
Sudah tak terasa lagi luka dikakinya, semua seakan membeku yang tersisa hanyalah butiran air mata yang mengalir tak terhingga. Kekuatan untuk menolak pun sudah tak ada lagi, yang ada hanyalah perasaan kecewa pada sahabatnya itu. Dengan diamnya Davina semakin memudahkan Bryan menguasai tubuhnya, Bryan mulai liar mengecup bibir Davina yang terlihat pucat. Sesekali terdengar suara pelan dari mulut Bryan ucapan maaf, sesekali itupula Davina memohon Bryan untuk tidak melakukan hal kotor ini. Sebelum Bryan mulai mengarahkan tangannya ke arah bagian dalam baju Davina, terdengar suara teriakan yang penuh amarah.
" Bryaaannnnn " teriak Kevin yang tiba-tiba masuk ke dalam gudang. Sungguh di luar dugaan Kevin yang selama ini ia anggap Bryan adalah sahabat terbaik Davina malah hari ini ingin menodai kehormatan sahabatnya sendiri.
" Brengsek kamu Bryan" ucap Kevin sedikit berlari menuju Bryan. Sontak saja ketika mendengar teriakan Kevin, Bryan menghentikan perbuatannya dan berbalik ke asal suara.
Satu pukulan telak ke arah wajah Bryan membuat tubuhnya tak bisa menahan keseimbangan belum lagi karena dirinya telah dikuasai alkohol dengan mudahnya jatuh tergeletak. Dengan meringis kesakitan, Bryan mencoba berdiri dari posisinya saat itu. Namun, ketika hendak berdiri ia masih menikmati tendangan Kevin bertubi-tubi ke seluruh tubuh Bryan, hingga membuat Bryan tak sadarkan diri.
Amarah Kevin kali ini tak bisa ia kendalikan apalagi melihat Davina terbaring lemah. Kevin menghentikan sikap arogannya pada Bryan ketika mendengar Davina memanggil namanya.
" Vin.. udaaahhhh.. udaaahhh " Ucap Davina tanpa tenaga dan jatuh tergulai tak berdaya.
Kevin berlari menuju Davina, dan dengan segera melepaskan kaos yang ia kenakan lalu menutup tubuh Davina yang sudah tercabik-cabik sehingga beberapa tubuh Davina sedikit terlihat.
" Vinnnnn... " teriak Kevin menyadarkan Davina
bibir pucat Davina menunjukkan jika sudah kehilangan banyak darah. Kevin dengan segera membawa Davina keluar dari gudang dan membawanya ke RS terdekat.
ππ Setibanya di RS..
Mengingat bahwa Bryan masih berada dalam gudang, Kevin mencoba menghubungi Maya untuk mengurus Bryan. Tak lupa ia juga menyampaikan jika Davina sudah aman sekarang.
Tak berapa lama, ibu Davina muncul dengan penuh kekhawatiran.
" nak Kevin.. gimana keadaan Davina ? " tanya ibu Davina khawatir
" Davina sudah berada di tangan yang tepat bu "
" Jangan khawatir ya bu " ucap Kevin berdiri menyambut kedatangan ibu Davina dengan sedikit senyuman.
" apa yang terjadi nak ? "
" kenapa Davina bisa di bawa ke RS ? " Tanya ibu Davina menangis.
Kevin bingung mesti menjawab apa, ia hanya bisa memeluk dan menenangkan ibu Davina.
Dalam tangisan ibu Davina tergores luka yang mendalam bagi Kevin. Ia mencoba tegar dan kuat karena tak mampu menceritakan yang sebenarnya.
Beberapa menit kemudian, dokter yang menangani Davina keluar dan menyampaikan kondisi Davina baik-baik saja hanya saja Davina mengalami Shock ringan jadi perlu waktu untuk memulihkan semuanya.
__ADS_1
ππ Di lain tempat...
Ketika Kevin menyampaikan keberadaan Bryan saat itu juga Maya datang ke gudang tua tempat bermain masa kecil Davina dan Bryan. Maya segera masuk dan melihat Bryan tak sadarkan diri. Darah di mana-mana..
" apa yang terjadi ini ? "
" Kak Bryan... bangun kak... " panggil Maya namun tak ada respon sama sekali. Maya sadar dengan apa yang terjadi
" pasti ini semua akibat kak Kevin" gumam Maya dalam hatinya sembari melihat ke kanan dan ke kiri sekiranya ada sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membawa Bryan keluar dari gudang. Mau berteriak minta tolong itu satu hal yang tak mungkin karena ini adalah gudang tua jarang sekali ada masyarakat yang bisa berjalan di sekitar gudang ini. Maya tertuduk lemas sambil meletakkan kepala Bryan di kakinya, dengan menggunakan tangannya ia mulai membersihkan darah di sekitar wajah Bryan. Tak ada jalan lain lagi Maya harus dengan segera membawa Bryan keluar..
