
Rasa sesak mulai menyelimuti hati Davina, suara yang lama dirindukan kini terdengar merdu di telinganya. Meski tak bersua, mendengar suara orang yang melahirkan nya pun sudah membuat ia bahagia. Air mata yang sudah tak terbendung lagi kini menyeruak ke permukaan. Dengan suara yang tersedak membuat Davina seakan-akan tidak dapat berbicara apa-apa. Begitu juga dengan lawan bicara Davina sang ibu pun tak tahan kuasa melepaskan kerinduannya pada sang anak. Mereka pun bertangis ria dan tak terasa sudah hampir beberapa jam lebih tak satupun yang keluar dari mulut Davina.
Davina mulai menghirup nafas panjang..
" Mami sehat ? " tanya Davina dengan berlinang air mata, sesekali ia menyeka air matanya yang membasahi wajah dan ponselnya.
" ia sayang.. Mami sehat "
" kamu sendiri sehat nak ? "
" pasti kamu tambah kurus ya ? " tanya ibu Davina sambil menangis tak tertahankan.
Davina mengangguk-anggukan kepalanya dan bersuara..
" ia Mi.. Davina sehat dan sekarang tambah hitam " jawab Davina kemudian tertawa bersama.
Akhirnya Davina dapat melepaskan rindu dan bercerita panjang lebar sampai ia pun tak sadar jika malam sudah tiba dan merekapun mengakhiri obrolan mereka.
Ketika Davina mengakhiri telponnya ia pun menarik nafas panjang dan tanpa ia sadari Bram sudah berada di dalam wisma nya.
" lhoo.. Bram " ucap Davina kaget melihat Bram yang berdiri dengan wajah yang aneh
Bram hanya tersenyum tipis kemudian perlahan mendekati Davina.
melihat gelagat Bram tidak seperti biasanya Davina mencoba menjauhi Bram.
" mau apa kamu Bram "
" stooppp... "
" stoop di situ.. atau " kata Davina panik dan berusaha mengambil benda apa saja yang bisa melindungi dirinya.
" atau apa.. " ucap Bram berjalan sempoyongan mendekati Davina
" kalau mau teriak.. teriak saja"
" nggak ada yang mendengar suaramu " lanjut Bram sambil tertawa
melihat Bram tertawa Davina mencoba mencari kesempatan untuk berlari ke ruang tamu, namun saat berlari Bram dengan cepat menangkap tangannya dan memeluk Davina.
" lepaskan aku.."
" please lepaskan aku Bram " ucap Davina memohon sembari menangis
" kamu tau, kali ini nggak akan ku biarkan kamu jatuh ke tangan Kevin "
" aku sudah cape dapat sisanya terus " ujar Bram menghentakkan badan Davina. Bram kemudian menarik Davina ke kamar kemudian mendorong tubuh Davina ke ranjang.
" Bram.. Bram sadar Bram "
__ADS_1
" apa yang mau kamu lakukan " ucap Davina menangis
Bram ternyata sudah dipengaruhi alkohol sehingga membuat dirinya tidak dapat mengendalikan dirinya lagi ketika melihat Davina, entah kenapa birahinya memuncak.
Bram mulai melepaskan bajunya namun karena mabok ia mengalami kesulitan sedikit, Davina mencoba mengambil kesempatan lagi untuk berlari keluar tapi sayang kecepatan Davina masih saja lambat. Bram menyadari bahwa Davina ingin melarikan diri ia pun dengan cepat menarik rambut Davina. seketika Davina pun tidak bisa berbuat apa-apa.
sikap kasar Bram membuat Davina merasa ada yang berbeda dari Bram.
" kamu bukan Bram yang ku kenal "
" tolong Bram.. jangan " ucap Davina sambil berupaya melepaskan diri dari Bram.
Bram tidak mendengar semua yang diucap Davina, ia mulai mencium Davina dengan kasar, Davina tetap berusaha melawan sesekali mendorong wajah Bram yang sudah mulai bringas. Sambil memaksa ******* bibir Davina tangannya pun mulai menjalar ke arah dada Davina, merasakan tangan Bram sudah mengarah ke bagian tubuhnya Davina tak kuasa untuk menahan air matanya lagi hanya Doa yang bisa ia panjatkan dalam hatinya, sekuat apapun tenaga Davina tak bisa juga menumbangkan tubuh Bram yang kuat itu.
Bram mulai bergerilya dari bibir sekarang mengarah ke arah leher Davina, sementara kedua tangannya mulai merobek kemeja Davina. Davina mencoba menghalangi bajunya namun tangan gempal Bram dengan kuat menarik dan menahan kedua tangan Davina.
