
Seperti biasa tiap pagi Davina slalu dibangunkan Brian dan itupun menjadi kebiasaan antara mereka.
karena Davina paling sulit dibangun kan kalo sedang tidur.
🎶 it's my first love what i'm dreaming of when i go to bed.. 🎶
suara ponsel davina berdering entah yang ke berapa kali ponselnya berbunyi..
dengan mata yang masih terpejam tangan davina mulai mencari asal suara tersebut dan "Halloooo" suara lembut davina menyambut telpon tersebut..
"Hallooo.. Hallooo.. apaan cepat bangun ini jam berapa Vin" teriak pria di balik telpon.
"Siapa ini?? tanya Davina memelas
sekejap tidak terjadi apa-apa kemudian akhirnya Davina tersadar dan menyadari bahwa sekarang sudah pukul 7.30 wib.
"Tidaaaakkkk.." teriak Davina lalu menutup telponnya.
dengan sekuat tenaga dan kecepatan super kilat Davina menyiapkan diri dan segera keluar kamar..
"Eh.. eh.. sarapan dulu nak" ucap ibunya Davina.
"Duh Mi, Vina sudah telat ne.." jawab Davina sambil meminum segelas susu..
"Udah ya mi.. Vina kerja dulu" ucap Davina sambil mencium pipi ibunya..
Sesampai di kantor davina kemudian dengan cepat melangkahkan kakinya menuju kantor, tiba tiba saat melewati parkiran tangan Davina ditarik seseorang dan secara keras melemparkan tubuh mungil davina ke samping mobil yang lagi parkir.
Dengan lembut sosok pria itu berkata,
"Sampai kapan kamu akan terus begini? apa aku harus menikahi mu supaya kamu bisa bangun pagi?" ucap Brian tepat di depan wajah Davina, Davina menutup matanya dan mencium aroma parfum yang membuatnya selama ini ingin slalu terbuai dalam dekapannya.
Dengan mencium aroma parfum Gucci Guilty Black ini pun Davina sudah mengenal sosok ini.. nafas Brian pun terasa dekat dihidung Davina sehingga membuat Davina sulit untuk bernafas dan berkata-kata.
"Plak..." tamparan halus mendarat ke wajah mulus Brian, sosok pria keturunan Tionghoa ini. "Aku sudah telat Brian, jangan buat aku di panggil boss gara - gara ulahmu!" teriak Davina dan mendorong tubuh bidang Brian ke depan kemudian berlari menuju ruangannya.
Brian tersenyum sambil memegang pipinya lalu menuju ruang kerjanya.
Davina merupakan seorang ahli geologi disalah satu perusahaan pertambangan di jakarta, sementara Brian berada di bagian pemasaran di perusahaan yang sama
Ketika jam kerja berakhir, Brian masuk ke ruangan Davina lalu menarik tangan Davina yang saat itu sedang asik menyelesaikan pekerjaannya di labtop.
"Briaaaaaan.....aku kan belum selesai.. "ucap Davina sambil meraih tas kantornya kemudian mengikuti Brian melangkah.
"Udah diam.. kamu nggak akan pulang jika kerjaan mu itu nggak selesai dan aku akan slalu menunggumu seperti biasanya.. huuuu" gerutu Brian.
__ADS_1
"Ini kan malam minggu masa kamu sma sekali nggak punya waktu untuk dirimu sendiri" ucap Brian kembali.
Mendengar ucapan Brian, Davina pun tersenyum bahagia karena ia yakin dengan perasaannya kali ini.
" Terus kita mau kemana...?" tanya Davina setelah duduk di mobil.
"Aku ingin membawamu ke suatu tempat.. "ucap Brian.
"Apakah ini saatnya ku ungkapkan semua isi hati ku...?"bisik Davina dalam hati.
Davina memandang wajah pria yang berada disampingnya. Wajah yang membuat semua wanita tidak akan mudah berpaling, apalagi aroma tubuhnya yang wangi.
Bagaimana tidak dekat, Davina dan Brian slalu bersama semenjak duduk di bangku SMA, dan sepakat untuk kuliah dan kerja di tempat yang sama,, hanya saja keduanya sama sekali belum mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.
"Kita sudah sampai yuuk..." ajak Brian
"Waahhhh.. indah sekali kok baru tau ya kalo ada tempat makan sebagus ini.." tanya Davina sambil tersenyum.
