
Davina berharap semua situasi yang ia hadapi saat ini akan segera berakhir. Ia pun melangkahkan kakinya secara perlahan mendekati Kevin yang sedari tadi mengabaikan omongannya.
Dengan kepala yang terus lurus ke depan karena menoleh terhalang spalk yang ada di lehernya.
Davina melihat Kevin yang saat ini sudah tertidur pulas. Davina pun melangkahkan kakinya keluar tenda dan menghirup udara pegunungan yang sebentar lagi akan di tinggalkan selamanya.
" Hey.. Vin " Panggil Bram kemudian melambaikan tangannya untuk bergabung.
" Hati-hati " ucap Bram lagi kemudian membantu Davina duduk bersandar di sebatang kayu.
Bram memberikan segelas teh hangat untuk Davina, dengan segera Davina meminumnya kebetulan cuacanya saat itu membuat seluruh tubuh membeku. Sedang asik bercanda gurau, Kevin tiba-tiba saja sudah muncul di belakang Bram untuk ikut bergabung.
" woalah bro kamu sudah sehat " tanya Bram kaget melihat Kevin sudah berada di belakangnya.
Mendengar pertanyaan Bram, Kevin hanya melempar senyum.
" sudah lama ya kamu nggak tebantai kaya tadi " ucap Bram mengejek Kevin sambil tertawa kecil.
" apaan sih " bantah Kevin kemudian memandang Davina yang saat itu mulai kedinginan.
Kevin kemudian berdiri melepas jaketnya kemudian mendekati Davina dan memakai kan jaketnya.
" kalau kamu nggak kuat dingin sebaiknya jangan keluar " ucap Kevin saat memasang jaketnya..
Davina bingung harus berkata apa, dengan senyum canggung Davina tersipu malu. Bram membuang muka ketika melihat kejadian tersebut.
" bagaimana perjalanan kita besok " tanya Kevin
" pihak kepolisian resor puncak jaya sudah siap menerima kita "
" dan besok mereka juga akan mengirim beberapa anggota untuk menjemput kita " Bram menjelaskan.
Kevin menganggukkan kepalanya tanda setuju
...💮💮💮...
...Malam pun tiba......
Bram dan Kevin sedang sibuk menyiapkan segala peralatan untuk keberangkatan besok sementara Davina beristirahat di dalam tenda darurat sembari menyiapkan kondisi untuk berangkat besok pagi. Tidak ada barang yang harus ia siapkan karena semua barang ludes saat penyekapan.
Davina mencoba membayangkan saat-saat ia bertemu dengan ibunya nanti, tak terasa air matanyapun mengalir membasahi wajahnya semakin deras air matanya mengalir semakin keras pula ia menangis sampai ia lupa jika Kevin sudah berada di sampingnya. Dengan lembut Kevin mengusap air mata Davina kemudian memegang dagu Davina dan mengarahkan wajah Davina ke arahnya.
" maafkan aku " ucap Kevin merasa bersalah
Davina memandang Kevin dengan mata yang berkaca-kaca. Kemudian mengangguk pelan..
Dengan pelan Kevin pun memeluk Davina tanda bahagia karena Davina sudah memaafkan dirinya.
" aku pastikan kamu akan selamat sampai Jakarta dan kamu tidak akan menjadi Sarah ke dua " kata Kevin menenangkan Davina.
"Sarah ??"
"Siapa...? " tanya Davina
" bukan siapa-siapa " jawab Kevin dingin dan berdiri hendak meninggalkan Davina.
" kamu kenapa sih Vin "
__ADS_1
" sebentar-sebentar baik, sebentar-bentar cuek"
" salah ku itu apa sih.. " teriak Davina kesal melihat kelakuan Kevin.
Kevin yang hendak keluar tiba-tiba berhenti kemudian menoleh dan menghampiri Davina, lengan Davina di tarik ke arah dadanya kemudian Kevin memeluk erat tubuh Davina. Hal ini membuat Davina kebingungan dan bersikeras melepaskan dirinya dari pelukan Kevin. Tenaga Davina tetap tak bisa mengalahkan tenaga pria berotot ini.
Kevin pun sadar dengan sikapnya kemudian segera melepaskan pelukannya..
" maaf " ucap Kevin dan segera berbalik meninggalkan Davina.
Namun saat Kevin hendak meninggalkannya, Davina dengan cepat meraih lengan Kevin.
" tunggu " kata Davina menahan langkah Kevin
Kevin berbalik..
