Kau Dan Doa Ku

Kau Dan Doa Ku
episode 4 Tersesat


__ADS_3

Sambil menunggu di waiting room Davina memasang headset di telinganya dan mulai menikmati alunan lagu yang sedang diputarnya. Terbangun dan segera mengangkat back packnya ke punggung karena melihat semua orang sudah pada asik berdiri berderetan untuk masuk ke dalam pesawat. Dengan sedikit mengantuk dan berdesakan. Davina menyodorkan boarding passnya kepada petugas yang sedang sibuk merobek boarding pass beberapa orang di depan Davina, dengan sedikit perjuangan akhirnya Davina masuk ke dalam pesawat kemudian mencari nomor kursi sesuai boarding passnya.


" akhirnya ketemu juga " keluh Davina dan meletakkan back packnya ke dalam kabin pesawat lalu mengatur posisi agar bisa tidur nyenyak selama penerbangan ke Manado. Sebelum Davina tertidur Davina melemparkan senyum kepada seorang pria yang sedari tadi memandang Davina heran.


Musik pun mengalunkan nada yang indah mengantarkan Davina untuk terlelap.


Davina terbangun dari tidurnya kemudian menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dalam penerbangannya kali ini..


" kok lama banget sih sampainya " ucap Davina menggerutu sambil mengatur posisi duduknya. Davina pun melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa rata-rata yang berada di dalam pesawat adalah laki - laki. Davina mulai panik dan mencoba menenangkan dirinya dengan bergumam " ini cuma kebetulan ".


Davina berusaha mencari boarding passnya tapi tidak ketemu.. " duuhh.. dimana ya boarding pass ku " keluh Davina pada dirinya sendiri..


" Cari apa mba " ucap pria di sampingnya mengagetkan Davina


" ehh.. anu pak.. nyari boarding pass saya " jawab Davina sambil memeriksa saku celana dan jaketnya.


" ooh.. " jawab pria tersebut merespon jawaban Davina dan mencoba membantu mencari di bawah tempat duduk mereka..


" mungkin terselip aja kali pak, maaf sudah ngerepotin " Davina mencoba menenangkan dirinya dan kemudian duduk dengan tenang.


" kok lama banget ya pak sampainya " ucap Davina kepada pria di sampingnya..


" emank lama mba ya sekitar 6 jam " jawab pria tersebut santai.


" lama juga ya.. " Davina menjawab kebingungan karena emank baru pertama kali berangkat ke Manado.


" Oia Mba.. mau tanya mba ada keperluan apa ya ikut penerbangan ini.. " tanya pria itu lagi


" kebetulan saya dipindah tugaskan pak dari perusahaan " jawab Davina kemudian tersenyum.


" Permisi ndan, Komandan Kevin kok nggak ada ya.. " tanya seorang pria menghampiri pria disamping Davina.


" permisi mba " kata pria itu berdiri dan melewati tempat duduk Davina menghampiri pria yang mendatanginya.


Davina kemudian merapatkan kakinya mempersilahkan pria itu lewat. Terlihat mereka sedang berbicara serius dan mencari di setiap tempat duduk.


" apa yang mereka cari " gumam Davina dalam hati.. " ya sudah lha ini kan bukan urusan ku " ucap Davina lagi sambil mengambil sebotol aqua yang ada di depannya dan meminumnya.


Pria yang tadi pun kembali dengan wajah serius dan memandang ke handphone nya yang saat itu sedang berstatus modus penerbangan.

__ADS_1


Davina memberanikan diri untuk bertanya " apa yang terjadi ? "


" ohh.. rekan kami. nggak tau ikut penerbangan atau tidak " Jawab pria tersebut kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi dengan kesal.


" maaf pak dari tadi kita ngobrol tapi saya nggak tau nama bapak " tanya Davina seraya menyodorkan tangannya mengajak berkenalan


" Bram " Jawab Pria itu membalas jabatan tangan Davina


" Davina " balas Davina menjawab


" di Manado pak Bram tinggal di mana ?" tanya Davina lagi..


" Jangan panggil pak dunk mba kedengaran tua sekali " jawab Bram tertawa " cukup panggil Bram saja " Bram memberi ketegasan.


Davina tertawa dan mengangguk " ya.. ya.. " jawab Davina


" ups kamu tadi bilang ke Manado Vin ? " tanya Bram kaget


Davina mengangguk pelan dan tersenyum..


" Bentar - bentar kayanya ada yang salah ini " ucap Bram kemudian berdiri dan memeriksa boarding passnya.