Suara ombak dan angin malam membuat Davina seakan-akan ingin terbang saking bahagianya.
"kamu mau melamun di situ atau mau makan di dalam Vin?" tanya Brian.
"Iya, iyaaaa ..." sahut Davina, sambil berlari ke ruangan yang diarahkan Brian.
"Maya?? "Davina terkejut keheranan pada satu titik, melihat sosok yang tidak asing baginya.
Penuh tanda tanya, Davina pun menoleh ke arah Brian..
"Taraaammm... surprise...!kami berdua emank sengaja beri kejutan untukmu Vin.. aku mau bilang kalo sekarang Maya resmi jadi pacar ku..." ucap Brian bahagia sambil merangkul Maya yang sudah berdiri di sampingnya.
"Kak Vin.. gpp kan kalo aku pacaran sama sahabat kakak?" tanya Maya,
aku masih terdiam dan benar-benar kaget melihat situasi malam ini.
"Vin.. Vin.. kamu kenapa?" tanya Brian sambil menggoyangkan bahu Davina
"Aku.. aku gpp kok.. aku cuma syok aja, surprise kalian berhasil" ucap Davina sambil tertawa dan memeluk adik ku satu-satunya. tanpa sadar air mata Davina menetes.
"Bagaimana bisa kalian berdua?" tanya davina bingung dan dengan sigap menghapus air matanya.
"Selama ini kamu terlalu sibuk Vin jadi kamu lupa kalo aku sering ketempat mu, dan kamu? sibuk kerja, ya yang temenin aku ngobrol, main game semua Maya.. ya ku rasa kami cocok.." jawab Brian polos.
Mendengar jawaban Brian, Davina diam dan terduduk lemas.
Davina hanya bisa menatap Brian.
__ADS_1
"Apa ada yang salah?" tanya Brian kepada Davina saat Maya permisi ke toilet
Davina menggeleng dan mengalihkan pandangannya keluar.
Melihat wajah Davina, Brian kemudian memegang tangan Davina dan bertanya, "Apa yang kamu sembunyikan Vin? kamu kenapa?? jawab!! " tatap brian.
Melihat tatapan brian Davina semakin terluka dan takut untuk berkata kata karena akan menghancurkan semuanya, sehingga Davina lebih memilih untuk diam dan melepaskan tangan Brian.
Sesaat kemudian "kalian sudah pesan makanan?" tanya Maya yang baru datang dari toilet..
"Belum May.. Oh, iya maaf banget aku nggak bisa gabung dengan kalian.. aku lupa kalo ada janji" ucap Davina.
"Tapi..." kata Maya
"Maya gpp kan nanti pulangnya ditemenin Brian...?" tanya Davina.
Maya pun mengangguk.
Davina pergi setelah mengecup dahi adiknya dan pergi meninggalkan Brian dan Maya.
Brian menatap kepergian Davina dengan tatapan kosong dan penuh tanda tanya.
Dengan lemas Davina melangkahkan kakinya menyusuri sepanjang pantai, suara ombak dan angin yang berhembus seakan akan tau apa yang sedang terjadi malam ini.
Hempasan air ombak membasahi kakinya pun tidak terasa lagi.
"Kenapa.. kenapa mesti adikku sendiri yang kau pacari Brian.. kenapa bukan perempuan lain.. kenapaaaaaaa" teriak Davina dipinggir pantai.
Davina pun terduduk lemas tak berdaya, bajunya sudah setengah basah terkena ombak pantai..
"kenapaaaaa..." ucap davina lirih disertai deraian air mata.
"Sakiit Brian.. sakittt" ucapnya lagi sambil memukul dadanya sendiri dan menangis
"Kamu tau aku mencintaimu.. Kamu tau aku mencintaimu... Tapi.. Tapi kenapa kamu tega..."
katanya pada dirinya sendiri.
"Kamu ingin selalu dengan ku, selalu bersama
tapi sekarang kenapa kamu yang pergi tinggalkan aku...
ya aku yang salah, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku...
aku sering lupa kalau kamu slalu ada untuk aku sedangkan aku selalu mengabaikan mu..."ucap Davina sambil menangis dan menyesali semuanya.
__ADS_1