" ini " ucap Davina menyerahkan rosario milik Kevin
" pasti punyamu kan " ucap Davina lagi...
tanpa satu katapun Kevin mengambil Rosario tersebut dan meninggalkan Davina.
...💮 siap berangkat 💮...
Ketika mentari mulai menyinari bumi saat itu lha mereka bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju kota sinak papua.
sebelum berangkat Kevin memeriksa kondisi Davina terlebih dahulu terutama di bagian leher
" aman "
" tidak perlu lagi kamu menggunakan spalk ini " ucap Kevin dan meminta timnya untuk melepaskan spalk tersebut.
Kevin mengangguk setuju..
Perjalanan yang cukup menguras tenaga membuat mereka sering kali berhenti karena Davina masih dalam pemulihan.
" Bram "
" aku boleh nanya nggak? " tanya Davina pada Bram saat mereka beristirahat.
" yup " jawab Bram mengiakan Davina untuk bertanya
" sikap Kevin itu emang gitu ya.. "
" kadang dingin, cuek tapi kadang baik dan perhatian " ucap Davina
Bram hanya tertawa kecil mendengar celoteh Davina..
" dulu sikapnya nggak seperti itu "
" Tapi setelah kekasihnya mengalami kecelakaan dia berubah "
" ia merasa kecelakaan yang menimpa kekasihnya itu karena dirinya " jelas Bram singkat pada Davina
kini Davina mengetahui sedikit banyak tentang perubahan sikap Kevin.
" hanya saja aku jadi bingung "
__ADS_1
" selama ini Kevin tak pernah mau dekat dengan perempuan "
" tapi denganmu lain " ucap Bram lagi
Davina kaget mendengar ucapan Bram kemudian mengerutkan dahinya tanda tak tahu apa yang telah terjadi.
" bisa kita lanjutkan lagi " kata Kevin menghampiri Bram dan Davina
Bram membantu Davina berdiri dan melanjutkan perjalanan mereka.
setelah melewati hutan dan gunung akhirnya sampai juga mereka di distrik Sinak.
Davina kemudian di tandu tim kesehatan dan membawanya ke puskesmas distrik Sinak.
Banyak wartawan telah menanti kedatangan satu-satunya wanita yang disekap pihak KKB membuat namanya menjadi terkenal apalagi yang menjadi penyebab Davina terdampar di pulau Papua.
merasa risih di kerumunin pihak wartawan, melihat hal tersebut Kevin pun datang lalu membawa Davina pergi menuju rumah salah satu pendeta di distrik tersebut.
" tempat siapa ini " tanya Davina seraya melepaskan genggaman Kevin yang sedikit menyakiti kulitnya.
" kamu aman di sini " jawab Kevin lalu meminta ijin pada pemilik rumah untuk menjaga Davina selama dirinya tak ada di dekatnya.
setelah berbicara dengan Pendeta tersebut Kevin ijin permisi untuk meninggalkan Davina sebentar.
Malam pun tiba, membuat Kevin tidak bisa tenang konsentrasi nya teralihkan ke Davina
" saat ini dia sedang apa ya " bisik Kevin menebak-nebak
" bagaimana kabar Davina Vin ?? "
" kenapa kamu terlihat bingung gitu " tanya Bram mengagetkan Kevin.
" entahlah " jawab Kevin bingung kemudian merebahkan dirinya di sofa ruang kepolisian.
" aku tau ketika kamu melihat Davina pasti mengingatkanmu pada Sarah "
" ia kan.. " ucap Bram yang kemudian duduk di samping Kevin.
Kevin tak menjawab atau merespon pertanyaan Bram karena menurutnya itu bukan hal penting lagi.
" jika ku perhatikan lebih dalam antara Sarah dan Davina kayanya memiliki kemiripan deh " kata Bram memancing Kevin
" kalau kamu di suruh memilih kamu bakal milih siapa Vin ? "
" Davina atau Sarah ?? " ucap Bram lagi mengganggu Kevin yang dari tadi tak mau membuka suaranya.
Perkataan Bram akhirnya mendapatkan balasan tiba-tiba saja buku yang ada di meja pun telak berpindah tempat dari meja ke wajah Bram gegara ulah Kevin.
" Heeyyyy... " Bram kaget
" antara aku, Davina dan Sarah "
" tak ada hubungannya denganmu " jawab Kevin ketus.
" ya ada dunk.. " ucap Bram melawan
" dulu aku mungkin bisa mengalah tapi sekarang tidak " Kata Bram tegas
__ADS_1
Kevin menatap tajam ke arah Bram