
Situasi yang sama, nyonya Selina pun masih menyuruh Sean untuk melihat-lihat foto itu. Sean pun hanya diam dan melihat foto-foto itu sesekali melihat Winda juga.
"Gimana Sean mereka cantik kan, kamu pilih yang mana nanti biar mamah yang urus"
Sean pun hanya terdiam tanpa ekspresi.
"Sean jawab dong sayang, jangan diam aja kamu gak suka dengan yang ada difoto-foto ini kalau memang gitu mamah akan mencarikannya lagi"
"Mah, sudah berkali-kali aku tidak ingin menikah lagi, apa gunanya mamah mencari seperti itu jika semuanya cuma mau menikah denganku karna harta"
"Seberapa besar pun usaha mamah aku tak mau menikah lagi dan istriku hanya Winda sampai kapanpun itu tak akan terganti"
"Sean... please, mamah melakukan ini demi kamu"
"Mentang-mentang aku sudah bisa berbicara mamah jadi seenaknya menikahkanku berkali-kali"
"Sean... "
"Lebih baik mamah keluar saja dari kamarku, aku gak mau membahas hal ini lagi"
Sean pun merasa muak dengan sifat ibunya yang seakan menjadikannya boneka yang ingin dinikahkan berkali-kali. nyonya Selina pun terus membujuk Sean tetapi Sean pun menjadi bertambah marah, tak punya pilihan lain nyonya Selina pun pergi meninggalkan kamar Sean dengan membawa foto-foto itu.
Setelah nyonya Selina, Sean pun mendekat ke Winda.
"Sayang aku minta maaf atas nama mamah"ucap Sean menggenggam tangan winda.
"Sudahlah mas aku paham kok, lebih baik kamu istirahat sekarang ini sudah malam kamu sudah minum obat belum"
"Aku sudah minum obat"
"Yasudah lebih baik kamu tidur sekarang"
Sean pun hanya menurut, Winda pun membantu Sean naik ke tempat tidur lalu mereka pun tidur bersama saling sebelahan.
Pagi harinya, Sean bangun lebih awal dari Winda. Sean masih dengan posisi tidur dan menatap Wajah Winda yang masih terlelap. Winda tidur dengan menghadap Sean, pipi tembem yang semakin tembem karna tepepet bantal, rambut hitam tergerai menyamping, bibir tipis merah muda, serata bulu mata lentik menghiasi wajah cantik Winda. Melihat Winda yang tertidur dengan imut membuat Sean gemas, Sean pun meniup-niup wajah Winda lalu mengelus-elus pipi dan hidup Winda. 1 menit kemudian, Winda tak kunjung bangun dan Sean pun masih saja menjaili Winda.
"Seperti nyeyak sekali tidurnya sampai enggak terasa tapi jadi tambah imut deh"ucap Sean. Sean pun terus menggangu Winda hingga Winda terbangun dan,
Cup
Saat Winda terbangun Sean langsung mencium bibir merah muda Winda itu. Winda pun terkejut tetapi hanya diam dan membalas serangan Sean itu. beberapa saat kemudian Sean pun melepaskan ciuman itu.
"Kenapa tiba-tiba menciumku di pagi buta ini"ucap Winda.
__ADS_1
"Kamu imut saat tidur jadi aku cium deh tadi aku juga tiup-tiup wajah kamu tapi kamu gak bangun-bangun"
"Masa sih kok aku enggak kerasa"
"Itu karna kamu terlalu nyenyak jadi enggak terasa"
"Sudahlah mas, ayo mandi ini sudah pagi"
"Mandi bareng?"
"Ish... kamu mandi dulu lah baru aku"
"Mandi bareng aja sayang biar cepat"
"Gak mau nanti tangan kamu nakal, udah ayo mandi"
"Iya sayangku"ucap Sean dengan tertawa. setelah mendapat godaan dari Sean dan menjadi kesal Winda pun membantu Sean duduk di kursi roda lalu membawa Sean ke kamar mandi lalu memandikannya.
Selesai mandi dan bersiap-siap, "Sayang hari ini kita ke meja makan ya jangan di kamar lagi"ucap Sean.
"Tapi.. apa mamah tidak akan marah mas"
"Sayang jika pun mamah marah aku akan selalu melindungi kamu kamu tenang ya". Winda pun mengangguk lalu mendorong kursi roda Sean keluar kamar menuju meja makan. Di meja makan Sean dan Winda datang bersama dan semua matapun tertuju ke arah mereka.
