
Setelah mengisi formulir dan meminta izin kepada dokter Indra Sean dan Winda pun pergi ke makan kedua orang tua Winda. di pemakaman tak lupa Winda membawa bunga untuk ziarah, mereka pun duduk di sebelah makan kedua orang tua Winda.
"Mah pah Winda datang, maaf ya Winda tidak pernah menjenguk kalian bahkan tidak ada bunga yang tersisa di atas makam kalian"
"Mah pah Winda sekarang sudah menikah dengan mas Sean, laki-laki yang ingin sekali kalian jadikan menantu dan sekarang terwujud, walaupun awalnya kami menikah karna paksaan tapi kami tidak terpaksa sama sekali"
"Mamah dan papah pasti tenangkan disana, Winda baik-baik saja disini Winda juga suah ada yang jagain kok, Winda datang bersama mas Sean sekarang mah pah"Sean pun mendorong kursi rodanya mendekat ke makan kedua orang tua Winda.
"Halo mah pah maaf sudah membuat Winda tidak bisa menemui kalian, dan untuk mamah Sean minta maaf karna kartu undangan pernikahanku mamah jadi pergi menemui papah tapi sekarang aku tidak jadi menikah dengan orang lain sekarang aku sudah menikah dengan putri kalian aku berjanji akan menjaga putri kalian"
"Semoga kalian tenang disana dan jangan khawatir dengan Winda, aku akan selalu menjaganya, kami juga minta doa kalian kami akan melakukan program bayi tabung untuk mendapatkan anak segera kamu minta doanya mah pah"Sean pun mengambil bunga lalu menaburkan di atas makan kedua orang tua Winda lalu diikuti Winda, setelah menabur bunga mereka pun berdoa bersama lalui memutuskan untuk kembali lagi kerumah sakit. Setelah sampai dirumah sakit, Sean langsung dimana keruangan khusu program bayi tabung sedangkan Winda ia menunggu setelah Sean selesai diperiksa. Sambil menunggu Winda pun menelepon salah satu pembantu dirumah Sean untuk membawakan pakaiannya dan Sean tanpa memberitahu dan ketahuan orang dirumah, setelah menelepon pembantu di rumah Sean Winda pun menelepon bibi pembantu dirumahnya untuk selalu mengantarkan makan untuknya dan Sean selama mereka dirumah sakit. 10 menit menunggu Winda pun dipanggil oleh dokter lalu masuk kedalam untuk diperiksa keadaan kandungannya.
1 jam berlalu, Sean dan Winda berada dalam satu ruangan kali ini Winda sedang di periksa lebih lanjut oleh dokter dan Sean hanya menunggu sambil melihat Winda yang sedang diperiksa....Semoga saja kondisi Winda baik-baik.....batin Sean. Winda pun diperiksa kandungan lebih dalam dengan menggunakan USG dan Sean pun terus melihatnya.
Selesai pemeriksaan, Winda pun diberikan suntikan bius.
"Kenapa kau memberikan obat bius pada istriku dok"tanya Sean.
"Dalam program bayi tabung harus mengeluarkan sel telur istri anda untuk dibuahi di luar rahim dengan ****** anda tuan muda"
"Apa tidak bisa langsung di dalam rahim saja dok"
"Tidak tuan program bayi tabung memang dilakukan di luar rahim karna tidak bisa dibuahi di dalam rahim"Sean pun mengerti dengan penjelasan dokter. dokter pun membawa Winda kedalam ruang operasi bersama dengan Sean, Opera pun berjalan. Selesai operasi Winda pun dibawa keruangannya dan masih tertidur karna efek dari obat bius sedangkan Sean sedang berada di dalam ruang operasi untuk tindakan lebih lanjut.
Beberapa saat kemudian Winda mulai terbangun dan melihat sekeliling dan hanya Melia suster saja.
"Sus dimana suami saya"tanya Winda.
