
Kevin melangkahkan kakinya menjauhi Bryan karena takut tidak bisa menahan emosinya dan bahkan bisa mencelakakan Bryan nantinya. Pikiran buruk yang sudah ia bayangkan jika sedikit saja ia terlambat menemukan Davina atau ibu Davina sedikit terlambat menghubunginya. Semua pikiran yang tidak masuk akal begitu sangat mengganggu sampai akhirnya ia baru sadar ia kini sudah berada di depan RS, menarik nafas dalam-dalam dan segera menenangkan dirinya duduk di kursi taman tepat di bawah pohon tanjung yang besar dan rindang. Selama ini banyak kasus yang sudah ia tangani tapi hanya satu kasus yang membuatnya berang adalah kasus pelecehan terhadap wanita. Ketika ia sedang duduk menenangkan dirinya, Maya pun menghampirinya.
" Kak.. " ucap Maya mengagetkan Kevin yang sedang duduk melamun..
Kevin menatapnya bingung dan memberikan isyarat untuk duduk di sebelahnya.
" Maafkan Maya Kak.. "
" ini semua karena perbuatanku " kata Maya memelas
" Maya nggak tau harus bicara dengan siapa? " ucap Maya yang tak bisa lagi menahan air matanya.
" semua sudah terjadi, jadi untuk apa kamu minta maaf dan menyesali semuanya "
" yang harus di lakukan sekarang adalah menghadapinya " ucap Kevin.
Entah berapa lama mereka berdua duduk di taman RS tanpa kata hanya suara angin dan bisingnya suara kendaraan dan berbagai aktifitas manusia yang datang dan pergi.
Kevin pun berdiri dan melangkahkan kakinya menjauh dari RS.
" kemana Kak ? " teriak Maya kebingungan melihat Kevin nyelonong pergi begitu saja..
Kevin menoleh sebentar dan tersenyum sinis kemudian berlalu.
Maya hanya bisa duduk sendiri dengan rasa penyesalan yang dalam. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan berharap semua masalah ini akan berakhir.
...🍂sementara di dalam RS🍂...
Bryan masih berusaha keras ingin menemui Davina yang tergeletak lemah di dalam ruangan namun tetap saja di halangi sang bunda.
" Bryaannn " teriak ibunya kelelahan menenangkan anaknya seraya memperbaiki infus yang menempel di tangan kiri Bryan. Terlihat ada sedikit darah yang terisap ke dalam selang infus akibat gerakan Bryan yang tidak bisa terkontrol.
suara ketukan pintu yang kemudian diikuti suara ibu Bryan " ya silahkan masuk "
Maya membuka pintu kamar dengan pelan dan sedikit salah tingkah karena semua mata tertuju padanya.
__ADS_1
" May.. tolong tante panggilkan perawat ya.. "
sambil memperlihatkan infus yang sudah berubah warna menjadi merah.
Maya mengangguk dengan cepat kemudian berbalik keluar dan memanggil perawat jaga saat itu.
setelah perawat menangani Bryan ia pun berpesan jika ingin sesuatu jangan sungkan menekan tombol yang berada di atas ranjang kemudian si perawat pamit.
" Huffff... ini semua gara-gara Vina " gumam ibu Bryan kesal sambil duduk di sofa yang disediakan dalam ruangan VVIP. Mendengar keluhan ibu Bryan, Maya hanya menarik nafas sambil menatap ke arah calon mertuanya itu. meskipun ia juga tau kalau Bryan sama sekali tidak ingin menikahinya. Ini semua terjadi karena rencana buruk yang ia atur sendiri, penyesalan memang datang terlambat gumam Maya dalam hati seraya menarik nafas panjang. l
sikap dingin yang diperlihatkan Bryan menjadi pertanda bahwa ia tak disukainya. sejak masuk Bryan tak mengucapkan satu katapun pada Maya sedangkan sang bunda selalu meminta Maya untuk melayani apa maunya Bryan.
" Apa kau nggak bosan May berada di kamar ini? Cobalah kau tengok Davina sana.. " ketus Bryan setelah Maya menyodorkan sepotong buah pir kesukaannya.
" Mama yang minta Maya bertahan di sini untuk mengurusmu " ucap bunda Bryan sedikit bernada keras.
