
Tak disangka sekarang Davina merasakan bagaimana menjadi sandera ditengah - tengah orang yang tidak dikenalnya sama sekali.
Menangis dan berdoa hanya itu yang bisa Davina lakukan, wajah ibu, Maya dan Brian slalu menghiasi hari - hari sekapan Davina, belum lagi wajah yang memar dan perut yang terkena pukulan saat Davina mencoba menelpon keluarganya.
" kamu nggak apa apa Vin " tanya Bram sambil memegang pundak Davina yang dari tadi duduk menahan sakit.
Davina mengangguk tanpa suara
" kamu tenang saja kami sudah mencoba menghubungi rekan - rekan kami di luar terutama pihak kepolisian yang berada di papua " ucap Bram mencoba menenangkan Davina.
Davina menarik nafas lega ketika mendengar penjelasan Bram.. dan memandang disekeliling mereka yang ada hanya hutan belantara dan tak ada satupun cahaya terlihat.
meskipun di sandera Davina selalu diperlakukan dengan baik kecuali ketika Davina ketahuan menghubungi keluarganya.
" weyy koi yang pakai baju hitam, ke sini ko !" teriak salah satu orang yang menyekap Davina memanggil Bram.
Davina kaget dan mencoba menahan Bram saat Bram berdiri mendatangi orang tersebut. Bram memegang tangan Davina dan melepas tangan Davina menandakan semuanya akan baik - baik saja.
beberapa menit kemudian...
Bram datang membawa kabar bahwa tadi pihak KKB meminta Bram menghubungi pemerintah dan menyampaikan aspirasi mereka.
" Dan pihak pemerintah akan berupaya yang terbaik agar kita semua bisa terbebas " ucap Bram lagi dan duduk tepat di sebelah Davina.
" apa pihak kepolisian sudah mencoba mencari kita? atau mereka baru mau bergerak ? tanya Davina.
Bram menggelengkan kepalanya dan menarik nafas panjang.
Davina terdiam dan mencoba menutup matanya tanda mengikhlaskan semua yang telah terjadi. karena sudah hampir satu bulan lebih mereka di sekap pemerintah tak satupun mencoba membebaskan mereka.
saat mereka semua terbaring lelah dan tanpa tenaga tiba - tiba terdengar suara tembakan dari arah lain. anggota KKB yang saat itu sedang berkumpul pun mulai bersiap dan menyerang balik dengan mengeluarkan tembakan berulang kali ke arah tembakan tadi berasal.
Davina dan yang lain pun di bawa beberapa orang anggota KKB menjauh dari lokasi.
"ada apa ini " ucap Davina ketakutan ketika melihat beberapa rekan yang disekap termasuk Bram di bawa ke arah yang lain.
" ko tenang saja kami tra mo buat ko dengan kawan - kawan menderita " kata salah satu anggota KKB sambil membawa Davina.
__ADS_1
dalam perjalanan tiba - tiba mereka di hadang beberapa orang bersenjata yang menodong ke arah Davina dan yang lain. tanpa basa basi anggota KKB ini pun kemudian mengangkat kedua tangan mereka dan menyerahkan senjata dan melepaskan Davina.
Ternyata mereka adalah pihak kepolisian dan anggota TNI yang mencoba membebaskan Davina.
saat Davina dan yang lain berjalan menuju team pembebasan tanpa disangka salah satu anggota KKB menarik tangan Davina dan meletakan sebilah pisau di leher Davina lalu mengancam akan membunuh Davina jika team pembebas tidak mendengar aspirasi mereka.
" eehkkkkhh.. " terdengar suara Davina kesakitan saat ujung pisau mengenai lehernya
" kami tidak akan melukai kalian jika kalian melepaskan perempuan ini " ucap pria berbadan tegap berkaos putih, yang merupakan salah satu team pembebas dimana mencoba negosiasi dan mendekati Davina.
semakin dekat dengan Davina, semakin keras juga tekanan pisau di leher Davina terasa ruas - ruas kulit leher Davina mulai meregang dan mengeluarkan cairan merah.
