Kau Cacat, Tapi Aku Mencintaimu

Kau Cacat, Tapi Aku Mencintaimu
Bab 27


__ADS_3

Setelah berhasil kabur dari Dion Winda pun langsung masuk kedalam kamar. Di dalam kamar Sean terkejut dengan kedatangan Winda yang mendadak dan terlihat Winda sangat ketakutan dan kecapean akibat berlari kabur dari Dion.


"Sayang kamu kenapa?"tanya Sean. Winda pun langsung meletakan air minum ke meja lalu mendekat ke Sean dan memeluknya.


"Hey kenapa, kenapa kamu masuk ke kamar tiba-tiba dan kenapa kamu terlihat ketakutan seperti ini"ucap Sean sambil membelai rambut Winda.


"Mas, tadi saat aku ingin kembali membawa air minum om Dion mencegahku, om Dion mengajakku masuk kedalam kamar dan memintanya untuk melayaninya dia juga memintaku untuk melupakanmu dan pergi bersamanya"jawab Winda dengan ketakutan.


"Kurang ajar, beraninya dia berkata seperti itu, tapi kamu tidak di apa-apa bukan?"


"Tidak mas, aku langsung lari dan masuk kamar"


"Syukurlah, sekarang kamu tenang ya aku ada disini kok"Sean pun menenangkan Winda di dalam pelukannya.


Malam harinya, setelah kejadian itu Winda pun tidak berani keluar dari kamar sendirian tanpa Sean. seharian ini ia terus berada di dalam kamar bersama Sean. saat ini Winda sedang merapihkan rambutnya di meja rias dan Sean pun masih duduk di tempat tidur menikah Winda yang sedang merapihkan rambutnya.


"Sayang ayo kita ke meja makan, aku sudah lapar"ucap Sean.


"Iya mas sebentar"Winda pun selesai merapihkan rambutnya lalu mengambil kursi roda Sean dan membantu Sean naik ke sana.


"Mas kalo om Dion kaya tadi lagi gimana"tanya Winda.


"Kan ada aku sayang, dia tidak akan berani melakukannya selama ada kamu dan kamu harus terus bersamaku jangan pergi sendiri walau itu mau mengambil air minum untukku, kalau butuh sesuatu suruh saja pelayan pokoknya kamu jangan pergi"jawab Sean dengan panjang lebar dan Winda pun mengangguk. Mereka pun turun ke ruang makan untuk makan malam bersama. Di lantai bawah Sean dan Winda berpapasan dengan Dion yang ingin pergi ke ruang makan juga.


"Selamat malam keponakanku"sapa Dion. Sean pun hanya melirik saja dan Winda hanya diam tak berani menatap mata Dion.


Dion melihat kearah Winda, "Wah dimalam hari istri keponakan cacatku ini semakin cantik saja ya"

__ADS_1


"Sayang ayo jalan jangan diam saja"ucap Sean dengan dingin. Winda pun langsung mendorong kursi roda Sean menuju ruang makan dan Dion pun mengikuti mereka. Di meja makan Winda langsung duduk di salah satu kursi lalu mendorong kursi roda Sean untuk lebih dekat dengannya, saat Winda sedang merapihkan cara duduk Sean Dion datang dan langsung duduk disebelah Winda, sontak Winda pun langsung bangun dan duduk di sebelah Sean satunya.


"Kenapa pindah Winda, disini saja kamu akan lebih muda menyuapi Sean"ucap Dion menatap Winda, Winda hanya ketakutan takut Dion melakukan sesuatu hal buruk dan hanya diam tak menatap Dion.


"Sudah biarkan saja lebih baik kita makan lalu pergi"ucap Sean dan Winda pun mengangguk. Malam malam pun berlangsung, winda menyiapkan makanan Sean lalu menyuapinya dan sesekali memakan makanannya.


Setelah makan malam berakhir, Sean langsung mengajak winda untuk kembali ke kamar mereka, tentu saja Dion pasti mencegah mereka untuk kembali dengan ucapan menggoda kepada Winda dan Winda pun hanya diam tak menatap Dion dan langsung mendorong Sean menuju kamar mereka.


Keesokan harinya, semua orang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. nyonya Selina dan Tuan Andree sudah pergi ke kantor dan Dion dia entah pergi kemana setelah sarapan selesai, sedangkan Winda dan Sean mereka tengah berada di taman belakang rumah. Sean sedang duduk di kursi roda menatap kearah kolam dengan memikirkan sesuatu, sedangkan Winda ia sedang pergi untuk mengambil obat Sean.