"Sean sudah bangun sayang"ucap nyonya Selina yang berjalan mendekati Sean. Siapa mereka"batin Sean melihat dua orang perempuan yang duduk di ruang keluarga. Nyonya Selina pun merebut kursi roda Sean dari Winda lalu mendorong Sean mendekat ke dua perempuan itu.
"Tampan kok, iyakan sayang"ucap salah satu perempuan itu.
"Iya mah"ucap malu-malu perempuan disebelahnya.
"Jadi gimana Siska kamu mau kan jadi istri Sean"ucap nyonya Selina dan Sean yang mendengarnya pun langsung menatap nyonya Selina.
"Iya Tante aku mau kok"ucap perempuan itu malu-malu.
"Pastinya dong jeng lagian kan Siska itu udah suka sama Sean dari dulu pasti mau lah dia dan aku yakin sebagai ibunya kalau Siska bisa menjaga Sean dan merawatnya"ucap perempuan disebelah Siska yaitu ibunya Siska.
"Baguslah kalau begitu"ucap nyonya Selina.
"Mah apa-apa ini"Ucap Sean.
"Diam kamu"bisik nyonya Selina. Nyonya Selina pun melihat kearah Winda yang hanya berdiri dan mendengarkan pembicaraan mereka dari tadi.
Nyonya Selina pun mendekat ke Winda, "Buatkan minuman untuk mereka sekarang jangan pake lama"bisik nyonya Selina.
__ADS_1
"Iya mah"Jawab Winda dengan nada takut. Winda pun pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Di dapur tidak ada siapa-siapa Winda pun langsung membuat jus untuk kedua tamu nyonya Selina. Saat Winda tengah membuat jus.
"Selamat pagi nona"sapa ayu yang baru datang.
"Pagi ayu"jawab Winda.
"Nona sedang apa"
"Saya sedang bikin jus untuk tamu"
"Biar saya aja nona"
"Tidak usah ayu biar saya saja lagian ini sudah jadi kok, eh ayu titip minumannya dulu ya aku mau ke kamar mandi"
"Iya nyonya". Winda pun pergi ke kamar mandi dapur dan ayu pun masih disana menunggu Winda kembali. Selesai dari kamar mandi, Winda pun kembali.
"Makasih ya ayu saya pergi dulu"
"Iya nona saya juga permisi lanjut bekerja"
"Iya". Winda pun pergi menuju ruang keluarga, di ruang keluarga Winda pun langsung menaruh minuman itu di meja depan kedua tamu itu. Saat Winda ingin menjauh dari meraka Sean pun langsung menarik tangan Winda tetapi karna tak ingin nyonya Selina marah lagi Winda pun melepaskan tangan Sean dari tangannya dengan paksa dan Sean pun hanya menatap Winda dan tak berani berkata sesuatu.
"Jadi gimana jeng kapan pernikahannya berlangsung"tanya ibu Siska yang bernama Mira.
"Secepatnya pastinya nanti kami akan kabari jika akan datang kerumah kalian untuk melamar Siska"jawab nyonya Selina.
"Ayo ayo diminum dari tadi ngobrol aja gak minum-minum"
"iya kamu akan meminumnya". Siska dan mira pun berhenti mengobrol lalu meminum minuman yang dibawa Winda. Saat mereka sudah minum, byuuurrrr...
"Apa-apaan ini, Selina kenapa minumannya pedas ini kan jus"ucap mira yang kepedasan.
"Pedas.. ". nyonya Selina pun langsung menatap Winda lalu mendekatinya.
"Berani sekali kamu memasukan bubuk cabai diminuman tamuku"ucap nyonya Selina sambil menarik rambut Winda.
"Tidak mah... aku tidak melakukan itu"jawab Winda menangis.
"Jika bukan kamu siapa lagi ha, kan kamu yang membuat minuman itu"
"Mah lepaskan"ucap Sean yang mendekati mereka.
"Diam kamu Sean"ucap nyonya Selina yang semakin kuat menarik rambut Winda.
__ADS_1
"Lepaskan mah atau... "bentak Sean. Nyonya Selina pun melepaskan tarikan itu dan Winda pun menangis lalu memeluk Sean.
"Sudah jangan menangis ayo kita ke kamar"ucap Sean. Winda pun langsung menghapus air matanya lalu mendorong kursi roda Sean menuju kamar.