
Maya dan sang ibu menatap kepergian Brian dan ibunya, sungguh hari yang melelahkan. Beberapa kali ibu Davina menarik nafas panjang dan memandang ke arah taman, ia melangkahkan kakinya untuk merehatkan dirinya sebentar di kursi kayu depan teras rumahnya. Maya menyesali apa yang sudah terjadi. Rasa cemburu terhadap Davina membuat dirinya kehilangan akal sehat dengan membuat serangkaian cerita yang seharusnya itu terjadi pada Davina tetapi malah berbalik menyerangnya sendiri.
Beberapa menit setelah kepergian Brian, Kevin menghampiri Maya dan Davina.
" saya minta maaf kalau kehadiran saya mengacaukan semuanya " ucap Kevin mengagetkan Maya yang berada di depannya. Ibu Davina menghela nafas panjang
" ini bukan salahmu nak Kevin "
" jika Davina tidak menerima lamaran Brian itu berarti yang terbaik untuk dirinya " jawab Ibu Davina lembut sambil mengelus punggung Kevin yang duduk disampingnya.
" Besok nak Kevin jadi balik ke Papua? " tanya ibu Davina.
" ia bu.. " Kevin mengangguk
" Terima kasih untuk sambutan ibu selama saya di sini "
" Mohon maaf jika kehadiran saya sudah menyusahkan ibu dan keluarga " ucap Kevin lagi
" kamu ini ada-ada saja "
" kehadiran kamu malah membuat keluarga ini berwarna kembali "
" selama kepergian Davina, jujur ibu tidak ada semangat menjalani hidup "
" tapi setelah mendengar kabar Davina baik-baik saja, ibu bersyukur sekali " kata ibu Davina.
ibu Davina memandang ke arah Maya yang saat itu hanya terdiam terpaku di depan pintu.
" May.. " panggil ibu Davina dengan lembut
Maya mendekati sang ibu lalu memeluknya. Maya tak sanggup berkata-kata ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Tak bisa ia pikirkan apa yang terjadi jika ia menikah dengan Brian meskipun dulu mereka sempat menjalin kasih. Namun sekarang sudah berbeda karena Brian sudah lama menaruh hati pada Davina dan semenjak Davina tersesat di Papua pun Brian semakin intens dalam mencari Davina. Cinta yang di perlihatkan pada Davina semakin di buktikan ketika Davina tiba di Jakarta.
Hanya satu kesalahan membuat semua cerita menjadi kacau, itulah yang harus dialami Maya.
Kevin beranjak dari tempat duduknya dan pamit untuk menyiapkan barangnya. Maya menatap kepergian Kevin dan menerima bahwa hatinya sudah kalah.
Ketika Kevin hilang dari pandangan tiba-tiba muncul Davina berjalan dengan pelan menghampiri ibu dan Maya. Maya yang melihat kakaknya itu dengan segera menghampiri Davina dan membopong Davina untuk duduk.
tidak berapa lama setelah Davina duduk, ponsel Davina berdering
πΆπΆπ±πΆπΆπΆπΆ
Davina meraih ponselnya
" Brian ? " bisiknya dalam hati ketika tau siapa yang menelponnya
" ya Yan.. " jawab Davina
__ADS_1
" kita bisa ketemu ? "
" aku cuma mau bicara berdua saja " ucap Brian dengan nafas tersengal-sengal.
" kamu kenapa Yan? "
" kamu nggak pa pa kan ? " ucap Davina panik ketika mendengar suara sahabatnya itu.. Davina kenal betul perangai sahabatnya itu, apalagi jika ia berada dalam masalah. Panik dan nekat itulah yang terjadi, hanya Davina lah yang menjadi satu-satunya penyemangat dan batu sandaran bagi Bryan.
" kamu di mana sekarang Yan ? " teriak Davina khawatir..
Maya dan ibunya menatap kaget kearah Davina
" Bryan? " tanya ibunya..
Davina mengangguk membenarkan ke arah ibunya.
" aku ke sana "
" kamu jangan kemana-mana "
" tunggu aku disitu " ucap Davina menghentikan percakapannya dan segera masuk meraih kunci mobilnya. Tak terasa lagi sakit di kakinya itu, dengan cepat Davina sudah muncul di teras rumah.
" kamu mau kemana Vin ? " tanya bundanya sembari menghentikan langkah kakinya Davina yang belum sempurna berjalan.
" Mi.. aku harus ketemu Bryan sekarang " jawab Davina mencoba melepaskan genggaman ibunya.
" Maya yang antar kamu ya? " ucap ibunya lagi..