" Vin, kamu salah ikut penerbangan " kata Bram sambil melangkahkan kakinya keluar kemudian berjongkok dan mengarahkan pandangan di bawah kursi kami kemudian meraih sesuatu di bawah kursi Davina.


Ketika kertas itu dapat, dengan cepat Bram membukanya dan kaget melihat apa yang tertulis di sana, dengan pelan Bram menyodorkan kertas itu kepada Davina yang tidak lain adalah boarding pass milik Davina.


Melihat gelagat Bram, Davina pun kebingungan dan mengambil boarding pass miliknya.


Ketika Davina membaca betapa kagetnya Davina di boarding pass miliknya tujuan Papua bukn ke Manado dan nama yang tertulis di situ adalah Mr. Kevin bukan namanya sendiri Davina.


Ketika Davina menyadari ada kesalahan dalam penerbangannya kali ini, tiba - tiba terdengar suara orang berteriak.


Bram yang saat itu ada di samping Davina dan mengetahui ada sesuatu yang tidak beres. Bram kemudian meminta Davina untuk memakai jaket miliknya yang berwarna hitam tebal dan menutup kepala Davina.


Davina semakin kebingungan dan tak tau apa yang terjadi, ketika Davina ingin berdiri terlihat seseorang memegang senjata dan menendang salah satu penumpang karena mencoba melawan.


" Duduk semua " teriak pria memegang senjata kemudian menyusul seorang pria memasuki ruang pilot. Entah apa yang sedang didiskusikan terasa sekali jika laju pesawat mulai melambat dan salah satu pramugara menyampaikan bahwa pesawat akan mendarat darurat.


" apaaa mendarat darurat di sekitar pegunungan dan hutan ini, waras nggak sih mereka ini" gumam Davina dan tak disengaja terdengar salah satu dari kelompok bersenjata yang berada beberapa langkah dibelakang tempat duduk Davina.

__ADS_1


" apa kamu bilang ? " teriak pria itu mengagetkan Davina.


Davina kaget dan menatap tajam ke arah pria itu, melihat situasi ini Bram pun mencoba merayu pria itu untuk tenang.


Pria itu pun pergi meninggalkan Bram dan Davina


" Vin, tolong kendalikan dirimu "


" pesawat ini sedang di bajak dan kita akan mendarat darurat, kamu jangan melakukan hal - hal yang membuat kamu sendiri bisa celaka " ucap Bram menjelaskan.


" tapi kenapa aku yang berada di sini "


" kenapa !! " jawab Davina marah pada dirinya sendiri.


tiba- tiba tangan Bram membungkam mulut Davina dan meminta Davina untuk diam.


Davina memandang ke arah jendela dan tanpa di sadari air matanya menetes teringat Ibu dan Maya yang baru saja melepas kepergiannya, teringat waktu ibunya melarangnya untuk berangkat ke Manado. Davina menutup wajahnya dan mulai menangis karena tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya beberapa waktu ke depan atau bahkan hitungan detik saja.


Davina baru menyadari bahwa ia memang salah masuk pesawat, " kenapa nggak dari awal aku merasakan kejanggalan ini " bisik Davina kesal. Sekarang jelas sudah bahwa yang berangkat ini adalah sekumpulan pria yang ternyata merupakan anggota kepolisian yang sedang melaksanakan misi rahasia.


Akan tetapi di tengah - tengah penerbangan pesawat yang ditumpangi Davina ini malah di bajak oleh segerombolan bersenjata yang memaksa untuk mendarat di daerah pegunungan.


"Bagaimana ini" bisik Davina ketakutan sementara Davina satu - satunya perempuan yang ada di pesawat ini.


Bram merangkul Davina dan berkata " kamu harus selalu di dekatku Vin " " jika kamu ketahuan, katakan kamu adalah seorang perawat yang ditugaskan khusus untuk kami… Paham.. "


Davina mengangguk setuju karena tidak ada pilihan lain.


" mereka siapa Bram " bisik Davina ke arah Bram


" kemungkinan mereka adalah gerombolan KKB dari Papua " jawab Bram


" KKB " Sahut Davina kebingungan


" ya.. Kelompok Kriminal Bersenjata " jawab Bram lagi


" sebenarnya mereka ada lha orang baik tapi mereka mudah sekali dipengaruhi dengan iming iming hidup nyaman dan bebas dari penjajah " jelas Bram kepada Davina.


Davina semakin bingung dan tak tau harus berbuat apa dan apa yang akan terjadi dengan dirinya...

__ADS_1


__ADS_2