Dengan sikap yang tangkas pria yang mencoba membebaskan Davina itu melepaskan mawashi geri yang tepat berada di atas kepala Davina dan sekonyong-konyong pria yang mengancam Davina pun tersungkur di samping Davina.
Dengan perasaan kaget membuat tekanan darah Davina naik dan membuat semua pemandangan disekitarnya menjadi gelap.
Davina mulai kehilangan keseimbangan dan dengan cepat pria berkaos putih itu menangkap Davina agar tidak tersungkur ke tanah.
🌷Tenda Penyelamatan 🌷
Davina mulai membuka matanya perlahan-lahan terdengar suara yang begitu dekat selama ini..
" Bram.. " ucap Davina kemudian terduduk di atas velbed.
" sudah pukul berapa ini " ucap Davina lagi kemudian berusaha berdiri dan mengayunkan langkahnya menuju suara yang di dengarnya.
saat membuka pintu tenda tanpa sengaja Davina beradu fisik dengan seseorang yang mencoba masuk ke dalam tenda. akibat benturan itu Davina terdorong ke belakang dan dengan sigap pula pria itu menangkap lengan Davina dan memeluknya.
Davina menghela nafas panjang dan tercium aroma pria ini yang sama seperti saat di mana Davina jatuh tak sadarkan diri.
" kamu.. " kata Davina kaget dan melepaskan pelukan pria tersebut.
" kamu jangan terlalu banyak berdiri dulu " ucap Pria itu sembari membopong Davina menuju velbed tempatnya berbaring tadi.
" aku membawa ini " pria itu berkata kemudian menyodorkan segelas teh hangat.
Davina mengambil gelas tersebut dan meminumnya..
" ya Tuhan nikmat sekali teh ini " bisik Davina dalam hati kemudian mulai menangis
__ADS_1
Pria itu duduk di samping Davina " kenapa " tanya pria itu..
" selama di sekap hanya air hujan yang ditampung dalam kaleng bekas yang ku minum " jawab Davina terbata bata mengingat yang terjadi sebulan ini.
" aku baru sadar ternyata rasa teh itu enak sekali ya.. " ucap Davina sembari tertawa kecil
" maafkan aku " kata Brian kemudian memandang Davina
"Vin.. " ucap Bram tiba-tiba mengagetkan mereka berdua
"Bram.. " jawab Davina kaget bahagia karena melihat Bram ada di depannya.
" aku kira kamu... " ucap Davina tertunduk menangis
" mati maksudmu " jawab Bram
" ya nggak lha Vin, kamu sekarang percaya kan kalo kamu aman di dekatku " ucap Bram mengejek
merasa diejek seperti itu Davina pun meninju perut Bram dan mulai tertawa bersama.
" oia Vin upaya penyelamatan kita tadi ini lho yang merencanakan semuanya " ucap Bram menepuk punggung sobatnya itu.
" makasih ya.. " ucap Davina seraya memperkenalkan diri..
" Davina "
pria itu menyambut tangan mungil Davina dan berkata " Kevin "
" ya sudah Kevin kita tinggalkan Davina istirahat dulu " ucap Bram mengajak Kevin keluar dari tenda medis.
Kevin mengangguk setuju dan meninggalkan Davina sendiri.
Davina mencoba memejamkan matanya tapi tetap tidak bisa teringat suara dentuman senjata dan bunyi langkah kaki anggota KKB yang selama ini menakutinya terus membayangi malam Davina.
tepung basah yang slalu menjadi sarapan dan makan siangnya, bahkan Davina pun harus rela makan tepung basah itu sepiring dengan rekan-rekan yang lain selama dalam sekapan pun menjadi mimpi buruk nya di hari pertama pembebasan.
Bersyukur bahwa Davina pun diberi kesempatan dari Tuhan untuk menikmati hidup yang lebih baik lagi.
Davina mulai memejamkan matanya dan perlahan pun tertidur...
__ADS_1
" Tidaaaaaaakkkkkkkk..." teriak Davina terbangun dari tidurnya..
nafas tersengal-sengal dan keringat mengujur deras di tubuh Davina.