"Tuan Sean sedang diperiksa oleh dokter Indra nona"
__ADS_1
"Oh... apa tadi sel telur saya sudah diambil"
"Sudah nona, sekarang lebih baik nona istirahat saja"Winda pun memutuskan untuk tidur lagi karna kepalanya pusing dan sambil menunggu Sean kembali ke ruangan. Setengah jam berlalu, Sean pun kembali ke ruangannya dan Winda pun belum menyadarinya.
"Tuan tolong jangan terlalu banyak gerak, jika alatnya lepas tolong panggil saja tekan saja tombol diatas anda"
"Iya dok"dokter Indra pun pergi, Sean pun melihat kearah Winda yang sedang tertidur.
"Sayang, kamu sudah bangun"tanya Sean.
Winda pun terbang mendengar suara Sean, "Mas sudah kembali, aku sudah bangun dari tadi tapi aku tidur lagi karena pusing"jawab Winda.
"Tapi kamu baik-baik saja kan"
"Iya mas aku baik-baik saja kok, itu apa mas kok dipasang area situ"
"Entahlah sayang, dokter yang memasangnya aku tidak tau ini apa"
"Yakin mau liat, kalau mau liat ini nanti yang dibawa bangun loh"
"Ishh.. kan cuma liat mana bisa bangun"
"Bisa aja sayang"
"Sudahlah aku mau liat sekarang"Sean pun hanya tertawa kecil lalu membuka selimut dan Winda pun melihat alat itu.
"Kamu tau alat ini apa"
"aku tidak tau pasti, mungkin itu alat untuk wadah ****** kamu, kamu pasti sudah diberi obatkan nanti pasti keluar dan tertahan disitu"Sean pun hanya mengangguk lalu menutup selimutnya lagi.
__ADS_1
"Mas kamu tidak mau memberi tau mamah papahmu mereka pasti khawatir"
"Aku sudah memberitahu mereka sayang"
"Kapan mas kok aku enggak tau"
"Tadi saat kami di operasi aku menelepon mereka dan bilang kalau aku dan kamu berada dirumahmu selama satu bulan dan mereka mengizinkannya"
"Semudah itu mereka mengizinkamu, aku tidak percaya"
"Tentu tidak lah, aku mengancam mereka jadinya mereka mengizinkanku"
"Dasar kamu itu"Winda dan Sean pun bergurau kecil sebentar lalu mereka pun memutuskan untuk istirahat hingga malam karna tubuhnya yang masih lemas.
Malam harinya, bibi pembantu sudah datang membawakan makanan untuk Sean dan Winda dan pelayan dirumah Sean juga sudah datang membawakan baju mereka lalu kembali. saat ini kondisi Winda sudah lebih baik dari tadi siang, sedangkan Sean masih tiduran saja karna masih ada alat yang menempel di tubuhnya dan tidak diizinkan bergerak terlalu kencang agar tidak lepas. sambil memakai rok Karna tidak bisa memakan celana Winda berjalan pelan menyiapkan makanan untuknya dan Sean dan Sean pun hanya diam menatap Winda.
"Sayang jika masih sakit jangan dipaksa"ucap Sean.
"Sudah tidak sakit aja mas, cuma sedikit ngilu aja"jawab Winda. Winda pun membawa makan mendekat ke Sean lalu mengambil bangun untuk dirinya duduk di dekat Sean.
"Aku makan mas, kamu bisa bangun enggak"
"Enggak sayang aku takut alatnya lepas"
"Yaudah makan dengan posisi itu juga gak papa"Winda pun menyuapi Sean dengan posisi tertidur, sesekali ia menyiapkan makanan kemulutnya sendiri, tak jarang juga dibagian bawah terasa ngilu karna Winda terlalu banyak bergerak untuk menyuapi Sean.
"Sakit ya, sini biar aku makan sendiri"
"Enggak usah, biar aku yang suapin kamu aja lagian dikit lagi kok"
__ADS_1
"Tapi nanti sakitnya semakin parah sayang"
"Enggak sakit kok cuma ngilu aja"Winda pun terus menentang perintah Sean dan terus menyuapi Sean hingga makanannya habis.