" iiihhhhhh... "
" kenapa tak ada satupun yang bisa ku gunakan ? " ucap Maya kesal bingung sendiri.
" coba dulu aku mau ikut ekskul PMR nggak gini jadinya huuuuu " gerutu Maya sambil menepuk-nepuk jidatnya pelan.
" ayo May.. mikir..mikirrrr " ucapnya lagi lalu menoleh ke belakang dan akhirnya dengan perlahan Maya menarik tubuh Bryan hingga ke mobilnya dan dengan segera membawa Bryan langsung ke RS.
" Vinn.. Vinn.. aku mencintaimu "
" maafkan perbuatanku "
" ya Tuhan kak Yan kok panas banget badanmu " ucap Maya spontan ketika menyentuh badan Bryan. Tanpa membuang-buang waktu Maya segera melajukan mobilnya lagi menuju RS.
ππ Rumah Sakit
Setelah Maya mengurus semua perawatan Bryan, ia berniat mengunjungi sang kakak yang kebetulan berada di RS yang sama. Maya penasaran apa yang telah terjadi sehingga membuat Davina bisa masuk RS dan kondisi Bryan sendiri seakan-akan habis dipukuli. Maya berjalan melewati lorong-lorong Rumah Sakit sampai akhirnya ia melihat Kevin sedang duduk sendiri di depan ruangan VIP.
" Kak " tegur Maya membuat Kevin menatap kaget dan mempersilahkan Maya untuk duduk.
" bagaimana kabar Bryan? " tanya Kevin pelan tapi cuek
" Kak Bryan, Maya bawa ke RS ka.. demamnya tinggi banget " jawab Maya menghela nafas.
" syukurlah.. " jawab Kevin pendek
" kamu nggak mau ngeliat Vina di dalam ? " ucap Kevin lagi sambil meneguk sebotol air mineral.
Maya mengangguk mengiyakan lalu berdiri dan menuju ruangan yang di maksud. Dengan pelan Maya membuka pintu ruangan Davina dan melihat sang ibu sedang duduk terdiam di samping ranjang tempat Davina berbaring.
__ADS_1
mendengar suara pintu sang ibu berbalik dan memberi kode diam dengan tangan telunjuk menempel di dpan mulutnya. Maya berjalan mendekati ibunya.. Namun tiba-tiba terdengar suara keributan dari luar ruangan.
" apa yang terjadi ? " bisik Maya dalam hati lalu meminta sang ibu untuk diam di dalam ruangan saja.
Maya segera keluar untuk melihat apa yang terjadi.
" Kak Kevin ? " teriak Maya kaget karena melihat Kevin sedang penuh emosi dan di pegangi dua perawat laki-laki.
Sementara lawannya adalah Bryan, mata Maya membelalak tak percaya ternyata Bryan pun sedang di bopong oleh beberapa perawat.
Maya menghampiri Bryan..
" ada apa kak.. kenapa kakak disini? "
" seharusnya kakak istirahat " ucap Maya sambil mengusap darah segar yang keluar dari ujung bibir Bryan.
" tak usah baik dengan ku " bentak Bryan kasar dan menepis tangan Maya.
melihat Maya diperlakukan kasar oleh Bryan semakin membuat Kevin geram.
" kurang ajar kamu Bryan "
" dengan perempuan kamu begitu "
" B*ngs*t " ucap Kevin sambil menarik baju Bryan dan memukulnya kembali. Kedua perawat yang mencoba menghalangi Kevin tak bisa berbuat apa-apa karena tenaga dan body mereka sudah kalah jauh dengan Kevin.
Kevin berhenti melakukan penyerangan ketika mendengar Maya menangis meminta Kevin untuk menghentikan perbuatannya.
Kevin menghempas kedua tangannya yang sedari tadi di pegang kedua perawat laki-laki tadi hingga terlepas. lalu berjalan keluar lorong menjauhi ruangan Davina.
...Pantau terus ya ceritanya, biar thornya semangat ππ...
......πΊβ³οΈπΊβ³οΈπΊβ³οΈπΊβ³οΈπΊβ³οΈπΊβ³οΈπΊ......
...yuk akak yang cantik dan tampan...
...Like, coment, favorit dan Vote ya.. biar AUTHOR semakin semangat up nya π€βΊοΈ...
...~Novi Dhamzie~...
__ADS_1