"Mas jangan melamun seperti itu nanti kesambet loh"ucap Winda yang baru saja datang membawa obat.


"Enggak sayang aku nggak melamun kok"Winda pun duduk di sebelah Sean.


"Yaudah nih minum obatnya"Sean pun mengambil obat dari tangan Winda lalu meminumnya.


"Kau sudah berbulan-bulan bersamaku sejak kecelakaan itu terjadi, apa kamu tidak kepikiran dengan rumahmu dan rumah sakit?"


"Sebenarnya aku juga kepikiran dengan hal itu, tapi apa dayaku mamahmu pasti tidak akan mengizinkanku untuk keluar dari rumah ini"ucap Winda tanpa melihat Sean.


"Kenapa kamu harus memikirkan hal itu, kamu nggak perlu takut mamah marah jika pun marah aku tidak akan biarkan mamah marah denganmu"


"Tidak usah seperti itu mas, lagian rumah sakit pastinya aman kok kan ada dokter Indra dia kan kepala rumah sakit itu yang sudah dipercayakan oleh papah dan untuk rumah, masih ada bibi yang mengurusnya, bibi dirumahku sudah bekerja sangat lama denganku jadi dia tau dimana aku meletakan kunci rumahnya dan aku juga sudah sangat percaya dengannya"


"Baiklah jika kamu yakin semuanya aman tapi apa kamu tidak merindukan kedua orang tua mu, kamu tidak ingin menemui makam mereka"


"Sebenarnya aku ingin sekali, tapi aku takut keluar rumah"

__ADS_1


"Tidak usah takut, kamu bisa pergi menjenguk kedua orang tuamu dan apa aku boleh ikut"


"Tentu boleh, mereka pasti juga merindukanmu"


"Yasudah kita berangkat sekarang saja nanti kita bisa istirahat dirumahmu sebentar untuk melihat kondisi disana"


"Memangnya boleh?"


"Tentu, kamu tidak usah takut mamah marah kan ada aku"


"Terimakasih mas, kita ke kamar dulu ya lalu siap-siap"


"Iya sayang"dengan penuh antusias Winda pun membawa Sean kembali ke kamar mereka lalu bersiap-siap untuk pergi menjenguk ke makan kedua orang tua Winda. Sebelum berangkat Winda mengambil tas kecil lalu mengisinya dengan beberapa pakaian Sean untuk jaga-jaga dan membawa obat-obatan milik Sean untuk diminum agar tidak terlambat. Setelah semuanya siap mereka pun turun. Saat berjalan menuju pintu keluar, mereka bertemu dengan Dion yang baru datang dan langsung menghentikan langkah Sean dan Winda.


"Rapih sekali, kalian ingin kemana pagi-pagi gini"tanya Dion.


"Bukan urusanmu"jawab Sean dingin.


"Cihh, sombong sekali keponakanku ini, hey kau ingin mengajak istrimu jalan-jalan bukan, seperti tidak ada kegiatan saja"


"Oh aku lupa, kau kan memang tidak ada kegiatan walaupun ada kegiatan kau pasti tidak mampu melaksanakannya"


"Apa lagi urusan kantor, sekarang kan kau sudah cacat dan tidak bisa menjalankan tugas kantor lagi sedangkan kak Andree tidak memiliki anak lagi selain kau itu berarti aku bisa menggantikan posisimu sebagai CEO di perusahaan kakek"


"Kau tetap tidak bisa menggantikan posisiku karna perusahaan itu atas namaku ingat itu"


"Ya memang perusahaan itu atas namamu tapikan kau sudah lumpuh, dan hanya ada satu cara saja agar perusahaan itu masih bisa menjadi dimilikmu, yaitu digantikan oleh anakmu sendiri tapikan kau sudah mandul gara-gara lumpuh jadi sampai kapanpun kau tetap tidak bisa memiliki anak dan perusahaan itu akan menjadi milikku"ucap Dion lalu pergi meninggalkan Sean yang tengah menahan amarahnya.

__ADS_1


"Winda ayo pergi"ucap Sean dengan penuh amarah dan Winda pun langsung mendorong Sean pergi tanpa berbicara sepatah kata pun


__ADS_2