apa, tapi keputusan mamah sudah bulat mamah akan mengurusnya dengan cepat dengan begitu wanita tak tau diri itu bisa keluar dari rumah ini secepatnya"Ucap nyonya Selina lalu pergi menaikkan tangga.
Sean pun hanya diam menatap ibunya pergi sambil memeluk erat Winda dan Winda pun terus menangis di pelukan Sean.
Setelah nyonya Selina pergi, tuan Andree yang dari tadi hanya diam pun bangkit dari duduknya lalu menatap Sean, "Ibumu benar Sean, jangan memperbesar masalah walaupun ini masalah kecil tapi istrimu itu bisa membuat keluarga kita hancur bahkan perusahaan pun juga akan hancur"ucap tuan Andree lalu berjalan pergi.
Sean pun tak menjawab sama sekali, "Sudahlah sayang, jangan dengarkan semua itu aku tidak akan meninggalkanmu kita akan selalu bersama"ucap Sean sambil menghapus semua air mata Winda.
"Ta ....pi mas, mamah pasti malu karnaku.... hiks hiks"
"Aku akan menyelesaikan masalah ini segera, jangan Menangis lagi lebih baik kita ke kamar sekarang". Winda pun menghapus air matanya lalu mendorong kursi roda Sean menuju kamar mereka. Di kamar, Setelah masuk kamar Winda pun langsung mengunci pintu kamar dengan rapat lalu menghidupkan tombol kedap suara, kemudian membantu Sean naik ke tempat tidur.
"Sudahlah jangan menangis lagi, aku tak rela melihat air matamu keluar membasahi wajahmu sayang."
"Mamah memang marah sekarang tapi nanti juga amarah mamah mereda sayang, kamu tenangnya jika kamu masih tidak berani bertemu dengan mamah maka tetaplah di kamar jika butuh sesuatu suruh pelayan saja jangan keluar nanti mamah marah lagi"
"Iya mas". Sean pun memeluk Winda dengan erat.
"Apa yang sebenarnya terjadi Winda kenapa mamah tiba-tiba marah besar"
"Tapi saat aku menemui mamah, aku duduk bersama teman-teman mamah dan mereka bilang kalau aku tak pantas bersanding denganmu dan kamu hanya cocok dengan nona Luna saja mereka juga bilang aku pelakor"
"Setelah itu mamah datang dan semua teman-teman mamah berkata hal itu lagi lalu bilang ke mamah kalau aku mencuri semua uangmu, mamah marah lalu mengambil semua kartu yang kamu berikan mas dan menamparku lalu membawaku kedalam menemuimu"
"Dari mana teman-teman mamah tau kalau kamu memegang semua kartu-kartuku"
"Aku tidak tau mas, mereka tiba-tiba berkata aku pencuri lalu menyuruh mamah memeriksa kantongku lalu menemukan kartu yang kamu kasih"
__ADS_1
"Jika pun ada yang melihat diantara mereka pasti tidak mungkin, Meraka datang setelah 2 jam saat aku memberikan kartu itu kepadamu dan setelah itu kita sarapan dan kembali ke kamar, pasti ada yang membocorkannya kepada mereka aku harus menyelidikinya"
"Istirahatlah sayang jangan pikirkan itu lagi". Winda pun mengangguk lalu tidur di samping Sean dan Sean pun menyusul setelah Winda benar-benar terlelap.