
" Mi jangan sedih gitu dunk " ucap Davina sedih dan memeluk kaki ibunya yang saat itu sedang duduk di sofa ruang tengah.
" Davina cuma sebentar Mi.. " ucap Davina lagi
" ehm.. Davina janji bakalan nelpon tiap hari Mi " kata Davina menenangkan ibunya sambil mengusap air mata ibunya..
" janji ya.." kata ibunya pelan sambil tersenyum
Davina mengangguk bahagia dan memeluk ibunya.
Semenjak kepergian Ayah Davina, ibu Davina tidak pernah sekalipun meninggalkan kedua anaknya bahkan rela menderita banting tulang untuk menghidupi Davina dan Maya. Tidak pernah terbayang dibenaknya anak sulungnya ini akan pergi meninggalkannya, tapi mau bagaimana lagi ini adalah keputusan Davina dan ibunya tidak bisa berbuat banyak.
Melihat kejadian itu Maya yang baru datang bersama Brian pun merangkul kakak dan ibunya dari belakang...
" kalian jangan menangis ntar aku ikutan nangis lho.. " ucap Maya manja
Davina mengelus kepala adiknya, " May.. kamu jaga ibu ya selama kak Vin di Manado " ucap Davina tersenyum..
" awas kalo pacaran terus " ucap Davina tegas sambil memandang ke arah Brian yang sedang berdiri di samping kursi.
" udah ah.. sedih - sedihnya, malam ini kita harus bahagia.." kata Davina sembari berdiri
" Davina nyiapin makan dulu ya.. " pamit Davina meninggalkan ruang tengah
***
" Aku mau ngomong Vin " ucap Brian mengagetkan Davina yang sedang sibuk menyiapkan makan malam mereka
" ngomong apa lagi Yan, emank kemarin - kemarin kamu nggak ngomong apapun? " tanya Davina kesal
" jangan bilang kamu mencoba membatalkan kepergian ku besok… " ucap Davina mendekati wajah Brian
Brian yang dari tadi merasa terpojok karena pertanyaan Davina, tidak berpikir lama dengan cepat Brian menarik kepala Davina dan mencium lembut bibir Davina. Aroma tubuh Brian dan dekapan hangat Brian membuat Davina sedikit terlena.
" Aku mencintaimu Vin " ucap Brian lembut dan memegang wajah Davina yang saat itu masih terpejam.
Tak percaya dengan apa yang didengarnya, air mata Davina menetes. Kemudian meninggalkan Brian sendiri di dapur.
Dimeja Makan
Tidak ada satu suara pun keluar dari mulut Davina, sehingga membuat ibu Davina bertany - tanya..
" kamu kenapa nak " tanya ibu Davina heran melihat wajah Davina pucat
" nggak kok mi.. " jawab Davina kaget lalu menyuap nasi ke mulut dan memandang Brian yang saat itu pun ad bersama dengan mereka.
" Kak Vin nant kalo liburan, Maya sama kak Brian nyusul ke Manado ya.." ucap Maya memulai percakapan
Mendengar ucapan Maya, Davina tersedak..
" Boleh.. boleh asal nggak ganggu kuliahmu ya.. " jawab Davina kemudian melanjutkan makanannya.
Malam semakin larut ibu dan Maya seakan nggak mau menjauh dari Davina bahkan Brian pun berniat untuk bermalam di rumah Davina.
__ADS_1
Davina pun meminta Maya untuk membawa ibunya untuk istirahat. Ketika semua sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Davina melangkahkan kaki menuju kamar tamu.
" Yan.. " gumam Davina pada Brian yang saat itu sedang membaca buku di dalam kamar tamu.
" boleh ku masuk " ucap Davina lagi
" boleh "
" ada apa Vin " jawab Brian menghentikan kegiatannya kemudian membuka pintu kamarnya
" aku mau minta maaf karena beberapa hari ini sikap ku berubah " ucap Davina tertunduk
Brian memegang wajah Davina dan mengusap kepala Davina dan tersenyum..
Melihat senyuman Brian yang lembut, tanpa sadar Davina pun memeluk Brian bahagia.
" ngopi yuk.." ajak Davina dan menarik tangan Brian ke halaman samping rumah yang saat itu cuaca sedang dihiasi bintang - bintang yang terlihat sangat indah memancarkan sinarnya seakan - akan ikut bahagia melihat kedua sahabat ini sudah kembali seperti biasa.
Meneguk segela Capucino mengingatkan mereka pada masa - masa di mana mereka selalu menghabiskan waktu berdua meski hanya sebatas sahabat.
" Vin.. aku minta maaf "
" tentang kejadian di dapur " ucap Brian mengawali pembicaraan
Davina jadi salah tingkah, " ehmm, aku.. " jawab Davina
" udah nggak usah dipikirin Vin "
" nggak seharusnya, aku ngomong gitu " gumam Brian sambil meneguk kopinya
" tolong jaga Maya dan ibuku ya.. " kata Davina sambil memegang tangan Brian
Brian terdiam dan melihat genggaman tangan Davina, dengan pelan Brian pun mengangguk mengisyaratkan ia akan menjaga adik dan ibunya Davina dengan baik.
