Kau Cacat, Tapi Aku Mencintaimu

Kau Cacat, Tapi Aku Mencintaimu
Bab 6


__ADS_3

Keesokan harinya, Winda bangun lebih awal. ia pun memutuskan untuk segera mandi, selesai mandi ia pun mengambil air hangat untuk memandikan Sean.


1 jam berlalu, jam 6 pagi. Winda dan Sean sudah selesai mandi sekarang dan saat ini Winda tengah menyisir rambut Sean.


"Rambut dan kumismu sudah panjang, aku akan memotongnya besok"ucap Winda.


"Segeralah kamu potong Winda aku risih dengan ini"jawab Sean.


"Kenapa harus risih, kamu terlihat tampan dengan kumis tipis ini"ucap Winda.


"Tidak aku tetap tidak menyukainya"jawab Sean. Winda pun melanjutkan menyisir rambut Sean dan Sean pun hanya menatap kearah wajah Winda. Saat itu, kedua orang tua Sean pun datang.


"Winda, pakailah baju pengantinmu sekarang, mereka akan membantumu, biar saya yang membantu Sean memakai bajunya"ucap nyonya Selina.


"Baik nyonya"jawab Winda. Winda pun pergi dengan pelayan yang sudah disediakan oleh nyonya Selina untuk membantu Winda mempersiapkan diri. Nyonya Selina dan Tuan Andree pun membantu Sean memakaikan baju pernikahan.


Jam 8 pagi, Winda sudah selesai dengan persiapan itu dan Sean pun juga sudah rapih serta pak penghulu yang sudah datang. Pak penghulu dan kedua orang tua Sean pun duduk di dekat Sean. Winda pun keluar dari sebuah ruangan di kamar Sean. Sean pun menatap Winda dengan kagum dan Winda pun tersenyum.


Winda yang sudah memakai pakaian pernikahannya dan ber-make up tipis pun duduk di sebelah Sean, Sean pun tak berhenti menatap Winda. Ijab khobul pun dimulai, tuan Andree pun membantu Sean untuk meraih tangan pak penghulu lalu mengucapkan apa yang diucapkan pak penghulu hingga semua orang berkata.


Sah


Winda pun ingin selali mengeluarkan air matanya, tetapi ia memutuskan untuk menahannya agar tidak merusak make up diwajahnya. Setelah sah menjadi pasangan suami-istri, Winda pun merain tangan Sean lalu menciumnya.


"Kita foto dulu sekarang"ucap nyonya Selina. Semua orang pun duduk mendekat ke Sean lalu foto bersama.


Selesai acara itu, Winda dan Sean sudah mengganti pakaian mereka sekarang dan saat ini mereka sedang berada di ruang rawat Sean, Sean sedang diperiksa oleh dokter.


"Bagaimana dok"tanya nyonya Selina.


"Keadaan tuan muda sudah membaik, sekarang sudah boleh pulang tetapi setiap seminggu sekali tuan muda harus melakukan pemeriksaan secara rutin"jawab dokter itu.


"Alhamdulillah"ucap semua orang disana. Dokter itu pun pergi.


"Winda siapkan semua barang-barang Sean ya, kita akan pulang sekarang, kami akan mengurus administrasi dulu"ucap nyonya Selina.


"Baik nyonya"jawab Winda.


"Bawa juga baju-bajumu, dan jangan panggil saya dengan nyonya lagi panggil mamah saja seperti Sean"ucap nyonya Selina.

__ADS_1


"Iya.. mah"jawab Winda malu-malu sambil menunduk. Kedua orang tua Sean pun pergi untuk mengurus administrasi Sean, dan Winda pun mulai membereskan barang-barang Sean dan dirinya. Setelah selesai, Winda pun pergi mengambil kursi roda yang sudah disediakan oleh nyonya Selina lalu kembali lagi ke ruangan Sean.


"Sean, ayo kamu harus duduk di kursi roda"ucap Winda.


"Iya sayang"jawab Sean. Winda pun menatap kearah Sean dan Sean pun tersenyum. Winda pun membantu Sean duduk di kursi roda lalu menunggu kedatangan kedua orang tua Sean.


Setelah datang mereka semua pun pergi meninggalkan rumah sakit untuk kembali ke kediaman utama keluarga Aditama.


25 menit perjalanan, mereka sudah sampai di ke kediaman utama keluarga Aditama. Winda pun membantu Sean turun dari mobil lalu mendudukkannya di kursi roba. Winda pun menatap kagum kearah rumah mewah Sean itu.


"Winda, dorong Sean masuk ya"ucap nyonya Selina.