" untuk apa sih Ma.. kan ada Mama di sini ngapain coba nyuruh Maya ngurusin aku " ucap Bryan tak mau kalah dari ibunya.
ibunya mendekati Maya yang sedari tadi berdiri tak berani berucap satu katapun bahkan bergerak pun ia tak berani ketika mendengar ibu dan anak ini bertengkar.
" karena ini calon istrimu " ucap Ibu Bryan sambil merangkul pundak Maya.
Keputusan yang sulit diambil, Maya memberanikan diri untuk pamit dari ruangan tersebut sungguh menyakitkan hatinya. Ingin rasanya mengeluarkan air mata yang sudah tak terbendung ini, nafasnya pun sudah naik turun seakan - akan berada di luar angkasa dan mulai kehabisan oksigen.
Ketika ibu Bryan memberikan ijin padanya tak perlu waktu lama Maya dengan sigap berlari ke arah pintu takut ia tak bisa lagi menahan tangisannya. Setelah pintu kamar tertutup Maya menangis sejadi-jadinya sambil berjalan menyusuri lorong menuju kamar Davina, sakit hati yang ia rasakan sungguh membuat dirinya tak mampu lagi berkata-kata bahkan untuk berdiri tegak pun ia tak mampu dan akhirnya ia pun jatuh di pelukan sang bunda setibanya di ruangan Davina di rawat.
Dengan hangat sang bunda menenangkan anaknya yang kemudian membawanya duduk di sofa ruangan.
" Cupp... cupp anak Mama ini kok malah nangis sih.. udah gpp "
" keluarkan isi hatimu Nak biar tenang " ucap ibunya sambil mengelus-ngelus kepala Maya.
Maya masih saja tak berani berucap apapun, ia memandangi ibunya kemudian menoleh ke arah Davina yang masih tak sadarkan diri.
" Kak Vin belum sadar Ma ? " tanya Maya lalu berdiri dan menghampiri ranjang Davina.
__ADS_1
ibu Davina hanya menggeleng dan berharap anak sulungnya bisa kembali sadar. lalu berdiri disamping ranjang Davina dan mengelus tangan anak sulungnya itu.
" kenapa nasibmu seperti ini nak.. nak " ucap ibu Davina dengan suara lirih dan tak ia sadari air mata sang bunda pun ikut mewarnai ruangan rumah sakit. Maya yang melihat kejadian itu sungguh tak sanggup jika ia harus katakan apa yang sebenarnya terjadi, ibunya pasti kecewa padanya. Kali ini Maya harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, apalagi masalah yang ada ini, akibat perbuatan siriknya pada kakaknya sendiri.
wajah tak berdosa dan tak berdaya yang seharusnya baik-baik saja kini sudah menjadi korban kekerasan sahabatnya sendiri. Air mata Davina mengucur pelan di setiap sudut matanya meski belum sadar.
" Kak Vin bangun ka.. bangunn "
" jangan buat kami khawatir kak "
" maafkan Maya kak.. Maya nggak bisa jadi adik yang baik "
" kak banguunnn... " teriak Maya sambil mengguncang badan Davina berharap dengan guncangan tersebut Davina bisa sadarkan diri.
Ibu Davina hanya menangis tak tega melihat perlakuan sang adik,,
" May... cukupp " ucap ibu Davina menghentikan perilaku Maya yang semakin histeris melihat keadaan Davina.
" Cukup nak.. " ibu Davina memeluk erat anak bungsunya.
Tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar, membuat Maya dan ibunya menatap keheranan ke arah pintu kamar menunggu siapa yang ingin membesuk Davina.
" jeng Aini ?? " ucap ibu Davina keheranan sembari menghampiri sahabat sekaligus calon besannya itu.
" jeng Sinta.. maaf saya baru bisa datang menjenguk Vina "
" soalnya Bryan kalau sakit suka ngerepotin "
" hahahaaaa " sahut ibu Bryan memecahkan suasana. mereka berdua pun hanyut dalam diskusi dan candaan masing-masing.
...Pantau terus ya ceritanya, biar thornya semangat 😁😁...
......🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺......
...yuk akak yang cantik dan tampan...
__ADS_1
...Like, coment, favorit dan Vote ya.. biar AUTHOR semakin semangat up nya 🤗☺️...
...~Novi Dhamzie~...