Melihat tanggapan Brian, Davina bernafas lega dan menyandarkan tubuhnya di kursi putih dan menatap ke langit. Tak sadar air matanya pun menetes, dalam hatinya ingin menangis sejadi jadinya karena ia akan meninggalkan ibunya untuk waktu yang cukup lama.
Brian mengusap pelan air mata Davina, dan memeluk Davina menenangkan. Dalam pelukan Brian, Davina merasa tenang dan melampiaskan semua bebannya dengan tangisan.
Malam semakin larut dan mereka berduapun menghabiskan waktu di taman sampai akhirnya Davina tertidur pulas di bahu Brian, dengan pelan Brian mengangkat tubuh mungil Davina dan membawanya ke kamar Davina. Saat Brian meninggalkan Davina di kamarnya terlihat buku kecil berwarna biru di atas meja kerja Davina, daya tarik buku tersebut membuat Brian mendekati buku itu dan tanpa sengaja membacanya..
Brian meletakkan buku itu.. " kenapa kamu nggak jujur dari awal Vin " bisik Brian sambil menatap ke arah Davina yang saat itu tertidur pulas dan keluar.
" Kak Vin sudah tidur ka.." tanya Maya mengagetkan Brian yang sedang menutup kamar Davina.
" Maya.." ucap Brian kaget
" ada yang mau Maya bicarakan ka.."
" kak Brian ada waktu ?" tanya Maya
Brian pun mengangguk dan mengikuti kemana Maya melangkah..
" Maya sudah tau kok ka, kalo selama ini kak Brian punya perasaan dengan Kak Vin " kata Maya terbata bata kemudian mengusap air matanya..
__ADS_1
" meski Kak Brian nggak pernah ngomong apa-apa tapi Maya tau dari mata, cara bicara bahkan sikap kak Brian ke Kak Davina berbeda dengan sikap kakak ke Maya " ucap Maya menghela nafas.
Brian hanya terdiam
" Maya mau kita udahan aja kak.."
" Lebih baik Kak Brian jujur dengan Kak Davina siapa tau Kak Vin bisa membatalkan rencananya untuk ke Manado" ucap Maya lagi sambil memandang ke arah Brian.
" May.. Maafin Kak Brian ya.." Jawab Brian pelan
" Kak Brian sayang kamu, dan rasa sayang kak Brian ke Maya itu rasa sayang kakak dengan adik.." jujur Brian kepada Maya
" Dan kak Brian sudah berusaha untuk mengubah perasaan ini tapi tetap nggak bisa " jawab Brian lagi sambil mengelus kepala Maya.
" Meski kita nggak jadi sepasang kekasih tetapi kak Brian kan tetap Kakaknya Maya kan " senyum Maya tulus..
Keesokan harinya di bandara..
" kamu jaga diri ya " ucap Brian melepas kepergian Davina.
Davina mengangguk kemudian memeluk ibunya yang dari tadi sudah menangis tersedu sedu.
" May tugas kamu sekarang jaga ibu "
" awas ya kalo kak Vin dengar Mami sedih " ucap Maya tegas..
" Dan kamu Brian awas kalo nyakitin Maya " ucap Maya sambil meninju pundak Brian.
Kemudiannya Maya melangkahkan kaki ke dalam bandara.
Tanpa diduga Brian berlari menuju Davina kemudian menarik dan Memeluk tubuh mungil tersebut. Davina jadi salah tingkah karena melihat kelakuan Brian di depan Maya. Davina ternyata belum mengetahui jika Maya dan Brian sudah mengakhiri hubungan mereka.
Maya yang melihat kelakuan kedua kakaknya ini malah tersipu malu karena dilihat banyak orang.
Davina pun pamit melepas pelukan Brian dan masuk utk check in penerbangan ke Manado
Pada saat pemeriksaan barang entah apa yang membuat Davina kurang konsentrasi sehingga saat berjalan menuju bagian check in counter staf di bandara ia menabrak seorang pria yang saat itu pun sedang check in.
" aduuhh... maaff.. maaf " kata Davina menundukkan badannya seraya mengambil ponsel dan beberapa dokumen yang berserakan di lantai. Lelaki itupun membantu Davina yang sedang kerepotan mengambil dokumennya.
" nggak apa - apa mba " ucap pria tersebut menyerahkan dokumen Davina.
Saat Davina check in..
" ini mba tiketnya silahkan menunggu di gate.. " kata staf penerbangan yang kemudian tidak melanjutkan kalimatnya karena tiba - tiba datang seorang Pria yang meminta tiketnya yang sudah duluan di booking.
" mba mana tiket saya tadi saya titip dengan teman untuk menunggu di sini " ucap pria tersebut menerobos Davina..
" eh maaf mba, in darurat " ucap pria itu lagi kemudian memandang Davina.
" ya.. ya silahkan mas " jawab Davina bergeser ke samping keheranan melihat sosok pria berbadan tegap ini terlihat tergesa-gesa..
" mba ini.." kata pria tersebut sambil menyodorkan tiket Davina kemudian berlari menuju ruang tunggu.
__ADS_1
Davina pun dengan tenang berjalan menuju ruang tunggu sesuai arahan dan petunjuk di tiket yang dipegangnya