"Iya mah"jawab Winda. Winda pun mendorong kursi roda Sean.


Saat berada di depan pintu rumah itu, kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh para pelayan dirumah itu. Winda sangat kaget dan kagum dengan semua itu, saat Winda memasukin rumah itu ia hanya bisa diam dan berfikir kalau rumahnya hanya seperempat dari rumah mewah ini. Sebelumnya, dulu saat Sean dan Winda bersama, Sean selalu datang kerumah Winda dan kedua orang tua Winda pun mengijinkannya, Sean dan kedua orang tua Winda sangatlah dekat, tetapi Sean tidak pernah mengajak Winda untuk datang kerumahnya dan mengenalkan Winda pada keluarganya karna takut orang tuanya tidak menerima Winda, tetapi semua itu telah berakhir sekarang, Winda pun sudah menginjakkan kakinya di dalam rumah Sean yang sekarang juga sudah menjadi rumahnya.


Di dalam, nyonya Selina pun membawa Winda dan Sean menuju kamar Sean.


"Winda ini kamar Sean, masuklah dan bawa Sean untuk istirahat, jika kamu butuh sesuatu para pelayan akan datang setiap sejam-nya untuk mengecek keadaan kamu dan Sean, kamu bisa tanya kepada mereka"ucap nyonya Selina.


"Iya mah, kami masuk dulu"jawab Winda. Winda pun membawa Sean masuk lalu menutup pintu kamar Sean.


"Winda, mulai sekarang kamar ini milik kamu juga, di bagian kanan adalah kamar mandi dan dibagian kiri adalah ruangan ganti atau fitting room"ucap Sean dan Winda pun mengangguk.


"Sayang, aku mau tidur di kasur"ucap Sean.


"Iya sebentar"jawab Winda sambil menunduk.


Winda pun membantu Sean untuk berdiri lalu tiduran di kasur.


"Aku berat ya"tanya Sean.


"Sedikit, tapi lama-lama aku juga kuat kok"jawab Winda. Winda pun menyelimuti Sean lalu pergi untuk menyimpan kursi roda Sean.


"Winda sayang, kemarinlah"ucap Sean. Winda yang sedang menata pakaiannya dan pakaian Sean di lemarin pun mendekati Sean.


"Ada apa kamu butuh sesuatu"ucap Winda.


"Aku tidak nyaman dengan alat yang papah berikan ini aku ingin melepasnya"

__ADS_1


"Kenapa bukankah itu bisa membuatmu berbicara"


"Tidak aku tetap ingin melepasnya"


"Baiklah aku akan melepaskannya"


Winda pun membantu Sean melepaskan alat yang berada di lehernya itu. Setelah terlepas.


"Aku mau lanjutin beres-beres baju kamu dulu, kamu istirahat aja ya"ucapan Winda dan Sean pun tersenyum. Winda pun pergi.


Selesai menata pakaian itu, Winda pun kembali ke Sean. saat ini Sean tengah tertidur pulas.


"Dia masih tidur, apa yang harus aku lakukan sekarang"ucap Winda pada dirinya sendiri.


"Tidur sajalah"ucap Winda. Winda pun naik ke kasur lalu tidur di sebelah Sean. Lama kelamaan Winda pun mulai masuk kedalam alam mimpi.


Sore harinya, Winda dan Sean masih terlelap bersama. saat mereka tengah tertidur.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Winda pun mendengarnya lalu terbangun.


"Kaya ada yang ngetup pintu"ucap Winda. Winda pun bangun lalu berjalan ke arah pintu, merasa kasurnya bergerak Sean pun terbangun lalu melihat Winda yang turun dari kasur lalu berjalan kearah pintu.


Ceklek


"Winda, Sean sudah bangun"tanya nyonya Selina. Winda pun melihat kearah Sean dan Sean pun tersenyum.


"Sudah mah baru saja bangun kok"jawab Winda.


"Ya sudah, segeralah mandi kami tunggu di meja makan"ucap nyonya Selina lalu pergi. Winda pun menutup pintu kamar.


Winda pun melihat kearah Sean, "Maaf mas sudah membangunkanmu"ucap Winda.


Mendengar kata 'mas' Sean pun langsung menatap Winda dengan Bingung.


"Aku tau apa yang mau kamu bicarakan, tapi mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan Mas Sean"ucap Winda lalu tersenyum malu, Sean pun tersenyum mendengar itu.


"Mas ayo mandi mamah sudah menunggu dibawah"ucap Winda. Winda pun membantu Sean untuk bangun lalu membawanya ke kamar mandi untuk memandikan Sean.

__ADS_1


__ADS_2