
Dua minggu kemudian, Sean dan Winda masih berada dirumah sakit. kondisi Winda sudah kembali pulih seperti normal tetapi Sean masih harus di rawat di rumah sakit agar hasil program mereka berhasil. seminggu ini kedua orang tua Sean masih tidak tau tentang apa yang sedang putra dan menantunya lakukan dan yang mereka tau Sean dan Winda hanya berada di rumah Winda dan menghabiskan waktu berdua saja.
Di ruang rawat, Sean sedang diperiksa oleh dokter Indra dan Winda melihatnya dari kejauhan. setah selesai memeriksa Winda pun mendekat dan bertanya dengan dokter Indra.
"Bagaimana dokter"
"Kondisinya sudah baik tetapi masih belum bisa membuahi sel telur anda, mungkin beberapa Minggu lagi baru bisa membuahi"
"Kalau begitu saya permisi dulu, satu jam lagi saya akan datang untuk memeriksa tuan Sean kembali"
"Iya dok terimakasih"dokter itu pun pergi, Sean pun hanya diam saja dan tiduran di ranjangnya.
"Mas Sean bosen ya"tanya Winda.
"Lumayan sayang"
"Mau jalan-jalan sebentar nggak?"
"Emang boleh"
"Boleh kok, kan biar badan mas Sean kembali fres"
"Yaudah aku mau"Winda pun membantu Sean duduk di kursi roda lalu membawa Sean keluar dari ruangannya. Di taman rumah sakit, Winda membawa Sean berjalan-jalan disekitar sana.
"Sayang mamah dan papah tidak curiga bukan"tanya Sean.
"Tidak mas, seminggu ini mamah hanya telfon sekali dan hanya menanyakan kapan kita kembali ke rumah"jawab Winda.
"Syukurlah kalau mereka tidak curiga"
__ADS_1
"Tapi mas, kamu nggak takut meninggalkan mamah dan papah bertiga dengan om Dion, kata kamu om Dion pernah membunuh nenek dan kakekmu bukan"
Sean pun menjadi sedikit cemas, "Sebenarnya aku juga beras meninggalkan mamah dan papah bersama laki-laki itu, tapi mau gimana lagi semoga saja mamah dan papah tidak kenapa-kenapa"
"Aminn.. setelah kamu boleh keluar dari rumah sakit kita akan kesana langsung"
"Iya sayang"mereka pun melanjutkan jalan-jalan selama 15 menit menghirup udara segar disana, setelah puas berjalan-jalan Winda pun membawa Sean kembali ke ruangannya. Di ruangannya Winda langsung membantu Sean untuk tiduran di ranjang rumah sakit, ia pun meminta izin untuk menemui dokter Indra sebentar dan menyuruh Sean untuk tidur agak tidak kelelahan. setelah mendapatkan izin dari Sean Winda pun langsung pergi keruangan dokter Indra.
Tok tok tok
Winda pun mengetuk pintu ruangan dokter Indra dan langsung masuk setelah diberi izin oleh dokter Indra.
"Ada yang bisa saya bantu nona"tanya dokter Indra.
"Begini dok, apa dalam beberapa hari ini mas Sean bisa pulang kerumah dulu"
"Saya sedikit khawatir meninggalkan mertua saya berdua dirumah jadi apa bisa suami saya pulang dalam beberapa hari ini"
"Jadi suami saya tidak bisa pulang dalam beberapa hari ini dok?"
"Tidak bisa nona, ini demi kelancaran proses ini"
"Baiklah kalau begitu, dok saya akan keluar dulu saya titip suami saya ya dia sedang tidur di ruangannya"
"Baik nona"
Setelah menanyakan beberapa pertanyaan dengan dokter Indra, Winda pun langsung pergi keluar dari rumah sakit menaiki mobil milik Sean bersama supir. 20 menit berlalu, Winda pergi menuju rumah kedua orang tua Sean tetapi setelah sampai tujuan Winda menyuruh supir untuk berhenti di simpang jalan lalu berjalan sendirian masuk kedalam rumah melalui pintu belakang. Setelah berhasil masuk kedalam rumah Winda langsung disambut dengan suara teriakan dari kedua mertuanya, Winda pun bergegas mendekat ke sumber suara.