" nggak Mi "
" please.. Brian saat ini butuh aku mi " jawab Davina kesal dengan ibunya yang mencoba menghalanginya bertemu Brian.
" tapi kak Vin.. " jawab Maya tiba-tiba namun penjelasan Maya tidak dihiraukan Davina yang segera pergi meninggalkan ibu dan adiknya itu.
Sesaat setelah Davina pergi dengan mobilnya, ibu Davina mencoba menelpon Kevin dan memberitahukan tentang kepergian Davina menemui Bryan.
...πππ...
Beberapa menit kemudian tibalah Davina ditempat yang diberitahukan Bryan. Sebuah gudang tua yang tidak terpakai dan merupakan tempat bermain masa kecil Davina dan Bryan, selain itu gudang tersebut sering digunakan Bryan latihan Boxing dan tempat mengadu jika keduanya ada masalah. Davina berjalan dengan tertatih memasuki gedung tersebut, terlihat sarang laba-laba banyak sekali memenuhi dinding gudang ini membuktikan jika sudah lama sekali ia tidak pernah ke sini lagi apalagi ketika dirinya terjebak di Papua. Beberapa kali Davina mencoba membersihkan sarang laba-laba yang mengenai wajahnya dan beberapa kali juga Davina mencoba berteriak memanggil nama sahabatnya itu.
Bau pengap dan cahaya matahari yang remang-remang sedikit memberikan kehidupan di dalam gudang.
" Yan.. " teriak Davina panik
namun tetap tak ada jawaban..
" Bryannnnnn " panggil Davina lagi dengan suara keras dan berjalan ke sana kemari untuk mencari keberadaan Bryan.
__ADS_1
Tanpa di sadari Davina malah menabrak tumpukan drum kosong yang akhirnya jatuh menimpa Davina.
Teriakan Davina dan suara drum yang berjatuhan membuat Bryan segera mencari keberadaan Davina.
" Vin.. Vinn " teriak Bryan sembari memindahkan tumpukan drum kosong satu persatu.
" Vin.. " panggil Bryan setelah melihat Davina terbaring sambil menutup kepalanya.
Bryan segera mendekati Davina dan mengangkat Davina dan meletakkan Davina ke tempat yang aman.
" syukurlah.. kamu nggak pa pa " ucap Bryan ketika melihat Davina mulai membuka matanya lalu merebahkan dirinya tepat di samping Davina berbaring.
Davina mencoba untuk duduk dan memandang ke arah sekelilingnya.
" sudah lama sekali ya, aku nggak ke sini "
" kangen juga suasana masa kecil kita dulu " Davina tersenyum mengingat masa kecil mereka.
" ia sudah lama banget, sampai-sampai susunan drum kosong pun kamu tabrak " jawab Bryan sambil tertawa kecil mengejek Davina.
Davina tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan Bryan, serasa mereka kembali ke suasana masa kecil mereka.
Dan tidak mau kehilangan kesempatan Bryan akhirnya memberanikan diri untuk berbicara langsung kepada Davina.
" Vin.. " tanya Bryan serius.
Davina menoleh ke arah Bryan dan menunggu apa yang ingin disampaikan Bryan
Bryan menarik nafas dalam-dalam dan menggenggam tangan Davina dengan erat. Davina sendiri melongo tak percaya karena Bryan tiba-tiba saja menarik tangannya..
" aku mencintaimu Vin " ucap Bryan tegas
Pernyataan Bryan membuat Davina tidak percaya tentang kalimat yang baru saja di lontarkan Bryan. Sementara yang ia tau bahwa penyebab dirinya memutuskan untuk berangkat ke manado adalah hubungan sahabatnya dan adiknya itu.
Davina menarik tangannya perlahan, Bryan yang merasa tangan Davina mulai merenggang dari cengkramannya membuat Bryan semakin memberikan tenaga sehingga Davina meringis kesakitan.
" aduuhhhh "
" sakit Yan.. " ucap Davina sambil memaksa menarik tangannya.
" jawab pertanyaan ku Vin ? " bentak Bryan dan dengan sedikit kasar kedua tangan Bryan mulai mencengkram kedua lengan Davina dan mengguncang tubuh Davina yang saat itu terduduk lemas.
...Pantau terus ya ceritanya, biar thornya semangat ππ...
......πΊβ³οΈπΊβ³οΈπΊβ³οΈπΊβ³οΈπΊβ³οΈπΊβ³οΈπΊ......
...yuk akak yang cantik dan tampan...
__ADS_1
...Like, coment, favorit dan Vote ya.. biar AUTHOR semakin semangat up nya π€βΊοΈ...
...~Novi Dhamzie~...