Davina sudah kehilangan tenaga dan pasrah apa yang bakal terjadi dengan dirinya. Bram mulai mencium leher Davina, sudah puas kini Bram mulai menurunkan wajahnya ke area dada Davina, ia menepiskan kain yang menghalangi pandangannya. Terlihat area pribadi Davina yang begitu menantang, Bram terhenti kemudian memandang Davina yang sedang menangis karena tak terima perlakuan Bram.
" maafkan aku Vin " ucap Bram, kemudian mulai meletakkan wajahnya di antara dada Davina kurang puas karena masih ada yang menghalangi kini tangannya berusaha untuk membuka bra Davina. Davina tidak henti-hentinya melawan sampai akhirnya Davina mendengar suara orang yang menarik Bram dari tubuhnya.
Kevin muncul di depannya kemudian mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Davina. Davina shock dan menangis tanpa henti di ujung ranjang.
melihat Davina, Kevin menjadi emosi..
" brengsek kamu Bram " ucap Kevin kemudian melayangkan tinjunya pada Bram.
Bram tidak berdaya mendapat pukulan bertubi-tubi sampai akhirnya Kevin menelpon beberapa rekannya untuk datang membawa Bram.
Kevin segera masuk ke dalam wisma dan mulai menyalakan lampu tempat Davina karena ketika Kevin sampai tak tampak cahaya sedikitpun.
" Vin " kata Kevin menyentuh Davina yang masih shock di pinggir ranjang..
merasa ada yang menyentuhnya Davina sontak merasa ketakutan sampai akhirnya dirinya menyadari bahwa orang yang berada di depannya adalah Kevin.
Davina menatap Kevin yang saat itu dengan pelan Kevin mengangkat Davina dan membawanya ke tempat tidur.
" aku takut " ucap Davina menangis kemudian mulai memukul wajah dan tubuhnya.
" aku kotor "
" kotoorrrrr " ujar Davina lagi sembari menangis melihat keadaanya saat ini.
Kevin yang saat itu melihat sikap Davina lalu meraih tubuh mungilnya dan memeluknya lembut.
" tenang Vin.. "
" tenang " Kata Kevin menenangkan.
Davina sudah terlalu banyak menangis dan hal ini sudah membuat tenaganya terkuras habis tak terasa ia pun terlelap di pelukan Kevin.
__ADS_1
Kevin memandang wajah polosnya Davina, ia merebahkan Davina di tempat tidur dan meninggalkannya di kamar.
🍂🍂 beberapa jam kemudian..
" aduuh kepalaku.. " bisik Davina terbangun dari tidurnya.
" bajuku " ucap Davina kebingungan melihat baju yang ia kenakan sudah berbeda.
dengan mata sembap dan sedikit lemas Davina mencoba berdiri dari tempat tidurnya. tercium aroma masakan khas sop, Davina mengikuti arah aroma tersebut dan didapatinya Kevin sedang asik memasak di dapur.
" Kevin " tegur Davina..
Keget mendengar suara Davina, Kevin dengan cepat meraih Davina dan membawanya duduk di kursi.
" sebaiknya kamu istirahat di kamar saja dulu "
" aku masak sop untukmu "
" semoga enak ya " ucap Kevin sambil tertawa kecil dan berjalan menuju kompor.
Kevin dengan sigap mengambil semangkok sop untuk Davina, dan mengajak Davina untuk beristirahat di kamar. Dengan lembut Kevin merangkul Davina dan membopongnya ke kamar, dengan telaten Kevin menyuapi Davina.
Melihat kebaikan Kevin membuat Davina mengingat kembali kebaikan Bram selama ini sampai akhirnya Bram ingin merenggut harga dirinya.
" cukup Vin " ucap Davina menghentikan suapan Kevin.
" kenapa? " Kevin meletakkan mangkok sop di atas meja..
" kamu masih memikirkan hal tadi " tanya Kevin
" ku nggak mau ngomongin dia lagi "
" aku ingin istirahat Vin " kata Davina sembari menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Kevin mengerti dan meninggalkan Davina..
" Vin.. jika kamu perlu sesuatu telpon saja aku "
" no ku sudah ada di dalam ponselmu " ucap Kevin sebelum meninggalkan Davina sendiri.
melihat Kevin sudah pergi, Davina mencoba menenangkan dirinya dengan tidak mengingat kejadian yang baru saja di alaminya tapi tetap tidak bisa, Davina hanya bisa menangis mengingat kejadian tersebut..
" kenapa kamu tega Bram.. " bisik Davina dengan deraian air mata.
......🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺......
...yuk akak yang cantik dan tampan...
...Like, coment, favorit dan Vote ya.. biar AUTHOR semakin semangat up nya 🤗☺️...
__ADS_1
...~Novi Dhamzie~...