Di ruang keluarga, Winda melihat Tuan Andree dan nyonya Selina sedang beradu mulut dengan Dion. Winda langsung bersembunyi di bawah tangga lalu menguping pembicaraan mereka...Apa yang mereka lakukan hingga beradu mulut seperti ini...batin Winda.
__ADS_1
"Sudahlah kak, apa gunakan kakak masih merawat anak cacat itu gak ada gunanya bukan bahkan dia hanya memberi rasa malu saja untuk kalian"
"Buang saja dia, untuk urusan perusahaan aku kan masing bisa menggantikannya"ucap Dion.
"Sampai kapanpun, aku tak kan pernah memberikan perubahan itu kepadamu, walau Sean lumpuh dia yang berhak atas perusahaan itu, INGAT ITU!!!"ucap Tuan Andree dengan keras.
"Ckk, masih keras kepala saja kau kak, aku tau kalau perusahaan itu memang atas nama Sean tapi sekarang kan Sean sudah cacat apa gunanya ha bahkan yang mengurus perusahaan sekarang saja kakak, dan karna kakak yang mengurusnya saham perusahaan semakin menurun setiap harinya"
"Biarkan saja hal itu terjadi yang terpenting perusahaan itu tidak jatuh ditanganmu"
"Sekarang kau pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali lagi, PERGI KAU!!!"
"Ckk, oke aku akan pergi tapi jangan pernah kalian berfikir kalau aku sudah kalah ingat itu!!!"Dion pun pergi meninggalkan kedua orang tua Sean dengan penuh amarah. Winda yang mendengar percakapan itu pun menjadi semakin takut.
"Ya Allah, apa yang akan om Dion lakukan pada mereka selama mas Sean tidak disini, aku harus sering-sering kesini untuk mengecek"ucap Winda.
Jika om Dion melakukan sesuatu sebelum aku datang bagaimana, oh ya disini pasti apa CCTV bukan, tapi om Dion pasti akan merusaknya Nanti, aku harus memasang CCTV lagi di beberapa ruangan dirumah ini..... batin Winda. Setelah mendengar pembicaraan mereka, Winda pun masuk kedalam kamarnya lalu masuk kedalam ruang kerja Sean dan mencari CCTV yang sengaja Sean simpan tanpa memasangnya. Setelah mendapatkannya Winda pun memasang satu CCTV di kamarnya dan pergi ke kamar kedua orang tua Sean lalu memasangnya juga, setelah itu di dapur, ruangan kerja tuan Andree, ruang keluarga, dan teras depan dan belakang semuanya winda pasangi CCTV. setelah semua CCTV terpasang Winda langsung menyambungkannya ke hpnya agar lebih muda mengecek setiap saat. Setelah urusannya selesai Winda pun langsung pergi dari rumah itu dari pintu belakang dan kembali ke mobil lalu pergi kerumah sakit kembali.
sesampainya dirumah sakit, "Pak tolong jangan beritahu siapa-siapa ya tentang saya kembali kerumah secara sembunyi-sembunyi"ucap Winda.
"Baik nyonya, saya janji"jawab supir itu.
"Terimakasih pak"setelah meminta supir agar tidak berbicaralah dengan siapapun Winda langsung masuk kedalam rumah sakit dan menemui Sean di ruangannya.
Di dalam ruangan, Sean sudah bangun dan sedang diperiksa saat ini. Melihat Winda masuk Sean pun langsung menatapnya dengan dingin kearah Winda...apa dia marah... dokter Indra pun pergi dari ruangan itu dan Winda pun mendekati Sean.
"Dari mana"tanya Sean dengan dingin.
"Tadi aku pergi keluar untuk memberi peralatan mandi kamu, maaf ya aku tidak izin denganmu tapi aku tidak mau mengganggumu mas"ucap Winda sambil menunjukan sekantong belanjaan. sebelum sampai kerumah sakit Winda sengaja berhenti di supermarket untuk membeli sesuatu agar saat Sean bertanya dari mana ia tidak takut ketahuan karna ada bukti sekantong belanjaan itu.
__ADS_1
"Oh, sekarang temani aku tidur dan jangan kemana-mana"ucap Sean.
"Iya mas"Winda pun meletakan belanjanya di meja lalu melepas jaketnya dan tidur di sebelah Sean, walaupun sedikit sempit tetapi Sean memaksa Winda untuk tidur disebelahnya jika tidak dia tidak mau tidur.